cropped-era-perkembangan-teknologi-komunikasi.jpg

TEKNOLOGI MEDIA BARU

Perkembangan media pada beberapa waktu belakangan sangatlah pesat. Teknologi-teknologi yang semakin canggih merupakan pengaruh yang besar dalam dunia komunikasi saat ini. Teknologi media baru banyak memberikan kita perubahan hidup.Contoh yang paling sederhana dan selalu tak lepas dari kehidupan kita sehari-hari adalah Cyber media. Cyber media merupakan salah satu penyaluran pesan lewat media massa yang distribusinya melalui internet, dimana cara penyajiannya bersifat luas dan up to date. Terancang memang untuk memberikan fasilitas kemudahan kepada masyarakat luas untuk mencari informasi-informasi. Dampak positif yang di berikan yaitu cyber media tak hanya menjadikan masyarakat sebagai konsumsi informasi namun juga bisa sebagai produksi ataupun distribusi. Penyajian informasinya juga sempurna, bisa menggabungkan media-media konvesional dengan video,teks dan gambar. Sehingga para konsumsi nya tidak bosan. Dengan adanya internet dapat membuat kita berkomunikasi dengan siapapun yang ada di dunia ini yang berbeda secara geografi maupun juga waktu tanpa adanya pemisahan jarak.

Mungkin tidak terlalu salah apabila ada orang yang bilang bahwa bangsa Indonesia kini hidup dalam 20 abad sekaligus. Artinya bangsa Indonesia kini tengah hidup dalam zaman modern dan dalam zaman batu. Bukti bahwa kita berada di zaman modern bukan saja karena merupakan negara ketiga di dunia yang telah mengoperasikan satelit komunikasi, melainkan karena kehidupan dikota metropolitan yang bertaraf jet-set. Dan bukti bahwa bangsa kita masih hidup pada zaman batu adalah bahwa nun jauh disana di ufuk timur masih ada saudara-saudara kita yang memerlukan peningKatan peradaban sehingga setara dengan saudara-saudara di daerah lainnya.Kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi elektronik, telah menimbulkan dampak pada masyarakat dan cenderung menyisihkan hasrat membaca buku di kalangan masyarakat. Di daerah perkotaan terjadi apa yang di sebut the flood of information atau banjir informasi yang menyebabkan orang kota banyak tahu tentang banyak hal, tetapi serba dangkal, tidak mendalam seperti kalau menelaah buku. Siaran televisi telah berhasil menjangkau daerah pedesaan berkat kemampuan SKSD Palapa, namun pesan-pesan yang disebarkan lebih bersifat rekreatif dan informatif daripada edukatif dan kreatif,apa lagi inovatif. Demikian pula gadget, digunakan lebih banyak untuk sesuatu yang bersifat hiburan semata, bahkan kadang ada konten-konten yang sifatnya sex recreation, mulai dari tingkat ‘semi-X’ sampai ‘X’ dengan derajat porno yang paling jorok.

Memang apa yang serba baru selalu mengasyikkan, tetapi lama-kelamaan akan membuat orang jenuh dan pada akhirnya menjadi terbiasa.Itu berlaku hanya di negara yang sudah maju, yang tingkat kemakmurannya sudah merata. Jika timbul penemuan baru yang membuat kehidupan penduduk lebih senang dan nyaman akan cepat merata pula. Berbeda dengan di Indonesia yang tingkat kesejahteraanya belum merata, setiap penemuan baru yang menyebabkan penduduk merasa lebih senang dan nyaman tidak dengan segera membuat mereka jenuh, tetapi akan tahan lama. Ini berarti bahwa penduduk Indonesia 80% hidup dengan pemikiran yang relatif akan lama bergumul dalam keasyikan dengan benda yang baru dimilikinya itu.

Adalah Marshall McLuhan dalam bukunya yaitu Understanding Media : The Ekstensions of Man, yang mengatakan bahwa orang-orang yang panik karena ancaman media baru dan revolusi elektronika tidak menyadari keunggulan mesin cetak yang ditemukan oleh Johannes Guttenberg. Ditegaskan olehnya bahwa bagi bangsa barat, kepandaian membaca merupakn anugrah yang teramat potensial sebab apa yang disebut oleh McLuhan sebagai his power to act without reaction or involvement, dapat menelaah sesuatu tanpa keterlibatan emosional. Inilah yang menyebabkan bangsa barat unggul.

Terlepas dari itu semua, para masyarakat Indonesia tidak menyadari bahwa bangsa nya sedang di jajah para negara-negara yang pandai mencari peluang dan memanfaatkan bangsa di mana masyarakat nya bersifat konsumtif. Ya, kita sedang di jajah, tak hanya dengan teknologi media baru nya namun juga dengan para pembuatnya. Bayangkan berapa banyak merk-merk smartphone yang made in cina? Seberapa sering kita melihat tab yang made in korea? Made in vietnam? Seberapa sering kita bangga akan produk luar negeri? Bangga jika yang kita pakai adalah barang impor. Malu jika kita menggunakan produk dalam negeri. Suatu ketika saya pernah menonton tayangan kartun asal malaysia, di sana tokoh utama nya akan di belikan nenek nya barang produk luar negeri, si anak kembar menolak, dia lebih memilih barang produk dalam negeri, yaitu made in Malaysia yang mana mereka kenakan dan di pamerkan kepada teman-temannya dengan bangga dan wajah sumringah. Miris melihat nya, lucu sekaligus malu. Kapan bangsa ku seperti anak-anak itu? Kata nya masyarakat modern, katanya semua serba teknologi baru. Tapi nyata nya rasa nasionalisme yang tertanam terlalu tipis. Bagaimana bisa kita menjadi masyarakat modern jika adik-adik kita yang di papua, NTT, dan pedalaman lainnya masih susah menuju sekolah nya? Bertaruh nyawa demi mendapat ilmu. Bahkan ada yang menolak tuk menerima (maaf) bra? Ironis, miris. Saya hanya bisa menggeleng pelan dan tertawa dalam hati.

Lalu bagaimanakah sebaiknya kita menghadapi keadaan seperti ini, mengingat kita juga tidak bisa terlepas dengan media baru dalam kehidupan yang semakin maju? Mungkin sebaiknya kita harus tetap menyadari hal-hal yang nyata dalam hidup. Mempunyai prinsip dan pengetahuan yang cukup untuk dapat bijak dan membatasi diri dari pengaruh-pengaruh yang ada.