FUNGSI MEDIA DI PERKOSA, MENGABDI KEPADA SIAPA YANG BERANI BAYAR By Mustika Ranto Gulo, ST. M.IKom

Birokrasi VS Jurnalis(1)
Kelas paling hidup …sekalipun alot tetapi diskusi para pakar analisis ini, sangat berkualitas

 

Sesi 5 dalam tema “MEDIA DAN KODE ETIK JURNALIS” pada mata kuliah Media Cultures Studies oleh Dr. Heri Budianto (2012).

Pertemuan sesi ini membahas tentang media dan kode etik jurnalis, seperti biasa bahwa diskusi pasti memanas huahahaha. Teori dan study kasus bagaikan mata rantai yang tak pernah putus apalagi membahas media darling yang tiada akhir …seru sekali.

Ketika menampilkan beberapa analisis media electronik dan media cetak serta media online yang menyuarakan kepentingan pemilik atau pemodal media. Jurnalis itu bekerja untuk kepentingan pemodal dan isi beritanya tentu tentang keterpihakkannya kepada pemilik media yang membayar gaji mereka. Selain itu membahas tentang “News by order to be proclaimed”, ini lebih berbahaya karena berita bisa diorder (dipesan) seperti iklan. Jadi fungsi media sebagai basis yang menjaga kenetralisasi sudah tidak ada lagi.

Isu ini juga menyambar “running teks di TV lokal yang berkata : Wartawan xxxx tidak menerima uang atau sumbangan apapun dan bla bla bla”.

Lebih berbahaya adalah order news untuk jangka panjang sampai tujuan para aktor itu tercapai. Misalnya menggiring opini publik untuk pribadi seorang calon kandidat tertentu dalam politik. Menggariskan berita-berita seputar diri kandidat secara terencana dan ‘angel’ (ruang – sudut pandang berita) diatur agar tidak disadari oleh pembaca awam,  bahwa sesungguhnya mereka sedang digiring untuk mendukung pribadi/personal  tertentu.

Lahirnya media online bagaikan jamur di musim hujan, dan menjadi alat yang digunakan untuk pencitraan pribadi tertentu. Salah satu kandidat Gubernur di Indonesia membangun dan membiayai website berita (News) sampai 27 website untuk mengelabui rakyat demi menggiring opini bahwa dirinya adalah calon gubernur yang bersih dari korupsi.

Media nasional sering melakukannya karena alasan keterpihakan ideologi dan juga karena bayaran yang mahal (sekarang isi berita tergantung siapa yang berani bayar).

Kode etik jurnalism sudah tidak menjalankan fungsi netralnya, padahal menurut tujuan dibuatnya kode etik menurut Frankel (Seeger, 1997 : 192-193) :

  1. sebagai petunjuk moral yang jelas untuk anggota sutau organisasi
  2. kode etik merupakan suatu dokumen legal yang dapat mengkontrol perilaku anggota organisasi,
  3. kode etik akan dapat melindungi anggota organisasi dari kejahatan atau penipuan
  4. kode etik merupakan struktur legitimasi yang membolehkan organisasi dalam menunjukan cara kerja dan konsistennya terhadap norma sosial.

Teori Agenda Setting

Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.

ISI BERITA MEDIA MAINSTREAM

Sekarang berita apa yang  dianggap penting oleh media? Media mainstream yang dulu dipercaya sebagai alat membangun faham yang netral,  kini telah menjadi alat hegemoni politik para politikus.

Kini fungsi media diperkosa oleh kepentingan uang, demi uang para penggagas berita mulai memprlihatkan keterpihakkan mereka pada figur yang berani bayar.

Masih adakah media yang netral? (Tugas artikel 500 kata).

MRG – Email : ranto.komunikasi@gmail.com