Lambang Palang Merah

Palang Merah & Makna Logo

Oleh Mustika Ranto Gulo, ST., M. ikom., CPS®

Lambang Palang Merah bukan Salib Kristus.

Dari analisa literatur semiotika asal kata Palang dan Merah terdiri dari dua kata yg bermakna palang, memalang, silang dan Merah yang berarti warna, merah, merah menyala, merah muda dan lain sbgnya. Makna pada logo Palang Merah sebagai tanda plus (+) yg dimaknai secara historikal sbg lambang atau simbol atau tanda perdamain dunia untuk tujuan kemanusiaan. Logo plus (+) ini dpt dimaknai bhw kepentingan yg diusung berada diatas kepentingan semua golongan, baik agama maupun ideologi krn gerakannya adalah gerakan kemanusiaan dlm situasi perang.

Sekedar pelurusan saja pendekatan historikal bhw Lambang Palang Merah sendiri sebenarnya diadopsi dari bendera negara Swiss, untuk menghormati Henry Dunant sang Pendiri Palang Merah yang berkebangsaan Swiss, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap negara Swiss sebagai tempat konvensi kesepakatan penggunaan tanda ‘+’ untuk tenaga sukarela di Medan Perang.

Misinya menolong manusia korban perang tanpa melihat latarbelakang agamanya, jdeologi dan asal suku bangsanya. Sebenarnys pada zaman dahulu setiap negara memiliki tanda yang berbeda-beda untuk tenaga medis di medan perang. seperti misalnya : Austria memakai bendera putih, perancis merah, dan spanyol Kuning. Yang jadi masalah pihak lawan (Tentara) kadang tidak mengenali tanda dari tenaga medis sehingga banyak sukarelawan medis yang jadi target sasaran tentara lawan itu sendiri.

Demi persamaan makna sehingga akhirnya muncullah pemikiran untuk menggunakan lambang yang seragam bagi setiap tenaga medis yang ada di medan perang. Disepakati pada tahun 1863 dalam konferensi internasional diputuskan Lambang Palang Merah yg berlogo ‘+’ di atas dasar putih menjadi simbol bagi para sukarela medis. Lambang tersebut merupakan kebalikan dari bendera nasional Swiss (palang putih diatas dasar merah) yang memfasilitasi berlangsungnya Konferensi Internasional saat itu.

Dicatat bhw pada tahun 1864, Lambang Palang Merah di atas dasar putih secara resmi diakui sebagai tanda pengenal pelayanan medis di medan perang yg tdk boleh diserang oleh pihak manapun.

Delegasi dari Konferensi 1863 tidak memiliki sedikitpun niatan untuk menampilkan sebuah simbol kepentingan ideologi, agama tertentu, dengan mengadopsi Palang Merah di atas dasar putih.

Pada tahun 1876 saat Balkan dilanda perang, sejumlah pekerja kemanusiaan yang tertangkap oleh Kerajaan Ottoman (saat ini Turki) dibunuh semata-mata karena mereka memakai ban lengan dengan gambar Palang Merah. Pihak kerajaan beralasan bahwa tentara Turki yang rata-rata beragama Islam sensitif terhadap Lambang ‘+’ yg mirip salib tersebut sehingga mengira mereka juga musuh (mungkin karena Turki masih ada trauma dengan perang salib).

Tentara Eropa waktu itu menggunakan lambang palang (salib) yang kakinya lebih panjang di dada mereka sewaktu melakukan invasi ke Timur Tengah.

Saat itu ada ide untuk logo baru karena alasan Kerajaan saat diminta penjelasan mengenai hal ini, mereka menekankan mengenai kepekaan tentara kerajaan terhadap Lambang berbentuk palang dan mengajukan agar Perhimpunan Nasional dan pelayanan medis militer mereka diperbolehkan untuk menggunakan Lambang yang berbeda yaitu Bulan Sabit Merah. Dengan begitu muncullah gagasan untuk tanda baru bagi pekerja kemanusiaan di medan perang tidak hanya menggunakan lambang Palang merah, tetapi juga menggunakan Lambang yang berbeda yaitu Bulan Sabit Merah.

Bulan sabit Merah ini disahkan pada Konferensi Internasional tahun 1929 secara resmi diadopsi sebagai Lambang yang diakui dalam Konvensi. Jadi itulah awal mula mengapa ada Palang Merah, mengapa ada Bulan sabit merah, bukan karena faktor agama tapi karena masalah salah paham saja.

Mengenai Perkembangan Lambang: Kristal Merah juga memiliki alasan yg kuat, dimana pada Konferensi Internasional yang ke-29 tahun 2006, sebuah keputusan penting lahir, yaitu diadopsinya Lambang Kristal Merah sebagai Lambang keempat dalam Gerakan dan memiliki status yang sama dengan Lambang lainnya yaitu Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Konferensi Internasional yang mengesahkan Lambang Kristal Merah tersebut, mengadopsi Protocol Tambahan III tentang penambahan Lambang Kristal Merah untuk Gerakan, yang sudah disahkan sebelumnya pada Konferensi Diplomatik tahun 2005. Usulan membuat Lambang keempat, yaitu Kristal Merah, diharapkan dapat menjadi jawaban, ketika Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah tidak bisa digunakan dan ‘masuk’ ke suatu wilayah konflik. Mau tidak mau, perlu disadari bahwa masih banyak pihak selain Gerakan yang menganggap bahwa Lambang terkait dengan simbol kepentingan tertentu.
Penggunaan Lambang Kristal Merah sendiri pada akhirnya memilliki dua pilihan yaitu: dapat digunakan secara penuh oleh suatu Perhimpunan Nasional, dalam arti mengganti Lambang Palang Merah atau Bulan Sabit Merah yang sudah digunakan sebelumnya, atau menggunakan Lambang Kristal Merah dalam waktu tertentu saja ketika Lambang lainnya tidak dapat diterima di suatu daerah. Artinya, baik Perhimpunan Nasional, ICRC dan Federasi pun dapat menggunakan Lambang Kristal Merah dalam suatu operasi kemanusiaan tanpa mengganti kebijakan merubah Lambang sepenuhnya.

Ketentuan mengenai bentuk dan penggunaan Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ada dalam:
1. Konvensi Jenewa I Pasal 38 – 45
2. Konvensi Jenewa II Pasal 41 – 45
3. Protokol 1 Jenewa tahun 1977
4. Ketetapan Konferensi Internasional Palang Merah XX tahun 1965
5. Hasil Kerja Dewan Delegasi Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional tahun 1991.

Sebagai anak bangsa, jgn mudah terprovokasi bhw lambang Palang Merah itu mewakili sebuah agama karena berbentuk salib Kristus. Jgn sampai terjadi perpecahan atau konflik diantara kita karena salah memaknai suatu simbol dlm bentuk logo. Logo plus ‘+’ bukan logo salib Kristus seperti viral akhir2 ini.
Selamat untuk mengerti, salam damai, Tuhan memberkati.

MRG-sumber berbagai info Literatur

Iklan