bebaskan florence-sihombing-petisi

Hikmah dibalik Kasus Florence dan Kota Jogya dalam ranah hyper-realitas Media

PENDENGARAN MU
Mustika Ranto Gulo

Nama besar Jogya dan wibawanya terusik oleh celoteh anak bangsa dan dibalas dengan umpatan yang sangat kreatif dengan mengedit foto-foto dan menghujat pribadi mahasiswi S2 UGM itu. Sebatas ini saya hanya bertanya Hai Jogya dimana santunmu yang dulu aku kenal itu? Betapa tidak ungkapan rendahan sang Florence itu di olah oleh media jejaring sosial menjadi menu yang sangat lezat untuk dikonsumsi.

Serunya, Polda DIY sempat menahan Florence Sihombing yang menjadi tersangka karena posting di akun Path yang dianggap menghina Jogja itu. Logika dan nasionalisme bangsa ini sempat terseret ke ranah ethnic centrism yang memuja kota Jogya lebih mulia dari kota-kota lainnya. Representasi media lokal sangat berlebihan dan telah memicu balas dendam dengan melakukan pembalasan tidak senonoh kepada Florence di media sosial juga. Padahal celoteh Florence dimedia jejaring sosial itu adalah sinyal yang menghentakkan penguasa dan rakyatnya tentang rasa nyaman. Seharusnya ,,,,seharusnya dan yang seseungguhnya “warga Jogya” seharusnya berterimaksih : “terima kasih Florence, anda telah mengingatkan kami tentang kota ini, tentang Sultan dan semua kekurangannya, kota ini tidak nyaman”. Tetapi apa nyatanya, arogansi media dan organisasi masyarakat tertentu melakukan sesuatu dilevel ‘over acting’ saya sebut hyper realitas oleh media di daerah itu, mereka melakukan blow-up berita yang bombamtis. Melaporkannya ke polisi dan lagi-lagi, arogansi menahan Florence itu menuai kritik sedunia, ini sangat memalukan; Menurut saya peritiwa reaktif ini sangat membuat diriku terharu, bagimana seorang Butet yang putra Jogya sendiri meminta kepada POLDA agar membebaskan Florence.

Lepas dari itu semua, sebenarnya apa yang terjadi? Dari ranah marketing strategy saya teringat ungkapan tentang “Customer adalah Raja”, hal inilah yang sangat disayangkan betapa tidak ramahnya keadaan Jogya sekarang, dengan adanya komplain dari seorang customer yaitu Florence yang menjadi tamu di kota itu merasa tidak nyaman. Jika Jogya ingin lebih baik, maka fasilitas dan pelayanan masyarakat dibawah pemerintahan sang Sultan itu harus diperbaiki. Sebab customer yang loyal adalah mereka yang mau memberitahu kelemahan produk anda. Jogya kita kenal sedang gencar-gencarnya promo wisatanya, dengan kejadian ini dunia mencatat bahwa Jogya sebenarnya tidak nyaman, apakah demikian? Kita berterima kasih kepada Florence telah membuat detak jantung kita berdebar dan bangkit dari kenyamanan semu. Sultan telah berbuat sangat bijak denga  mengambil tindakan secepatnya menangani masalah ini. Devisa Jogya dari wisata itu sangat tinggi, bahkan pernah mencatat sebagai urutan kedua setelah Bali. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi ?

Florence adalah anak bangsa, ia seorang wanita bangsa Indonesia yang juga adalah bagian dari Jogya, jauh-jauh dari Sumatera datang kuliah di Jawa alias Jogya tentu memiliki alasan yang masuk akal, bahwa Jogya itu sangat baik. Apalagi kampus yang dituju adalah kampus yang sangat favorit, kampus yang bukan milik Jogya saja, tetapi milik rakyat bangsa Indonesia. Kalau membaca cacian atas pembalasan celoteh Florence di media sosial, saya sangat prihatin dan tidaklah pantas melakukan pembalasan itu. Pelajaran apa yang kita dapatkan dari sisi budaya dan sosial? Florence yang adalah suku Batak (Tapanuli) yang terkenal dengan ketulusan dengan tidak menahan dan menyembunyikan hal yang tidak layak dalam hatinya, ketika pelayanan itu tidak sesuai dengan harapannya, ia langsung to the poin. Mungkin luapan amarahnya saat itu meledak, pasti karena komplikasi masalah tentang kota Jogya yang tidak sesuai harapannya itu. Pelanggarannya adalah etika, bagaikan seorang anak yang mengumpat karena terdesak oleh situasi dalam rumah tangga.

Betapa reaktifnya Polisi? Saya menyimpan kegemasan yang mendalam sekaligus kecewa, jika hal ini berlanjut dan semakin dalam lukanya maka kota-kota lain di Indonesia akan didominasi oleh kekejaman penduduk asli. Saya menganalogikan dengan ungkapan seperti ini :  “Ini Kota Kami, jangan macam-macam, jika berani …maka …..dst”. Dimana letak pluralisme budaya kita yang selama ini direpresentasikan oleh rakyat Jogya sebagai kota “pendidikan?”.

Saya membaca status Bung Butet yang mengirim SMS ke Kapolda “Ini SMSku kpd KAPOLDA DIY: Pak Kapolda…. sbg warga yogya yg mencintai kepolisian saya pengin mengingatkan, mbok Florence Sihombing dibebaskan aja. Penahanan ini bener2 kontraproduktif dan mencoreng citra kepolisian dan kearifan warga yogya. Sangat memalukan pak. Sungguh.” Butet Kartaredjasa adalah putra Jogya yang saya lihat bahwa beliau sangat cemas tentang hal ini.

Patut dikritisi; Media cetak dan New Media Online termasuk jejaring sosial telah melakukan pemberitaan berlebihan dan tidak sadar bahwa pemberitaan ini merupakan kerugian bagi kita bangsa Indonesia juga. Saya sebut bahwa media-media itu telah melakukan pemberitaan masalah Florenc ini adalah Hyper-realitas. Pemberitaan berlebihan dan tidak sesuai dengan realitas (apa adanya) bahkan tidak mengusut penyebab celoteh Florence sedemikian detail. Mengapa sampai hal itu terjadi, bukankah ada pertengkaran alias adu mulut sebelumnya dengan oknum petugas di SPBU itu? Mungkin saja kata-kata yang disuguhkan disana tidak sesuai dengan norma orang Jogya yang selama ini dibanggakan tata kromonya itu? Media melakukan pemberitaan berlebihan dan bahkan ditanggapi dan diulas oleh media asing dan dibaca oleh masyarakat dunia.

Selain itu representasi yang ditayangkan di youtube dengan url : http://www.youtube.com/watch?v=W7zlmBlrT3w merupakan pembalasan yang menurut saya tidak santun dan tidak mendidik. Seandainya bisa saya menyarankan anda menghapus semua cacian pembalasan kepada Florence karena pada hakekatnya andalah yang tidak beretika dan tidak bermoral. Justru video ini bukti baru penghinaan dan pemicu permusuhan antar suku dan sudah berada pada ranah pidana tentunya. Polisi seharusnya mencari dan menangkap orang yang rekonstruksi kejadian ini menjadi hyper-realitas dan membentuk opini kebencian kepada Florence Sihombing.

bebaskan florence-sihombing-petisiSesaat saya sudah tidak percaya dengan kata-kata tentang tepo saliro dan martabat orang-orang yang mengangungkan toto kromo itu. Tetapi pernyataan Sultan Jogya beberapa hari lalu, sempat membuat diriku tenang. Pernyataan “memaafkan” juga mengandung makna sangat dalam, bahwa Florence tetap dalam hukuman sosial yang berat namun diberi maaf. Kita tidak memahami bahwa tekanan jiwa para mahasiswa di kota itu sudah mulai terlihat, bahkan semakin rumit dan semakin dalam. Apa yang dialami oleh Florence dengan kata maaf belum bisa membuatnya tenang dibangku kuliah S2 di UGM itu.

Solusinya adalah membentuk Forum Dialog antar budaya di Jogya dan memberi pemahaman kepada semua pihak bahwa “Ethnic Centrist” pada nama Jogya adalah milik bangsa Indonesia. Kemudian Media dan Jejaring Sosial menganalisa lebih dalam apa manfaat dan kerugian bagi rakyat Indonesia jika pemberitaan tentang pelanggaran etika menjadi permusuhan antar suku?

Apa pendapat anda ?

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s