RETORIKA & REVIEW TEORI PUBLIC SPEEKING

orator sejati Mustika Ranto GuloSasaran :

Mahasiswa harus membuat contoh naskah pidato yang akan dipraktekan nanti pada pertemuan ke 10 s/d 14. Pidato harus tematis dan memenuhi syarat-syarat teori RETORIKA.

Retorika adalah seni melakukan transfer spirit, menularkan ide, membuka wawasan dan memberikan semangat, motivasi dan juga jalan keluar; dimana narasi dan tema dalam berpidato sanggup merubah pendirian audiens dan memahami, menerima dan mengikuti apa yang dipaparkan oleh sang Speaker. Retorika adalah upaya memenangkan argumentasi dalam sebuah panggung terbuka.

Dalam teori Retorika menuntut adanya alasan-alasan, bukti-bukti dan referensi-referensi dari semua paparan yang akan disampaikan. Sehingga persiapan pidato yang formal dan protokoler itu harus melalui proses pengumpulan data referensi oleh orang2 yang menguasai tema pidato. Sang pembicara harus orang yang memiliki kredibilitas, harus mendepankan syarat speker dalam retorika :

ETHOS

Kemampuan dasar yang dimiliki yaitu integritas, karakter dan kredibelitas yang mampu melakukan persuasi terhadap banyak orang. Karakter yang mampu dipercayai,  memiliki alasan untuk dipercaya “sumber kepercayaan” (source credibility) yang dibuktikan seorang orator bahwa dirinya memang mumpuni pada bidangnya, dan karena kepakarannya itu, seorang orator layak dipercaya.

PATHOS

Pengendalian diri itu sangat diutamakan, tidak mudah tersinggung dan panik ketika mendapat pertanyaan dan kritik yg keras dari para audiens. Sikap tenang dan sabar itu sangat dibutuhkan agar penampilan di panggung menjadi sempurna. Seorang orator harus memiliki kendali pada emosi dalam dirinya, “himbauan emosional” (emotional appeals) yang ditunjukkan seorang orator dalam menampilkan gaya dan bahasa yang mampu membangunkan kegairahan dengan semangat yang berapi-api di hadapan khalayak. Sebenarnya nama lain dari seorang speekers adalah motivator.

LOGOS adalah penguasaan pengetahuan yang luas, memiliki perbendaharaan kata dan juga contoh-contoh kasus yang kaya. Logos memiliki makna “imbauan logis” (logical appeals) yang dibuktikan seorang orator bahwa uraian atau kajiannya sungguh-sungguh masuk akal sehingga layak diikuti atau dituruti oleh khalayak.

8 pemikiran pada “RETORIKA & REVIEW TEORI PUBLIC SPEEKING

  1. Reblogged this on Nurulhsuryani and commented:
    spirit sangat penting dalam naskah pidato retorika dimana bisa membangkitkan semangat juang para audiens yang mendengarkan nya, membakar semangat, dan juga membuat audiens-audiens menjadi terinspirasi terhadap isi pidato yang kita sampaikan, kesimpulan nya adalah saya sangat setuju atas artikel yang MRG buat, arigatou sensei ^-^

    Suka

  2. Meskipun ketiga pilar di atas telah menjadi panduan bagi para orator pada zaman Yunani Kuno, sudah ratusan tahun sebelum Masehi, namun tuahnya hingga kini masih mutlak dipegang oleh para pelaku komunikasi. Komunikasi yang kini tidak hanya berada dalam ranah lisan namun juga tulisan, komunikasi bermedia sebagai sumbangan revolusi teknologi informasi, melewati batas dan sekat dunia, wajib dipegang teguh oleh para pelakunya. Dari ketiganya, tentu ethos merupakan faktor yang paling mutlak oleh setiap komunikator. Manakalah seorang komunikator kehilangan nilai ethos dalam komunikasinya maka sangat mungkin apa yang dikomunikasikan akan menimbulkan efek bumerang dan berakibat fatal pada kehilangan kepercayaan, kehormatan, integritas dan kewibawaan. Pertanyaan penting yang layak diurutkan adalah: apa komponen etos dan apa saja faktor pendukung ethos? Berikut ini adalah komponen-komponen ethos:

    1. Competensi, integritas dan tenggang rasa: Pada kondisi ini komunikan akan menentukan apakah mereka percaya bahwa komunikator memiliki kompetensi, kualitas dan good will dalam aktivitas komunikasi. Tugas seorang komunikator adalah membimbing komunikan untuk percaya, bahwa ia adalah seorang yang memiliki kemampuan, memiliki integritas dan memiliki tenggang rasa yang tinggi kepada para komunikannya. Komunikator menunjukkan ethos kepada komunikannya dengan jalan melakukan pilihan. Pada tahap awal pembinaan ethos, komunikator berusaha mengembangkan komponen tersebut dalam dirinya sendiri.

    2. Faktor-faktor Pendukung Ethos: Sukses seorang komunikator ditentukan oleh kemampuan dalam mengadakan pilihan yang akan meningkatkan ethosnya dalam mata komunikan. Seorang komunikator mulain meningkatkan atau menurunkan ethosnya sejak saat komunikan sadar akan kehadiran sang komunikator. Untuk itulah hal-hal di bawah ini menjadi faktor pendukung yang menentukan kualitas komunikasi:

    a. Persiapan (preparation): Ini merupakan faktor mutlak. Akan tetapi bila hanya memperhatikan persiapan saja belum cukup. Komunikator harus memperlihatkan kepada komunikan bahwa ia telah melewati persiapan. Sang komunikator harus menunjukkan kepercayaan mengenai persiapan ini bukan saja sewaktu ia berbicara, tetapi juga dalam tingkah lakuknya, sebelum dan sesudah berbicara.

    b. Kesungguhan (seriousmess): Seorang komunikator yang sungguh-sungguh akan membangkitkan kepercayaan dari pada komunikator yang tidak melakukannya secara demikian. Seorang komunikator harus menangani subyeknya, audiense nya dan peristiwanya dengan sungguh-sungguh. Kita dapat menyaksikan begitu banyak orator politik yang sukses menyisipkan humornya ke dalam pidatonya, tetapi mereka dengan hati-hati pula menghindarkan diri reputasinya sebagai pelawak. Winston Churcill, kita kenal sebagai orator ulung yang biasa menggunakan humor ketika melakukan pidato di tengah situasi perang dunia kedua, namun ia juga begitu berhati-hati yang dapat mengesankan bahwa dirinya sedang tidak serius menghadapi perang dunia tersebut. Di bagian lain, Adlai Stevenson begitu tragis ketika berkampanye untuk kepresidenannya disebabkan para pendukungnya menganggap bahwa dia lebih layak menjadi seorang humoris ketimbang sebagai presiden.

    c. Ketulusan (sincerity): Seorang komunikator harus menunjukkan kesan kepada audiense atau komunikannya bahwa ia adalah orang yang tulus dalam pikiran dan perbuatan. Sang komunikator yang mahir dapat menstimulus faktor ethos, jadi menciptakan kesan palsa dalam pikiran audiense. Namun, bila audiense mendapati kepalsuan dan ketidakjujuran maka sang komunikator akan menuai ketidakpercayaan dari audiensenya. Oleh karena itu cara terbaik bagi seorang orator ialah menumbuhkan ethos ini dengan kemampuan untuk memproyeksikan kualitas ini kepada para komunikannya.

    d. Kepercayaan (confidence): Seorang komunikator harus senantiasa memancarkan kepastian. Untuk itu dia harus muncul dengan penguasaan diri dan situasi yang sempurna. Cara satu-satunya adalah dengan melakukan persiapan secara menyeluruh untuk segala situasi.

    e. Ketenangan (Poise): Audiense akan cenderung mempercayai pembicara yang tenang, santai dalam pidatonya dan dalam situasi sosial di sekitar pidatonya, dan yang mempunya kesadaran akan kerahamahan yang memadai bagi peristiwa pidatonya. jadi, ketenangan dalam segala situasi pidato, baik di hadapan orang-orang penting maupun orang kebanyakan merupakan sesuatu yang krusial. Ketenangan dalam situasi pidato sendiri ditimbulkan ketika sang pembicara muncul di depan publik. Seoran pembicara yang berpengalaman akan mengangguk dengan tenang kepada pembicara lainnya, dengan tenang pula mengatur catatan atau bahan ppidatonya, dan mendengarkan dengan penuh perhatian yang sopan kepada pembicara lainnya tanpa menunjukkan reaksi kepada argumennya. Dan ketika, tiba saatnya dia berbicara, ia menghampiri mimbar dengan langkah yang pasti dan tenang serta penuh percaya diri, lalu setelah memberikan pernyataan terima kasih secara singkat dan sopan atas undangan kepadanya dan dapat bersama-sama dengan pembicara lainnya di sana, untuk kemudian menyajikan uraiannya. Dengan demikian, faktor ketenangan ini hanya berlaku dalam komunikasi lisan, khususnya orasi atau pidato.

    f. Keramahan (friendship): Kita lebih mempercayai teman daripada orang yang belum kita kenal. Olehnya, komunikator harus menunjukkan dirinya sebagai seorang sahabat kepada mereka yang menyelenggarakan pertemuan itu terdapat perdebatan. Hal yang terakhir ini paling kurang menyatakan hormat.

    g. Kesederhanaan (moderation): Umumnya komunikan menaruh kepercayaan dengan mudah kepada orang yang sederhana yang namun dalam pernyataannya masuk akal. Bagi seorang pembicara atau orator, biasanya akan menguntungkan bila ia memperlihatkan kesederhanaan. Gerak-gerik, bahasa tubuh dan mimik yang sederhana dan hindari apa yang disebut oleh anak mudah sekarang lebay. Kini orang lebih menyukai gerak gerik yang santai daripada yang kaku, berlebihan dan dibuat-buat. Hanya komunikator yang berpengalaman saja yang mengetengahkan istilah-istilah yang sederhana, mudah dicerna dan membuat hadirin mengangguk-angguk tanda setuju.

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s