Sosiologi Komunikasi


Mustika Ranto Gulo di Perbatasan Papua New GuineUNTUK S-1 BY MUSTIKA RANTO GULO, ST; M.IKom

Pokok Bahasan         :

1.    Ruang Lingkup Sosiologi komunikasi

2.    Teori-teori sosiologi komunikasi

3.    Komunikasi sebagai proses interaksi

4.    Sosiologi khalayak

5.    Sosiologi komunikasi dan komunikasi massa

6.    Aktivitas Komunikasi Massa

7.    Komunikasi Massa sebagai system social dan pranata social

8.    Efek social komunikasi massa

9.    Teori peniruan dari media massa

10.  Media massa dan proses sosialisasi

11.  Komunikasi dan perubahan sosial

12.  Komunikasi dan system kemasyarakatan

13.  Opinion Leader

14.  Komunikasi dan masalah sosial

53 respons untuk ‘Sosiologi Komunikasi

  1. ANALISIS IKLAN “ DUREX FETHERLITE “
    Untuk kepada 11 stasiun televisi (ANTV, SCTV, RCTI, MNCTV, Global TV, TV One, Metro TV, Indosiar, Trans TV, Trans 7, dan TVRI) soal tayangan iklan “Durex Fetherlite”. Dari Pandangan saya dan analisis saya dengan menilai iklan tersebut tidak memperhatikan peraturan tentang siaran iklan, pembatasan muatan seksual, serta norma kesopanan dan kesusilaan. Seharusnya kepada setiap masing-masing stasiun TV harus memperhatikan unsur-unsur peraturan siaran periklanan.
    Karena , tayangan iklan tersebut ada yang tidak pantas untuk ditayangkan bahkan di lihat untuk anak di bawah umur . saya melihat pada siaran iklan itu ditemukan adegan yang tidak pantas ditayangkan. Adegan tersebut adalah adegan model wanita yang menyentuh leher model pria, lalu ketika model wanita yang membuka baju model pria, kemudian menyentuh dada model pria itu. Adegan selanjutnya, yang sangat tidak memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan adalah model wanita berlari ke kamar tidur dan menunjukkan pakaian dalam yang telah dilepas. Adegan-adegan di atas mengesankan rangkaian menuju aktivitas seks. Selain itu, kamera memperlihatkan paha dari model wanita tersebut.
    Iklan tersebut sangat tidak pantas untuk ditayangkan, apalagi yang melihat anak di bawah umur, karena itu mengandung unsur seks, dan sampai saat ini sepertinya sudah jarang di tayangkan di televisi karena memang tayangan iklan tersebut tidak pantas ditayangkan karena mengandung unsur seks yang dampaknya negative meski hanya tayangan iklan yang berkisar 30detik tetap saja melanggar peraturan tentang siaran iklan.

    Suka

  2. ARTIKEL “ BANJIR “
    Sebuah banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air. Dalam arti “air mengalir”, kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya.
    Banjir ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain.
    Banjir sudah melanda di Negara Eropa bukan hanya di Asia saja.
    Beberapa contoh penyebab terjadinya banjir:
    1. Perkembangan penduduk di daerah perkotaan cenderung meningkat yang menyebabkan kebutuhan dan membangun rumah sembarangan, jangan membangun bantaran rumah di pinggir kali. lahan untuk permukiman, fasilitas infrastruktur, kawasan-kawasan fungsional perkotaan juga meningkat

    2. Perkembangan penduduk juga mengakibatkan terjadinya peningkatan

    3. Motivasi dan pertimbangan para penanam modal untuk pengembangan usahanya di daerah perkotaan cenderung meningkat

    4. Belum mapan atau bahkan belum adanya kebijakan tanah perkotaan yang efektif serta peningkatan potensi investasi di berbagai sektor terutama produksi dan konsumsi semakin memperkuat dan menyulitkan pengendalian pembangunan kota yang terarah, serasi seimbang dan berkelanjutan

    5. Dampak nyata ketidakteraturan tata guna lahan perkotaan adalah kecenderungan peningkatan potensi banjir

    Suka

  3. ARTIKEL “ BANJIR “
    ARTIKEL “ BANJIR “
    Sebuah banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air. Dalam arti “air mengalir”, kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya.
    Banjir ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain.
    Banjir sudah melanda di Negara Eropa bukan hanya di Asia saja.
    Beberapa contoh penyebab terjadinya banjir:
    1. Perkembangan penduduk di daerah perkotaan cenderung meningkat yang menyebabkan kebutuhan dan membangun rumah sembarangan, jangan membangun bantaran rumah di pinggir kali. lahan untuk permukiman, fasilitas infrastruktur, kawasan-kawasan fungsional perkotaan juga meningkat

    2. Perkembangan penduduk juga mengakibatkan terjadinya peningkatan

    3. Motivasi dan pertimbangan para penanam modal untuk pengembangan usahanya di daerah perkotaan cenderung meningkat

    4. Belum mapan atau bahkan belum adanya kebijakan tanah perkotaan yang efektif serta peningkatan potensi investasi di berbagai sektor terutama produksi dan konsumsi semakin memperkuat dan menyulitkan pengendalian pembangunan kota yang terarah, serasi seimbang dan berkelanjutan

    5. Dampak nyata ketidakteraturan tata guna lahan perkotaan adalah kecenderungan peningkatan potensi banjir

    Suka

  4. ANALISA IKLAN ” DUREX FETHERLITE”

    Untuk kepada 11 stasiun televisi (ANTV, SCTV, RCTI, MNCTV, Global TV, TV One, Metro TV, Indosiar, Trans TV, Trans 7, dan TVRI) soal tayangan iklan “Durex Fetherlite”. Dari Pandangan saya dan analisis saya dengan menilai iklan tersebut tidak memperhatikan peraturan tentang siaran iklan, pembatasan muatan seksual, serta norma kesopanan dan kesusilaan. Seharusnya kepada setiap masing-masing stasiun TV harus memperhatikan unsur-unsur peraturan siaran periklanan.
    Karena , tayangan iklan tersebut ada yang tidak pantas untuk ditayangkan bahkan di lihat untuk anak di bawah umur . saya melihat pada siaran iklan itu ditemukan adegan yang tidak pantas ditayangkan. Adegan tersebut adalah adegan model wanita yang menyentuh leher model pria, lalu ketika model wanita yang membuka baju model pria, kemudian menyentuh dada model pria itu. Adegan selanjutnya, yang sangat tidak memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan adalah model wanita berlari ke kamar tidur dan menunjukkan pakaian dalam yang telah dilepas. Adegan-adegan di atas mengesankan rangkaian menuju aktivitas seks. Selain itu, kamera memperlihatkan paha dari model wanita tersebut.
    Iklan tersebut sangat tidak pantas untuk ditayangkan, apalagi yang melihat anak di bawah umur, karena itu mengandung unsur seks, dan sampai saat ini sepertinya sudah jarang di tayangkan di televisi karena memang tayangan iklan tersebut tidak pantas ditayangkan karena mengandung unsur seks yang dampaknya negative meski hanya tayangan iklan yang berkisar 30detik tetap saja melanggar peraturan tentang siaran iklan.

    Suka

  5. 3. Sebenernya gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif structural fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang dimaksud dengan structural fungsional dan perspektif konflik itu ?

    Teori Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi danantropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat,tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif. Selain itu, Parson memperkenalkan 2 macam mekanisme yang dapat mengintergrasikan sistem-sistem personal ke dalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan mekanisme kontrol sosial. Melalui operasi kedua mekanisme ini, sistem personal akan menjadi terstruktur dan secara harmonis terlihat di dalam struktur sistem social
    Perspektif konflik
    Perspektif konflik secara luas terutama didasarkan pada karya Karl Marx (1818-1883), yang melihat pertentangan dan eksploitasi kelas sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah.Wright Mills (1956-1959), Lewis Coser (1956), Aron (1957), Dahrendorf (1959, 1964), Chambliss (1973), dan Collines (1975): Bilamana, para fungsionalis melihat keadaan normal masyarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap, maka para teoretisi konflik melihat masyarakat sebagai berada dalam konflik yang terus-menerus di antara kelompok dan kelas.Teoretisi konflik melihat perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan terkecuali satu hal, dimana orang-orang muncul sebagai penentang – kelas, bangsa, kewarganegaraan dan bahkan jenis kelamin.Para teoretisi konflik memandang suatu masyarakat sebagai terikat bersama karena kekuatan dari kelompok atau kelas yang dominan.Mereka mengklaim bahwa “nilai-nilai bersama” yang dilihat oleh para fungsionalis sebagai suatu ikatan pemersatu tidaklah benar-benar suatu konsensus yang benar; sebaliknya konsensus tersebut adalah ciptaan kelompok atau kelas yang dominan untuk memaksakan nilai-nilai serta peraturan mereka terhadap semua orang.Singkatnnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial, yang memandang masyarakat terus menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial. Perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan.

    Suka

  6. 2.) asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran karl marx dimana marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosoiologi yang beraliran jerman sementara claude henry saint simon, agus conte dan emile durkhem merupakan nama nama para ahli sosiologi yang beraliran prancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui

    1. Roucek dan Warren, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok-kelompok.
    2. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff, sosiologi adalah penelitian ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
    3. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
    4. Pitirin Sorokin (dikutip Bungin, 2006 : 27-28), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:
    a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antar aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya: antara gejala ekomomi dan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya);
    b. Hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial (misalnya: gejala geografis, biologis, dan sebagainya);
    c. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial
    5. emile durkhem Dalam teori ini menerangkan bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan orang-orang yang melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat mereka untuk saling tergantung satu sama lain.

    Suka

  7. 1.) Jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lainuntuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi social dan kesepakatan serta kesepakatan pembagian kewajiban (bobot 30)
    Jawaban :
    a. ide
    Cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain
    seseorang yang berada di dalam hutan tak satupun orang didalamnya,
    lalu bertemu dan melihat ada seseorang yang melintas
    b. isyarat
    lalu kemudian orang itu memanggil ‘woooooyyyyy!!!’
    sambil melambaikan tangan sebagai tanda memanggil karena ia membutuhkan bantuan
    c. respon
    kemudian orang yang dipanggilpun menengok kearah orang yang memanggil
    d. interaksi
    dan orang itupun bertanya ‘kenapa kau memanggilku’
    e. kesepakatan & makna
    kemudian orang itu pun mengajak untuk berdiskusi untuk membantunya mendorong batu
    f. organisasi
    dan akhirnya mereka berdua pun sepakat dan orang itu mau membantu untung mendorong sebuah batu
    g. kerjasama
    pada akhirnya terjalin kerjasama batu itu pun dapat di dorong dengan bantuan nya. Artinya manusia harus saling membantu satu sama lain
    h. tujuan akhir
    batu itupun akhirnya bisa dapat di dorong bersama sama
    i. pesan yang disampaikan sukses
    akhirnya pun pesan berhasil diterima, karena batu itu sudah berhasil di geser

    Suka

  8. 2. asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran karl marx, dimana marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara claude henry, comte de saint-simon, auguste comte, dan emile durkheim merupakan nma-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui (bobot 30)
    jawaban :
    A. Teori Struktur Fungsional (Fakta Sosial) dengan tokoh utamanya Emile Durkheim
    Menurut Ritzer, obyek studi sosiologi menurut paradigma ini adalah fakta sosial ( meliputi struktur sosial dan pranata sosial) yang bersifat eksternal, umum dan memaksa individu anggota masyarakat.
    Struktur Sosial : Menggambarkan jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir.
    Pranata Sosial : Adalah norma sosial dan pola-pola nilai sosial.

    Ciri-ciri utama Fakta Sosial :
    1). General (umum).
    Berlaku tidak hanya untuk perseorangan, akan tetapi bagi seluruh komunitas. Misalnya penggunaan Bahasa Indonesia, tidak hanya untuk rang-orang tertentu akan tetapi siapa saja anggota masyarakat yang menggunakannya.

    2). Coercion (memaksa).
    Berlaku memaksa setiap orang untuk memberi arti sebagaimana yang telah disepakati oleh komunitas penggunanya.

    3). External (luar)
    Keberadaannya diluar eksistensi individu, yaitu sebagaimana FS yang lainnya seperti agama, hukum, kesenian, yang akan tetap ada kendati individu penggunanya telah tiada.

    Ritzer menyebutkan bahwa obyek studi paradigma ini adalah bagaimana fakta sosial mempengaruhi tindakan-tindakan manusia. Misalnya saja bagaimana lembaga agama mempengaruhi tindakan-tindakan anggota dalam kehidupan bersama orang lain dalam masyarakatnya.
    Menurut Horton dan Hunt sejumlah asumsi perspektif ini adalah sebagai berikut :
    a. Corak perilaku timbul karena secara fungsional bermanfaat.
    b. Pola perilaku timbul karena untuk memenuhi kebutuhan dan akan hilang apabila kebutuhan telah berubah.
    c. Perubahan sosial dapat mengganggu keseimbangan masyarakat yang stabil, namun kemudian akan terjadi keseimbangan baru kembali.
    d. Suatu nilai/kejadian pada suatu waktu/tempat akan dapat menjadi fungsional atau disfungsional pada waktu/tempat yang berbeda.
    e. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pengikut paradigma ini antara lain, apakah perubahan yang diusulkn akan bermanfaat bagi masyarakat ?

    B. Teori Interaksionisme Simbolik (Definisi Sosial) dengan tokoh utamanya Max Weber.
    Menurut Ritzer inti dari obyek studi paradigma ini dalah proses pendefinisian realitas sosial dan bagaimana orang mendefinisikan situasi, baik secara intra subyektif maupun inter subyektif, sehingga melahirkan tindakan-tindakan tertentu sebagai akibatnya.
    Weber menegaskan bahwa manusia itu adalah makhluk yang kreatif dalam membentuk realitas sosial (dunianya sendiri), misal anak kecil dengan tongkat kakeknya, seolah-olah dirinya pahlawan dengan pedang samurai menghadapi raksasa jahat yang sebenarnya adalah patung batu hiasan. Dengan demikian disimpulkan bahwa manusia bahkan anak-anak telah mampu menciptakan dunia sosialnya sendiri. Peran-peran kita sebagai ayah, dosen, peronda dlsbnya adalah bikinan kita sendiri.
    Bagaimana teori Interaksionisme Simbolik menjelaskan tindakan manusia dalam interaksinya dengan sesama anggota masyarakat, yang tentusaja penjelasan-penjelasan teoritisnya sesuai dengan asumsi yang telah ditetapkannya.
    Menurut Blumer terdapat asumsi-asumsi sebagai berikut :
    a. Manusia bertindak atas dasar makna yang dimiliki oleh benda, kejadian atau fenomena tsb bagi manusia. Misalnya pengemis, bagi yang memberi memaknainya sebagai korban para pemimpin korup. Sedang bagi yang tidak memberi karena menganggap orang tsb pemalas, karena berbadan sehat tetapi malas bekerja.
    b. Makna suatu benda, kejadian atau fenomena merupakan produk dari interaksi sosial para anggota masyarakat. Misalnya makna tidak inherent pada bendanya itu sendiri, akan tetapi merupakan hasil interaksi sosial.
    c. Makna-makna itu dikelola serta dimodifikasikan melalui suatu proses penafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dijumpai sewaktu interaksi sosial berlangsung. Dengan demikian makna itu merupakan penafsiran dari anggota masyarakat dalam menanggapi kejadian/fenomena dalam masyarakat.

    Ritzer menyimpulkan bahwa kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antar individu dan antar kelompok dengan simbol yang dipahami maknanya melaui proses belajar.
    Kalangan interaksionis menegaskan bahwa tindakan manusia bukanlah respons langsung terhadap stimuli yang dihadapi, jadi stimulus bukanlah determinan faktor. Antara stimulus dengan respons terdapat intervening variabel yang disebut “proses mental”, misalnya dorongan sex pada binatang, begitu timbul akan dilakukan dengan segera, sedangkan manuisa tidaklah demikian.

    C. Teori Pertukaran Sosial (Perilaku Sosial) dengan tokoh utamanya B.F. Skinner.
    Menurut Ritzer obyek studi dari teori ini adalah perilaku manusia (human behavior). Para behaviorist berusaha untuk mencari dan meramalkan perilaku sosial yang terjadi sebagai hasil interaksi antar anggota masyarakat. oleh karena itu paradigma ini menekankan studinya pada respons seseorang terhadap stimuli yang dihadapinya.
    Dalam teori pertukaran, Homans dipengaruhi oleh para pendahulunya pemikir ekonomi seperti Smith, David Ricardo dan Stuart Mill, sehingga teori ini sangat menekankan pada pertimbangan untung-rugi individu dalam interaksi sosialnya.
    Asumsi teori pertukaran ini adalah :
    a. Manusia pada dasarnya tidak mencari keuntungan maksimal, akan tetapi dalam berinteraksi senantiasa mencari keuntungan.
    b. Manusia tidak selalu rasional, akan tetapi dalam setiap interaksinya cenderung berpikir untung-rugi.
    c. Sekalipun tidak memiliki informasi semua hal mengembangkan alternatif, akan tetapi memiliki informasi terbatas yang dapat dipakai landasan mengembangkan alternatif untuk menghitung untung-rugi.
    d. Walau senantiasa dalam keterbatasan, tetapi manusia tetap berkompetisi mendapatkan keuntungan dalam bertransaksi.
    e. Walau senantiasa berusaha mendapatkan keuntungan dari interaksinya, tetapi mereka dibatasi oleh sumber-sumber yang tersedia.
    f. Walau senantiasa bersaha mendapatkan keuntungan material, tetapi mereka melibatkan dan menghasilkan hal-hal yang bersifat non-material seperti emosi, perasaan suka, sentimen
    teori karl marx
    teori perubahan sosial dan budaya karl marx yanjg merumuskan bahwa perubahan sosial dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism)
    teori William f. Ogburn dan mayer f nimcoff
    sosiologi adalah penelitian ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi soial

    Suka

  9. 3.
    – Teori Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat,tradisi dan institusi.
    – Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.

    Suka

  10. 1. Jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta pembagian kewajiban?
    Jawaban:
    A. Ide
    Seseorang yang sedang mendorong batu dengan sekuat tenaga ternyata batu tersebut tidak bergeser sedikit pun, setelah lama berfikir akhirnya timbul lah ide yaitu meminta bantuan orang lain untuk membantunya.
    B. Isyarat
    Tiba-tiba orang itu melihat ada orang lain yang sedang berjalan, lalu orang itu mengangkat tangannya dan berkata “wey”. Secara sosiologi orang tersebut yang melambaikan tangan nya itu telah melakukan isyarat.
    C. Respon
    Orang yang merasa di panggil akhirnya dia menghampiri orang yang memanggilnya dengan melambaikan tangan. Dari kejadian itu adanya respon atau feedback dari sebuah isyarat tadi.
    D. Interaksi
    Lalu kedua orang tersebut melakukan interaksi, menggunakan bahasa non verbal karena ia hanya menggunakan isyarat.
    E. Kesepakatan makna
    Setelah melakukan interaksi akhirnya terjadi lah kesepakatan makna dari isyarat tadi. Bahwa ia setuju membantu mendorong batu tersebut.
    F. Organisasi
    Setelah ia setuju dan mempunyai tujuan yang sama maka terbentuklah sebuah organisasi yaitu orang yang meminta pertolongan sebagai pemimpinnya untuk mendorong batu tersebut. Dalam bentuk organisasi harus memiliki tujuan yang sama dan harus terstruktur.
    G. Kerjasama
    Agar batu tersebut dapat bergeser sampai keujung maka harus ada kerjasama yang baik. Dengan kerjasama yang baik akhirnya batu tersebut dapat bergeser dengan mudahnya.
    H. Tujuan akhir
    Dari kesepakatan awal yang telah disetujui di awal, tujuan akhir dari organisasi itu pun tercapai.
    I.Pesan yang disampaikan sukses
    Pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan berhasil diterima, karena batu itu sudah berhasil di geser.

    2. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran karl marx, dimana marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara claude henry, saint-simon, auguste comte, dan emile durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui
    Jawaban:
    a. Karl Marx Theory
    Intinya sederhana, yaitu bahwa harus ada sistem produksi dan distribusi agar manusia dapat bertahan dalam hidupnya. Menurut Marx, maka sistem produksi untuk bagian terbesar ditentukan oleh taraf perkembangan teknologi dari suatu masyarakat. Marx berprefensi, bahwa distribusi dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Manurut kapitalisme, maka distribusi dilakukan sesuai dengan kemampuan warga masyaakat untuk membayar.
    Hipotesa marx adalah bahwa apabila golongan proletar merasa dieksploitasikan karena kedudukan kelasnya dalam masyarakat kapitalis, maka mereka akan bangkit untuk menghentikan penindasan yang dilakukan kelas lain yang lebih tinggi (golongan Burjois). Di dalam eksperimen tersebut, peserta yang merasa tertekan oleh asisten, padahal mereka sadar akan kedudukan yang sama, akan bersikap menentang.

    b. Emile Durkheim
    Teori Pembagian Kerja dikemukakan oleh Durkheim. Durkheim berpendapat bahwa tekanan evolusioner terhadap pekembangan dari peradaban, sebagai hal yang meragukan dasar-dasarnya. Durkheim sangat kritis, terutama terhadap pernyataan bahwa perubahan masyarakat terjadi sebagaimana halnya dengan perubahan-perubahan gejala-gejala non-organis dan psikologis.
    Durkheim lebih banyak menonjolkan taraf-taraf perkembangan masyarakat, daripada menggambarkan masyarakat yang semakin lama semakin beradab. Durkheim seringkali menganalisa masyarakat secara biologis dan menggambarkan perkembangan masyarakat sebagaimana pernah dilakukan oleh Spencer.
    Durkheim juga mencatat adanya faktor-faktor lain sebagai penyebab terjadinya konflik dalam pembagian kerja. Situasi ditandai dengan pengaruh kehidupan kota yang menular. Digantinya tenaga manusia dengan mesin, menurunnya kebanggaan akan ketrampilan, dan spesialisasi yang semakin meningkat. Hasilnya bukanlah solidaritas, melainkan konflik, oleh karena pelbagai organ masyarakat tidak saling berhubungan, karena tak ada pengaturan.

    c. Kingsley Davis
    Teori Struktural Fungsional adalah teori yang menjelaskan bahwa ada suatu sistem dalam struktur sosial, dimana sistem ini mengatur sehingga tiap anggota memiliki pekerjaannya masing-masing dan tiap anggota harus menjalankan bagiannya masing-masing. Namun walau terpisah-pisah, mereka tetap merupakan suatu himpunan yang harus bekerjasama dan berhubungan antara yang satu dengan yang lain (saling mempengaruhi).

    d. Erving Goffman
    Erving Goffman adalah tokoh yang membuat analogi antara kehidupan sehari-hari dengan sebuah pertunjukan atau pementasan sandiwara.
    Goffman telah berhasil untuk membuat suatu generalisasi. Setiap orang dari kategori tersebut rata-rata mempunyai suatu stigma, oleh karena identitas sosialnya didominasikan oleh satu aspek saja. Salah satu akibatnya adalah, bahwa orang-orang yang telah diberi stigma akan mencari dan kemudian bergabung dengan orang-orang yang nasibnya sama, semacam pengesahan terhadap stigma tersebut.

    e. Max Weber
    Demokrasi langsung hanya dapat diterapkan di dalam masyarakat yang kecil dan relatif sederhana. Bagi weber nilai demokrasi perwakilan terletak pada fakta bahwa demokrasi memungkinkan pemilihan pemimpin-pemimpin politik secara efektif. 6
    Menurut Weber dalam teori tindakan sosial, suatu tindakan manusia dikatakan sebagai tindakan sosial apabila mempunyai arti subyektif.

    3. Sebenarnya gagasan gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif structural fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang dimaksud dengan structural fungsional dan perspektif konflik.
    Jawaban:

    Perspektif Konflik
    Perspektif ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang selalu berubah, terutama sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha memelihara dan meningkatkan posisinya. Perspektif ini beranggapan bahwa kelompokkelompok tersebut mempunyai tujuan sendiri yang beragam dan tidak pernah terintegrasi. Dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok seringkali harus mengorbankan kelompok lain. Karena itu konflik selalu muncul, dan kelompok yang tergolong kuat setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya. Ciri lain dari perspektif ini adalah cenderung memandang nilai dan moral sebagai rasionalisasi untuk keberadaan kelompok yang berkuasa. Dengan demikian kekuasaan tidak melekat dalam diri individu, tetapi pada posisi orang dalam masyarakat. Pandangan ini juga menekankan bahwa fakta sosial adalah bagian dari masyarakat dan eksternal dari sifatsifat individual. Singkatnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial. Ia memandang masyarakat terus- menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial, perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan. Tokoh yang menganut perspektif ini adalah Karl Marx dan Frederich Engles.
    Teori Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif. Selain itu, Parson memperkenalkan 2 macam mekanisme yang dapat mengintergrasikan sistem-sistem personal ke dalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan mekanisme kontrol sosial. Melalui operasi kedua mekanisme ini, sistem personal akan menjadi terstruktur dan secara harmonis terlihat di dalam struktur sistem sosial.
    4. http://riara13.wordpress.com

    Suka

  11. 3. sebenernya gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang dimaksud dengan struktur fungsional dan perspektif konflik itu? (bobot 25)
    jawaban :
    Teori Struktural Fungsional
    ”Fungsionalisme struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang.” Kata Robert Nisbet (Dikutip dari Turner and Maryanski, 1979).
    Kingsley Davis (1959) dan Alvin Goulduer (1970) berpendapat bahwa ”Fungsionalisme struktural adalah sinonim dengan sosiologi”, pendapat yang secara tersirat menyerang sosiologi barat Talcott Parsons melalui analisis kritis terhadap fungsionlaisme struktural.
    Wilbert Moore yang sangat memahami teori ini, dengan dua pengamat lain menyatakan, ”Fungsionalisme struktural sebagai teori sosiologi telah merosot arti pentingnya, bahkan telah menjadi sesuatu yang memalukan dalam perkembangan teori sosiologi masa kini. Fungsionalisme Struktural sebagai sebuah teori yang bersifat menjelaskan kami kira sudah ’mati’, dan upaya untuk menggunakan fungsionalisme sebagai penjelasan teoritis harus ditinggalkan dan mencari perspektif teoritis lain yang lebih memberi harapan”.
    Menanggapi tentang Teori Fungsional, Demerath dan Peterson (1967) berpandangan lebih positif. Mereka menyatakan bahwa Fungsionalisme struktural belum mati. Teori ini mungkin dapat dikembangkan menjadi teori lain sebagaimana teori ini dikembangkan dari pemikiran organisme lebih awal.
    Sebenarnya apa yang dibahas dari Teori Struktural Fungsional ini? Melihat pendapat-pendapat para ahli dan pengamat di atas, tampaknya teori ini merupakan teori sosiologi yang menimbulkan banyak pro dan kontra.
    Yang pokok dari perspektif ini, adalah pengertian sistem yang diartikan sebagai suatu himpunan atau kesatuan dari unsur-unsur yang saling berhubungan selama jangka waktu tertentu, atas dasar pada pola tertentu. Lembaga sosial sebagai unsur struktur, dianggap dapat memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup dan pemeliharaan masyarakat. Setiap lembaga sosial mempunyai fungsinya masing-masing dan dalam hubungan antara satu dengan lainnya. Oleh karena para Sosiolog yang berpendirian demikian mempunyai perhatian utama terhadap struktur dan fungsinya, maka perspektif itu disebut Teori Struktural Fungsional.
    Tokoh-tokoh teori ini antara lain Talcott parsons, Kingsley davis, dan Robert K. Merton.
    KESIMPULAN: Teori Struktural Fungsional adalah teori yang menjelaskan bahwa ada suatu sistem dalam struktur sosial, dimana sistem ini mengatur sehingga tiap anggota memiliki pekerjaannya masing-masing dan tiap anggota harus menjalankan bagiannya masing-masing. Namun walau terpisah-pisah, mereka tetap merupakan suatu himpunan yang harus bekerjasama dan berhubungan antara yang satu dengan yang lain (saling mempengaruhi).

    Teori Konflik
    Di dalam suatu masyarakat dapat dijumpai hal-hal yang dianggap baik, namun ada golongan-golongan tertentu yang merasa dirugikan. Contohnya kekayaan material, kekuasaan, kedudukan, dan lain sebagainya. Hal ini menimbulkan pertikaian atau konflik.
    Konflik mencakup satu proses, dimana terjadi pertentangan hak atas kekayaan, kekuasaan, kedudukan, dan seterusnya, dimana salah satu pihak berusaha menghancurkan pihak lain.
    Karl Marx dan Friedrich Engels dalam ”Communist Manifesto” (1848) menganggap bahwa proses terpenting dalam masyarakat adalah terjadinya pertentangan kelas / Class Struggle. Menurut Marx dan Engels, maka suatu golongan yang memerintah mempunyai kedudukan tersebut, oleh karena menguasai sarana produksi yang penting bagi kelangsungan hidup masyarakat. Walaupun pertentangan kelas merupakan titik sentral dari teori Marx, akan tetapi kebanyakan sosiolog kontemporer meninjau konflik yang terjadi antara golongan ras berbeda, agama yang berbeda, antara produsen dengan konsumen, dan seterusnya.
    Teori konflik menyediakan alternatif terhadap fungsionalisme struktural. Teori ini lebih merupakan sejenis fungsionalisme struktural yang angkuh ketimbang teori yang benar-benar berpandangan kritis terhadap masyarakatnya. Teori ini merupakan karya Ralf Dahrendorf. Dalam karyanya, pendirian teori konflik dan teori fungsional disejajarkan.
    Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Tetapi menurut Dahrendorf dan teoritisi konflik lainnya, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Mereka melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubaan. Teoritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Mereka juga menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
    Kelompok, konflik, dan perubahan. Selanjutnya Dahrendorf membedakan 3 tipe utama kelompok, yaitu kelompok semu, kelompok kepentingan, dan kelompok konflik atau kelompok yang terlibat dalam konflik kelompok aktual.
    Aspek terakhir dari teori konflik Dahrendorf adalah hubungan konflik dengan perubahan. Dalam hal ini Dahrendorf mengakui pentingnya pemikiran Lewis Coser yang memusatkan perhatian pada fungsi konflik dalam mempertahankan status quo. Namun Dahrendorf menganggap fungsi konservatif dari konflik hanyalah satu bagian realitas sosial; konflik juga menyebabkan perubahan dan perkembangan.
    Tokoh-tokoh dari Teori Konflik adalah C. Wright Mills, Tom B. Bottomore, Ralf Dahrendorf, Randall Collins, dan juga Richard P. Appelbaum.
    KESIMPULAN: Inti dari Teori Konflik adalah, di masyarakat selalu akan ada kelompok atas yang menguasai kelompok bawah, kelompok ini dibagi berdasarkan kekuasaan, kemampuan, kekayaan, kekuatan, dsb. Kelompok bawah (yang lemah) akan ”ditindas” dan menjalankan kehendak kelompok atas. Fenomena ini akhirnya memicu pertikaian / konflik antar kelompok.

    Suka

  12. 2.
    – Karl Marx : Teori perubahan social dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan social dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism).
    – Pitirim Sorokin : sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari: – hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik dan lain sebaginya); – hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya ); – ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
    – Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.
    – William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
    – Prof. DR. Selo Soemardjan dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi mendefinisikan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.

    Suka

  13. 1. Dahulu kala, ada seseorang yang sedang mencoba memindahkan sebuah batu yang ukurannya sangat besar. Namun, setelah orang itu mengerahkan upayanya, batu itu tidak bergeser sedikit pun. Tanpa sengaja ia melihat orang lain yang kebetulan sedang lewat. Maka orang itu memanggilnya “ooiiiiii…….”, secara otomatis orang yang kebetulan lewat tersebut melihat ke arah pendorong batu (1). Agar orang yang kebetulan lewat tersebut menghampirinya, maka si pendorong batu pun melambaikan tangannya. Karna penasaran, orang yang kebetulan lewat pun menghampiri si pendorong batu (2). Setelah mereka bertemu, terjadi pembicaraan di antara mereka dengan menggunakan bahasa isyarat. Kenapa bahasa isyarat?karna pada waktu itu belum ada kesepakatan tentang bahasa apa yang akan mereka gunakan(3). Akhirnya, orang yang kebetulan lewat tadi akhirnya setuju dan terjalinlah kesepakatan di antara mereka untuk saling membantu mendorong batu berukuran besar tersebut(4). Secara bersama – sama mereka pun mendorong batu tersebut, dan berhasil! batu berhasil bergerak sedikit – demi sedikit(5). Setelah berhasil mendorong batu tersebut, si pendorong berterimakasih kepada orang yang kebetulan lewat karna telah membantu(6). Mereka pun memutuskan untuk bergabung dan membentuk masyarakat(7). Setelah setuju untuk bergabung, mereka pun memilih siapa yang menjadi pemimpin di antara mereka berdua(8). Setelah setuju dengan si Pendorong batu yang menjadi pemimpin mereka pun menetap di tempat itu dan akhirnya banyak orang yang bergabung dengan mereka dan mengakui si pendorong batu sebagai pemimpin mereka. Maka terbentuklah masyarakat yang seutuhnya(9).
    Jadi bisa kita simpulkan bahwa kalimat nomor 1, 2, dan 3 masuk kedalam ruang lingkup komunikasi. Nomor 4, 5, dan 6 masuk ke ruang lingkup sosiologi. Sedangkan nomor 7, 8, dan 9 masuk ke ruang lingkup masyarakat.

    Suka

  14. 3. sebenarnya gagasan-gagasan prespektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif struktural fungsional maupun dalam perspektif struktural fungsional maupun dalam perspektif konflik . apa yang dimaksud dengan struktural fungsional dan perspektif konflik itu sendiri

    menurut Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Pemikiran struktural dan fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial.

    menurut Karl Marx Teori konflik didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.
    Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.

    Suka

  15. 1. jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seseorang manusia dan mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya. Berikan kapan tanda-tanda terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta kesepakatan pembagian kewajiban ! (bobot 30)
    Jawban:
    1. Seseorang yang sedang mendorong batu besar tidak dapat mendorong batu tersebut,
    2. seseorang tersebut melihat ada orang lain yang sedang melintas dan disaat orang lain tersebut melintas muncul ide dari si pendorong batu
    3. orang yang mendorong batu tersebut memanggilnya “woy” di saat yang mendorong batunya memanggil orang lain , disini terjadi komunikasi si pendorong ke orang lain
    4. orang lain tersebut menengok , tejadi respon
    5.menghampiri si pendorong batu tersebut, disinipun terjadi respon
    6. keduanya telah bersama , terjadi organisasi antara keduanya
    7.si pendorong batu menunujuk batu tersebut untuk, menentukan pemimpin organisasi dan pemimpin tersebut mengajak mendorong batu bersama
    8. Terjadi kesepakatan mendorong batu bersama-bersama
    9.keduanya mendorong batu tersebut akhirnya batu itu dapat bergeser . terjadi effect komunikasi

    Suka

  16. Nama : Devina Wulandari (44213210013) – Public Relations
    email : devinaw60@yahoo.com
    URL : http://definai.wordpress.com/

    UTS
    3. Sebenarnya gagasan gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif struktural fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang dimaksud dengan struktural fungsional dan perspektif konflik itu?
    Jawaban :
    Teori struktural fungsional dan Teori Konflik
    Teori Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif. Selain itu, Parson memperkenalkan 2 macam mekanisme yang dapat mengintergrasikan sistem-sistem personal ke dalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan mekanisme kontrol sosial. Melalui operasi kedua mekanisme ini, sistem personal akan menjadi terstruktur dan secara harmonis terlihat di dalam struktur sistem sosial.
    Di dalam pengertiannya yang secara abstrak mekanisme sosial dipandang sebagai cara dimana pola-pola kultural, seperti nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, bahasa serta simbol-simbol lain diinternalisasikan ke dalam sistem persona. Mekanisme kontrol sosial melibatkan cara-cara di mana tindakan-tindakan sosial diorganisasikan di dalam sistem sosial untuk mengurangi ketegangan dan penyimpangan. Ada beberapa mekanisme spesifik dari kontrol sosial, antara lain:
    a) institusionalisasi, yang membuat pengharapan-pengharapan di dalam masyarakat menjadi jelas dan terkontrol,
    b) adanya sanksi, dimana anggota masyarakat terikat di dalamnya,
    c) aktivitas-aktivitas keagamaan, dimana ketegangan dan penyimpangan dapat diredam dan dikurangi,
    d) struktur kutub pengamanan, dimana kecenderungan-kecenderungan penyimpangan dapat di arahkan ke kondisi normal kembali,
    e) struktur-struktur reintegrasi, dan f) sistem yang memiliki kemampuan dalam menggunakan kekuasaan dan tekanan.

    Teori Konflik
    Berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
    Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
    Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
    Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
    Teori yang dikemukakan oleh Dahrendorf ini terkenal sebagai teori konflik dialektika. Dahrendorf dengan tekun dan ulet menyanggah pandangan-pandangan Parsons, dan teori fungsional struktural secara keseluruhan.
    Pada tahun 1958, Dahrendorf sudah menyatakan bahwa pandangan-pandangan Parsonian ataupun teori fungsional struktural sebagai suatu utopis. Menurut Dahrendorf, teori tersebut menawarkan suatu gambaran masyarakat yang konsensual, integral dan statis. Sementara masyarakat seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memiliki dua wajah, yaitu yang bersifat konsensual dan konflik. Untuk melepaskan diri dari kungkungan utopia itu, Dahrendorf memerlukan suatu model teori konflik sebagai substansi model teori fungsional struktural. Model yang lahir dari sudut pandang ini disebut sebagai perspektif konflik dialektika dan dianggap lebih sesuai dengan apa yang berlaku di dunia dibanding teori fungsional struktural.
    Bagi Dahrendorf, pelembagaan di dalam masyarakat melibatkan pembentukan apa yang disebut sebagai asosiasi terkordinasi secara imperatif (imperatively coordinated associations) atau disingkat dengan ICA yang mewakili organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Organisasi-organisasi ini di bentuk oleh hubungan kekuasaan antar beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat. sementara kekuasaan menunjukkan adanya faktor paksaan oleh suatu kelompok ke atas kelompok dimana hubungan kekuasaan di dalam ICA cenderung terjadi terlegitimasi. Dalam hal ini beberapa kedudukan mempunyai hak normatif yang diakui begitu saja untuk mendominasi yang lainnya.
    Pada saat yang bersamaan, kekuasaan dan otoritas merupakan sumber yang langka, dimana setiap subkelompok dalam masyarakat dengan ICA mereka berkompetisi untuk mendapatkannya. Jadi dapat dilihat disini bahwa kekuasaan dan otoritas merupakan sumber konflik yang primer dalam masyarakat. konflik ini pada akhirnya adalah refleksi dari kelompok pemeran di dalam ICA memperebutkan otoritas.
    Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
    Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
    Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
    Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
    Koonflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
    Konflik antar atau tidak antar agama
    Konflik antar politik
    Selain itu, Dahrendorf menganggap institusionalisasi sebagai suatu proses dialektis. Hubungan kausal yang dianggap penting untuk dianalisis adalah:
    1) Konflik merupakan suatu proses yang pasti terjadi dan diakibatkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan dalam pengaturan sosial yang bersifat struktural.
    2) Konflik tersebut dipercepat atau diperlambat oleh adanya sekumpulan kondisi struktural atau variabel yang bersifat mempengaruhi.
    3) Penyelesaian konflik pada saat tertentu menciptakan suatu situasi yang bersifat struktural yang dalam keadaan tertentu mengakibatkan konflik antar kekuatan yang saling bertentangan.
    Pandangan Marx menyatakan bahwa sumber konflik adalah nilai-nilai kultural dan peraturan kelembagaan yang mewakili kepentingan dan diciptakan oleh penguasa. Sedangkan Dahrendorf menganggap bahwa sumber konflik adalah hubungan kewenangan yang telah melembaga dalam berbagai ICA. Menurut Marx, hubungan kewenangan adalah superstruktur yang diciptakan oleh kelas penguasa dalam jangka panjang akan diruntuhkan oleh adanya dinamika konflik.

    Suka

  17. 1. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran karl marx, dimana marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara claude henry, saint-simon, auguste comte, dan emile durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui
    Jawaban:
    a. Karl Marx Theory
    Intinya sederhana, yaitu bahwa harus ada sistem produksi dan distribusi agar manusia dapat bertahan dalam hidupnya. Menurut Marx, maka sistem produksi untuk bagian terbesar ditentukan oleh taraf perkembangan teknologi dari suatu masyarakat. Marx berprefensi, bahwa distribusi dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Manurut kapitalisme, maka distribusi dilakukan sesuai dengan kemampuan warga masyaakat untuk membayar.
    Hipotesa marx adalah bahwa apabila golongan proletar merasa dieksploitasikan karena kedudukan kelasnya dalam masyarakat kapitalis, maka mereka akan bangkit untuk menghentikan penindasan yang dilakukan kelas lain yang lebih tinggi (golongan Burjois). Di dalam eksperimen tersebut, peserta yang merasa tertekan oleh asisten, padahal mereka sadar akan kedudukan yang sama, akan bersikap menentang.

    b. Emile Durkheim
    Teori Pembagian Kerja dikemukakan oleh Durkheim. Durkheim berpendapat bahwa tekanan evolusioner terhadap pekembangan dari peradaban, sebagai hal yang meragukan dasar-dasarnya. Durkheim sangat kritis, terutama terhadap pernyataan bahwa perubahan masyarakat terjadi sebagaimana halnya dengan perubahan-perubahan gejala-gejala non-organis dan psikologis.
    Durkheim lebih banyak menonjolkan taraf-taraf perkembangan masyarakat, daripada menggambarkan masyarakat yang semakin lama semakin beradab. Durkheim seringkali menganalisa masyarakat secara biologis dan menggambarkan perkembangan masyarakat sebagaimana pernah dilakukan oleh Spencer.
    Durkheim juga mencatat adanya faktor-faktor lain sebagai penyebab terjadinya konflik dalam pembagian kerja. Situasi ditandai dengan pengaruh kehidupan kota yang menular. Digantinya tenaga manusia dengan mesin, menurunnya kebanggaan akan ketrampilan, dan spesialisasi yang semakin meningkat. Hasilnya bukanlah solidaritas, melainkan konflik, oleh karena pelbagai organ masyarakat tidak saling berhubungan, karena tak ada pengaturan.

    c. Kingsley Davis
    Teori Struktural Fungsional adalah teori yang menjelaskan bahwa ada suatu sistem dalam struktur sosial, dimana sistem ini mengatur sehingga tiap anggota memiliki pekerjaannya masing-masing dan tiap anggota harus menjalankan bagiannya masing-masing. Namun walau terpisah-pisah, mereka tetap merupakan suatu himpunan yang harus bekerjasama dan berhubungan antara yang satu dengan yang lain (saling mempengaruhi).

    d. Erving Goffman
    Erving Goffman adalah tokoh yang membuat analogi antara kehidupan sehari-hari dengan sebuah pertunjukan atau pementasan sandiwara.
    Goffman telah berhasil untuk membuat suatu generalisasi. Setiap orang dari kategori tersebut rata-rata mempunyai suatu stigma, oleh karena identitas sosialnya didominasikan oleh satu aspek saja. Salah satu akibatnya adalah, bahwa orang-orang yang telah diberi stigma akan mencari dan kemudian bergabung dengan orang-orang yang nasibnya sama, semacam pengesahan terhadap stigma tersebut.

    e. Max Weber
    Demokrasi langsung hanya dapat diterapkan di dalam masyarakat yang kecil dan relatif sederhana. Bagi weber nilai demokrasi perwakilan terletak pada fakta bahwa demokrasi memungkinkan pemilihan pemimpin-pemimpin politik secara efektif. 6
    Menurut Weber dalam teori tindakan sosial, suatu tindakan manusia dikatakan sebagai tindakan sosial apabila mempunyai arti subyektif.

    Suka

  18. 3. sebenarnya gagasan-gagasan pespektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif struktural fungsional maupun dalam perspektif konflik. apa yang dimaksud dengan struktural fungsional dan perspektif konflik itu ?
    jawab : perspektif struktural fungsional , adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar.Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif.” Bagi Talcott Parsons, “fungsionalisme struktural” mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran.
    – perspektif konflik ,Perspektif Konflik
    Perspektif ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang selalu berubah, terutama sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha memelihara dan meningkatkan posisinya. Perspektif ini beranggapan bahwa kelompokkelompok tersebut mempunyai tujuan sendiri yang beragam dan tidak pernah terintegrasi. Dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok seringkali harus mengorbankan kelompok lain. Karena itu konflik selalu muncul, dan kelompok yang tergolong kuat setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya.
    Ciri lain dari perspektif ini adalah cenderung memandang nilai dan moral sebagai rasionalisasi untuk keberadaan kelompok yang berkuasa. Dengan demikian kekuasaan tidak melekat dalam diri individu, tetapi pada posisi orang dalam masyarakat. Pandangan ini juga menekankan bahwa fakta sosial adalah bagian dari masyarakat dan eksternal dari sifatsifat individual. Singkatnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial. Ia memandang masyarakat terus- menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial, perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan. Tokoh yang menganut perspektif ini adalah Karl Marx dan Frederich Engles.

    Suka

  19. Nama : Devina Wulandari (44213210013)
    email : devinaw60@yahoo.com
    URL : http://definai.wordpress.com/

    UTS
    2. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx dimana Marx sendiri adalah masuk sebagai yang beraliran Jermansementara Claude Henry Saint Simon, Auguste Comte, dan Emile Durkheim merupakan nama nama para ahli sosiologi yang beraliran Prancis. Jelaskan 5 teori komunikasi yang anda ketahui !
    Jawaban : 1, Auguste Comte
    Karya – karya Auguste Comte diantaranya adalah Auguste Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian yaitu Social Statics dan Social Dynamic. Pembagian sosiologi kedalam dua bagian ini bukan berarti akan memisahkannya satu sama lain. Bagian yang paling penting dari sosiologi menurut Auguste Comte adalah apa yang disebutnya dengan social dynamic, yaitu teori tentang perkembangan dan kemajuan masyarakat. Karena social dynamic merupakan study tentang sejarah yang akan menghilangkan filsafat yang spekulatif tentang sejarah itu sendiri.

    1. Social Dinamic
    Social dynamics adalah teori tentang perkembangan manusia. Augute Comte berpendapat bahwa di dalam masyarakat terjadi perkembangan yang terus menerus, sekalipun dia juga menambahkan bahwa perkembangan umum dari masyarakat tidak merupakan jalan lurus. Comte berpendapat bahwa jawaban tentang perkembangan sosial harus dicari dari karakteristik yang membedakan antara manusia dengan binatang. Menurut Comte, yang membedakan manusia dengan binatang adalah perkembangan inteligensi manusia yang lebih tinggi.
    Comte mengajukan hukum tentang 3 tingkatan inteligensi manusia, yaitu pemikiran yang bersifat theologis atau fictious, metaphisik atau abstrak, scientific atau positive. Sjarah umat manusia sebenarnya ditentukan oleh pertumbuhan dari pemikiran manusia, hukum tertinggi dari sosiologi haruslah hukum tentang perkembangan inteligensi manusia.
    The Law of three stages (Hukum Tiga Tahap)
    Hukum tiga tahap merupakan hukum tentang perkembangan inteligensi manusia, dan yang berlaku tidak hanya terhadap perkembangan manusia, tetapi juga berlaku terhadap perkembangan individu. Hukum tiga tahap terdiri dari 3 tahap perkembangan pikiran manusia yaitu The Telogical, or Fictitious; The Metaphysical or Abstract; dan The Scientific, or Positive.
    a. The Law of the hierarchie of the sciencies (Hierarki dari llmu Pengetahuan)
    Di dalam menyusun susunan ilmu pengetahuan, Comte menyadarkan diri kepada tingkat perkembangan pemikiran manusia dengan segala tingkah laku yang terdapat didalamnya. Sehingga sering kali terjadi didalam pemikiran manusia, kita menemukan suatu tingkat pemikiran yang bersifat scientific.
    b. The Law of the correlation of practical activities
    Comte yakin bahwa ada hubungan yang bersufat natural antara cara berfikir yang theologies dengan militerisme. Cara berfikir theologies mendorong timbulnya usaha-usaha untuk menjawab semua persoalan melalui kekuatan(force). Karena itu, kekuasaan dan kemenangan selalu menjadi tujuan daripada masyarakat primitive dalam hubungan satu sama lain.
    c. The Law of the correlation of the feelings
    Comte menganggap bahwa masyarakat hanya dapat dipersatukan oleh feelings. Demikianlah, bahwa sejarah telah memperlihatkan adanya korelasi antara perkembangan pemikiran manusia dengan perkembangan dari social sentiment.
    2. Social Statics
    Social statics adalah bagian yang lebih elememter didalam sosiologi tetapi kedudukannya tidak begitu penting dibandingkan dengan social dynamics. Fungsi sosial statics adalah untuk mencari hukum – hukum tentang aksi dan reaksi dari pada berbagai bagian didalam suatu sistem sosial. Sedangkan dalam sosial statics mencari hukum – hukum tentang gejala – gejala sosial yang bersamaan waktu terjadinya. Didalam sosial statics, terdapat 4 doktrin yaitu doktrin tentang individu, keluarga, masyarakat dan negara.

    2.Teori Durkheim
    Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
    Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap “fakta-fakta sosial”, istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
    Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern[1]. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
    Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas ‘organik’. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang ‘organik’, para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
    Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hukum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organik, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
    Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
    Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam “Bunuh Diri”, yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik, dan menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah memengaruhi para penganjur teori kontrol, dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik.
    Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat ‘primitif’ (artinya, non Barat) dalam buku-bukunya seperti “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama” (1912) dan esainya “Klasifikasi Primitif” yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat ‘mekanis’ (meminjam ungkapan Durkheim)

    3. Pemikiran-Pemikiran Karl Marx
    1. Kapital, kapitalis dan ploretariat
    Marx menemukan inti masyarakat kapitalis didalam komoditas. Suatu masyarakat didominasi oleh objek-objek yang nilai utamanya adalah pertukaran yang memproduksi kategori-kategori masyarakat tertentu. Dua tipe utama yang menjadi perhatian Marx adalah proleariat dan kapitalis.
    Proletariat adalah para pekerja yang menjual kerja mereka dan tidak memiliki alat-aat produksi sendiri. Mereka tidak memilik sarana-sarana sendiri dan pabrik-pabrik sendiri, tetapi marx percaya bahwa ploretariat bahkan akan kehilangan keterampilan mereka seiring dengan meningkatnya mesin-mesin yang mengantikan mereka. Karena proletariat hanya memproduksi demi pertukaran, maka mereka juga konsumen. Karena mereka tidak memiliki sarana-sarana untuk memproduksi sarana-sarana untuk memproduksi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, maka mereka harus menggunakan upah yang mereka peroleh untuk membeli apa yang mereka butuhkan. Maka dari itu proletariat tergantung sepenuhnya pada upahnya untuk bertahan hidup. Hal inilah yang membuat proletariat tergantung pada orang yang memberi upah.
    Orang yang memberi upah adalah kapitalis, jelas adalah kapialis adalah orang-orang yang memiliki alat produksi. Kapital adalah uang yang menghasilkan lebih banyak uang. Dengan kata lain, kapital lebih merupakan uang yang di investasikan ketimbang uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keingginan manusia.
    Jadi kapitalisme adalah uang yang menghasilkan lebih banyak uang, namun Marx mengungkapkan kepada kita bahwa kapital bukan hanya itu : kapital juga merupakan sebuah resolusi sosial tertentu. dengan kata lain uang hanya akan menjadi kapital, karena adanya relasi sosial antara proletariat yang bekerja dan harus membeli produk dengan orang yang menginvestasikan upahnya. Kapitalis kapital untuk memperoleh keuntunagan terlihat sebagai kekuatan yang di bantu oleh alam- suatu kekuatan produktif imanen didalam kapital.
    Akhir dari Kapitalisme
    Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme yang berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme.
    Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional.“Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman-
    Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.
    2. Eksploitasi
    Bagi Marx, ekploitasi dan dominasi lebih dari sekedar distribusi kesejahteraan dan kekuasaan yang tidak seimbang. Ekspliotasi merupakan suatu bagianpenting dari ekonomi kapitalis. Tentu saja masyarakat memiliki sejarah eksploitasi, tetapi yang unik dalam kapitalisme adalah bahwa eksploitasi dilakukan oleh sistem ekonomi yang impersonal dan “objekti”. Kemudian paksaan jarang dianggap sebagai kekerasan, malah menjadi kebutuhan pekerja itu sendiri, yang biasaterpenuhi hanya melaui upah, secara ironis Marx menggabarkan kebebasan upah kerja ini.
    Untuk menggubah uangnya menjadi kapital ….pemilik uang harus bertemu di dalam pasar dengan buru-buruh bebas, bebas dalam dua pengrtian, dari satu sisi sebagai seseorang yang bebas dia bisa mengatur tenaganya sebagai komoditasnya sendiri, dan disisi lain sebagai seseorang yang tidak memiliki komoditas lain untuk dijual, dia kekurangan segala sesuatu yang penting untuk merealisasikan tenaganya.
    Para pekerja menjadi”buruh- buruh yang bebas”, membuat kontrak-kontrak bebas dengan para kapitalis. Namun , Marx percaya bahwa para pekerja tidak lagi mampu memproduksi demi kebutuhan mereka sendiri. Hal ini benar khususnyakarena biasanya kapitalisme menciptakan apa yang disebut Marx sebagai”tentara cadangan” dari pengagguran yang mau melakukanya. Inilah misalnya yang ditemukan Barbara Ehrenreich sebagai tujuan iklan lowongan kerja berupah yang rendah.
    Kapitalisme membayar para pekerja kurang dari nilai yang mereka hasilkan dan meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Hal ini membawa kita pada konsep sentral tentang nilai-nilai suplus. Nilai surplus di didefinisikan sebagai perbedaan antara nilai produksi ketika dijual dan nilai elemen-elemen yang digunakan untuk membuat poduk tersebut (termasuk kerja para pekerja). Kaptalisme biasanya menggunakan keuntungan ini untuk konsumsi pribadi, akan tetapi hal tersebut belum mengakibatkan ekspansi kapitalisme. Kapitalis melebarkan perusahaa mereka dengan menggubah nilai-surplus itu menjadi modal yang akan menghasilkan nilai-nilai surplus yang lebih banyak. Marx memberiakan sebuah ibarat, tentang hal ini” kapitalisme merupakan kerja mati, seperi vampir, yang hiup dengan menhisap kehidupan kerja, dan makan dia hidup, makin banyak kerja yang dihisapnya”
    Marx menggemukakan poin penting lainya tentang kapital” kapital eksis dan hanya bisa eksis sebagai kapital-kapital. Maksudnya disini adalah bahwa kapitalisme selalu di dorong oleh kompetisi yang tiada henti. Kapitalisme mungkin terlihat terkontrol, meskipun mereka didorong oleh kompetisi yang konstan antara kapital-kapial. Kapital dipaksa untuk memperoleh lebih banyak keuntungan demi mengakumulasikan dan menginvestasikan lebih banyak kapital. “ begitulah, kapitalis sama dengan si kikir dalam sebuah hal yang absolut, yakni memperkaya diri sendiri. Namun yang terlihat pada si kikir sebagai kegilaan individu, maka dalam kapitlis terlihat terliha sebagai efek dari mekanisme sosial yan roda penggeraknya adalah dirinya sendiri.
    Keingginan untuk memperoleh lebih banyak keuntungan dan lebih banyak nilai surplus untuk ekspansi, mendorong kapitalisme pada apa yang disebut Marx denagan hukum-hukum akumulasi kapital. Kapitalis berusaha mengesploitasi pekerja semaksimal mungkin: tertendensi konstan kapitalis adalah untuk memaksaonkos kerja kembali..ke angka Nol”. Marx berpendapat bahwa struktur dan etos kapitalisme mendorong kapitalis dalam mengarahkan akumulasi pada penumpukan kapital yang lebih banyak lagi. Unutk melakukan hal ini, berdasarkan pandangan Marx bahwa kerja merupakan sumber nilai, kapitalis digiring untuk meningkatkan eksploitasi terhadap proletariat. Inilah yang mendorong terjadinya konflik kelas.
    3. Konflik kelas
    Marx sering menggunakan istilah kelas di dalam tulisan-tulisanya, tetapi dia tidak mendefinisikan secara sistematis apa yang dia maksud dengan istilah ini. Biasanya ia menggunakan untuk menyatakan sekelompok orang yang berada dalam situasi yang sama dalam hubunganya dengan kontrol mereka terhadap alat-alat produksi. Namun, hal ini belumlah merupakan deskripsi yang sempurna dari istilah kelas sebagaimana digunakan Marx, kelas bagi marx selalu didefinisikan berdasarkan potensinya terhadap konflik. Individu-individu membentuk kelas sepanjang mereka berada di dalam suatu konflik biasa dengan individu-individu yang lain tentang nilai-surplus. Di dalam kapitalisme terdapat konflik kepentingan yang inheren antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang kerja mereka diupah kembali menjadi nilai surplus. Konflik inheren inilah yang membentuk kelas-kelas.
    Karena kelas didefinisikan sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, maka konsep ini berbeda-beda baik secara teoritis maupun historis. Sebelum mengidentifikasi sebuah kelas, diperlukan suatu teori tentang konflik berpotensi terjadi dalam sebuah masyarakat. Bagi Marx sebuah kelas banar-benar eksis hanya ketika orang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas-kelas yang lain. Tanpa kesadaran ini mereka hanya akan membentuk apa yang disebut marx dengan suatu kelas di dalam dirinya. Ketika mereka menyadari konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya, suatu kelas untuk didrinya.
    Ada dua macam kelas yang dikemukakan Marx ketika menganalisis kapitalisme: borjuis dan proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan memperkerjakan pekerja upahan. Konflik antar kela borjuis dan kelas priletar adalah contoh lain dari kontradiksi material yang sebenarnya. Kontradiksi ini berkembang sampai menjadi kontradiksi antara kerja dan kapitalisme. Tidak ada satu pun dari kontradiksi-kontradiksi ini yan bisa di selesaikan kecuali dengan menggubah struktur kapitalisme. Bahkan sampai perubahan tercapai, kontradiksi ini, makin memburuk . masyarakat makin berisi pertentangan antara dua kelas besar yang berlawanan. Kompetisi denagn toko-toko besar dan rantai monopoli akan mematikan binis-bisnis kecil dan idependen; mekanisasi akan mengantikan buruh tangan yang cekatan; bahkan kapitalis akan ditekan melalui cara-cara ampuh unuk memonopli, misalnya dengan melakukan merger semua orang yang digantikan ini akan terpaksa turun kelas menjadi proletariat. Marx menyebut pembengkakan yang tak terelakan didalam jumlah proletariat ini dengan proletarianisasi.
    4. Agama
    Marx juga melihat agama sebagai sebuah ideologi. Dia merujuk pada agama sebagai candu masyarakat. Marx percaya bahwa agama, seperti halnya ideologi, merefleksikan suatu kebenaran, namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka diciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama. Marx dengan jelas menyatakan bahwa dia tidak menolak agama, pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi-ilusi agama. Bentuk keagamaan ini mudah di kacaukan dan oleh karena itu selalu berkemungkinan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Kita juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada garda depan dalam melawan kapitalisme(lihat,misalnya, teologis pembebasan)
    5. komunisme dan Sosialisme
    Istilah sosialisme selalu identik dengan sosok Karl Marx. Padahal pemikiran tentang sosialisme terlampau jauh berkembang sejak abad ke V – sebelum Marx mulai memikirkan recolusi proletariat. Pemikiran Marx sendiri tentang sosialisme sebenarnya sudah termaktub dalam beberapa karya dan budaya Yunani kuno – meskipun terbatas pada objek dari sosialisme itu sendiri. sosialisme untuk semua digagas oleh Jambulos dan Euhemeros. Jambulos mendeskripsikan sebuah ‘negara matahari’ dimana segala-galanya – termasuk para isteri – dimiliki bersama.
    Kata ‘sosialisme’ sendiri mucul di Prancis sekitar tahun 1830, begitu juga ‘komunisme’. Kedua kata ini pada awalnya memiliki makna yang selaras, namun ‘komunisme’ segera dipakai oleh golongan sosialis radikal, yang menuntut penghapusan total hak milik pribadi dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan komunis itu dari kebaikan pemerintah, melainkan semata-mata dari perjuangan kaum terhisap sendiri (Frans. 2003:14). Sosialisme pada abad pertengahan memiliki motif-motif yang erat dengan nilai-nilai religius tertentu, yaitu Kristen. Terutama dalam pertimbanhan tentang penyambutan Kerajaan Allah, Orang harus bebas dari keterikatan.
    Sedangkan memasuki zaman pencerahan, perkembangan paham sosialisme tidak mampu berkembang pesat. Hal ini disebabkan dominasi golongan borjuasi yang menuntut kebebasan politik supaya dapat bebas berusaha dan berdagang untuk kepentingan milik pribadi – sebesar dan sebebas mungkin. Sejak bergulirnya Revolusi Prancis (1789-1795), sosialisme memasuki era modern dalam perkembangannya. Keyakinan dasar para pemimpin sosialis modern adalah, secara prinsipil produk pekerjaan merupakan milik si pekerja. Milik bersama dianggap tuntutan akal budi. Mereka meyakini bahwa masyarakat akan berjalan jauh lebih baik kalau tidak berdasarkan milik pribadi.
    Sejalan dengan perkembangan sosialisme, paham komunisme sebagai ‘sosialisme radikal’ pun berkembang mengiringi perkembangan induknya. Sejarah perkembangan kedua pemikiran ini – sampai saat ini – seolah mengerucut pada pergolakan yang terjadi di belahan Eropa, khusunya Uni Soviet – sekarang Rusia. Diantara tokoh-tokoh yang memiliki dominasi penuh atas kedua pemikiran ini adalah Karl Marx, Engels, Stalin, dan George Lukaes. Oleh karena itu, untuk memahami perkembangan pemikiran sosialis dan komunis, penulis menitik beratkan kajian pada perkembangan pemikiran Marx, Engels, dan Stalin. Sedangkan untuk memperkuat pengaruh pemikiran sosialisme dan komunisme modern, tulisan George Lukaes yang berjudul History and Class Conciousness (1923) tentunya tidak dapat ditinggalkan.
    Sosialisme-nya Marx
    Pandangan Marx tentang sosialisme bertentanngan dengan konsepsi-konsepsi sosialisme yang diciptakan Fourier dan Owen – yang menciptakan ‘dunia baru’ dimana setiap orang hidup bahagia. Marx berasumsi bahwa konsepsi tersebuat hanya angan-angan belaka, karena tidak menunjukkan jalan bagaimana mencapainya. Semua itu utopia, kata Marx, hanya impian belaka. Disisi lain, Marx sendiri selalu menolak member gambaran sosialisme. Menurutnya, sosialisme – ilmiah – tidak dapat “membuat resep bagi dapur umum dimasa datang”.
    Sementara itu, untuk membedakan ajaran dari gagasan sosialisme utopis, Marx menyusun suatu teori sosial yang menurutnya didasari hokum-hukum ilmiah dan karena itu pasti terlaksana. Marx meyakini adanya ‘hukum-hukum gerak’ dalam masyarakat yang dijalankan dengan prinsip ‘kebutuhan yang mutlak’ didasarkan pada penjelasan naïf dari kemajuan ilmu pengetahuan alam (Elster. 2000:31). Pertimbangan moral, menurut Marx, bukanlah dasar bagi sosialisme. Penilaian bahwa kapitalisme itu jahat dan sosialisme itu baik tidak berlaku mutlak, melainkan jika syarat-syarat objektif pengahpusan hak milik pribadi atas sesuatu itu terpenuhi. Hal ini berarti klaim Marx terhadap sosialisme-nya yang bersifat ilmiah bisa diterima, karena berdasarkan pengetahuan hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat – yang kemudian tersohor dengan istilah ‘Pandangan Materialis Sejarah’ (Frans. 2003:137).
    Sosialisme yang akan datang menggantikan kapitalisme adalah buah dari pada perkembangan masyarakat dalam sejarah dibawah pengaruh hokum dialektik. Menurut Marx, menggunakan jalan ilmiah, sosialisme tidak dapat ditentukan sekarang bentuk dan rupa masa yang akan datang – artinya susunan baru pada masyarakat tidak dibuat, melainkan dilahirkan. Melihat realita sejarah, menurut penulis, sosialisme yang berorientasi pada terbentuknya ‘masyarakat tidak berkelas’ adalah bagian dari hegemoni dan upayah manusia mencapai sebuah kesetaraan. Meskipun realita yang berkembang kini tidak berjalan horizontal, melainkan vertikal.
    Konsep sosialisme Marx memang lebih kompleks daripada filsuf lainnya. Tujuan sosialisme dalam pandangn Marx bukanlah membuat suatu konstruksi masyarakat dalam suatu sistem yang selesai bentuknya, melainkan menyelidiki suatu perkembangan sejarah yang melahirkan dua kelas yang bertentangan, dan kemudian mempelajari betapa berpengaruhnya faktor-faktor kelas tersebut terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang akan melenyapkan pertentangan tersebut.
    Pendapat Marx diatas dikuatkan oleh Engels dalam bukunya “Perkembangan Sosialisme dari Utopia sampai ke Ilmu.”Ajarannya adalah bahwa komunisme merupakan ajaran tentang syarat-syarat yang mesti dipenuhi untuk mencapai kemerdekaan kaum buruh. Dalam menyusun teori mengenai perkembangan masyarakat, Marx sangat tertarik oleh gagasan filsuf Jerman George Hegel mengenai dialektika karena di dalamnya terdapat unsur kemajuan melalui konflik dan pertentangan. Dan unsur inillah yang dia perlukan menyusun teorinya mengenai perkembangan masyarakat melalui revolusi. Untuk melandasi teori sosial, maka dia merumuskan terlebih dahulu teori mengenai materialisme dialektik (dialectical materialism). Kemudian konsep-konsep itu dipakainya untuk menganalisa sejarah perkembangan masyarakat yang dinamakannya materialisme historis (historical materialism). Dan karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi, maka teori marx juga sering disebut ’analisa ekonomis terhadap sejarah’. Dalam menjelaskan teorinya Marx menekankan bahwa sejarah (yang dimaksud hanyalah sejarah Barat) menunjukkan bahwa masyarakat zaman lampau telah berkembang menurut hukum-hukum dialektis yaitu maju melalui pergolakan yang disebabkan oleh kontradiksi-kontradiksi intern melalui suatu gerak spiral ke atas sampai menjadi masyarakat dimana Marx berada. Atas dasar analisa terakhir ia sampai pada kesimpulan bahwa menurut hukum ilmiah dunia kapitalis akan mengalami revolusi -yang disebutnya revolusi proletariat- yang akan menghancurkan sendi-sendi masyarakat kapitalis tersebut, dan akan meratakan jalan untuk timbulnya masyarakat komunis.
    6. Kegiatan dan Alienasi
    Inti seluruh teori Marx adalah proposisi bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan kebutuhannya tergantung pada kegiatan produktif di mana secara aktif orang terlibat dalam mengubah lingkungan alamnya. Namun, kegiatan produktif itu mempunyai akibat yang paradoks dan ironis, karena begitu individu mencurahkan tenaga kreatifnya itu dalam kegiatan produktif , maka produk-produk kegiatan ini memiliki sifat sebagai benda obyektif yang terlepas dari manusia yang membuatnya.
    Tentang alienasi menurut Marx merupakan akibat dari hilangnya kontrol individu atas kegiatan kreatifnya sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Pekerjaan dialami sebagai suatu keharusan untuk sekedar bertahan hidup dan tidak sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan kreatifnya. Alienasi melekat dalam setiap sistem pembagian kerja dan pemilikan pribadi, tetapi bentuknya yang paling ekstrem ada di dalam kapitalisme, dimana mekanisme pasar yang impersonal itu, menurunkan kodrat manusia menjadi komoditi, dilihat sebagai satu pernyataan hukum alam dan kebebasan manusia. bentuk ekstrem alienasi itu merupakan akibt dari perampasan produk buruh oleh majikan kapitalisnya.
    Marx menekankan bahwa alienasi kelihatannya benar-benar tidak dapat dielakkan dalam pandangan mengenai kodrat manusia yang paradoks. Di satu pihak manusia menuangkan potensi manusiawinya yang kreatif dalam kegiatannya, dilain pihak, produk-produk kegiatan kreatifnya itu menjadi benda yang berada di luar kontrol manusia yang menciptakannya yang menghambat kreativitas mereka selanjutnya.
    Bagi Marx alienasi akan berakhir, bila manusia mampu untuk mengungkapkan secara utuh dalam kegiatannya untuk mereka sendiri, sehingga ekspolitasi dan penindasan tidak menjangkiti manusia lagi.

    4. Teori Habermas (Rasionalitas Positif Negatif)
    Aar dari semua permasalahan sosial kontemporer disebabkan distorsi komunikasi akibat logika rasionalitas instrumental dalam sistem birokrasi pemerintahan dan sistem ekonomi yang “merangsek” masuk kedalam dunia kehidupan yang seharusnya bersifat komunikatif.

    5. Teori Hegemoni oleh Antonio Gramsci
    Hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah dan kelas bawah juga aktif mendukung ide ide kelas dominan.

    Suka

  20. 3. sebenarnya gagasan-gagasan perspektif sosiologi telh ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perpektif fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang di maksud dengan struktur fungsional dan perspektif konflik itu ? (bobot 25)
    Jawab :
    a. Fungsionalisme struktural
    Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif.” Bagi Talcott Parsons, “fungsionalisme struktural” mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran.

    b. Perspektif konflik.
    perspektif ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang selalu berubah, terutama sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha memelihara dan meningkatkan posisinya. Perspektif ini beranggapan bahwa kelompokkelompok tersebut mempunyai tujuan sendiri yang beragam dan tidak pernah terintegrasi. Dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok seringkali harus mengorbankan kelompok lain. Karena itu konflik selalu muncul, dan kelompok yang tergolong kuat setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya.

    Ciri lain dari perspektif ini adalah cenderung memandang nilai dan moral sebagai rasionalisasi untuk keberadaan kelompok yang berkuasa. Dengan demikian kekuasaan tidak melekat dalam diri individu, tetapi pada posisi orang dalam masyarakat. Pandangan ini juga menekankan bahwa fakta sosial adalah bagian dari masyarakat dan eksternal dari sifatsifat individual. Singkatnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial. Ia memandang masyarakat terus- menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial, perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan. Tokoh yang menganut perspektif ini adalah Karl Marx dan Frederich Engles.

    Suka

  21. 3. Sebenarnya gagasan gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif structural fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang dimaksud dengan structural fungsional dan perspektif konflik
    jawab :
    a. Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar
    b. Perspektif ini menjelaskan bahwa masyarakat selalu dalam keadan konflik terus menerus, baik antar individu maupun kelompok, karena pemikiran Perspektif ini menekankan pada adanya perbedaan individu dalammendukung suatu system sosial

    Suka

  22. 3. Sebenarmya gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif structural fungsional maupun dalam perspektif konflik. Apa yang dimaksud dengan structural fungsional dan perspektif konflik?
    jawab :
    Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar.. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif.” Bagi Talcott Parsons, “fungsionalisme struktural” mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran

    perspektif politik : yaitu cara pandang mengenai politik di suatu negara

    Suka

  23. 2. asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran Jerman sementara Claude Henry , Comte De Saint-simon, August Comte, dan Emile Durkheim merupakan nama nama para ahli sosiologi yang beraliran Perancis. jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui (bobot 30)
    jawaban :
    -teori Karl Marx Teori perubahan social dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan social dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism)

    – teori emile durkheim memberikan landasan dasar bagi konsep-konsep sosiologi melalui kajian.kajiannya. durkheim menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme

    -teori august comte
    Auguste Comte yang pertama –tama memakai istilah “sosiologi” adalah orang yang pertama membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu –ilmu pengetahuan lainnya.
    Menurut Comte (The positive Philosopy:1896) ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing –masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya.
    Tahap pertama dinamakan tahap teologis atau fiktif, yaitu suatu tahap di mana manusia menafsirkan gejala –gejala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan –kekuatan yang dikendalikan roh dewa –dewa atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Penyesuaian ini sangat penting bagi manusia karena manusia harus beradaptasi dengan lingkungannya.
    Tahap Kedua merupakan perkembangan dari tahap pertama adalah tahap metafisik. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan –kekuatan inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Pada tahap ini manusia masih terikat oleh cita –cita tanpa verifikasi karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita –cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum –hukum alam yang seragam. Hal yang terakhir inilah yang merupakan tugas ilmu pengetahuan positif, yang merupakan tahap ketiga atau tahap terakhir dari perkembangan manusia.
    Hal yang paling menonjol dari sistematika Comte adalah penilaiannya terhadap sosiologi, yang merupakan ilmu pengetahuan paling kompleks, dan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang akan berkembang dengan pesat sekali. Sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dari gejala sosial. Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar dari adanya masyarakat sedangkan sosiologi dianmis merupakan teori tentang perkembangan dalam arti pembangunan.

    -teori saint simon
    Saint-simon adalah seorang positivis,ia percaya bahwa studi terhadap fenomena sosial harus menggunakan teknik ilmiah sama sebagaimana yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Sedangkan di sisi radikal, ia melihat perlunya reformasi sosialis, khususnya perencanaan sistem ekonomi terpusat.

    -Pitirim Sorokin: sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
    Roucek dan Warren: sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
    William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf : sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
    J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers: sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
    Max Weber: Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
    Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi: Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
    Paul B. Horton: sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
    Soejono Soekanto: sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
    William Kornblum: sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
    Allan Jhonson: sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut memengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya memengaruhi sistem tersebut

    Suka

  24. 2. asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri Sosiologi yang beraliran jerman sementara Claude Henry, Saint-Simon, Aguste Comte , dan Emile Durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui .

    1.EMILE DURKHEIM
    Kenyataan Fakta Sosial
    Asumsi umum yang paling fundamental yang mendasari pendekataan Durkheim terhadap sosiologi adalah bahwa gejala social itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau karakteristik individu lainnya. Lebih lagi karena gejala social merupakan fakta yang riil, gejala-gejala itu dapat dipelajar dengan metode-metode empiric, yang memungkinkan satu ilmu sejati tentang masyarakat dapat dikembangkan.

    2.KARL MARX
    Alienasi
    Analisa Marx tetang alenasi merupakan respons terhadap perubahan ekonomis, social, dan politis yang dia lihat di sekelilingnya. Dia tidak ingin memahami alienasi sebagai suatu masalah filosofis. Dia ingin memahami perubahan semacam apa yang dibutuhkan untuk membuat suatu masyarakat bias mengekspresikan potensi kemanusiannya secara memadai. Berkaitan dengan hal ini, Marx mengembangkan suatu pengertian penting; Sistem ekonomi kapitalis adalah sebab utama alienasi.

    3.GEORGE SIMMEL
    Teori Pertukaran Nilai
    Teori ini berangkat dari asumsi dasar ‘do ut des” artinya saya memberi supaya engkau juga memberi. Menurut Goerge Simmel peletak toeri ini, semua kontak di antara manusia bertolak dari skema memberi dan memdapatkan kembali dalam jumlah yang sama. Pendukung teori ini merumuskan ke dalam lima proposisi yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam setiap tindakan, semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh ganjaran atau upah atau manfaat, maka semakin sering orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama. Misalnya, seseorang akan meminta nasihat pada seorang psikiatris, kalau ia merasa bahwa nasehat orang itu sangat berguna baginya.

    4. KARL MARX
    Pertentangan Kelas (Teori Kelas)
    Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa: “sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antar golongan”. Menurut pandangannya, sejak masyarakat manusia mulai dari bentuknya yang primitive secara relative tidak berbeda satu sama lain.
    Analisa Marx selalu mengemukakan bagaimana hubungan antar manusia terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing-masing terhadap sarana-sarana produksi, yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber-sumber daya yang langka.
    Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisi kapitalisme: yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kaum kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Pertentangan antara konflik antar kelas borjuis dan kelas proletar adalah contoh lain dari kontradiksi antara kerja dan kapitalisme.

    5. MAX WEBER
    Tindakan Sosial
    Keseluruhan sosiologi Weber didasarkan pada pemahamannya tentang tindakan social. Ia membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Mulai sekarang konsep perilaku dimaksudkan sebagai perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran. Bagi Weber, sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan social dengan menguraikannya dengan menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut.

    Suka

  25. 2. asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dalam akar tradisi pemikiran karl max, dimana marks sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara claude henry, saint-simon, auguste comte, dan email durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui (bobot 30)
    jawab :
    a. Comte dengan ”Social Dynamic”, kesadaran Kolektif”
    b. durkheim : interaksi Sosial
    c. Marx serta ”tindakan komunikatif” dan ”teori komunikasi”
    d. Habernas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi.

    Suka

  26. Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar.. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif.” Bagi Talcott Parsons, “fungsionalisme struktural” mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran

    perspektif politik : yaitu cara pandang mengenai politik di suatu negara

    Suka

  27. 2. asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dalam akar tradisi pemikiran karl max, dimana marks sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara claude henry, saint-simon, auguste comte, dan email durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui (bobot 30)
    jawab :
    a. Comte dengan ”Social Dynamic”, kesadaran Kolektif”
    durkheim dan interaksi Sosial
    b. Marx serta ”tindakan komunikatif” dan ”teori komunikasi”
    c. Habernas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi.

    Suka

  28. 2. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran karl marx, dimana marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman smentara calude henry saint-simon, auguste comte, dan Emile Durkeim merupakan nama nama ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui
    jawab :
    1. Auguste Comte
    Menurut Comte (The positive Philosopy:1896) ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing –masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya.
    Tahap pertama dinamakan tahap teologis atau fiktif, yaitu suatu tahap di mana manusia menafsirkan gejala –gejala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan –kekuatan yang dikendalikan roh dewa –dewa atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Penyesuaian ini sangat penting bagi manusia karena manusia harus beradaptasi dengan lingkungannya.
    Tahap Kedua merupakan perkembangan dari tahap pertama adalah tahap metafisik. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan –kekuatan inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Pada tahap ini manusia masih terikat oleh cita –cita tanpa verifikasi karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita –cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum –hukum alam yang seragam. Hal yang terakhir inilah yang merupakan tugas ilmu pengetahuan positif, yang merupakan tahap ketiga atau tahap terakhir dari perkembangan manusia.
    2. Talcot Parson
    – Talcot Parson menuliskan masalah konsep kekuasaan politik di dalam satu analisanya bahwa ‘Kekuasaan adalah kapasitas umum untuk menjamin pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang mengikat oleh unit-unit di dalam suatu sistem organisasi kolektif ketika kewajiban-kewajiban itu diabsahkan sehubungan dengan sikap mereka demi mencapai tujuan bersama
    – Stratifikasi sosial memiliki peranan penting bagi masyarakat dalam mengatasi keterbatasan mereka. Jika setiap orang diperlakukan sama dan memiliki derajat yang sama, peranan pemimpin yang diperlukan suatu masyarakat untuk mengatasi tantangan dan permasalahan dalam kehidupan sosial tidak ada lagi. Parson juga berpendapat bahwa semakin kontemporer dan kompleks suatu masyarakat, semakin unggul efektivitas organisasinya
    3. Karl Marx
    – Perubahan sosial terjadi karena perkembangan teknologi atau kekuatan produktif, dan hubungan antara kelas-kelas sosial yang berubah.
    – Munculnya stratifikasi sosial dalam masyarakat industri disebabkan oleh faktor kepemilikan modal. Hal inilah yang menempatkan seseorang pada kelas borjuis atau proletar.
    – Dalam teori kelas, Perkermbangan pembagian kerja dalam ekonomi kapitalisme dibagi menjadi dua kelas yang berbeda, yaitu kaum borjuis dan kaum proletar. Menurut Marx, suatu saat kaum proletar akan menyadari kepentingan bersama mereka sehingga bersatu dan memberontak terhadap kaum kapitalis yang akan mengakibatkan terhapusnya pertentangan kelas sehingga masyarakat proletar akan mendirikan masyarakat tanpa kelas.
    4. Emile Durkheim
    – Dalam teori solidaritas, Durkheim membagi dua tipe utama solidaritas, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas mekanis didasarkan atas persamaan dan hati nurani kolektif, serta ada pada masyarakat yang masih sederhana dan mempunyai struktur sosial bersifat segmenter. Sedangkan solidaritas organis yang didasarkan atas keragaman fungsi-fungsi demi kepentingan keseluruhan dan juga didasarkan pada hukum dan akal.
    – Di dalam teori evolusi, perubahan karena evolusi mempengaruhi cara pengorganisasian mesyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja
    5. Max Weber
    – Demokrasi langsung hanya dapat diterapkan di dalam masyarakat yang kecil dan relatif sederhana. Bagi weber nilai demokrasi perwakilan terletak pada fakta bahwa demokrasi memungkinkan pemilihan pemimpin-pemimpin politik secara efektif.
    – Menurut Weber dalam teori tindakan sosial, suatu tindakan manusia dikatakan sebagai tindakan sosial apabila mempunyai arti subyektif.

    Suka

  29. 2. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Karx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran Jerman sementara Claude, Henry, Saint-Simon, Auguste Comte, dan Emile Durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran Perancis. Jelaskan 5 teori soiologi komunikasi yang anda ketahui (bobot 30)
    Jawab :
    Menurut August Comte, sosiologi adalah ilmu positip tentang masyarakat. Ia menggunakan kata positip yang artinya empiris. Jadi sosiologi baginya adalah studi empiris tentang masyarakat. Menurut August Comte, obyek studi dari sosiologi adalah tentang masyarakat, ada dua unsure yaitu struktur masyarakat yang disebut statika sosial dan proses-proses sosial di dalam masyarakat yang disebut dinamika sosial.

    Menurut Emile Durkheim, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial.fakta sosial adalah sesuatu yang berada di luar individu. Contoh-contoh dari fakta sosial adalah kebiasaan-kebiasaan, peraturanperaturan, norma-norma, hukum-hukum dan adat istiadat. Dan fakta sosial yang paling besar adalah masyarakat menurut Durkhiem. Fakta sosial ini bersifat eksternal, obyektif dan berada di luar individu.

    Saint Simon : Dia menyarankan untuk menekan paham materialisme yang justru merugikan, dan menekankan pada kesatuan serta restorasi rohani. Bagi Saint Simon kemajuan ditentukan dari format peradaban yang stabil, program adalah dasar pemikiran yang membedakan, masing-masing format yang lebih tinggi adalah terdepan namun pada gilirannya juga akan menjadi usang oleh format baru. Saint Simon juga menciptakan ilmu sosial integratif yang memadukan ilmu sosial dan ilmu alam yang pada saatnya memunculkan positivistik buah tangan muridnya Auguste Comte. Visi masyarakat masa depan Saint Simon adalah masyarakat yang memiliki prestasi, produktif, dimana kemiskinan dan peperangan dihapuskan melalui industrialisasi dibawah bimbingan ilmiah, untuk itu diperlukan open class masyarakat, sistem kasta dan suku bangsa dihapuskan, serta penghargaan berdasarkan jasa.

    Claude Henri Saint-Simon : Saint-simon adalah seorang positivis,ia percaya bahwa studi terhadap fenomena sosial harus menggunakan teknik ilmiah sama sebagaimana yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Sedangkan di sisi radikal, ia melihat perlunya reformasi sosialis, khususnya perencanaan sistem ekonomi terpusat.

    Karl Marx : Teori perubahan social dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan social dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max weber lebih pada system gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan.

    Suka

  30. 2. asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dalam akar tradisi pemikiran karl max, dimana marks sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran jerman sementara claude henry, saint-simon, auguste comte, dan email durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis. Jelaskan 5 teori sosiologi komunikasi yang anda ketahui (bobot 30)
    Jawab :
    1. Auguste Comte
    Sosiologi adalah suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.

    2. Roucek dan Warren
    Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok.

    3. Pitirim A. Sorokin
    Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:
    1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, dsb.
    2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial (misalnya dengan gejala geografis, biologis, dsb).
    3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.

    4. Emile Durkheim
    Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan mampu melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu.

    5. Wiliam F. Ogburn dan Mayer F. Nimkoff
    Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.

    6. Paul B. Horton
    Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan kajian pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

    7. Soerjono Soekanto
    Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

    8. Max Weber
    Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain.

    9. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
    Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

    10. J. A. A. Von Dorn dan C. J. Lammers
    Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

    11. Mayor Polak
    Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia satu dengan manusia lain, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik kelompok formal maupun kelompok informal atau baik kelompok statis maupun kelompok dinamis.

    12. Hassan Shandily
    Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama cara terbentuk dan tumbuh, serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan.

    Suka

  31. 1. Jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dan cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya. Berikan tanda tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta pembagian kewajiban
    jawab :
    a. adanya komunikator ada seorang laki yang berusaha mendorong batu
    b. karena batu tersebut terlalu besar dan berat, sehingga dia tidak mampu untuk mendorongnya. dalam keadaan seperti ini, laki laki ini sangat membutuhkan bantuan orang lain agar batu itu bisa terdorong. (ide)
    c. lalu laki laki tersebut melihat ada orang yang lewat. dan laki laki itu segera memanggil “wey” (verbal) dan melambaikankan tangan kepada orang lewat tersebut. Orang ini disebut komunikan
    d. kemudian orang tersebut menengok dan menghampiri lelaki itu. Disini mulai terjadi feed back
    e. kemudian orang tersebut diajaklah untuk berdiskusi, inilah disebut dengan adanya interaksi sosial
    f. kemudian terjadilah kesepakatan makna
    g. setelah terjadi kesepakatan / persetujuan, maka terbentuklah organisasi
    h. akhirnya kedua nya mendorong batu itu ( tindakan )
    i. dan batu itupun tergeser. Kedua orang tersebut berteriak gembira (hasil)

    Suka

  32. 1. Jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lainuntuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi social dan kesepakatan serta kesepakatan pembagian kewajiban (bobot 30)
    Jawaban :
    a. ide
    asal mula terjadinya sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain
    seseorang yang berada di dalam hutan tak satupun orang didalamnya,
    lalu pada akhirnya dia bertemu dan melihat ada seseorang yang lewat
    b. isyarat
    lalu kemudian orang itu memanggil ‘woooooyyyyy!!!’
    sambil melambaikan tangan sebagai tanda memanggil karena ia membutuhkan bantuan
    c. respon
    kemudian orang yang dipanggilpun menengok kearah orang yang memanggil
    d. interaksi
    dan orang itupun bertanya ‘ada apa kau memanggilku’
    e. kesepakatan & makna
    kemudian orang itu pun mengajak untuk berdiskusi untuk membantunya mendorong batu
    f. organisasi
    dan akhirnya mereka berdua pun sepakat dan orang itu mau membantu untung mendorong sebuah batu
    g. kerjasama
    pada akhirnya terjalin kerjasama batu itu pun dapat di dorong dengan bantuan nya. Artinya manusia harus saling membantu satu sama lain
    h. tujuan akhir
    batu itupun akhirnya bisa dapat di dorong bersama sama
    i. pesan yang disampaikan sukses
    akhirnya pun pesan berhasil diterima, karena batu itu sudah berhasil di geser

    Suka

  33. 1. Jelaskan ruang lingkup sosioligi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta kesepakatan pembagian kewajiban (bobot 30).
    Jawab :
    a. ide
    Seorang yang sedang mendorong batu besar, tidak dapat sedikitpun menggeser batunya. Kemudian dia melihat ada orang lain yang melintas,
    b. isyarat
    lalu dia berfikir untuk memintanya mendorong batu bersama . orang yang melintas itu kemudian di panggil “woyy!!”.
    c. respon
    Orang lain itu menoleh sambil melambaikan tangan pertanda dia menyahuti panggilannya.
    d. interaksi
    dan kemudian seorang yang tadi sendirian itu melambaikan tangannya pertanda bahwa orang yang melintas itu harus menghampirinya. Saat menghampiri, orang yang di panggil itu bertanya kenapa dia di panggil
    e. kesepakatan & makna
    Lalu di ajaknya orang itu berdiskusi tentang batu yang ingin di pindahkan namun tidak bisa karena sendirian. Kemudian mereka sepakat untuk mendorongnya bersama-sama .
    f. orgnisasi
    akhirnya mereka mendorong batu itu berdua,dengan penuh kekompakan.
    g. kerja sama
    saat mendorong batu itu bersama-sama, batu itu akhirnya sedikit bergeser.
    h. kepemipinan
    dengan penuh semangat orang yang pertama tadi memberi aba-aba agar bisa lebih kompak dan semangat mendorong.
    i. hasi.
    akhirnya batu itu bergeser dan mereka saling bersalaman untuk mengucapkan terimakasih karena sudah di bantu mendorong batu.

    Suka

  34. 1. Jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta pembagian kewajiban?
    Jawaban:
    A. Ide
    Seseorang yang sedang mendorong batu dengan sekuat tenaga ternyata batu tersebut tidak bergeser sedikit pun, setelah lama berfikir akhirnya timbul lah ide yaitu meminta bantuan orang lain untuk membantunya.
    B. Isyarat
    Tiba-tiba orang itu melihat ada orang lain yang sedang berjalan, lalu orang itu mengangkat tangannya dan berkata “wey”. Secara sosiologi orang tersebut yang melambaikan tangan nya itu telah melakukan isyarat.
    C. Respon
    Orang yang merasa di panggil akhirnya dia menghampiri orang yang memanggilnya dengan melambaikan tangan. Dari kejadian itu adanya respon atau feedback dari sebuah isyarat tadi.
    D. Interaksi
    Lalu kedua orang tersebut melakukan interaksi, menggunakan bahasa non verbal karena ia hanya menggunakan isyarat.
    E. Kesepakatan makna
    Setelah melakukan interaksi akhirnya terjadi lah kesepakatan makna dari isyarat tadi. Bahwa ia setuju membantu mendorong batu tersebut.
    F. Organisasi
    Setelah ia setuju dan mempunyai tujuan yang sama maka terbentuklah sebuah organisasi yaitu orang yang meminta pertolongan sebagai pemimpinnya untuk mendorong batu tersebut. Dalam bentuk organisasi harus memiliki tujuan yang sama dan harus terstruktur.
    G. Kerjasama
    Agar batu tersebut dapat bergeser sampai keujung maka harus ada kerjasama yang baik. Dengan kerjasama yang baik akhirnya batu tersebut dapat bergeser dengan mudahnya.
    H. Tujuan akhir
    Dari kesepakatan awal yang telah disetujui di awal, tujuan akhir dari organisasi itu pun tercapai.
    I.Pesan yang disampaikan sukses
    Pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan berhasil diterima, karena batu itu sudah berhasil di geser.

    Suka

  35. 1. Jelaskan ruang lingkup Sosiologi Komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang untuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi social dan kesepakatan serta pembagian kewajiban! (bobot 30)
    jawab :
    1. Adanya komunikator. ada seorang lelaki yang ingin mendorong bau yang cukup besar.
    2. Munculnya ide. Kemudian ia mencoba untuk mendorongnya, namun ia tidak kuat. Ia kemudian berpikir bahwa ia membutuhkan bantuan untuk mendorong batu itu.
    3. Adanya komunikan. Kemudian ada seorang warga yang kebetulan lewat tidak jauh dari dirinya.
    4. Mengirim pesan verbal dan non verbal. Kemudian ia memanggil orang itu dengan berteriak “hey” sambil menggerakan tangannya
    5. Adanya respon/feedback dari komunikan. Karena mendengar ada yang memanggilnya kemudian warga itu menoleh ke arah lelaki itu, dan menghampirinya.
    6. Adanya interaksi antarpersonal. Setelah menghampirinya, lelaki itu lalu bercerita kepada warga itu bahwa ia ingin meminta bantuan untuk mendorong batu itu.
    7. Adanya kesepakatan. Setelah bercerita, akhirnya warga itu setuju untuk menolong lelaki itu.
    8. Adanya tindakan. Mereka pun mendorong batu itu.
    9. Adanya hasil. Dengan sekuat tenaga mereka mendorong batu itu, dan batu itu pun akhirnya bisa tergeser

    Suka

  36. Dahulu kala, ada seseorang yang sedang mencoba memindahkan sebuah batu yang ukurannya sangat besar. Namun, setelah orang itu mengerahkan upayanya, batu itu tidak bergeser sedikit pun. Tanpa sengaja ia melihat orang lain yang kebetulan sedang lewat. Maka orang itu memanggilnya “ooiiiiii…….”, secara otomatis orang yang kebetulan lewat tersebut melihat ke arah pendorong batu (1). Agar orang yang kebetulan lewat tersebut menghampirinya, maka si pendorong batu pun melambaikan tangannya. Karna penasaran, orang yang kebetulan lewat pun menghampiri si pendorong batu (2). Setelah mereka bertemu, terjadi pembicaraan di antara mereka dengan menggunakan bahasa isyarat. Kenapa bahasa isyarat?karna pada waktu itu belum ada kesepakatan tentang bahasa apa yang akan mereka gunakan(3). Akhirnya, orang yang kebetulan lewat tadi akhirnya setuju dan terjalinlah kesepakatan di antara mereka untuk saling membantu mendorong batu berukuran besar tersebut(4). Secara bersama – sama mereka pun mendorong batu tersebut, dan berhasil! batu berhasil bergerak sedikit – demi sedikit(5). Setelah berhasil mendorong batu tersebut, si pendorong berterimakasih kepada orang yang kebetulan lewat karna telah membantu(6). Mereka pun memutuskan untuk bergabung dan membentuk masyarakat(7). Setelah setuju untuk bergabung, mereka pun memilih siapa yang menjadi pemimpin di antara mereka berdua(8). Setelah setuju dengan si Pendorong batu yang menjadi pemimpin mereka pun menetap di tempat itu dan akhirnya banyak orang yang bergabung dengan mereka dan mengakui si pendorong batu sebagai pemimpin mereka. Maka terbentuklah masyarakat yang seutuhnya(9).

    Jadi bisa kita simpulkan bahwa kalimat nomor 1, 2, dan 3 masuk kedalam ruang lingkup komunikasi. Nomor 4, 5, dan 6 masuk ke ruang lingkup sosiologi. Sedangkan nomor 7, 8, dan 9 masuk ke ruang lingkup masyarakat.

    Suka

  37. 1. Jelaskan ruang lingkup sosioligi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya. Berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta kesepakatan pembagian kewajiban (bobot 30).
    Jawab :
    Seorang yang sedang mendorong batu besar, tidak dapat sedikitpun menggeser batunya.
    A. Kemudian dia melihat ada orang lain yang melintas,
    B. lalu dia berfikir untuk memintanya mendorong batu bersama . C. orang yang melintas itu kemudian di panggil “woyy!!”.
    D. Orang lain itu menoleh
    sambil melambaikan tangan pertanda dia enyahiti panggilannya.
    E. dan kemudian seorang yang tadi sendirian itu melambaikan tangannya pertanda bahwa orang yang melintas itu harus menghampirinya.
    F. Saat menghampiri, orang yang di panggil itu bertanya kenapa dia di panggil
    G. Lalu di ajaknya orang itu berdiskusi tentang batu yang ingin di pindahkan namun tidak bisa karena sendirian.
    H. Kemudian mereka sepakat untuk mendorongnya bersama-sama
    I. sampai akhirnya batu itu tergeser dan mereka berteriak girangnya.

    Suka

  38. 1. jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai sukses nya. berikan tanda-tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta pembagian kewajiban.

    di dalam cerita tersebut terdapat unsur ruang lingkup sosiologi komunikasi si pendorong memanggil dengan isyarat “wooy” dan terjadilah interaksi sosial diantara mereka berdua. dan si komunikan pun merespon dengan mendatangi nya. kemudian terjadi lah komunikasi lebih lanjut dengan bahasa yang masih menggunakan isyarat. isi pesan dari si komunikator pun di pahami dan terjadi lah kesepakatan untuk mendorong batu tersebut.

    Suka

  39. Nama : Devina Wulandari (44213210013) – Public Relations
    email : devinaw60@yahoo.com
    URL blog : http://definai.wordpress.com/
    UTS
    1. Jelaskan ruang lingkup sosiologi komunikasi dalam cerita seorang manusia yang mendorong batu dan membutuhkan orang lain untuk mencapai suksesnya ! Berikan tanda tanda kapan terjadi interaksi sosial dan kesepakatan serta pembagian kewajiban !
    Jawaban : ide dari seorang manusia A yang ingin mendorong batu, karena melakukannya dengan sendiri maka manusia A tersebut tidak dapat menggeser keberadaan batu tersebut. Dilain sisi ada seseorang yang sedang melintasi jalan dan tanpa sengaja ia melihanya, kemudian ia memberikan simbol sebagai tanda isyarat kepada seseorang tersebut untuk meminta bantuan supaya batu dapat bergeser dan seseorang itu pun mengerti maksud dari isyarat yang diberikan oleh manusia A. Komunikasi pun berlangsung, lalu seseorang tersebut menghubungi orang lain untuk membantunya juga menolong manusia A. Beberapa saat kemudian datanglah helikopter kemudian helikopter tersebut menggeser batu tersebut dari ketinggian dan akhirnya batu pun dapat tergeser. Setelah itu barulah percakapan dimulai karena pada hakikatnya manusia itu tidak dapat hidup sendiri dan mem butuhkan orang lain untuk berkomunikasi dengannya. Akhirnya mereka membentuk bahasa yang dapat mereka bertiga mengerti. Kemudian mereka berunding dan membuat kesepakatan siapa yang akan menjadi pemimpin serta melakukan pula pembagian kewajiban masing masing manusia tersebut dan organisasi pun mulai terbentuk dan interaksi sosial mulai sering dilakukan hingga saat ini.

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s