ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI

ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI

Penjelasan bapak Mustika Ranto Gulo tentang Etika dan Filsafat Komunikasi

Bahasa adalah cikal bakal adanya ‘komunikasi’, yang pada awalnya struktur bahasa tidak beraturan; artinya bahasa sebagai esensi komunikasi tidak memandang kodrat antar manusia. Bahasa-bahasa yang ada sejajar dan  dipandang sebagai kesetaraan antar manusia. Namun pada akhirnya terjadi dominasi dan selektifitas dalam perubahan iklim budaya baik karena perang maupun karena revolusi sosial.

Etika adalah nilai dari pertarungan dominasi itu, ada unsur pemaksaan dan penundukkan kelompok dan kelas tertentu dalam lapisan masyarakat. Kelompok yang kalah dipaksa untuk berlaku baik dan sopan serta bertingkah sebagai budak yang terbatas perilakunya. Proses itu lebih konsentrasi pada terbentuknya budaya berkomunikasi yang tak ada akhirnya. Lalu, lahirlah etika berbahasa yang baik, perilaku dan pembentukan karakter, semuanya masuk dalam ranah komunikasi.

Etika itu sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.

Ada juga yang mengatakan lain bahwa Istilah etiket, berasal dari kata etiquette (Perancis), yang berarti kartu undangan, yang biasa digunakan oleh raja-raja Perancis ketika menyelenggarakan pesta. Dalam perkembangan selanjutnya istilah etiket tidak lagi berarti kartu undangan. Etiket artinya lebih menitikberatkan pada cara-cara berbicara yang sopan, cara berpakaian, cara duduk, cara menerima tamu di rumah/di kantor dan sopan santun lainnya. Etiket ini sering disebut pula tata krama. Maksudnya kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan setempat. Tata mempunyai arti adat, aturan, norma, peraturan, sedangkan krama berarti tindakan, perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti sopan santun, kebiasaan sopan santun atau tata sopan santun.

Kesadaran manusia mengenai baik buruk disebut kesadaran etis atau kesadaran moral. Hal itu terwujud dalam realitas saat manusia berkomunikasi, berhubungan dan terjadinya kontak antar pribadi, kelompok dan antar budaya.

Topik Tugas :

I. Komunikasi dan Budaya dalam Pendekatan Antar Budaya, Menampilkan hubungan yang terbentuk antar budaya serta perilaku orang yang ada di dalam perwakilan budaya itu sendiri. Menjelaskan adanya kendala-kendala yang sensitif karena bahasa, sehingga komunikasi tersendat. Contohnya adalah pernikahan beda suku tentu akan saling mempertahankan budaya dan adat istiadatnya masing-masing.

II. Simbol dan Budaya dalam pendekatan kepercayaan – religius manusia. Dalam presentasi ini akan ditampilkan bagaimana manusia itu masih menjujung tinggi simbol yang ada dalam kitab suci. Hal itu dianggap sangat suci dan dianggap nilainya sangat tinggi, Misalnya tempat ibadah dan perilaku manusia. Pakaian dan busana asesories lainnya yang dianggap suci dan sangat dipercayai sebagai patokan etika dan nilai iman.

III. Tradisi Gender dan Komunikasi, dalam pendekatan Etika komunikasi. Budaya kita masih menganggap wanita belum setara dari sisi nilai etika dan komunikasi. Apakah itu disebabkan oleh dominasi kaum pria atau karena filsafat dari nenek moyang kita, atau karena pesan-pesan dalam kitab-kitab yang kita percayai.

IV. Filsafat Komunikasi, yang berati bagaimana pengetahuan ilmu komunikasi terbentuk dan dijadikan sebagai suatu displin ilmu. Presentasi akan membahas tentang komunikasi dan sosiologi serta antropolgi. Termasuk Psikologi komunikasi yang membahas tentang hubungan antar manusia.

V. Bahasa dan Komunikasi, menggambarkan bahwa cikal bakal komunikasi adalah bahasa, dalam hal ini bahasa dipandang dalam tiga presepsi, bahasa isyarat, bahasa vocal, dan bahasa sebagai simbol.

VI. Bahasa, Ideologi dan Komunikasi dalam ranah dominasi, politik dan kekuasaan. Bagaimana etika manusia dalam menggunakan bahasa sebagai representasi kekuasaan dalam berpolitik.

VII. Teori Komunikasi sebagai landasan filosofi. Menggambarkan teori dasar Filosofi, Teori dasar komunikasi dan tradisi dalam teori komunikasi serta perkembangan terakhir tentang Ilmu Komunikasi.

VIII. Teori Komunikasi Antar Budaya, Bagaimana menjaga etika dan kehormatan budaya antar suku dan bang di dunia, termasuk aksi pembauran dan hidup dalam kondisi multi etnis.

IX. Komunikasi Kontemporer yang menggambarkan filosofi Teori, dan Peta Teori Ilmu Komunikasi.

X. Komunikasi dalam Perseptif hubungan; Komunikasi Intra-Personal dan Inter Personal

XII. Etika Komunikasi dalam terapan Media Jejaring Sosial

XIII. Komunikasi dan teori-teori Konflik

XIV. Teori Komunikasi dan Teknologi New Media

Syarat Tugas,

Wajib menampilkan pada presentasi dan ilustrasi serta contoh kasus.

Membuat Paper standard sesuai contoh yang ada, jika ada pertanyaan silahkan

Hubungi saya di ranto.komunikasi@gmail.com

10 pemikiran pada “ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI

  1. AKU DAN PENYESALAN

    Namaku Chandra, aku adalah anak terakhir dari enam bersaudara. Selama ini aku hidup bergelimang harta sehingga apapun yang aku inginkan sudah pasti akan kudapatkan dengan mudahnya. Kelima kakakku semuanya perempuan, mereka telah menikah dan pergi ikut suaminya masing masing. Kini hanya aku yang masih tinggal bersama Mommy dan Daddy, tapi setelah lulus SMA nanti aku sudah berencana ingin melanjutkan hidupku di negeri kincir angin.
    (Setahun kemudian) …
    Setahun telah berlalu, kini aku sudah lulus SMA dan aku pun telah terdaftar di salah satu perguruan tinggi ternama di Belanda. Aku tergolong pria yang cerdas dan rupawan, sehingga mudah bagiku untuk mendapatkan wanita yang kuidamkan. Di negeri kincir angin ini akhirnya aku menemukan belahan jiwaku, kami mulai sering menghabiskan waktu bersama. Aku tak pernah memberi kabar kepada orang tuaku karena aku sedang sibuk menikmati indahnya duniaku. Sepucuk surat datang ke dormku, surat dari Daddy. Ah aku malas untuk membuka surat itu, lebih baik aku menghabiskan akhir pekanku bersama pacarku. Sebulan telah berlalu, Daddy masih saja terus mengirimiku surat hingga kini tumpukan suratku sudah meninggi dan aku semakin malas untuk membukanya.
    Aku dan pacarku sudah berpacaran cukup lama hingga akhirnya kini setelah kami sama sama lulus dari bangku kuliah aku pun langsung melamarnya. Betapa bahagianya aku, saat ini aku telah memiliki istri yang sangat cantik. Aku adalah mahasiswa lulusan terbaik di Universitas, beberapa perusahaan mulai melirik dan mengajakku untuk bergabung. Sebenarnya aku masih ingin untuk terus menghabiskan waktuku bersama belahan jiwaku, tapi aku harus membiayai kehidupan kami hingga akhirnya kuputuskan untuk menerima tawaran kerja dari salah satu perusahaan ternama di Belanda. Karirku meningkat dengan sangat cepat, kini aku telah memiliki posisi penting diperusahaan sehingga aku jarang untuk bisa menghabiskan waktu bersama istriku tercinta.
    Lagi lagi sepucuk surat mendatangi kediamanku, seperti biasa, surat dari Daddy. Kali ini aku langsung membaca surat yang diberikan postman:
    “Anakku tersayang,
    Bagaimana kabarmu Nak?
    Daddy dan Mommy sangat kangen denganmu, kapan kamu akan
    kembali ke Indonesia?”
    Aku sangat malas untuk membalas surat dari Daddy, pekerjaan membuatku lelah. Aku ingin menghabiskan hari liburku ini bersama istriku tercinta. Dua minggu sudah surat dari Daddy tak kuberikan respond, tiba tiba datanglah seorang postman yang memberikanku sepucuk surat. Aku sudah tau kalau surat itu palingan dari Daddy, lebih baik aku abaikan saja surat tersebut bersama tumpukan surat surat dari Daddy yang belum kubaca.
    Beberapa hari kemudian, postman kembali mendatangi kediamanku. Aku sangat merasa kesal dengan Daddy, ia terus saja mengirimiku surat. Akhirnya segera kubalas surat dari Daddy:
    “Dear Dad and Mom,
    Kabarku baik baik saja, tapi aku tidak bisa kembali ke Indonesia
    dalam waktu dekat ini karena aku sedang sibuk”
    Benar saja, setelah aku mengirimkan surat balasanku Daddy mengirimiku surat lagi, saat ini aku benar benar malas untuk membacanya. Keesokan harinya postman kembali kerumahku lagi dan mengatarkanku sebuah surat. Aku benar benar sangat jengkel, Daddy tak henti hentinya mengirimiku surat padahal baru kemaren surat dari Daddy tiba namun kini aku sudah mendapatkan surat lagi dari Daddy. Akhirnya kubuka surat tersebut:
    “Nak, pulanglah.
    Aku sangat merindukanmu.
    Aku sangat ingin memelukmu.
    Lima belas tahun sudah kau meninggalkan Daddy dan Mommy, kini
    kami tak tahu seperti apa wajahmu saat ini. Apakah kau telah
    berubah atau masih seperti kau saat dulu sebelum kau pergi
    meninggalkan kami?
    Pulanglah Nak.
    Seluruh kakak perempuanmu telah pergi meninggalkan kami jauh
    sebelummu, hanya kau yang kami harapkan untuk bisa
    melanjutkan keturunanku.
    Pulanglah Nak, kembali kesini.”
    Aku sangat malas untuk membalas surat dari Daddy, lebih baik aku bersenang senang menikmati waktu luangku bersama istriku.
    (Dua tahun kemudian)…
    Tiga belas tahun sudah aku menikah, namun Tuhan belum juga mengaruniaiku seorang anak. Aku sempat berpikir kalau istriku tidak bisa memberikanku keturunan, akhirnya aku memutuskan untuk menikah lagi. Dengan persetujuan istriku, akhirnya aku menikahi sekertarisku. Saat ini aku telah memiliki dua wanita cantik dalam hidupku. Aku semakin asik dengan duniaku sendiri dan aku pun sangat malas untuk memberi kabar kepada Daddy dan Mommy.
    Setelah dua tahun berlalu, tiba tiba ada seorang postman yang kembali mendatangi kediamanku. Sudah kuduga pasti ada surat dari Daddy, ah langsung saja aku tumpuk surat tersebut bersama dengan surat surat lain dari Daddy yang belum kubaca. Beberapa hari kemudian postman kembali datang ke kediamanku, setelah kubaca surat tersebut dituliskan oleh Mommy. Tumben sekali Mommy mengirimiku surat, segera kubuka amplop dan kubaca surat tersebut:
    “Anakku, Chandra.
    Bagaimana kabarmu sayang?
    Ayah sedang sakit, ia sangat ingin bertemu denganmu.
    Kapan kau akan segera pulang ke Indonesia?”
    Aku malas membalas surat dari Mommy, ku geletakkan saja surat itu di meja bersama surat surat dari Daddy sebelumnya. Lebih baik aku membeli perlengkapan untuk bayi bayiku saja, itu lebih menyenangkan daripada terus membaca surat yang menanyai “kapan aku akan pulang?”. Mommy dan Daddy pasti sadar kalau aku punya kehidupanku sendiri saat ini, nanti kalau aku ingin pulang ke Indonesia juga pasti akan kuberi kabar kok.
    Seminggu kemudian ada seorang postman yang kembali mengantarkanku sepucuk surat, hhmm surat dari Mommy. Mommy ini lama lama seperti Daddy yang terus menggangguku. Aku sangat kesal, tapi yasudahlah lebih baik kubuka saja surat yang Mommy kirimkan nanti dirumah sakit:
    “Anakku sayang,
    Daddy kini telah tiada Nak.
    Kapan kamu akan pulang dan melihat Daddy untuk yang terakhir
    kalinya?”
    Bagai disambar petir disiang bolong, ayahku telah tiada. Aku sangat ingin kembali ke Indonesia untuk bisa melihat Daddy untuk yang terakhir kalinya. Namun apa dayaku? Kini kedua istriku sama sama sedang melahirkan, aku tak bisa meninggalkan istri dan bayi bayi mungilku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membeli bunga bunga tulip termahal didunia dan segera kukirimkan ke Indonesia sebagai tanda penghormatan terakhirku untuk Daddy.
    Keesokan harinya 3 pesawat telah sampai di Indonesia, kirimanku telah tiba. Bunga bungaku segera dipasang sepanjang jalan Gunung Sahari. Sepucuk surat mendatangi kediamanku kembali, pasti Mommy terharu dan ingin mengucapkan terima kasih untuk bunga bunga mahalku. Segera saja kubuka surat dari Mommy:
    “Anakku tersayang,
    Pulang Nak, kami tak akan menguburkan Daddy sebelum kau
    pulang.”
    Aku sangat sibuk mengurusi bayi bayi dan kedua istriku yang baru melahirkan, aku tak sempat untuk membalas surat dari Mommy. Nanti sajalah aku pulang ke Indonesia setelah kedua istriku sudah agak mendingan.
    Akhirnya setelah delapan hari surat Mommy aku abaikan, aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, aku ingin melihat Daddy untuk yang terakhir kalinya. Tapi apa yang kudapat? Sesampaiku di Indonesia ternyata jasad Daddy telah dimakamkan. Andai saja aku datang lebih cepat pasti aku bisa melihat Daddy untuk yang terakhir kalinya. Mommy bilang ia terpaksa menguburkan jasad Daddy kemaren karena tubuh Daddy sudah mulai menimbulkan bau busuk dan tetangga mulai terganggu dengan bau tersebut. Kini aku sangat merasa bersalah, selama ini aku hanya mementingkan kesenanganku sendiri. Aku telah mengecewakan Daddy. Sebagai tanda penyesalanku, aku memotret bunga bunga yang kubelikan untuk Daddy dan menuliskan kesedihanku disalah satu koran ternama di Indonesia. Keesokan hari Mommy menegurku setelah membaca tulisanku dikoran, Mommy bilang “kini Daddy tidak lagi membutuhkan bunga, ia juga tak bisa membaca tulisanmu Nak. Semua hal yang kau lakukan percuma. Tak akan bisa menghidupkan Daddy-mu kembali. Sehari sebelum meninggal, Daddy mencoret namamu dari daftar ahli waris dan ia memberikan seluruh hotel, rumah, ruko dan semua aset untuk Inem karena kami tahu kau tidak akan kembali Nak.”
    Aku merasa semakin sedih dan bersalah, andai saja dulu aku segera pulang saat Daddy rindu kepadaku pasti aku tak akan merasakan penyesalan seperti sekarang ini. Kini kuputuskan untuk melanjutkan kembali hidupku di negeri kincir angin.

    Suka

  2. surat seorang ayah

    Dimulai dengan surat seorang Ayah yang ditujukan kepada anak laki-laki satu-satunya. Sudah 15 tahun merasa tidak pernah bertemu, sejak hijrahnya sang anak ke Eropa untuk menimba ilmu di Belanda. Si ayah mengirim surat yang berisi pesan

    “anakku sayang Candra Andreas, apa kabar kamu disana? sudah 15 tahun Papa tidak bertemu denganmu. Papa sudah tua. Kakak-kakakmu sudah menikah lalu mereka ikut dengan suaminya. Pulang lah anakku Candra Andreas”

    Lalu Candra Andreas pun membalas surat ayahnya
    “Papa ku tersayang, Aku juga sangat merindukannmu. Seluruh tenaga, jiwa, dan pikiranku hanya untukmu. Percayalah Papa, Aku juga merindukanmu. Tunggu lah Aku pulang”.

    Dan ternyata surat hanyalah surat.Candra tidak pernah membalas surat itu kembali dan surat itu adalah yang terakhir, yang ditulis oleh Candra Andreas. Sang ayah pun kembali mengirim surat kepada anaknya tersebut.

    “Candra Andreas anakku, pulanglah. Papa sudah tidak kuat dan rasanya umur Papa sudah dekat. Bgaimana wajahmu sekarang? Papa sudah tidak mengenal wajahmu”.

    Candra Andreas pun tidak membalas surat terakhir dari ayahnya. Berselang 2 tahun , Candra Andreas pun memiliki 2 istri dan sedang hamil. Ketika istri Candra Andreas melahirkan, kedua istri Candra Andreas melahirkan dihari yang sama. Di hari yang sama pula Candra Andreas mendapat telegram dari ibunya

    “Turut berduka cita atas meninggalnya Kim Djuan Hua(ayah CA). Pulanglah nak, kami tidak akan mengubur jenazah Ayahmu sebelum kamu pulang”.

    Candra Andreas pun menangis senangis-nangisnya. Dihari yang sama, istri Candra Andreas melahirkan. Candra Andreas pun tidak meninggalkan Belnda, namun Candra Andreas mengirim bunga sebanyak mungkin. Bunga tulip yang terbaik dikirim dengan tulisan

    “Beristirahatlah yang tenang Papa”.

    Telegram pun dikirim kembali kepada Candra Andreas

    ” Pulanglah nak, kami tidak akan mengubur tanpa mu”.

    satu minggu pun berlalu, Candra Andreas tak kunjung datang, keluarga pun menguburkan jenazah sang ayah tanpa kehadiran Candra Andreas. Berselang satu hari setelah penguburan, Candra Andreas pun datang. Dengan penuh kesedihan, Candra Andreas pun menangis dan menyesal. Setelah Candra Andreas tenang, ibunya pun menghampiri dan berbicara kepada Candra Andreas

    “Sebelum Papa pergi, beliau hanya ingin bertemu denganmu. Menurutnya,hanya kamu harapannya untuk meneruskan usaha keluarga. Namamu dicoret dari ahli waris sehari sebelum Papa meninggal”.

    Suka

  3. Pulanglah nak, walau hanya sebentar!

    Seorang ayah yang sangat merindukan anak terakhirnya yang diberi nama Candra Andreas. Candra Andreas meninggalkan kedua orang tuanya sejak 15 tahun silam. Sebagai seorang Ayah, Kim Djuan Hua menaruh harapan besar kepada anaknya, sebab Candra Andreas sebagai satu-satunya anak laki-laki yang beliau miliki. Kim Djuan Hua berharap agar kelak anaknya itu dapat menggantikan posisi beliau karena kelima kakak perempuan Candra Andreas semuanya sudah tinggal bersama para suaminya.
    Suatu ketika, Kim Djuan Huan mengirim telegram kepada Candra Andreas sebagai ungkapan rasa rindu yang begitu besar sejak 15 thun lalu meninggalkan dirinya yang hanya berteman dengan rasa rindu yang begitu dalam. Setelah menunggu berapa lama, Candra Andreas membalas telegram dari Ayahnya. Telegram itu berisikan bahwa Candra Andreas pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh kedua orang tuanya. Rasa rindu yang amat besar yang dirasakan oleh kedua orang tuanya cukup terbayarkan, walaupun hanya dengan membaca balasan telegram Candra Andreas. Sebenarnya bukan itu yang Ayahnya harapkan. Beliau hanya mengharapkan agar anaknya dapat menemuinya walau hany sebentar.
    Waktu pun terus berlalu, Kim Djuan Hua mulai merasakan bahwa dirinya ini sudah tidak akan lama lagi berada di dunia. Kulitnya yang semakin keriput serta tubuhnya yang tidak bisa menopang untuk berjalan. Oleh karena itu, Kim Djuan Hua menulis telegram terakhir untuk anaknya. Beliau meminta agar anaknya segera pulang untuk menemani beliau diakhir hayatnya. Telegram itu hanya dibaca oleh Candra Andreas tanpa sempat Ia membalasnya.
    Tidak berapa lama, telegram itu pun kembali datang. Telegram itu cukup berbeda dari biasanya. Kali ini isi dari telegram itu cukup menghancurkan bagi siapa pun yang membacanya, begitu pun dengan Candra Andreas. Ia seakan tidak percaya orang yang sangat disayangi dan dihormati sudah meninggalkan dirinya terlebih dulu tanpa sempat untuk bertemu. Air mata yang Ia keluarkan hanya sia-sia sebab Ayahnya tidak akan bisa kembali lagi untuk memeluk dirinya.
    Sebagai ungkapan rasa sayang da rasa kehilangan yang begitu dalam, Candra Andreas mengirim karangan bunga tulip yang sangat mahal harganya. Lagi-lagi Candra Andreas tidak dapat menemui ayahnya, sebab dilain sisi kedua istrinya sedang berjuang melahirkan anaknya dengan waktu yang bersamaan. Candra Andreas berharap bunga yang Ia kirimkan sebanyak 3 pesawat dapat mewakilkan rasa kehilangan yang begitu dalam. Namun, apa yang diharapkan Candra Andreas tidak sependapat dengan Ibunya. Kalaupun bunga tulip itu dikirimkan sebanyak 5 pesawat lagi, itu tidak akan membuat Ayahnya kembali.

    Suka

  4. WHERE ARE YOU, MY SON?
    Chandra Andreas. Itulah namaku. Aku di lahirkan dari sebuah keluarga kaya raya. Materi sangat berlimpah, dan kehidupan kami sangatlah bahagia. Apa pun yang kuminta selalu ada secara instan.
    Aku pun bertumbuh menjadi seorang pria yang menurut orang-orang adalah gagah dan tampan; aku pun menjadi pria dewasa. Kemudian setelah aku mengenyam pendidikan di Indonesia, ku putuskan untuk bekerja di Belanda. Keluargaku pun mendukung hal itu.
    Setibanya di Belanda, aku merasa hampa. Aku bingung, pekerjaan seperti apa yang akan kuambil di negeri orang.
    Hingga akhirnya, sebuah perusahaan di Belanda mau menerimaku. Perawakanku yang cukup meyakinkan membuat mereka percaya bahwa aku dapat bekerja menjadi “budak” mereka.
    Lama ku bekerja di tempat itu. Rasa jenuh dan bosan pun pasti kurasakan. Tapi, ku tepis semua rasa itu. Penghasilan yang banyak membuatku betah bekerja di tempat itu.
    Bertahun-tahun, bermusim-musim pun kulewati di meja kerjaku ini. Aku berpikir untuk mencari pendamping hidup. Hingga ku temukan, seorang wanita berparas cantik dan berkesan elegan. Aku pun berkenalan dengannya dan kemudian menikah.
    Namun entah kenapa aku tak puas dengan wanita yang kunikahkan ini. Terpikir olehku untuk mendapatkan wanita lain lagi. Hingga ku temukan kembali seorang wanita cantik. Hal yang sama seperti perkenalan dengan istriku pun ku lakukan lagi dengan wanita ini. Aku puas dengan wanita ini, dan akhirnya kunikahkan untuk menjadi istri keduaku.
    Tak terasa, 15 tahun telah berlalu. Aku lupa akan keluargaku di Indonesia. Kakak perempuanku entah kemana. Yang kurasakan hanyalah hidup puas, bahagia, dan senang menikmati hasil materi bersama 2 istriku.
    Hingga suatu hari, sebuah surat datang untukku. Kubuka amplop, dan ku keluarkan isi surat itu. Ahh, ternyata dari Ayah. Ayah yang sudah kulupakan. Ku baca surat itu…
    “Nak, sudah 15 tahun kau meninggalkan Indonesia. Apa kau lupa dengan keluargamu, Ayah, dan Ibu di sini? Pulanglah, Nak. Ayah dan Ibu merindukanmu”.
    Ayah merindukanku. Tapi entah mengapa aku tak ingin membalas surat itu. Sudahlah, aku ingin menikmati hasil kerjaku disini. Lagipula disini aku sibuk.
    2 tahun kulewati sejak surat Ayah datang. Hingga ada keinginan untuk membalas surat Ayah…
    “Ayah, maafkan aku jika aku tak bisa pulang ke Indonesia. Aku merindukan kalian, namun aku sibuk disini, Ayah”.
    Kukirim surat itu ke Indonesia. Aku tak tahu apa balasan Ayah. Berhari-hari kulewati hingga Ayah membalas kembali suratku..
    “Nak, kau telah berubah. Kau bukanlah dirimu yang 15 tahun lalu. Kau bukanlah anak yang memeluk Ibumu lagi. Aku sakit-sakitan saat ini. Tengoklah aku Nak, kembalilah ke Indonesia”.
    Kututup surat itu. Ah, untuk apa kembali ke Indonesia, mengirim uang dari Belanda itu sudah cukup. Kembali ku lewati hari-hari menyenangkanku. Hingga akhirnya, ketika aku memiliki niat untuk membalas surat itu, tiba-tiba ada telegram untukku.
    Ternyata itu dari Ibu. Ohh, tidak. Ibu mengabarkan Ayah telah tiada. Saat itu juga aku tercengang. Aku kaget. Dan mati rasa tubuh ini. Apa yang telah kulakukan selama ini untuk Ayah? Ayah merawatku hingga aku dewasa, dan aku hanya pergi ke negeri orang begitu saja? Anak macam apa aku ini? Penyesalan membakar seluruh hati dan pikiranku. Merasa dosa, dan tidak tahu diri. Itu saja.
    Ku bertekad kembali ke Indonesia, tapi ada saja penghalang untuk berangkat. Disaat itu juga 2 istriku melahirkan. Ya, melahirkan bayi-bayi yang lucu. Kesedihan berubah menjadi kebahagiaan. Itulah yang membuatku menunda keberangkatanku ke Indonesia. Kemudian aku meminta Ibu jangan mengubur Ayah sebelum kembali ke Indonesia.
    Selama seminggu perasaanku bercampur aduk. Sedih, menyesal, namun bahagia. Ku bulatkan keinginan untuk mengirim bunga tulip terbaik dunia. Hingga harus 3 pesawat yang membawa bunga itu. Mungkin bunga ini bisa menunjukkan rasa hormatku pada Ayah.
    Ayah telah dimakamkan, namun sehari kemudian aku baru tiba di Indonesia. Ada apa ini, semua telah berubah. Tidak seperti yang dulu. Mana Ayah yang selama ini kulupakan? Anakmu yang berdosa ini merindukanmu.
    Aku hanya melihat Ibu, dan semua keluargaku. Mereka hanya menatapku. Entah itu tatapan kesal atau benci. Aku terdiam. Terdiam saja yang bisa kulakukan.
    Ibu mendekatiku. Mengelus rambut dan badanku. Kulihat air mata keluar dari mata Ibuku. Perasaan bersalahku semakin bertambah. Kemudian keluar suara dari mulut Ibuku..
    “ Sayang.. Ayah telah tiada. 15 tahun kau tanpa kabar. Kemana saja kau? Apa kau telah menikmati harta dan istrimu? Sayang, walaupun ribuan bunga termahal kau bawa, itu tak berarti untuk Ayahmu dan kami. Ayah hanya ingin meninggalkan sebuah pesan untukmu. Kamu adalah pewaris tahta atas hotel-hotel, ruko-ruko milik Ayah. Namun, karena kau sama sekali tidak peduli terhadap surat Ayah, Ayah pun memberikan warisan kepada pelayan keluarga ini..”
    Aku kaget. Semua aset Ayah diberikan kepada seorang pelayan. Jikalau aku pulang ke Indonesia bertahun-tahun yang lalu, aku pasti bisa mendengar suara Ayah, canda tawanya, nasihat-nasihatnya. Menyesal. Itulah yang saat ini kurasakan.
    FIN

    Disukai oleh 1 orang

  5. Kehebatanku, Lupakan Orangtuaku

    Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, apapun akan dilakukan demi kebahagiaan sang anak. Inilah yang dialami oleh sepasang suami istri yang dianugrahi 6 orang anak. Dari 6 orang anak ini, 5 diantaranya adalah perempuan dan 1 laki laki. Mereka hidup ditengah kekayaan yang berlimpah, namun keharmonisan didalamnya tetap terjaga.

    Namun keadaan berubah saat anak ana mereka beranjak dewasa. Satu persatu anak mereka pergi untuk menetap dengan keluarga kecil mereka. Tidak satupun yang memilih untuk tinggal bersama, menemani masa tua orangtuanya. Dan lain lagi dengan anak bungsunya, Candra Andreas yang memilih melanjutkan studinya di Belanda. Harapan mereka sama, mereka berharap anak bungsunya ini yang akan menemani mereka, karna dia adalah satu satunya pewaris tunggal seluruh harta kekayaan ayahnya.

    Dan kenyataannya berbalik, usai menyelesaikan studinya, Candra Andreas memilih untuk tinggal dan berkarir di Belanda. Selama 15 tahun lamanya Candra Anderas belum pernah menapakkan kakinya kembali ke Indonesia.
    Sampai akhirnya, sang ayah mengutarakan kerinduannya lewat sepucuk surat,
    “ Sayang, sudah 15 tahun kau tidak pulang. Pulanghlah nak, hanya kau yang kami punya saat ini, kakak kakakmu sudah sudah lama meninggalkan kami. Pulanglah nak, kami merindukanmu…”

    Sayangnya surat ini tak terlalu dihiraukan Candra Andreas, ia terlalu sibuk dengan karirnya. Dan 2 tahun kemudian barulah dibalas surat ini. “ Maaf Ayah, aku belum bisa pulang ke Indonesia. Aku sedang sibuk, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja “
    Sungguh balasan yang sangat mengeewakan, setelah sekian lamanya menunggu balasan dari sang anak. Tapi mau bagaimana lagi, rasa rindu sang Ayah tidak mampu mengalahkan rasa kerinduan pada anaknya ini. Tak lama kemudian sang Ayah membalas lagi surat tersebut untuk yang terakhir kalinya.
    “ Nak pulanglah, sudah lama aku tak melihatmu. Seperti apa kau sekarang ? apa masih suka tidur dipelukan ibumu ? Pulanglah Nak, aku mohon, aku merindukanmu…”

    Surat ke 2 iini benar benar tak dihiraukannya, Candra Andreas begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai pada akhirnya, ibunya pengirimkan telegram, yang isinya adalah memberitahukan bahwa ayahnya sudah meninggal setelah sekian lama menahan sakit yang dideritanya. Inilah alasan mengapa Ayahnya terus terusan menyuruhnya pulang. Bukan soal materi yang mereka harapkan, setidaknya sebelum ayahnya meninggal, anaknya masih sempat bertemu, umtuk berbagi cerita setelah mereka beranjak dewasa dan sukses.
    Mengetahui hal tersebut, Candra Andreas merasa sangat terpukul. Untuk menebus kerinduannya yang belum sempat kembali ke Indonesia, Candra Andreas mengirimkan beribu ribu bunga tulip ke Indonesia. Tidak peduli berapa uang yang harus dikeluarkan. Apalagi Candra Andreas sedang dihadapkan dengan persiapan kelahiran anaknya dari kedua istrinya, yang akan melakukan prosesi kelahiran secara bersamaan. Sungguh ini posisi yang sangat sulit.

    Sesampainya bunga bunga itu, ibunya kembali mengirim kembali telegram padanya.
    “ Sayang, pulanglah. Bunga bunga itu akan bisa menghidupkan kembali ayahmu, dia hanya ingin kau pulang. Apa kau tidak ingin melihat wajah ayahmu untuk yang terakhir kalinya ? Pulanglah nak, jasad ayahmu tidak akan kami kebumikan sebelum kau pualng “

    Tujuh hari berlalu, Candra Andreas tak kunjung datang. Karena bau mayat yang semakin hari semakin membusuk dan warga sekitar mulai terganggu dengan baunya. Akhirnya jasad sang ayah dikebumikan.
    Setelah satu hari dikebumikan, tibalah Candra Andreas di rumah masa kecilnya, tempat dimana ia berasal. Namun semuanya sudah terlambat, jasad ayahnya sudah dikebumikan, ia tidak sempat melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir kalinya, Candra Andreas merasa sangat sedih, dengan teganya ia melupakan orang yang telah membesarkannya, ia terlena dengan kenikmatan duniawi.

    Di tengah kesedihannya, ibunya dating menghampiri dan berkata, “ Nak, kau bukan anakku seperti yang ku kenal dulu, kau sudah berubah. Tahukah kau nak ? Ayahmu menyuruhmu pulang adalah hanya untuk mengatakan bahwa kau adalah satu satunya pewaris tunggal seluruh harta kekayaan ayahnya. Tapi semuanya sudah terlambat, 1 hari sebelum ayahmu meninggal, ayahmu memutuskan bahwa pewaris harta kekayaan seluruhnya adalah mbok Yem, dan kau sama sekali tidak ada hak akan itu. Karna kau terlihat tidak menginginkannya, “

    Candra Andreas merasakan kesedihan yang sangat mendalam, benar benar terpukul, bsk dirobek robek hatinya tak tentu arah. Memang semua sudah terlambat. Semua hanya tinggal penyesalan yang dirasakan CANDRA ANDREAS.

    Suka

  6. Ketika Ego mengalahkan Nurani…

    Langit belum gelap saat Aku menggenggam surat dari ayahku. Hatiku merasa berat setiap kali ku terima surat dari keluargaku di Jakarta. Ada rasa rindu yang begitu mendalam menggores pilu didada yang ini. Di saat yang sama aku juga merasakan beban yang tidak terkatakan, egoku sebagai seorang laki-laki membuatku enggan untuk pulang dan melepaskan semua rindu yang menyesakkan hari-hariku.

    Namaku Chandra Andreas. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya dan anak paling bungsu di keluarga Kim Djuan Hua. Ya, Kim Djuan Hua, siapa yang tidak kenal dengan nama itu. Ayahku memng dikenal sebagai sebagai seorang taipan, salah satu orang terkaya di Indonesia. Sebagai seorang anak bungsu laki-laki, masa kecilku penuh dengan kemanjaan dan kasih sayang dari orang tuaku. Membuatku menjadi pribadi yang memiliki ego sangat besar. Jika aku menginginkan sesuatu, aku harus mendapatkannya. Begitu juga dengan keinginan ku untuk belajar di Belanda. Selepas SMA, aku memutuskan untuk menimba Ilmu dinegeri kincir angin ini. Ayah dan Ibuku tentu saja tak semudah itu melepasku pergi. Aku masih ingat bagaimana ibu menangis dengan hebatnya ketika mengantar keberangkatanku dibandara 15 tahun yang lalu.
    Nanar aku menatap surat dari ayahku. Belum juga kubaca surat darinya, pikiranku sudah melayang saja. Melankolis sekali diriku. Perlahan namun pasti ku sobek amplop putih yang membungkus surat itu. Kutaik napasku dalam sebelum mulai membaca

    Jakarta, 12 Januari 1991
    Yang terkasih ananda Chandra,
    Bagaimana kabarmu disana nak? Hari ini Jakarta berselimut mendung, sesekali rintik hujan memmasahi tanah. Dalam keheningan sore ini Ayah teringat Ananda. Tahukah nanda kalau ayah saat ini sangat merindukanmu. Ingin rasanya kembali memeluk dan menciummu sebagaimana ayah biasa lakukan saat kau kecil dahulu. Saat hujan seperti ini ayak selalu teringat polahmu yang memnbuat ibumu menjerit-jerit geram. Ya, kau selalu senang bermain dibawah semburan hujan, membuat ibumu was-was, takut kau terkena demam malam harinya. Ayah juga ingat bagaimana kau suka sekali memanjat pohon mangga depan rumah kita. Ayah rindu senyuman usilmu yang membuat ayah kerap melotot namun tak sampai hati untuk memarahimu.
    Apakah kau ingat itu semua nak? Apakah ada keinginan dihatimu untuk pulang dan menengok orag tuamu ini? Pulanglah Nak. Kasihan ibumu yang sering terlihat menangisimu sembari memeluk bajumu saat kecil. Tak pernah terlewatkan semalampun untuk mendoakanmu, laki-laki kecil yang selalu menjadi jagoannya.
    Ananda, Ayah dan ibumu kini semakin renta. Mungkin Tuhan tak lama lagi akan memanggil kami pulang kehadapanNya. Ketahuilah, sebelum itu terjadi, tak ada yang lebih kami inginkan untuk melihatmu menjejakkan kaki kembali kerumah ini. 15 tahun tak berjumpa, nyaris hilang ingatan kami tentangmu nak. Segeralah pulang anakku. Ayah dan Ibumu merindukanmu

    Yang menyayangimu,
    Ayah

    Air mata menggenang di pelupuk mataku usai membaca surat singkat dari ayah. Ah, ayah bagaimana harus kusampaikan kepadamu betapa aku merindukan ayah, ibu dan kampung halamanku di Jakarta. Tapi pekerjaanku sekarang sebagai seorang manajer Teknik di sebuah perusahaan besar di Belanda jelas membuat hari-hariku begitu sibuk. Jangankan untuk mengambil cuti panjang, untuk mengurus kehidupan pribadiku saja aku nyaris-nyaris tak memiliki waktu.Dan tentu saja bukan hanya pekerjaanku yang membuatku tak bisa pulang ke Indonesia. Egoku sebagai seorang anak laki-laki kebanggan ayah dan ibu yang selalu menantangku untuk menjadi sosok yang kuat dan hebat. Ya sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarg sungkan bagikubila aku pulang tanpa membawa kebanggaan dan prestasi besar. Aku masih selau mengingat bagaimana ayah begitu memanjakan dan menguatamakan aku diatara semua saudara kandungku yang adalah perempuan. Tak mungkin bagiku untuk pulang tanpa menunjukkan pada ayah bahwa aku bisa menjadi seseorang yang ia sebagaimana ia harapkan. Aku selalu bertekat untuk bisa melebihi saudara-saudaraku, bahkan ingin bisa melebihi kesuksesan ayahku. Ya, aku tak ingin mengecewakannya. Aku memang ingin pulang, namun rasa gengsiku agaknya mengalahkan nuraniku.
    Entah berapa lama aku mendiamkan surat itu, hingga kemudian selepas pulang kerja dengan perasaan enggan ku tuliskan surat balasan.

    Den Haag, 10 Mei 1991
    Yang terkasih, Ayah,
    Ayah, maafkan ananda yang baru bisa menulis surat balasan. Kehidupan ananda di sini baik-baik saja. Pekerjaan ananda memang cukup menguras perhatian dan waktu, namun demikian apa yang ananda dapatkan cukup pantas dan sepadan dengan kerja keras yang ananda lakukan.
    Ayah, ananda Chandra juga sangat merindukan Ayah dan Ibu. Setiap hari ananda berdoa agar ayah dan Ibu selalu diberi kesehatan dan diberkati oleh Tuhan. Ayah Ananda tahu bahwa waktu terus bergulir dan meski begitu ananda mohon agar Ayah dan Ibu bersabar. Ananda mohon berilah sedikit waktu bagi ananda memantaskan diri. Ananda ingin agar ketika pulang nanti ayah dapat memeluk ananda dengan bangga. Sebab hingga saat ini belum banyak yang bisa ananda berikan untuk ayah dan ibu. Namun ketika tiba waktunya, Ananda ingin menyematkan senyum diwajah ayah dan ibu lewat hasil jerih payah ananda sendiri.

    Yang merindukanmu,
    CA

    Waktu terus belalu, musim semi hilang berganti musim panas, setelahnya dedaunan mulai berjatuhan menandai datangnya musim gugur. Selang waktu kemudian salju bertabur hingga lelehannya digantikan oleh hijaunya rumput dan pepohonan yang berhiaskan warna-warni bunga yang artinya musim semi sudah kembali datang. Tulip-tulip aneka warna bermunculan bersama dengan bunga-buang lainnya. Namun sayangnya, aku tak sempat menikmati indahnya negeri tulip dimusim semi ini. Bukan hanya sibuk mengejar karirku, aku juga sibuk menata kehidupan rumah tanggaku.

    Nina, seorang wanita berparas cantik membuat duniaku jungkir balik. Aku sudah mengenalnya saat aku kuliah dahulu, namun tak pernah terpikir untuk menjalin hubungan cinta dengannya, hingga ketika akhir musim panas lalu aku bertemu dengannya di sebuah pameran industri yang diadakan di Leiden. Dalam pertemuan singkat itu aku terbias akan pesonanya. Selepas pertemuan itu aku mengajaknya untuk makan malam dan dia menyambut tawaranku itu. Siapa sangka, hubungan kami berjalan dengan mulus hingga aku memberanikan diri untuk melamarnya dibulan Desember. And she said “Yes”.

    Aku tengah terduduk di tempat tidur. Aku baru saja selesai membersihkan diriku selepas pulang kerja tadi. Aku menatap kosong ke arah meja yang menjadi meja kerjaku saat dirumah. Diatas meja itu tergeletak sejumlah surat dan dokumen lainnya, dan salah satunya, lagi-lagi surat dari Ayahku.
    Sejujurnya, sudah 10 bulan berlalu sejak surat itu datang, namun aku masih belum berani untuk membuka surat balasan ayahku dari surat terakhir yang aku tulis bulan mei tahun lalu. Aku terlalu pengecut untuk membaca isi hati ayah lewat tinta hitam yang ia goreskan diatas selembar kertas putih. Akhirnya dengan desaka istriku, aku memaksakan diriku untuk menyobek amplop dan mengambil kertas yang terselip didalamnya.
    Guratan-guratan tulisan ayah disurat ini tak setegas biasanya. Aku membayangkan tangan ayahku yang mulai gemetar menuliskan surat ini untukku. Bayangan itu hampir membuatku menangis, tapi buru-buru kutepis bayangan itu. Lagi-lagi aku menjadi melankolis gara-gara surat dari Jakarta. Dengan perlahan aku baca surat itu.

    Jakarta, 30 Juni 1992
    Yang terkasih, Ananda Chandra.
    Anakku Chandra, ayah gembira jika ananda baik-baik saja disana. Ayah juga bangga jika karir ananda di sana baik dan lancar adanya. Namun demikian, satu hal yang ananda perlu ketahui bahwa Ayah selalu bangga pada ananda tak perduli apa yang sudah dan belum ananda lakukan saat ini.
    Ayah sudah bangga pada ananda sejak pertama kali ayah melihat matamu ketika kau dilahirkan ibumu. Ayah sudah bangga ketika kau dengan lantang meminta ayah untuk membelikan buku pertamamu saat kau baru bisa membaca. Ayah juga sudah bangga ketika kau mengambil keputusan besar untuk menimba ilmu di negeri orang dan meninggalkan tanah air.
    Nanda tersayang, saat ini yang ayah inginkan hanyalah kehadiranmu dirumah ayah. Rumah ini kini lengang. Kau tahu, semua kakakmu sudah meninggalkan rumah untuk membangun keluarga bersama dengan suami mereka. Kini hanya tinggal ayah dan Ibu.
    Pulanglah Anakku, waktu ayah tak akan lama lagi. Ayah takkan sanggup menunggu terlalu lama. Pulanglah anakku, ayahmu yang sudah tua ini begitu merindukanmu.

    Yang dengan sungguh mencintai dan merindukanmu,
    Ayah

    Aku menarik napas panjang. Ayah, kenapa kau tak memahami posisiku? Tidakkah kau tahu apa arti karir ini untuk kehidupanku? Aku ingin membuktikan kalau aku yang manja ini bisa menjadi pribadi yang sangat sukses dinegeri orang. Ku lemparkan surat itu dengan tak acuh.
    Dua siklus musim telah berlalu, berarti sudah dua tahun terlewati. Kini kebahagiaanku semakin lengkap, selain posisiku di kantor yang semakin mapan, istri kedua ku pun telah melahirkan anak pertamaku. Ya, Istri keduaku, setelah Nina, aku kembali dilumpuhkan oleh pesona seorang wanita, tak seperti Nina yang memiliki ciri-ciri fisik wanita eropa, Aline adalah wanita berdarah Asia Timur. Matanya sipit dan kulitnya kuning sebagaimana gadis keturunan Jepang pada umumnya.

    Saat itu aku tengah sibuk menulis hitung-hitungan mekanis didalam jurnalku. Matahari sudah tinggi, perutku sudah menggeliat untuk diisi, namun aku tak terlalu perduli. Aku tetap terpaku pada jurnal harianku. Hingga ketika kemudia tukang pos menekan bel rumahku. Aku tersentak dan dengan beringsut malas aku membuka pintu.

    Langit begitu cerah, namun demikian aku serasa disambar petir. Ku baca telegram itu baik-baik dengan tangan bergetar. Bibirku yang menggumamkan isi telgram pun menggetar hebat. Rasa sesak menyeruak dari dalam dadaku, sakit yang teramat sagat meninju, menghujam jantungku.

    Telegram itu dari Ibu. Ibu mengabarkan bahwa ayah kini sudah tiada. Ya, ayahku yang selalu menantikanku kini telah tiada. Lewat pesan telegram yang singkat itu Ibu memintaku untuk segera pulang ke Jakarta.
    Aku tercekat, lututku terasa lemas, keringat dingin menyelimuti sekujur tubuhku. Aku terduduk di lantai sambil termenung. Pikiranku kalut. Aku tak bisa pulang sekarang. Istriku baru saja melahirkan kemarin, tak mungkin aku meninggalkannya, lagi pula besok, ya besok akan menjadi hari dimana aku diangkat menjadi seorang CEO di perusahaan tempatku bekerja . Dan tentu saja aku tak bisa menampik bahwa itulah posisi yang aku inginkan. Ya posisi yang menggambarkan dengan sempurna hasil kerja kerasku selama ini di negeri Kincir Angin. Posisi yang akan membuatku menjadi orang Indonesia yang sangat di hormati di negeri Belanda.

    Akhirnya untuk menunjukkan rasa dukaku yang mendalam kukosongkan tabungan untuk membeli semua bunga tulip terbaik yang tumbuh diseantero negeri Belanda. Aku tak peduli dengan semua uang yang aku keluarkan. Jika perlu seluruh dunia harus tahu betapa aku tenga berduka. Tiga pesawat bertolak dari Den Haag ke Jakarta untuk membawa tulip warna-warni itu. Aku berharap lewat bunga-bunga itu bisa tergambar kedukaanku yang begitu dalam.

    Tak lama, kembali kuterima telegram dari Ibu. Sambil menarik nafas panjang aku membacanya.
    “Ananda, Bungamu telah sampai di Jakarta. Namun ketahuilah Kehadiranmu jauh lebih diharapkan. Pulanglah Nak, Jasad kaku ayahmu menunggu. Ibu dan kakak-kakakmu sepakat tidak akan menguburkannya hingga kau tiba di sini”

    Tiga hari terlewati sejak aku menerima telegram itu. Aku masih menunggu, tapi entah menunggu apa. Rasa sesal, takut dan duka yang mendalam seakan menahanku untuk pulang. Akhirnya dihari ketujuh aku langkahkan kakiku untuk mengambil penerbangan terahir ke Jakarta hari itu. 12 jam penerbangan itu membawaku pulang ke Jakarta. Aku berjalan dengan pikiran kosong ketika kakiku menapaki kawasan yang dahulu pernah sangat kukenal. Bunga-bunga Tulip yang yang pekan lalu kukirim, yang kini berjajar disepanjang jalan menuju rumah ayah pun mulai layu.

    Saat aku sampai di rumah, aku tidak mendapati jenazah ayahku. “Nak, kenapa kau baru datang?” Ibuku tiba-tiba muncul dengan suara embut yang kental dengan kedukaan. Aku terkesiap, aku memandanginya dan kemudian menangis sejadi-jadinya sembari memeluk tubuh kurus ibuku. “Jasad ayahmu tak bisa menunggu lebih lama, terpaksa kami menguburkannya kemarin” Ibu berkata terbata dengan ekspresi wajah yang membuatku semakin menyesal. Semakin erat kupeluk tubuh ibuku, Ini adalah tubuh yang sama yang dulu pernah menggendongku, yang sering memeluk dan merangkulku. Tubuh yang sama dan dengan kehangatan yang sama namun kini ibu lebih kurus, lebih layu, aku bisa merasakan kerutan-kerutan dikulitnya yang menua. Dengan tangis yang tak terkontrol aku meminta maaf pada ibuku. Lama sekali ku peluk tubuh ibu, ibu hanya terdiam. Dalam diamnya aku bisa merasakan kekecewaan ibu kepadaku, dan aku hanya bisa menangis.

    “Nak, tak peduli sekeras apapun kau menangis dan sedalam apapun kau berduka, ayahmu tak akan bisa kembali. Biar bunga diseluruh dunia kau kirim ke peristirahatan terakhirnya, itupun tak akan bisa menghadirkannya kembali ketengah-tengah kita,”. Kata-kata ibu menyesap dalam keheningan. Akhirnya tangisku mereda, aku terdiam. Aku tak mampu untuk berkata-kata lagi. Apa yang ibuku katakan memang benar adanya. Biarpun aku menyesali dan meraung-raung, ayah tak akan ada lagi untuk memelukku. Bodohnya aku, menukarkan waktu ayahku yang begitu singkat hanya untuk kefanaan dunia. Kini tanah telah menelan jasad ayahku. Dan aku takkan pernah bisa bertemu dengannya lagi, takkan bisa merasakan kehangatan dalam suaranya, tak akan bisa bermanja dalam pelukannya dan tak akan pernah bisa menemaninya melewati hari tuanya.
    Kini tak ada lagi yang bisa kuperbuat. AKu hanya bisa menatap pusara Ayah yang masih basah dengan tatapan nanar serta rasa sesal dan rindu yang mendalam.

    TAMAT

    Suka

  7. Sesal Untukmu Sampai ke Liang Lahat

    “Anakku sayang, bagaimana kabarmu disana ? ayah dan ma’ disini sangat rindu memelukmu.” Sepenggal isi surat kiriman ayah dan ma’ di kampung halamannya di Jakarta. Sang anak yang dalam 15 tahun tak kunjung pulang mengunjungi orang tuanya.
    “Aku juga sangat merindukan kalian, terutama masakan rumah ma’ yang selalu tersedia di meja makan khusus untukku”, balas anaknya Chandra Andreas kepada mereka yang pemberi kehidupan.

    Chandra Andreas, anak bontot dari 6 bersaudara yang sebagai satu-satunya anak laki-laki yang di percaya sebagai penerus nama keluarga. 15 tahun yang lalu mencoba peruntungan hidup ke Belanda, meninggalkan orang tuanya, sementara ke 5 kakaknya adalah wanita yang telah lebih dulu ikut dengan suaminya meninggalkan rumah.

    “Tega kah engkau anakku, sudah 15 tahun tidak pulang mengunjungi orang tuamu yang kini tak muda lagi ? Tak inginkah kau memeluk kami sayang ? putra tertampan kami yang satu-satumya”, sambil menghela nafas kedua orang tuanya menulis surat untuk si bontot. Tapi, setelah beberapa lama Andreas bahkan tak mempu membalas surat tersebut, dia hanya mampu terus memandangi tulisan ayahnya dan menitihkan air mata.

    Beberapa bulan kemudian, Andreas menyanggupkan diri untuk membalas surat yang hampur kusam tersebut “tahukah kalian wahai orang tuaku tercinta ? bahwa aku juga sangat merindukan kalian, hanya saja waktu belum mampu membalasnya”, dengan air mata si bontot menulis surat balasan tersebut.
    Rupanya kedatangan surat balasan dari putranya tidak membawa hawa kebahagiaan,karena balasan yang mereka inginkan hanya kedatangan putranya.
    “Ma’, tak perlulah kau balas surat dari putramu itu sudah lelah kita menyuruhnya pulang tapi tak kunjung datang”, ujar Kim Djuan Hua kepada istrinya.
    “Walau bagaimanapun, dia itu putra kita.. putra yang akan menjadi ahli warismu pa’..” balas istrinya..

    Andreas sebenarnya bukan tidak ingin pulang, hanya saja ntah bagaimana dia merasa ada banyak hal yang lebih penting untuk di lakukan dari pada pulang ke Jakarta untuk mengunjungi orang tuanya. Sedang orang tuanya berfikir, tidak ada yang lebih penting di banding mengunjungi orang tua renta yang tak lama lagi waktu hidupnya. Pertentangan pemikiran ini yang membuat keduanya tak menemukan titik temu akan permasalahan kerinduannya.
    Dengan berat hati, ayahnya mencoba menulis surat kembali, “anakku sayang, sejujurnya sampai kapan kami harus memanggilmu seperti itu sedang kau bahkan tak lagi menyayangi kami ? sudah hampir lelah tangan ini, bahkan bergetar semakin kencang saat menulis setiap bait surat yang kami kirimkan kepadamu, karena umur kami yang tak muda lagi nak, kami tidak punya banyak waktu.. sebelum ayahmu yang tua ini mati, aku sangat ingin memelukmu. Apa kau sudah terlanjur jijik kepada kami yang sudah bau tanah sehingga tidak ingin datang untuk bertemu ? pulang lah nak, sebelum habis waktu ayah di dunia ini”.
    Bukan setetes air mata yang jatuh di pipi Andreas saat membacanya, namun linangan air mata mengucur deras di pipinya “bagaimana mungkin ayah berfikir aku tidak menyayanginya lagi ? ayah, ma’….. ampuni aku……….” ucapnya tersedu menyesali kerinduan. Dengan linangan air mata di pipinya dia membalas surat itu, “ayah, aku mencintai kalian.. maafkan aku jika membuat kalian berfikir bahw aku tidak lagi menyayangi kalian. Panjang umurlah kalian Ayah dan Ma’ ku sayang, jangan pergi sebelum aku kembali. Kelak akan ku serahkan seluruh hidupku untuk kalian”.

    Ayah dan Ma’ yang membaca surat balasan tidak dapat menahan air matanya, mereka sangat rindu akan anak bontotnya itu. Setelah beberapa lama ayahpun membalas surat Andreas “pulang sayang ! aku dan ma’ mu bahkan tak lagi ingat seperti apa paras wajahmu. Kau benar-benar tega membiarkan kami membusuk dalam kerinduan ? pulanglah sayang. Ini permohonan orang yang telah membuatku ada di dunia”, dengan rasa sedih dan kesal ayah menulisnya kepada anaknya yang tak kunjung pulang.
    Andreas bahkan menangis sejadi-jadinya saat membaca surat tersebut, dia tak mampu membalasnya dan tetaptidak pulang dengan segala prioritas yang menurutnya benar.

    2 tahun kemudian, istri dari Andreas melahirkan, begitupun dengan istri ke 2 nya. Mereka melahirkan dalam waktu dan hari yang nyaris bersamaan. Dalam suasana kegentingan akan lahirnya anak dari ke-2 istri, datanglah telegram singkat dari orang tuanya di Jakarta yang mengabarkan bahwa sang ayah baru saja meninggal. Apa yang dirasakan Andreas saat itu, dia pun tidak tahu. Haruskah dia merasa senag atas kelahiran anaknya, ataukah merasa sedih dengan kematian ayahnya ? mana yang harus lebih dulu dia rasakan dia tidak tahu, dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya dengan perasaan tidak menentu.
    Andreas merasa bahwa kedua istrinya yang tidak bisa dia tinggalkan dengan kondisi istri pertama melahirkan sepasang anak kembar dan istri kedua melahirkan satu anak perempuan. Andreas pun mengirimkan 3 pesawat dengan seisi bunga tulip terindah yang ada di Belanda pada saat itu juga demi menunjukkan rasa duka yang mendalam akan kematian ayahnya. Hal ini menimbulkan simpatik dari warga sekitar dan orang-orang di sekitar kediaman ayahnya, namun sang ibu tidak berfikiran seperti itu. Sang ibu pun menulis kembali telegram untuk Andreas “ayahmu sudah tak bernyawa nak ! jadi telah tak dapat lagi melihat bunga pemberianmu. Emas berlian kamu berikanpun tak akan membuatnya kembali lagi ke dunia ini. Pulanglah nak ! hanya itu yang kami perlukan, ayahmu tidak akan di kuburkan sampai kau pulang ! “.
    Membaca surat itu Andreas menangis meronta-ronta, namun dia tetap berfikir bahwa dia tidak bisa pulang. Seminggu berlalu, mayat dari ayahnya telah mulai mengeluarkan bau busuk. Pada hari ke 7 akhrinya keluarga dan tetangga sepakat untuk menguburkannya dan tak lagi menunggu Andreas pulang. Tapi di hari ke-8 tiba-tiba Andreas datang dengan wajah muram, namun sang ayah telah rata dengan tanah.
    “Ada apa kau pulang nak ? ayahmu tak dapat lagi kau lihat, dia telah rata dengan tanah. Jadi tak ada guna lagi kau pulang kesini”
    “Ma’, jangan berkata seperti itu………”
    “kau bukan anak kami Andreas ! kau tidak seperti anak yang kami besarkan dulu dengan rasa kasih sayang yang tulus dan hidup dengan penuh rasa terimakasih. Tapi kau kini adalah anak yang tidak tahu terimakasih ! kau tidak lagi menghargai dan berterimaksih kepada kami yang telah memberimu hidup ! “
    “Ma’, tidak.. aku mohon maafkan aku…….. aku tidak bermaksud seperti itu, aku – “
    “sudah nak ! alasan mu tidak akan sampai di telinga ayah. Ayah menyuruhmu pulang hanya untuk memberimu warisan, menjadikan mu ahli waris yang sah, menjadikanmu penerus nama keluarga ini nak. Tapi biarlah, tak perlu lagi kita ungkit, warisan itu telah ayahmu beri kepada Iyem pembantu kita. Dan kau tidak berhak memintanya. Karna kau tidak seperti putra kami”
    “Ma’….. jangan begitu, aku mohon ampuni aku… aku bukannya tidak ingin pulang… akan aku lakukan apapun untuk menebus semuanya… aku mohon ma’ ampuni aku. Aku masih ingin menjadi putramu, kau yang melahirkanku… aku mohon “
    “jika kau dapat mengembalikan ayahmu, dan membuatnya mati dengan perasaan bahagia memelukmu sebelum dia mati lagi, barulah aku akan memaafkanmu. Tapi kau pasti tidak dapat melalukannya, maka rasa sesal ini akan aku bawa sampai keliang lahatku. “

    THE END

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s