Ungkapan “Biasanya, Pada umumnya, Demikian adanya” dalam Universal Theory By Mustika Ranto Gulo

Seorang akademisi pada saksi Kasus Kopi Bersianida memberi keterangan tentang perilaku dan berkata “Pada umumnya demikian, Biasanya demikian, atau demikian adanya”. Dan ketika ditanya metodologi apa yang saudara pakai dalam observasi tersebut, lalu menjawab sangat jauh dari alasan seorang akademisi, saya kecewa.

Sesungguhnya ungkapan tersebut harus disertai dengan pembuktian dengan metodologi observasi – eksploratoris yaitu dengan cara melakukan  penelitian dasar yang sifatnya Comparative research methodology.

Comparative research methodology. bisa menjelaskan perilaku pada umumnya dapat diteliti dengan cara membandingkan perilaku yang lama dengan perilaku yang baru. Jika ada perbedaan yang menyolok pada analisa tersebut maka seorang Ahli baru bisa berkata “biasanya …pada umumnya, demikian adanya atau sebaliknya tidak pada umumnya, aneh dan lazim,  tidak lazim  bla bla bla …”. sayangnya proses itu tidak dilakukan dengan benar, lalu dimana letak ahlinya?

Contoh Kasus, peneitian tentang “Apakah Kelelawar Mencari Makan pada Malam Hari, Mengapa?”

Lalu seorang (ahli) menjawabnya “memang demikian, pada umumnya kelelawar demikian, pada umumnya kelelawar cari makan pada malam hari”.

Jika jawabnya sesederhana itu, maka semua teori-teori observasi yang bersifat membandingkan perilaku lama dengan perilaku menyimpang tidaklah berguna. Akibat ketidak-mengertian sang ahli maka study kasus yang ditangani menjadi kabur (akhirnya dipermalukan di depan umum). Contoh di atas menunjukkan bahwa kasus kelelawar mencari makan pada malam hari bisa dibuktikan dengan observasi dengan membuat survey untuk jangka waktu yang dinilai cukup. Tujuannya membuktikannya bukan karena imajinasi. Disertai dengan berbagai Varian perilaku kelelawar yang patut dibandingkan dalam study observasi tersebut.

Seharusnya jawaban-jawaban akademis itu berdasarkan pada cara kerja seorang ahli yaitu melakukan research yang memadai bahwa setelah observasi berbulan-bulan diberbagai belahan dunia (tempat) dan dengan metode Comparative research methodology (metodelogi membandingkan perilaku lama dengan perilaku baru) sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Semua imajinasi kita bisa dibuktikan dari sumber yang real, bukan dari mimpi.

Dalam Universal Theory: A Model for the Theory of Everything, ungkapan Etienne Klein : “Imajinasi dipercayakan dengan tanggung jawab untuk mengeksplorasi. Misinya adalah untuk tidak mengharamkan realitas, melainkan, untuk memperbesar saja antar kami dengan itu. Karl Popper dan Gaston Bachelard, antara lain, telah menekankan pentingnya bersejarah spekulasi dalam membentuk hipotesis dan membangun kebenaran ilmiah.

Etienne Klein :
Model ini memiliki potensi untuk mengubah cara kita berpikir dan cara kita hidup.

Pengembangan Ethology juga sangat memadai yang membahas Behaviour. Applied behavior analysis (ABA) adalah aplikasi sistematik dari prinsip perilaku dan hubungannya dengan lingkungan untuk meningkatkan perilaku signifikan secara sosial. Lebih dari 30 tahun penelitian ilmiah memperlihatkan bahwa aplikasi ABA pada anak dan orang dewasa yang memiliki autisme dan gangguan perkembangan lainnya efektif dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi, kehidupan sehari-hari, kemampuan motorik dan sosial (berdasarkan contoh Remington et al., 2007, A field effectiveness study of early intensive behavioral intervention). Pada awal tahun 1960an bidang analisis perilaku telah berkembang dan menemukan sejumlah teknik untuk mengajar keterampilan baru dan untuk mengurangi perilaku menantang yang mungkin berbahaya bagi seseorang atau kepada orang lain.

Contoh analisis lainnya adalah “Pada umumnya mata berkedip kalau ada serangan ke mata”

Hypotesa untuk memperkuat kata “pada umumnya”  dengan cara melakukan uji coba (research) pada sepuluh orang manusia, 10 ekor binatang. Ternyata ditemukan :

  1. Mata ternyata berkedip sesuai dengan motorik tubuh
  2. Mata berkedip kalau terasa perih atau jika ada gangguan
  3. Mata berkedip jika ada serangan dari luar

Atas observasi ini lalu dibandingkan lagi dengan survey di lokasi yang berbeda, jika perilaku itu sama maka kesimpulannya adalah “Pada umumnya mata berkedip kalau ada serangan ke mata”. Sama halnya ketika Otto Hasibuan bertanya kepada sang Ahli “apakah metode yg anda pakai untuk menentukan lazim tidak lazimnya perilaku meletakan Tas di atas meja?”. Dengan model Applied behavior analysis (ABA) dapat dijelaskansedemikian rupa.  Sehingga jika ditanya seperti apa perilaku manusia pada umumnya jika masuk ke dalam cafe? Apakah pada umumnya tas tengteng pada umumnya diletakkan di samping kursi, di atas meja atau di lantai? Mengapa perilaku itu tidak lazim ya mengapa tidak lazim jika seseorang pengunjung cafe meletakkan tasnya di atas meja?

Jadi saudara yang dipanggil ahli jangan seenaknya memberikan kesaksian tanpa bukti empiris yang kuat, bayangkan anda berkata : “pada umumnya, biasanya begitu atau memang demikian, atau tidak lazim”. Masalah perilaku dapat diteliti dengan berbagai metode statistik, dengan paradigma exploratory dalam rangka menggali dengan seksama sebuah peristiwa terutama perilaku.

Salam untuk rekan saya yang terhormat.

Mustika Ranto Gulo, ST. M.IKom