Analisis Media & Communication Center “Pertarungan Pilpres Indonesia 2014 dimenangkan oleh Media by Mustika Ranto Gulo

Kepada para peneliti, terutama para Mahasiswa yang sedang mencari Judul penelitian baik Skripsi (S1), Tesis S2 ataupun Disertasi S3, saya mengajak untuk melakukan penelitian mendalam tentang “Relasi Pemilik Media dengan Hegemoni Kekuasaan dalam Pilpres 2014”.

Narasi

Fenomena ini baru saja kita lewati, dimana media massa seperti televisi ikut meramaikan kampanye pemenangan capres dan cawapres jagoan masing-masing. Secara nyata-nyata stasiun TVone mendukung Prabowo-Hatta, dimana pemiliknya adalah Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie. Sedangkan MetroTV mendukung pasangan Jokowi-Jk dimana pemiliknya adalah Surya Paloh Ketua Pembina Partai Nasdem. Pertarungan kedua media ini telah membawa perubahan signifikan bagi pertelevisian Indonesia melalui teknik dan cara-cara menyuguhkan berita dan juga kreatifitas yang menarik perhatian masyarakat. Sebagai penulis artikel saya sangat senang dengan pemikiran terbuka untuk menganalisa peran media media yang terlibat dalam pertarungan itu. Agar penelitian lebih dalam, saya mengajak untuk melakukan perbandingan dengan stasiun teklevisi yang juga ikut berperan aktif dalam pertarungan sekalipun itu hanya musiman.

Dan yang tak kala penting tanpa kita sadari bahwa kita sudah ikut berperan aktif di dalamnya:  “Sesungguhnya kita sudah masuk dalam situasi perang ala dunia maya, perang pencitraan dan perang opini serta kampanye hitam sudah terjadi melalui media, saling membantai baik nyata-nyata maupun sembunyi-sembunyi. Media Massa tidak netral karena terbukti menjadi arena perang yang paling genting dimana mereka memperlihatkan senjata ampuh membantai lawan. Keprihatinan saya adalah perang ini sesungguhnya sudah memakan banyak korban dan kita ada di dalamnya. Dan saat ini, kita sedang diperhadapkan pada masalah tahap paling sesitive yaitu permainan hasil (Pra Pengumuman Resmi KPU) dimana hasil Lembaga Survey pada Quick-Count menimbulkan persoalan baru, karena sebagian memenangkan Prabowo – Hatta dan sebagian lagi memenangkan Jokowi-Jk. Polemiknya adalah kedua pasangan mengklaim diri sebagai pemenang Pilpres 2014.

Metodologi

Jika judulnya adalah mencari efek atau hubungan sebab akibat pada analisa “Relasi Pemilik Media dengan kekuasaan dalam Pilpres 2014”, maka penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif. Dengan menampilkan beberapa variable dalam relasi pemilik media dengan para capres. Tetapi jika judulnya Studi Kasus atau menggunakan paradigma kritis maka penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Judul penelitian bisa berubah asalkan tema dan inti analisis tidak berubah.

Pendekatan Teori

Hegemoni adalah sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Bisa juga hegemoni didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lain, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominasi terhadap kelompok yang didominasi/dikuasai diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tidak mengekang pikiran.

Hegemoni berasal dari kata hegeisthai (Yunani) merupakan akar kata dari hegemoni, yang mempunyai pengertian memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasan yang lain. Hegemoni dikembangkan oleh filsuf Marxis Italia Antonio Gramsci (1891-1937). Konsep hegemoni memang dikembangkan atas dasar dekonstruksinya terhadap konsep-konsep Marxis ortodoks. Chantal Mouffe dalam bukunya yang berjudul Notes on the Sourthen Question untuk pertama kalinya menggunakan istilah hegemoni ini di tahun 1926. Hal ini kenudian disangkal oleh Roger Simon, menurutnya istilah hegemoni sudah digunakan oleh Plekhamov sejak tahun1880-an (Ratna, 2005: 181). Media massa memiliki visi dan missi sebagai perusahaan dengan mengusung ideologi sang pemiliki. Oleh karena itu media massa dengan segenap perangkatnya juga memiliki kepentingan selain keuntungan (Profit center) dan juga memiliki ideologi sendiri yang tentu akan bersinergi dengan para kolega dan rekan bisnis lainnya. Karena kepentingan inilah, maka pemilik media massa dikritisi dan dicurigai sebagai alat hegemoni kekuasaan. Dalam Konsep Gramsci, media massa dianggap sebagai instrumen untuk meyebarluaskan dan memperkuat hegemoni dominan, akan tetapi terdpat juga media yang berpihak pada rival kekuasaan yang melakukan perlawanan dalam menyebarluaskan dan memberikan pemahaman berimbang terhadap hegemoni politik itu sendiri. (Stillo, 1999:10) Dalam realitas ideologi kapitalisme, hegemoni dan dominasi , nyatanya media-media itu tidak mungkin melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan institusi pengelola media itu sendiri; sebab institusi media massa adalah perusahaan yang harus untung sebesar-besarnya, media dikelola sebagai industri yang bahkan bisa menjadi perusahaan yang mendominasi opini dalam siaran dan isi beritanya. Sekarang muncullah group perusahaan media yang semakin berkuasa dimana lahirlah kapitalisme media di Indonesia.Pendekatan Analisis Pada KasusBaca hasil wawancara saya di http://opininusantara.com/home/2014/07/09/media-adalah-pemenang-pilpres-2014-jadi-siapa-presiden-kita/Pemenang Pilpres kita adalah media massa. demikian diuangkapkan oleh beliau kepada kami Rabu, 9/7/2014 bertepatan dengan Pemilihan Umum Presiden RI ke 7, ia menyatakan bahwa “pemenang Pilpres 2014 adalah media, artinya pihak yang bertarung sesungguhnya adalah media masa. Karena kekalahan Capres dan Cawapres sekarang ini adalah kekalahan media”.

Situasi sekarang dengan adanya hasil Quick Count berbeda versi menurut lembaga survey, bagaimana? Lembaga Survey itu seharusnya Independent, tetapi mereka itu kan mengeluarkan biaya untuk bekerja. Lalu biaya itu dari mana, dari surga? hahahaha, makanya hasilnya bias dan harus sesuai dengan pesanan pendonor. Inilah yang saya katakan dalam teori ‘ekonomi politik media’ tidak ada makan siang yang gratis.

Catat ya “Pertarungan antara kedua kubu Capres Prabowo – Hatta dan Jokowi – JK adalah pertarungan media, mereka itu sama-sama memiliki MEDIA MASSA sebagai alat dan mesin perang. Media massa kini bertarung dan saling membantai satu sama lain, sampai kapan? kita tidak tau, pesan saya jelas : Media Massa kembalilah kepada fungsi yang sesungguhnya, Pilar Demokrasi.”

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan Rencana Penelitian

Para peneliti memusatkan arah analisa pada hubungan atau relasi antara pihak-pihak yang ingin berkuasa dengan sejumlah media massa yang ada dibelakang mereka sebagai mesin politik pada Pilpres 2014. Apa keuntungan yang didapatkan oleh masing-masing pihak dalam kesepakatan bisnis yang mereka rancang sebagai kosnpirasi ekonomi politik media. Bagaimana mereka memainkan peranan masing-masing dalam mewujudkan hegemoni politik dan ideologi yang mereka usung, bersama atau mungkin hubungan kemitraan mereka hanya untuk kepentingan sesaat? Dengan demikian semua instrumen yang mengikuti gerbong masing-masing kubu dalam Pilpres 2014 dapat  lebih jelas terang benderang untuk sebah study yang sangat seksi.

Saran

Saya sarankan agar bisa melakukan check and recheck mendalam terhadap latar belakang media-media yang secara nyata-nyata melakukan kegiatan kampanye baik putih maupun kampanye hitam terhadap kubu-kubu para pihak yang berseteru yakni Kubu Prabowo-Hatta dan kubu Jokowi-Jk. Saya menyarankan untuk melakukan diskusi mendalam jika saudara ingin bergabung dalam penelitian ini.

Salam

Ir. Mustika Ranto Gulo, M.IKom

Ir. Mustika Ranto Gulo
Dosen UMB

 

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s