UTS PUBLIC SPEAKING – JAWAB DISINI

Article Tentang Public Speaking by Mustika Ranto GuloUTS PUBLIC SPEAKING 

Cara jawab adalah :

  • berikan jawaban di blog anda dengan cara melakukan reblog judul status ini.
  • kemudian jawab juga dalam kertas ujian anda di kelas saat ujian berlangsng

Ujian Tengah Semester (UTS) 2015

Mata Kuliah : PUBLIC SPEEKING

__________________________________________________________________________________

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Logos, Pathos dan Ethos sebagai dasar Ilmu Toast-Masters disertai masing-masing contoh. 500 kata
  2. Sebutkan 10 Magic of Public Speeking beserta contoh2nya. 500 kata
  3. Apa yang dimaksud dengan Retorika dan berikan contoh 5 orang yang memiliki kemampuan retorika tokoh dunia. 500 kata
  4. Jelaskan Apa yang menjadi Target Seorang MC dan berikan contoh masing-masing (Explain five on the targets to be achieved by a Master of Ceremonies in the world of protocol formal and informal so as to have each instance the right) 500 kata

By Mustika Ranto Gulo, ST. M.Si

Iklan

58 respons untuk ‘UTS PUBLIC SPEAKING – JAWAB DISINI

  1. Nama : Ribka Sylvia M
    NIM : 44217320016
    Matkul: Public Speaking
    1. Language Proficiency, atau penguasaan bahasa.
    Contoh nya ketika seorang speaker berbicara dalam forum dengan bahasa inggris, maka spaker tersebut harus menguasai bahasa inggris.

    2. Say it Right
    Kemampuan spelling atau pengejaan dengan benar, tidak akan menimbulkan berbagai presepsi yang berbeda dari audiens. Pelafalan kata harus benar seperti “kemplang” ada yang mengartikan kerupuk atau juga kekerasan.
    3. Charismatic Speaker
    Seorang Speaker tentu harus berkharisma. Penampilan yang baik dan gaya berbicara yang menawan akan menambah nilai plus seorang speaker. Kharisma bisa terbentuk seperti tatapan mata yang mantap.

    4.Body Language
    Bahasa tubuh merupakan poin penting untuk seorang speaker di atas panggung. Ketika kita sedang mengucapkan kata “melambaikan tangan” maka tangan speaker harus terangkat dan bergerak.

    5.Confident dan Nervous
    Percaya diri adalah hal yang penting bagi seseorang yang akan tampil di depan banyak mata. Nervous bisa terjadi karena takut salah.

    6.Show Case
    Menampilkan kasus atau pertanyaan yang tak terpikirkan audiens untuk membuat audiens tercengang. Contoh nya “siapa pahlawan bagi anda” itu akan menjmbulkan banyak persepsi dan membuat audiens tertarik.

    7. Consideration of Alternative Solutions
    Memberikan pertimbangan dari pendapat beberapa narasumber untuk mencari solusi alternative pada sebuah pertanyaan atau case yang berhubungan dengan tema.
    Solusi diambil dari beberapa pendapat narasumber, bukan hanya pendapat speaker.

    8. Sleigh Audience in Your Opinion
    Giring, atau bawa audiens untuk sependapat dengan opini yang kita berikan. Berikan fakta atau alasan-alasan yang dapat di terima akal audiens.

    9. Draw Great Conclusions
    Tarik kesimpulan dan giring audiens sependapat dengan kesimpulan tersebut. Kesimpulan yang diberikan harus membuat audiens kagum.

    10.Show Empathy at the End Speech
    Tutup pembicaraan dengan penuh Empati kepada audiens, agar berkesan dan tersimpan dalam memori audiens.
    Akhir kalimat gunakan kata yang menyangkut peraaaan seperti “saya sangat senang dapat berbagi informasi ini kepada anda.”

    Suka

  2. Nama : Merisya Uktolseya
    NIM : 44217320002
    PR – Mercu Buana

    1. Language Proficiency, Penguasaan Bahasa, Istilah dan Referensi, dituntut untuk memiliki perbendaharaan kata, penguasaan bahasa dan istilah yang mampu menghipnotis audiens, dengan mengutip referensi sesuai dengan teori yang ada.

    Misalnya, seorang pembicara yang berbahasa Indonesia harus memahami betul penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan jika pembicara menggunakan bahasa asing, pembicara harus memastikan bahwa tata bahasa asingnya tidak berantakan. Selain itu penggunaan istilah-istilah harus disesuaikan dengan Audiens dan topic yang dibawakan

    Contohnya saat berbicara di hadapan para mahasiswa biologi pembicara bisa menggunakan istilah Zingiber Officinale, namun jika audiens kita orang awam jelas kita harus menggunakan sebutan yang lebih umum yaitu Jahe. Atau di kelas kimia penggunaan istilah Asam Asetat dan Natrium Klorida lebih baik digunakan ketimbang menyebutkan nama awamnya yaitu cuka dan garam dapur.

    2. Say It Right, kemampuan Spelling atau kemampuan mengucapkan kata dengan pengejaan yang benar (Spell the word correctly), tidak menimbulkan presepsi yang berbeda dari audiens anda.

    Seorang pembicara harus mampu mengucapkan setiap kata dan istilah dengan benar dan jelas. Kesalahan dalam melafalkan kata atau istilah bisa menyebabkan kesalahpahaman atau salah tafsir.

    Contoh: Pray dan Prey adalah kata dalam bahasa inggris yang pelafalannya mirip. Jika tidak hati-hati maka bisa ditafsirkan salah. Misalnya “Lets pray together” (Mari berdoa bersama) namun karena kesalahan pelafalan pendengar menangkapnya menjadi “Lets prey together” (Ayo memangsa bersama)”

    3.Charismatic Speaker, seorang yang berkharisma, anda adalah seorang ahli dibidang topic yang anda bawakan. Persiapan narasi yang tematis sangat dibutuhkan, intinya anda terlihat sangat berkharisma karena menguasai bidang anda dengan sangat akurat. Seorang pembicara harus menguasai panggung, tampil prima dan menguasai topik yang ia bawakan. Setiap pesan yang disampaikan oleh pembicara harus mampu menarik minat dan atensi khalayak yang dihadapinya.

    Contohnya, dalam berpidato seorang pembicara tidak boleh bicara dengan terbata-bata yang mengindikasikan bahwa ia tidak menguasai bahan pidatonya. Misalnya pembicara berkata” saya percaya, jika semua orang berkomitmen untuk berwirausaha, ditahun 2020 Ekonomi Indonesia akan menjadi yang terkuat di Asia Tenggara”, namun iya mengatakannya tanpa penekanan, dan terbata-bata menjadi “saya emm.. percaya.. emm, ya kalau semua orang berkomitmen untuk, emm, apa ya? Itu, wirausahaha, errrr… maka ekonomi indonesia bisa saja akan menjadi yang terkuat di Asia Tenggara”. Pembicara yang seperti itu tentunya tak akan bisa membakar semangat audiensnya. Seorang pembicara harus yakin pada setiap kata yang ia ucapkan. Jika ia sendiri saja tidak yakin, bagaimana audiens bisa percaya kepada kata-katanya.

    Contoh lainnya, Bila pembicara menggunakan bantuan teks, pembicara tidak boleh melulu melihat dan terpaku pada teks. Bagaimana pun Pembicara harus melakukan interaksi dengan klayaknya meski hanya lewat tatapan mata atau sapaan ringan. Selain itu tepaku pada teks hanya akan membuat pembicara terlihat tidak siap untuk berbicara adan kurang kompeten.

    4. Body Language, gerak-gerik anda menentukan segalanya dipanggung, jika anda kaku dan tidak bebas bergerak maka jangan naik panggung. Anda adalah bintang saat naik panggung tetapi jangan pula over acting, seadanya saja.

    Bahasa tubuh dan gesture juga sangat penting diperhatikan oleh seorang pembicara. Seorag pembicara yang handal tentunya akan bersikap luwes (fleksibel) karena dapat menguasai panggung. Selain itu pembicara juga ditekankan untuk bersikap santun dan bersahabat saat berada diatas panggung.

    Contohnya, ketika berada diatas panggung, pembicara tentunya tidak pantas bila berbicara sambil garuk-garuk kepala atau bagian tubuh lainnya, berkacak pinggang. Atau pembicara hanya akan berdiri ditengah-tengah panggung, menunduk dan memegang micnya erat-erat tanpa membuat interaksi dengan khalayaknya.

    5. Confident and Nervous, faktornya adalah penguasaan diri yang rentan, banyak faktor penyebab yang berhubungan dengan psikologis sang pembicara. Memiliki kepercaya diri adalah salah satu kunci sukses bagi pembicara. Seorang pembicara harus mengendalikan rasa gugup (nervous) dan terus memupuk kepercayaan dirinya untuk bisa tampil didepan khalayak dengan mantap.

    Contoh: Penting bagi pembicara untuk menjadi dirinya sendiri tentunya dalam ukuran-ukuran yang pantas saat berada diatas panggung sehingga ia terlihat nyaman berada dipanggung dan menghilangkan kegelisahan karena gugup. Selain itu latihan dan terus menambah jam terbang juga merupakan cara untuk menghindara rasa gugup sebelum manggung dan meningkatkan kepercayaan diri.

    6. Show Case, tampilkan kasus dengan memulai pertanyaan yang unik dan tidak disangka-sangka untuk memulai pembicaraan yang hebat. Dengan memberika show case yang tepat, audiens akan semakin tertarik untuk mendengar isi dari pembicaraan kita.

    Contoh: Dalam event yang bertemakan nasionalisme, seorang pembicara bisa meleparkan pertanyaan retorik yang membuat audiens bertanya-tanya dan tertarik untuk mendengar lebih jauh seperti: “68 Tahun Indonesia Merdeka, tapi apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Apakah anda sudah merasakan kemerdekaan yang sejati? “

    7. Consideration of alternative Solutions, Berikan pertimbangan dengan sejumlah pendapat nara sumber yang mendekati alternatif jawaban pada ‘case’ yang sesuai topik dan tema pembicaraan.

    Seorang pembicara tidak hanya memberikan show case tapi juga arus memberikan alternatif solusi atau jawaban dari kasus yang ia bicarakan. Misalnya dalam show case kemerdekaan sejati seperti yang dicontohkan di point 6, pembicara bisa memberikan alternatif solusi seperti, “Jika anda ingin meresakan kemerdekaan yang sejati, Ada banyak cara yang bisa kita lakukan misalnya, membantu Indonesia untuk menjadi negeri yang berdikari dengan berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan, atau dengan mencintai dan menggunakan produk-produk asli buatan Indonesia… (dll, dst)…” (kemukakanlah solusi-solusi lainnya dengan merujuk pada referensi yang dimiliki oleh pembicara terkait topik).

    8. Sleigh Audience in your opinion, giring audiens pada opini anda dengan memberikan contoh jawaban pada  kasus sesuai tema anda dan berikan solusi yang tepat, misalnya ‘bagaimana mengambil sikap pada masalah yang sesuai tema anda. Pembicara yang handal adalah pembicara yang mampu mempengaruhi dan menggiring opini audiensnya.

    Contoh: Pembicara bisa menyampaikan pandangannya mengenai kemerdekaan sebuah negara yang sejati dengan penuh semangat nasionalisme seperti “Bagi saya dan saya yakin anda juga setuju, kemerdekaan Indonesia yang sejati adalah apabila Indonesia bisa mengolah sendiri kekayaan alamnya tanpa campur tangan bangsa asing. Kemerdekaan yang sejati andalah ketika warga negara Indonesia bisa bekerja dan berkarya di negeri sendiri tanpa perlu lagi menjadi pesuruh di negeri orang…. (dll, dst)… “

    9. Drea Great Conclusions, tariklah kesimpulan dengan hebat dan giring semua audiens masuk dalam kesimpulan anda, dengan mengajukan banyak pertanyaan dan menggiring jawabannya pada tema anda. Jangan sampai apa-apa yang sudah pembicara sampaikan menguap begitu saja. Berikan kesimpulan yang kuat agar sasaran dalam pembicaraan anda bisa diterima secara sempurna oleh audiens

    Contoh: Memberikan kesimpulan dari topik kemerdekaan sejati “kemerdekaan sejati adalah ketika semua aset bangsa, mulai dari budayanya, sumberdayanya, hingga manusianya bisa diberdayakan sepenuhnya oleh rakyat untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat. Dari Indoneisa, oleh Indonesia dan untuk Indonesia””

    10. Show Empathy at the End Speech, Tutup pembicaraan dengan penuh empati kepada audiens anda. Pembicaraan akhir menimbulkan kesan yang lama tersimpan pada audiens. Dengan demikian audiens akan lebih tergugah.

    Contoh: Menutup pidato dengan memberikan kepercayaan dan pengaruh pada audiens untuk bertindak misalnya dengan berkata “Anda dan saya bisa mewujudkan Indonesia yang mandiri. Indonesia membutuhkan orang-orang hebat. Andalah orang itu. Terima Kasih dan Sampai Jumpa”.

    Suka

  3. Nama : Dewi Monika Mone
    NIM : 44217320004
    FIKOM – Public Relations
    Public Speaking – Mercu buana

    Language Proficiency

    Language Proficiency yaitu penguasaan bahasa, Istilah dan Referensi. Seorang pembicara dituntut untuk memiliki perbendaharaan kata, penguasaan bahasa dan istilah yang mampu menghipnotis audiens, dengan cara mengutip referensi sesuai dengan teori yang ada. Selain itu, pembicara harus mampu mengucapkan setiap kata dan kalimat dari bahasa manapun dengan baik dan benar,baik itu bahasa Indonesia atau bahasa Asing (Inggris). Seorang pembicara harus mengetahui tidak hanya bahasa formal saja, namun juga bahasa-bahasa dalam bidang lain, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, dan lainnya yang terkait dengan tema acaranya. Penguasaan mengenai bahasa juga terkait dengan bagaimana seorang pembicara mampu menggunakan bahasa yang komunikatif, praktis, dan efisien.

    Contoh: Ketika kita berpidato dihadapan ibu-ibu rumah tangga, kita tidak perlu terlalu banyak mengucapkan bahasa asing yang hanya membuat ibu-ibu tersebut menjadi pusing dan tidak nyambung dengan pembicaraannya.

    Say it Right

    Say it Right yaitu kemampuan Spelling atau kemampuan mengucapkan kata dengan pengejaan yang benar (Spell the word correctly), tidak menimbulkan presepsi yang berbeda dari audiens anda. Say it Right atau pelafalan ucapan yaitu kemampuan untuk mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat dan benar. Sehingga setiap bunyi suara jelas tertangkap oleh telinga. Kesalahan mengucapkan, tentu saja akan mengurangi nilai tambah anda sebagai seorang pembicara.

    Contoh: Ketika berpidato, kata-kata yang kita keluarkan harus benar-benar terdengar jelas oleh audience, kata yang keluar dari mulut kita tidak boleh terdengar seperti orang kumur-kumur atau bahkan seperti sapi mendengkur.

    Charismatic Speaker.

    Karismatik yaitu daya tarik yang begitu kuat yang membuat seorang public speaker menarik. Ada orang yang pintar dapat berbicara berjam-jam dengan berbagai
    fakta dan bukti tapi sulit untuk mendapatkan simpati/empati yang
    menyentuh hati orang lain. Sedangkan ada orang yang tidak terlalu pintar dan tidak terlalu
    banyak bicara tapi dapat memenangkan simpati dan dukungan dariorang banyak. Itulah yang dinamakan public speaker yang berkarisma. Oleh sebab itu, seorang public speaker harus memiliki karismatik, agar setiap kata yang keluar dari mulutnya mendapat perhatian dari audience nya.

    Contoh: Apabila kita menjadi public speaker kita harus memperhatikan aundience yaitu dengan cara berikan perhatian melalui tatapan mata sehingga audience akan merasa simpati.

    Body Language atau bahasa tubuh.

    Seorang pembicara harus memiliki sikap tubuh yang baik dan fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi serta lingkungan acara. Gerak-gerik anda menentukan segalanya dipanggung, jika anda kaku dan tidak bebas bergerak maka jangan naik panggung. Ketika diatas panggung anda akan menjadi bintang, semua mata tertuju pada anda. Oleh karena itu, setiap gerakan yang anda lakukan akan dinilai oleh audiens. Bahasa tubuh juga membantu meyakinkan audiens mengenai apa yang anda sampaikan. Anda harus mampu bergerak bebas agar tidak terlihat grogi tetapi jangan pula over acting, seadanya saja.

    Contoh: Setiap kata yang keluar harus diikiuti gerak tubuh seperti dalam pidato mengenai kemerdekaan maka kita bisa menggunakan gerakan tangan kita untuk membangkitkan semangat audience.

    Confident and Nervous

    Kepercayaan diri mutlak harus dimiliki oleh seorang pembicara, karena anda harus berhadapan langsung dengan audiens. Kepercayaan diri akan membantu anda menguasai panggung dan audiens serta memudahkan anda berinteraksi. Tidak dapat dipungkiri apabila track record kita masih sedikit maka apabila kita dihadapkan oleh situasi yang baru kita akan merasa nervous. Hal tersebut disebabkan oleh penguasaan diri yang rentan dan banyak faktor penyebab yang berhubungan dengan psikologis sang pembicara.

    Contoh: Ketika menjadi public speaker, kita harus menyampaikan materi dengan penuh percaya diri agar audience percaya dengan apa yang kita sampaikan.

    Show Case

    Seorang public speaker dalam menyampaikan materi harus mampu menampilkan kasus ataupun cerita agar pembicaraannya tidak monoton. Kemampuan menampilkan kasus ataupun cerita akan sangat membantu Anda untuk merebut hati audience dan keluar dari krisis. Namun demikian, kemampuan Anda untuk membuat mereka tersenyum kemudian memberikan applause meriah kepada Anda akan sangat membantu untuk mengurangi ketegangan dan kebosanan diantara mereka. Tidak semua orang mampu menampilkan kasus atau cerita. Sebelum memulai biasanya audience sudah dihinggapi kekhawatiran apa yang akan disampaikan public speaker akan membuat bosan.

    Contoh: Apabila kita menjadi pembicara dalam tema “Go Green” maka kita bisa menampilkan show case atau contoh kasus seperti “kebakaran hutan atau asap riau”

    Consideration of alternative Solutions

    Berikan pertimbangan dengan sejumlah pendapat narasumber yang mendekati alternatif jawaban pada ‘case’ yang sesuai topik dan tema pembicaraan. Seorang public speaker tidak hanya memberikan show case tetapi juga harus memberikan alternatif solusi atau jawaban dari kasus yang dibicarakan.

    Sleigh Audience in your opinion

    Seorang public speaker harus mampu menggiring audience pada opini kita yaitu dengan cara memberikan contoh jawaban pada kasus atau cerita yang sesuai dengan tema yang kita sampaikan dan jangan lupa untuk selalu berikan solusi yang tepat.

    Draw great conclusions

    Tariklah kesimpulan dengan hebat dan giring semua audiens masuk dalam kesimpulan kita, dengan mengajukan banyak pertanyaan dan menggiring jawabannya pada tema yang kita bahas. Setelah kita memberikan pertanyaan dan audience menjawab, usahakan supaya jawaban jawaban dari audience dapat kita giring untuk masuk kedalam kesimpulan yang telah kita buat.

    Show Empathy at the End Speech

    Tutuplah pembicaraan dengan penuh empati kepada audience kita. Pembicaraan akhir menimbulkan kesan yang lama tersimpan pada audience. Sehingga audience yang hadir akan merasa terkesan dengan apa yang pembicara harapkan.

    Suka

  4. Nama : Desi Natalia
    Nim : 44217320022
    Public relation/ Public Speaking

    10 magic of public speaking

    1. Language Proficiency
    Adalah teknik penguasaan bahasa, teori, dan sumber-sumber informasi yang mampu menarik secara kuat perhatian dan pemikiran para pendengar. Dengan pembendaharaan bahasa yang dimiliki, serta gaya dalam penyampaian akan semakin mudah menarik perhatian pendengar.

    Contoh : Saat berpidato saya menyampaikannya dengan menjelaskan teori-teori mengenai seks education dan bahkan contoh yang saya gunakan informasinya saya ambil dari hasil survey komisi perlindungan anak yang dilakukan pada tahun 2012 tentang seberapa banyak siswa SMP dan SMA melakukan hubungan seks pranikah.

    Say it Right
    Maksudnya adalah seorang pembicara harus dapat melafalkan kalimat dengan benar, tidak di perkenankan membawa logat asli yang membuat pengucapan kalimat menjadi aneh atau tidak dapat di mengerti.

    Contoh : saat saya menyampaikan pidato saya melafal kata efektif dengan benar bukan epektip.

    Charismatic Speaker
    Seorang pembicara haruslah menguasai materi dan faham betul akan apa yang di katakan, agar saat menyampaikan materi tidak membuanya gugup sehingga terlihat tidak memiliki kualitas yang baik sebagai pembicara.

    Contoh : Sebagai seorang speakers, walaupun masih tahap berlatih saya rasa ketika kemarin saya berpidato tidak ada kata sumbang yang saya gunakan seperti “eeeee” “hmmmm” dsb. Kalimat dan materi yang saya sampaikan tersusun dengan benar dan saya kuasai betul-betul sehingga tidak membuat para audience pusing mendengarnya.

    Body Language
    Karakteristik gerakan anda saat di atas pangung adalah cerminan bagaimana mental anda saat itu, jika pembicara melakukan gerakan yang aneh dan membuat audience merasa tidak nyaman melihatnya, sebaiknya berhenti melakukan gerakan aneh atau turun saja dari panggung. Pembicara dengan gerakan aneh yang jelas menampilkan dirinya over akting atau over nerveus adalah pembicara dengan kualitas buruk.

    Contohnya : Saya percaya diri dengan penampilan saya kemarin. Berpakaian formal dengan high heels, dan ketika dipanggung pun saya nyaman dengan apa yang saya kenakan sehingga saya tidak terlalu banyak melakukan gerakan yang tidak perlu seperti membenarkan rok saya, garuk-garuk kepala dsb.

    Confident and Nervous
    Adalah ketidak siapan mental sang pembicara saat naik ke panggung atau podium. Hal ini dikarenakan belum terbiasanya atau ketidak siapannya terhadap pandangan berbagai kalangan audience.

    Contoh: Karena saya telah menguasai materi nya dan cukup PD dengan penampilan saya, ketika di atas panggung pun rasa canggung,nervous,tidak percaya diri ataupun gugup tidak saya rasakan.

    Show Case
    Semacam ice breaking yang berfungsi untuk mencaikan suasana agar pembicara lebih dapat di perhatikan dan mendapat perhatian dari audience. Caranya adalah dengan membangun semangat atau membuat lelucon sederhana.

    Contoh : selama 15 menit saya berpidato, tidak melulu tentang materi yang kaku yg saya bawakan. Saya menyempatkan bercerita tentang kisah ponakan saya yang tentu nya masih berhubungan dengan tema sebagai ice breaking agar audience tidak mengantuk dan bosan.

    Consideration of alternative Solutions
    Pembicara disarankan memberikan pertimbangan pada beberapa pendapat audience dan narasumber yang mendekati topik dan temamateri pembicaraan.

    Contoh : “Ketika para remaja mulai merasakan efek negativ dari kurang nya seks education yang diberikan orang tua dan pendidik di sekolah, salah siapa kah ini? Atau memang hal tersebut saat ini telah menjadi tren?” pernyataan tersebut saya ucapkan di pidato saya dan mungkin saja menimbulkan banyaknya pendapat yang bermunculan dari audience.

    Sleigh Audience in your opinion
    Membuat audience memiliki opini dan pemikiran yang sama seperti pembicara sehingga timbul kesepahaman antara kedua pihak. Karena pembicara baru dapat dikatakan sukses apabila audience nya dapat terpengaruh oleh materi yang di sampaikannya.

    Contoh : “Seharusnya sebagai orang tua kita harus memberkan seks education dini pada anak kita agar mereka paham betul apa saja bahaya dari seks itu sendiri jika dipraktikan dengan tidak benar. Dan saya rasa hal ini bukan saja tanggung jawab orang tua namun guru disekolah serta peran pemerintah juga penting dalam mensosialisasikan tentang apa itu seks kepada para generasi muda” kalimat yang saya ucapkan saat menyampaikan pidato dan disepakati oleh audience.

    Draw great conclusions
    Kesimpulan adalah inti dari materi panjang lebar yang telah di sampaikan. Kesimpulan yang diberikan haruslah dpat tertanam di benak para audience agar materi yang tersampaikan tidak serta merta mejadi sebuah angin lalu. Maka pembicara harus dapat mempu menarik perhatian audience untuk yang terakhir dengan membuat mereka merasa bangga telah mendengar materi dari sang pembicara.

    Contoh : “Mari kita menjadi orang tua yang bisa menerapkan seks education dengan baik kepada anak-anak kita nanti agar mereka terhindar dari bahaya seks itu sendiri” Kalimat kesimpulan yang saya berikan ini mengandung makna penyemangat dan senantiasa diingat oleh audience.

    Show Empathy at the End Speech
    Menutup pembicaraan juga adalah salah satu aspek paling penting yang terakhir kali harus dilakukan oleh pembicara. Tuturkata yang baik dan empati yang di berikan dengan tulus oleh pembicara kepada pendengar dapat menimbulkan kesan lebih pada audience sehingga akan semakin merasa bahwa pembicara adalah benar orang yang berkualitas.

    Contoh : “semoga generasi anak bangsa kita nanti bisa lebih baik dan bisa berkarya serta bisa membanggakan bangsa kita “. Kalimat tersebut saya ucapkan saat diakhir pidato sebagai kalimat perpisahan yang menyemangati.

    Suka

  5. Nama : alexandro steven
    Nim : 44217320023
    Univ.mercubuana kranggan
    Fakultas ilmu komunikasi humas

    1. Language proficiency, yakni mengenai penguasaan bahasa, istilah dan referensi, kita juga dituntut untuk memiliki perbendaharaan kata dan istilah yang mampu menghipnotis audiens dengan mengutip referensi sesuai dengan teori yang ada. Contoh : sewaktu mengadakan sosialisasi mengenai pencegahan kaki gajah di sebuah desa, tentu kita tidak akan menggunakan istilah-istilah asing agar warga tidak merasa bingung. Dengan menggunakan kata-kata yang sederhana maka diharapkan warga dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan.
    2. Say it Right, yakni mengenai kemampuan spelling atau kemampuan mengucapkan kata dengan pengejaan yang benar (spell the word correctly), dan tidak menimbulkan persepsi yang berbeda dari audiens kita. Contoh : saat menyampaikan suatu materi kepada audiences dalam bahasa Inggris, kita perlu berhati-hati sewaktu menggunakan kata “were” dan “where”.
    3. Charismatic Speaker, maksudnya adalah kita seorang yang ahli dibidang topic yang akan kita bawakan. Contoh : kita menguasai materi mengenai bisnis pada sebuah seminar yang bertemakan bisnis
    4. Body Language adalah gerak-gerik kita menentukan segalanya dipanggung. Contoh : sewaktu berbicara di panggung dan kita membetulkan rambut kita, itu artinya kita belum siap untuk berbicara di panggung.
    5. Confident and Nervous, faktornya adalah penguasaan diri yang rentan, banyak faktor penyebab yang berhubungan dengan psikologis diri kita. Contoh : gugup karena tidak terbiasa berbicara di panggung.
    6. Show Case, tampilkan kasus dengan memulai pertanyaan yang unik dan tidak disangka-sangka untuk memulai pembicaraan yang hebat. Contoh : memberikan pertanyaan kehidupan sehari-hari sewaktu menyampaikan materi tentang komunikasi.
    7. Consideration of alternative Solutions, maksudnya adalah memberikan pertimbangan dengan sejumlah pendapat nara sumber yang mendekati alternatif jawaban pada ‘case’ yang sesuai topik dan tema pembicaraan kita. Contoh : kita memberikan informasi mengenai air putih dapat menurunkan berat badan, dan kita menyertakan pendapat ahli gizi mengenai air putih.
    8. Sleigh Audience in your opinion, Giring audiens pada opini anda dengan memberikan contoh jawaban pada kasus sesuai tema anda dan berikan solusi yang tepat, misalnya ‘bagaimana mengambil sikap pada masalah yang sesuai tema anda. Contoh : sewaktu membahas kemacetan Jakarta, kita bisa memberikan jawaban ‘untuk mengurangi kemacetan kita bisa menggunakan sepeda sewaktu pergi ke kantor. Sepeda tidak hanya mengurangi kemacetan tapi juga membuat badan sehat’.
    9. Draw great conclusions, tariklah kesimpulan dengan hebat dan giring semua audiens masuk dalam kesimpulan anda, dengan mengajukan banyak pertanyaan dan menggiring jawabannya pada tema anda. Contoh : setelah membahas mengenai kemacetan Jakarta, kita bisa bertanya untuk menuju ke kesimpulannya, “ menggunakan transportasi berbahan bakar dapat memicu polusi udara. Apakah hadirin tetap menggunakan kendaraan berbahan bakar, atau menggunakan sepeda?”
    10. Show Empathy at the End Speech, Tutup pembicaraan dengan penuh empati kepada audiens anda. Pembicaraan akhir menimbulkan kesan yang lama tersimpan pada audiens. Contoh : setelah memberikan seminar kemacetan Jakarta, kita bisa mengatakan “jika anda sayang paru-paru anda, maka naiklah sepeda. Dengan sepeda, maka berkuranglah kemacetan Jakarta

    Suka

  6. Nama : Nurmala Dewi Mustafa
    NIM : 44217320015
    PR – Mercubuana

    10 MAGICS OF PUBLIC SPEAKING

    1. Language Proficiency, Penguasaan Bahasa, Istilah dan Referensi, dituntut untuk memiliki perbendaharaan kata, penguasaan bahasa dan istilah yang mampu menghipnotis audiens, dengan mengutip referensi sesuai dengan teori yang ada.

    Contoh : Ketika saya menggunakan bahasa Jepang “ianfu” yang berarti wanita penghibur dalam bahasa Indonesia, “Ianjo” yang berarti rumah bordil, atau saya harus menyebutkan rumah yang berisi wanita penghibur untuk memudahkan audiens mengerti. Begitu juga dengan beberapa judul buku yang terdapat dalam pidato saya, kemudian juga quote yang saya kutip dari seorang wanita dunia, Hillary Clinton. Semua hal tersebut tentu perlu saya baca berulang ulang dan saya pahami berkali kali agar saya mengerti dan tidak ada kesalahan saat saya berpidato dan mengucapkan semua itu.

    2. Say it Right, kemampuan Spelling atau kemampuan mengucapkan kata dengan pengejaan yang benar (Spell the word correctly), tidak menimbulkan presepsi yang berbeda dari audiens anda.

    Contoh : Saat saya menyebutkan judul buku, “Silence Broken On Red Army Ropes in Germany” dimana judul buku tersebut menggunakan bahasa inggris saya harus mengucapkan judulnya dengan benar dan dengan artikulasi yang jelas, agar artinya tidak berbeda.

    3. Charismatic Speaker, seorang yang berkharisma, anda adalah seorang ahli dibidang topic yang anda bawakan. Persiapan narasi yang tematis sangat dibutuhkan, intinya anda terlihat sangat berkharisma karena menguasai bidang anda dengan sangat akurat

    Contoh : Saya melakukan latihan di depan cermin sebelum hari H pidato berlangsung. Bahkan saya meminta beberapa teman saya untuk membaca teks pidato yang saya buat beberapa hari sebelum hari pidato, agar mereka memberi masukan kepada pidato saya. Dan hal itu terbukti di atas panggung. Ketika saya berpidato saya tahu audiens memperhatikan saya karena mereka tertarik dengan saya, saya menjadi percaya diri, dan bahkan saya mempersiapkan busana yang akan saya kenakan agar enak di lihat audiens

    4. Body Language, gerak-gerik anda menentukan segalanya dipanggung, jika anda kaku dan tidak bebas bergerak maka jangan naik panggung. Anda adalah bintang saat naik panggung tetapi jangan pula over acting, seadanya saja.

    Contoh : Dengan latihan di depan cermin sebelum saya naik panggung, membantu saya dalam mengetahui bagaimana saya harus menggerakan tangan saya, termasuk juga dengan intonasi dan penekannan penekanan yang saya lakukan terhadap kalimat atau kata kata tertentu. Hal ini tentu sangat membantu saya dalam mengekspresikan body language saya di atas panggung. Meskipun saya sempet nervous di awal namun saya bisa menanganinya.

    5. Confident and Nervous, faktornya adalah penguasaan diri yang rentan, banyak faktor penyebab yang berhubungan dengan psikologis sang pembicara.

    Contoh : saya adalah peserta terakhir (penutup pidato), kegugupan saya rasakan saat melihat satu demi satu peserta pidato lainnya berhasil dengan sangat baik, dan mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dr audiens. Dan ini membuat tangan saya dingin sebelum saya naik ke atas panggung, dan bahkan di awal pidato saya sempat merasakan suara saya hampir hilang karena saya tahu saya gugup. Namun saya coba mengendalikan hal tersebut dengan mengingat sebuah kalimat “saat anda di atas panggung, andalah bintangnya”. Dan keinginan besar saya untuk membuat audiens sadar bahwa perang menyengsarakan banyak orang. Akhirnya saya coba untuk mengendalikan rasa gugup dengan menarik nafas dan saya rasa saya berhasil.

    6. Show Case, tampilkan kasus dengan memulai pertanyaan yang unik dan tidak disangka-sangka untuk memulai pembicaraan yang hebat

    Contoh : Saya tidak memulainya dengan sebuah pertanyaan tapi saya memulainya dengan sebuah pernyataan. Sebuah pernyataan yang berbunyi “tentara dan wanita adalah satu paket yang berjalan berdampingan dan tidak dapat di pisahkan”. Menurut saya pernyataan ini merupakan pernyataan unik dan tak di sangka sangka untuk memulai pidato saya karena membuat audiens bingung dan kaget dengan pernyataan tersebut.

    7. Consideration of alternative Solutions, Berikan pertimbangan dengan sejumlah pendapat nara sumber yang mendekati alternatif jawaban pada ‘case’ yang sesuai topik dan tema pembicaraan

    Contoh : Saat saya mengatakan bahwa komunikasi adalah salah satu cara yang dapat di gunakan untuk menghindari perang. Hal yang lainnya adalah dengan mencari tahu dimana letak kesalahan dan memperbaikinya. Dengan begitu tidak perlu ada perang.

    8. Sleigh Audience in your opinion, Giring audiens pada opini anda dengan memberikan contoh jawaban pada kasus sesuai tema anda,karena Seorang speaker adalah orang pertama yang akan di “setujui”oleh audiensnya dengan apapun yang dikatakannya.

    Contoh : Ketika saya mengatakan bahwa perang dalam bentuk kecil dapat kita lihat dalam tawuran pelajar yang sering kita lihat terjadi antar sekolah di jalan raya, yang di mana hal tersebut menyebabkan korban jiwa (menyengsarakan pelajar tersebut), membuat orang tua dari pelajar jadi sedih jika melihat anaknya berkelahi, teman teman yang lain juga terkena imbas. Padahal masalah antar anak sekolah pastilah dapat di selesaikan dengan cara yang jauh lebih baik dan sportif. Apalagi anak sekolah masuk dalam sebuah organisasi sekolah dimana seharusnya sekolah dapat membuat atau mencari solusinya dengan lebih baik dan di komunikasikan.

    9. Draw great conclusions, tariklah kesimpulan giring semua audiens masuk dalam kesimpulan anda.

    Contoh : Kesimpulan yang saya tarik di sini adalah bahwa perang/tawuran bukan merupakan jalan keluar satu satunya untuk menyelesaikan suatu hal. Semua hal dapat di komunikasikan dengan baik dan dapat di bicarakan dengan secara baik, tidak mungkin tidak ada jalan keluarnya. Perang hanya membuat orang orang sengsara, saling kehilangan satu sama lain, korban jiwa dimana mana, dan penderitaan. Jadi hindarilah perang, debat dan bahkan tawuran.

    10. Show Empathy at the End Speech, Tutup pembicaraan dengan penuh empati kepada audiens anda. Pembicaraan akhir menimbulkan kesan yang lama tersimpan pada audiens.

    Contoh : Saat saya mengatakan bahwa ada jalan keluar terbaik selain perang yaitu dengan mengkomunikasikan semuanya secara baik, dan tiap orang dapat melakukannya . Saya yakin akan membuat orang berpikir 2x untuk melakukan keributan yang merugikan orang lain

    Suka

  7. 1. Language Proficiency, Penguasaan Bahasa, Istilah dan Referensi, dituntut untuk memiliki perbendaharaan kata, penguasaan bahasa dan istilah yang mampu menghipnotis audiens, dengan mengutip referensi sesuai dengan teori yang ada.

    Contoh : Ketika saya menggunakan bahasa Jepang “ianfu” yang berarti wanita penghibur dalam bahasa Indonesia, “Ianjo” yang berarti rumah bordil, atau saya harus menyebutkan rumah yang berisi wanita penghibur untuk memudahkan audiens mengerti. Begitu juga dengan beberapa judul buku yang terdapat dalam pidato saya, kemudian juga quote yang saya kutip dari seorang wanita dunia, Hillary Clinton. Semua hal tersebut tentu perlu saya baca berulang ulang dan saya pahami berkali kali agar saya mengerti dan tidak ada kesalahan saat saya berpidato dan mengucapkan semua itu.

    2. Say it Right, kemampuan Spelling atau kemampuan mengucapkan kata dengan pengejaan yang benar (Spell the word correctly), tidak menimbulkan presepsi yang berbeda dari audiens anda.

    Contoh : Saat saya menyebutkan judul buku, “Silence Broken On Red Army Ropes in Germany” dimana judul buku tersebut menggunakan bahasa inggris saya harus mengucapkan judulnya dengan benar dan dengan artikulasi yang jelas, agar artinya tidak berbeda.

    3. Charismatic Speaker, seorang yang berkharisma, anda adalah seorang ahli dibidang topic yang anda bawakan. Persiapan narasi yang tematis sangat dibutuhkan, intinya anda terlihat sangat berkharisma karena menguasai bidang anda dengan sangat akurat

    Contoh : Saya melakukan latihan di depan cermin sebelum hari H pidato berlangsung. Bahkan saya meminta beberapa teman saya untuk membaca teks pidato yang saya buat beberapa hari sebelum hari pidato, agar mereka memberi masukan kepada pidato saya. Dan hal itu terbukti di atas panggung. Ketika saya berpidato saya tahu audiens memperhatikan saya karena mereka tertarik dengan saya, saya menjadi percaya diri, dan bahkan saya mempersiapkan busana yang akan saya kenakan agar enak di lihat audiens

    4. Body Language, gerak-gerik anda menentukan segalanya dipanggung, jika anda kaku dan tidak bebas bergerak maka jangan naik panggung. Anda adalah bintang saat naik panggung tetapi jangan pula over acting, seadanya saja.

    Contoh : Dengan latihan di depan cermin sebelum saya naik panggung, membantu saya dalam mengetahui bagaimana saya harus menggerakan tangan saya, termasuk juga dengan intonasi dan penekannan penekanan yang saya lakukan terhadap kalimat atau kata kata tertentu. Hal ini tentu sangat membantu saya dalam mengekspresikan body language saya di atas panggung. Meskipun saya sempet nervous di awal namun saya bisa menanganinya.

    5. Confident and Nervous, faktornya adalah penguasaan diri yang rentan, banyak faktor penyebab yang berhubungan dengan psikologis sang pembicara.

    Contoh : saya adalah peserta terakhir (penutup pidato), kegugupan saya rasakan saat melihat satu demi satu peserta pidato lainnya berhasil dengan sangat baik, dan mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dr audiens. Dan ini membuat tangan saya dingin sebelum saya naik ke atas panggung, dan bahkan di awal pidato saya sempat merasakan suara saya hampir hilang karena saya tahu saya gugup. Namun saya coba mengendalikan hal tersebut dengan mengingat sebuah kalimat “saat anda di atas panggung, andalah bintangnya”. Dan keinginan besar saya untuk membuat audiens sadar bahwa perang menyengsarakan banyak orang. Akhirnya saya coba untuk mengendalikan rasa gugup dengan menarik nafas dan saya rasa saya berhasil.

    6. Show Case, tampilkan kasus dengan memulai pertanyaan yang unik dan tidak disangka-sangka untuk memulai pembicaraan yang hebat

    Contoh : Saya tidak memulainya dengan sebuah pertanyaan tapi saya memulainya dengan sebuah pernyataan. Sebuah pernyataan yang berbunyi “tentara dan wanita adalah satu paket yang berjalan berdampingan dan tidak dapat di pisahkan”. Menurut saya pernyataan ini merupakan pernyataan unik dan tak di sangka sangka untuk memulai pidato saya karena membuat audiens bingung dan kaget dengan pernyataan tersebut.

    7. Consideration of alternative Solutions, Berikan pertimbangan dengan sejumlah pendapat nara sumber yang mendekati alternatif jawaban pada ‘case’ yang sesuai topik dan tema pembicaraan

    Contoh : Saat saya mengatakan bahwa komunikasi adalah salah satu cara yang dapat di gunakan untuk menghindari perang. Hal yang lainnya adalah dengan mencari tahu dimana letak kesalahan dan memperbaikinya. Dengan begitu tidak perlu ada perang.

    8. Sleigh Audience in your opinion, Giring audiens pada opini anda dengan memberikan contoh jawaban pada kasus sesuai tema anda,karena Seorang speaker adalah orang pertama yang akan di “setujui”oleh audiensnya dengan apapun yang dikatakannya.

    Contoh : Ketika saya mengatakan bahwa perang dalam bentuk kecil dapat kita lihat dalam tawuran pelajar yang sering kita lihat terjadi antar sekolah di jalan raya, yang di mana hal tersebut menyebabkan korban jiwa (menyengsarakan pelajar tersebut), membuat orang tua dari pelajar jadi sedih jika melihat anaknya berkelahi, teman teman yang lain juga terkena imbas. Padahal masalah antar anak sekolah pastilah dapat di selesaikan dengan cara yang jauh lebih baik dan sportif. Apalagi anak sekolah masuk dalam sebuah organisasi sekolah dimana seharusnya sekolah dapat membuat atau mencari solusinya dengan lebih baik dan di komunikasikan.

    9. Draw great conclusions, tariklah kesimpulan giring semua audiens masuk dalam kesimpulan anda.

    Contoh : Kesimpulan yang saya tarik di sini adalah bahwa perang/tawuran bukan merupakan jalan keluar satu satunya untuk menyelesaikan suatu hal. Semua hal dapat di komunikasikan dengan baik dan dapat di bicarakan dengan secara baik, tidak mungkin tidak ada jalan keluarnya. Perang hanya membuat orang orang sengsara, saling kehilangan satu sama lain, korban jiwa dimana mana, dan penderitaan. Jadi hindarilah perang, debat dan bahkan tawuran.

    10. Show Empathy at the End Speech, Tutup pembicaraan dengan penuh empati kepada audiens anda. Pembicaraan akhir menimbulkan kesan yang lama tersimpan pada audiens.

    Contoh : Saat saya mengatakan bahwa ada jalan keluar terbaik selain perang yaitu dengan mengkomunikasikan semuanya secara baik, dan tiap orang dapat melakukannya . Saya yakin akan membuat orang berpikir 2x untuk melakukan keributan yang merugikan orang lain

    Suka

  8. Nama : Dayana Manjani
    NIM : 44217320011
    Fakultas : Ilmu Komunikasi / Humas

    10 Magic of Public Speaking
    1. Language Proficiency
    Merupakan penguasaan bahasa, istilah, referensi maupun pembendaharaan kosa kata dalam menjelaskan suatu informasi kepada khalayak . Seorang pembicara harus menggunakan bahasa dan kosa kata yang dapat menarik perhatian massa agar mau mendengarkan, memperhatikan, bahkan membuat audiens memiliki opini yang sama dengan pembicara.
    Contohnya : Pembicara ketika menjelaskan suatu permasalahan harus menggunakan bahasa yang tepat dan mudah dimengerti seperti menjelaskan kepada ibu-ibu desa mengenai cara penanaman pada yang baik, maka bahasa yang digunakan harus bahasa yang tidak asing ditelinga audiensnya dengan bahasa Indonesia yang santai atau dengan bahasa daerah itu sendiri.
    Misalnya : sebuah universitas swasta di Jakarta mengadakan seminar yang di selenggarakan oleh fakultas teknik dan di buka untuk umum. Kalimat tersebut adalah kalimat yang boros, seharusnya : Fakultas teknik universitas swasta di Jakarta mengadakan seminar untuk umum. Kalimat tersebut lebih mudah di pahami dan diingat.
    2. Say it Right
    Merupakan kemampuan mengeja setiap kata dan melafalkannya dengan baik, tidak menimbulkan persepsi yang berbeda dan kesalah pahaman sehingga maksud dari pembicaraan kita dapat diterima dan dimengerti dengan baik oleh audiens.
    Contohnya adalah dalam penyebutan kata “Pelafalan”, biasanya kebanyakan menyebutnya dengan “Pelapalan”
    3. Charismatic Speaker
    Dalam menjadi seorang pembicara, haruslah menguasai materi dan isi dari materi yang akan disampaikan. Sehingga dapat dipandang sebagai orang yang berkarisma, berkarakter dan memiliki kualitas yang harus diperhatikan.
    Contohnya : ketika menjelaskan materi, diusahakan agar tidak sering melihat teks atau catatan kertas. Hal tersebut menandakan seorang pembicara tidak siap dengan materi yang disampaikan.
    4. Body Language
    Merupakan gaya atau gerak tubuh yang ditunjukan ataupun dilakukan saat menjadi seorang pembicara. Agar diperhatikan untuk tidak membuat gerakan nyeleneh dan akhirnya dapat membuat audiens berfikir aneh dan merasa tidak nyaman dalam melihatnya. Misalnya gerakan yang terlalu berlebihan atau nerveus sehingga membuat pelafalan kata menjadi terbata-bata atau over acting yang merugikan diri sendiri.
    Contohnya : Memegang bagian sensitive ketika berada di panggung atau depan audiens.
    5. Confident dan Nervous
    Gugup dalam setiap penampilan itu wajar. Yang tidak baik itu adalah Over Confident. Terlalu Percaya Diri. Pada sebuah acara Standup Comedy di salah satu televisi swasta, ada seorang Comic Indonesia yang pernah belajar Standup Comedy di Australia. Ia sangat bisa membawa audiens tertawa akan guyonannya. Namun saat tampir di depan layar kaca. Guyonannya terkesan garing dan tak lucu. Tak satupun audiens tertawa, yang ada banyak audiens yang berpikir apa yang dimaksud dengan Comic tersebut. Setelah diusut, Comic tersebut terlampau percaya diri untuk tampil di TV.
    6. Show Case
    Hal ini terkait dengan pemilihan materi dan kasus yang digunakan sebagai contoh untuk menarik fokus dan opini audiens . Untuk itu biasanya diperlukan pertanyaan dadakan yang dapat membuat audiens berpikir dan tertarik untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang pembicara.
    Contohnya : Dalam suasana pilpres seperti ini masyarakat akan sensitive mengenai politik . Contohnya pertanyaan mengenai cebong saja akan membawa alur pemikiran audiens kea rah politik.
    7. Considerations of alternative solutions
    Memberikan pertimbangan dari pendapat bebrapa narasumber untuk mencari solusi dan menjawab kasus terkait tema dan sedang dalam pembahasan.
    Contohnya ketika forum HRD mengenai karyawan harian yang dibutuhkan jangka panjang tapi peraturan pemerintah tidak mengizinkan hal tersebut. Maka biasanya dilakukan system off selama 1 bulan. Hal tersebut atas persetujuan dari seluruh hrd kabupaten bogor yang mengikuti forum tersebut dan diketahui depnaker.
    8. Sleigh Audiens in your Opinion
    Membuat audience memiliki opini dan pemikiran yang sama seperti pembicara sehingga timbul kesepahaman antara kedua pihak. Karena pembicara baru dapat dikatakan sukses apabila audience nya dapat terpengaruh oleh materi yang di sampaikannya. Contoh : “seharusnya kekayaan tambang yang ada di Indonesia dapat di manfaatkan oleh warga negara kita agar hasil keuntungan yang melimpah dapat dinikmati oleh warna sekitar dan negara bangga akan keahlian penduduknya”. Kalimat tersebut akan menimbulkan pandangan dan pembenaran pikiran di dalam opini para audiensnya.
    9. Draw Create Conclusions
    Merupakan kesimpulan dari keseluruhan materi yang sudah dijelaskan oleh seorang pembicara. Hal ini merupakan hal yang penting, karena akan kesimpulan ini haruslan berkesan dan dari keseluruhan materi minimal hal yang dijelaskan dalam kesimpulan dapat selalu diingat oleh audiens.
    Contohnya : “Teman-teman sekalian, bumi merupakan tempat tinggal segala makhluk hidup. Mari kita jaga bersama agar dapat bisa dinikmati keindahannya, kenyamanannya, dan keamanannya hingga anak dan cucu kita nanti”
    10. Show Empathy at the End Speech
    Merupakan penutupan pembicaraan dengan penuh empathy dengan kata-kata sederhana, menyentuh dan berkesan di hati audiens.
    Contohnya : Saat seorang speaker mengatakan “semua orang punya potensi hebat dalam dirinya termasuk anda,dan saya yakin itu”. Kata kata tersebut meninggalkan sebuah makna bahwa ada orang lain yang percaya kita itu orang hebat dan orang yang mempunyai potensi.

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s