S1 - Teknologi & Sains Institut TD Pardede Medan

Gender Dalam Prespektif Budaya Dan Media by Ir. Mustika Ranto Gulo, M.IKom

PEREMPUAN DAN BUDAYA

S1 - Teknologi & Sains Institut TD Pardede Medan
S1 – Teknologi & Sains Institut TD Pardede Medan S2 – Universitas Mercu Buana Jakarta

Perempuan telah menjadi bagian industry hiburan yang sulit dipungkiri oleh lembaga manapun yang berjuang tentang penyelamatan gender dari sekedar komoditas. Sosok Perempuan merupakan subjek manusia yang sering dihadirkan sebagai objek oleh media massa, baik itu surat kabar, majalah, televisi, film dan iklan. Perempuan ada dan kemudian dijadikan komoditas oleh media yang berdiri dengan basis ideologi dibalik proses representasi tersebut. Konstruksi sosial dan budaya yang mengkristal sejak lama menjadi ideologi yang bias gender, karena memposisikan perempuan berada dibawah laki-laki. Bias gender tersebut muncul berbarengan dengan ideologi kapitalis dan budaya patriakhi yang kini banyak mewarnai media dan secara sadar atau tidak sadar media kemudian mensosialisasikan pada publiknya. Ini lah kemudian menjadikan media mempunyai andil yang besar dalam mempertegas persoalan ketidakadilan gender.

Menurut pendapat  para feminis, pelecehan seksual bukanlah perkara semata – mata perkara seks, melainkan perkara kekuasaan. Ada yang berkuasa oleh karena itu ia dapat melakukan pelecehan. Dalam kajian budaya feminis seperti ditulis oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro dalam bukunya Kajian Budaya Feminis, Tubuh,Sastra dan Budaya Pop,  SEKS dan SEKSUALITAS adalah suatu konstruksi, maka SEKS dan SEKSUALITAS bukanlah wacana mengenai tubuh dan keinginan, atau kebutuhan biologis semata, melainkan juga merupakan wacana kekuasaan.

Beberapa tahun lalu, lembaga HAM international melaporkan bahwa negara-negara di timur tengah, melarang wanita menonton TV bahkan harus menutup aura wajahnya. Wanita dijadikan korban kepentingan para pria, dengan mengatas-namakan ajaran agama mereka mencabut hak kemerdekaan kaum perempuan. Bahkan disinyalir adanya pelecehan seksual dengan memeriksa keperawanan para perempuan yang mengabdi di rumah raja, dimasa silam.

Perbedaan gender adalah hal biasa dan tidak menjadi masalah sepanjang perbedaan itu tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun kenyataan nya saat ini ketidak adilan gender justru terus berlangsung dan tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologi dan visi kaum perempuan sendiri bahkan juga ketika publik terutama laki-laki memandangnya. walaupun laki-laki tidak menutup kemungkinan akan menjadi korban ketidakadilan gender, tetapi perempuan masih tetap menduduki posisi tertinggi sebagai korban ketidakadilan gender.

Elemen utama budaya patriakhi barat memperlihatkan perempuan sebagai objek tontonan untuk dilihat dan subjek pandangan audiens laki-laki. Pornografi adalah contoh paling nyata bagaimana genre pornografi mempertontonkan tubuh perempuan sebagai objek hasrat, fantasi dan kekerasan. Keseluruhan tubuh perempuan sebagi unsur dekorasi iklan, dan host acara-acara tertentu dipastikan selalu mempresentasikan gaya dan mode baru menjadi soft pornografi.

Berbicara mengenai perempuan, perempuan dikonstruksi harus tampil dengan menonjolkan daya tarik seksual, harus bersedia mengalami pelecehan seksual dan harus memaklumi prilaku agresif laki-laki, hal ini jelas tampak pada pemberitaan, sinetron-sinetron dan acara-acara lainnya. Perempuan dan media massa memiliki kaitan yang erat dan saling melengkapi. Perempuan dan media massa ibarat dua sisi mata yang yang tidak dapat dipisahkan. Perempuan banyak yang memanfaatkan jasa media massa untuk meningkatkan popularitasnya, sebaliknya media massa memerlukan sebuah nuansa khas dari seorang perempuan, mulai dari sisi keberhasilan karier dan jabatannya, ketegaran menyikapi  sebuah persoalan besar, kenekadannya dalam melakukan sesuatu dan keberaniannya untuk memperlihatkan auratnya.

Perempuan memiliki daya pikat tersendiri yang membuatnya menarik. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa segala sesuatu di media mana pun selalu dikaitkan dengan sosok perempuan. Mulai dari sinetron, film, iklan, cover CD (compact disk)  atau apa pun itu selalu menempatkan wanita sebagai daya tarik pertama.Saat ini perempuan boleh dengan bebas mengekspresikan ide, kreasi, dan kemampuannya. Namun disadari atau tidak, perempuan kembali ditindas dan dieksploitasi oleh budaya.

  1. GENDER

Gender merupakan kategorisasi yang memisahkan laki-laki dan perempuan atas dasar asumsi-asumsi prilaku, nilai , sikap, dan kepercayaan. Yang kemudian dikontraskan dengan seks yang lebih mengacu pada pembedaan biologis. Asumsi gender didasarkan atas ideologi sedangkan pembedaan seksual didasarkan atas genitalia (biologis). Peran gender dapat dipahami salah satunya dari media, yang merepresentasikan perempuan dan pembentukan stereotipe mengenai peran berdasarkan jenis kelamin.

Menurut Mansour Fakih , gender merupakan atribut yang dilekatkan secara sosial maupun kultural, baik pada laki-laki maupun perempuan.Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan, sementara laki-laki dianggap kuat, rasional , jantan dan perkasa. Ciri dan sifat tersebut merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. (Mansour, 2012)

Semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki yang bisa berubah dari waktu kewaktu serta berbeda tempat, maupun kelas yang berbeda itulah yang dikenal dengan konsep gender. Gender sebagai suatu konstruksi sosial, yang melahirkan suatu perbedaan, lahir melalui proses panjang. Proses-proses penguatan perbedaan gender tersebut, termasuk diadalamnya proses sosialisasi, kebudayaan, keagamaan dan kekuasaan negara. Proses ini terjadi akibat bias gender yang esensial yang bersifat nature. Selanjutnya gender mewariskan konsep pemikiran tentang wacana seharusnya laki-laki dan perempuan berpikir dan bertindak yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk pembenaran terhadap perbedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan hanya karena perbedaan jenis kelaminnya (Hariyanto, 2009).

Dalam kajian cultural studies, seks dan gender dilihat sebagai konstruksi-konstruksi sosial yang secara intrinsik terimplikasi dalam persoalan-persoalan representasi. Seks dan gender lebih merupakan persoalan kultural ketimbang alam. Meski ada juga pemikiran feminis yang menekankan pada perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan, kajian budaya cenderung mengeksplorasi gagasan tentang karakter identitas seksual yang spesifik secara historis, tidak stabil, plastis dan bisa berubah. Tapi bukan berarti kita bisa dengan gampang membuang identitas seksual kita dan menggantinya dengan yang lain, karena meskipun seks adalah suatu konstruksi sosial, ia adalah konstruksi sosial yang mengkonstitusi kita melalui tekanan-tekanan kekuasaan dan identifikasi-identifikasi dalam psikis kita. Dengan kata lain, konstruksi sosial adalah sesuatu yang diregulasi dan memiliki konsekuensi.

  1. MEDIA dalam Perspektif Gender

Membahas media dari segi institusi juga akan menampakkan bahwa media menganut atau bersifat patriakhi. Seringkali terjadi ketimpangan-ketimpangan gender karena terdapatkan nilai-nilai kapitalis dan nilai partiakhi yang saling menguntungkan.

Budaya Media (media culture) seperti yang dituturkan oleh Douglas Kellner menunjuk pada suatu keadaan yang menampilkan audio visual atau tontonan-tontonannya telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari, membantu proyek-proyek hiburan, membentuk opini publik dan prilaku sosial, bahkan memberikan suplai materi untuk membentuk identitas seseorang (Kellner, 1996) .

 Media cetak, radio, televisi , internet dan bentuk-bentuk akhir teknologi media lainnya telah menyediakan defenisi untuk menjadi laki-laki atau perempuan dan membedakan status-status seseorang berdasarkan kelas, ras, maupun seks (Hartiningsih, 5 Agustus 2003).

Piliang (dalam Ibrahim dan Suranto, 1998:xvi) melihat media massa sebagai arena “perjuangan tanda” . Media adalah arena perebutan posisi, tepatnya antara posisi memandang aktif dan posisi yang diapandang pasif. Yang diperebutkan adalah tanda yang mencerminkan citra tertentu.

Satu pandangan yang sangat dekat dengan isu perempuan adalah male gaze, Laura Mulvey (1990).  Mulvey juga menjelaskan konsep male gaze dalam industri sinematografi, yang menurutnya terlalu menggunakan pandangan laki-laki. Perempuan sendiri tidak diposisikan sebagai subjek yang punya kuasa atas dirinya sendiri melainkan sebagai obyek male gaze. Mata sebuah kamera pun diibaratkan sebagai mata seorang laki-laki sehingga tampilan perempuan didalam media cenderung tunduk pada kontrol tatapan mata laki-laki. Pesan yang ada pun dipengaruhi oleh laki-laki yang kemudian disampaikan kepada penonton laki-laki juga, sementara perempuan hanya menjadi tontonan.

  1. Pandangan ahli terhadap Gender

Karya Mulvey yang berjudul” Visual Pleasure and Narrative Cinema’ pertama kali diterbitkan pada tahun 1975, Karya ini adalah karya mengenai kritik film feminis yang paling banyak dikutip. Karya Mulvey ini tidak hanya memberikan suatu pemahaman bagaimana citra perempuan dilayar berperan untuk memenuhi kebutuhan laki-laki, namun karya ini juga penting untuk membuat perdepatan mengenai gender dan kepenontonan menjadi inti dalam kritik feminis.

Meskipun para kritikus sebelumnya sudah menteorikan bagaimana posisi menonton’ terjalin dengan teks film’ tapi Mulvey menggunakan teori film psikoanalisis yang dikembangkan oleh Cristian Metz yang berpendapat bahwa teks-teks sinematik ini diorganisasikan sedemikian rupa untuk menghasilkan posisi menonton yang laki-laki. Pendapat ini menstimulasi perdebatan dalam kritik film feminis tentang apakah ada kemungkinan untuk kepenontonan perempuan dalam sinema mainstream yang bersifat patriakhi dan karenanya diorganisasikan disekitar kebutuhan batin laki-laki.

Mulvey berpendapat, perempuan bertindak sebagai penanda untuk laki-laki yang lain, diikat oleh urutan simbolik yang dapat menjadi tempat laki-laki bisa melepaskan fantasi dan obsesinya melalui perintah linguistik dengan menekankannya pada citra diam perempuan yang masih terikat di tempatnya sebagai pembawa makna  dan bukan pembuat makna. Mulvey juga tertarik dengan bagaimana citra perempuan dalam sinema narasi juga dikodekan sebagai objek erotis, objek kenikmatan visual bagi penonton laki-laki. (Hollows, 2010).

Gagasan bahwa perempuan menandai pengebirian atas perbedaan perempuan dari laki-laki menandai inferioritas atau kekurangan berkaitan dengan laki-laki. Dengan demikian citra perempuan berpotensi mengancam laki-laki karena perempuan menandai ketidakberdayaan, manandai kurangnya kekuasaan dan kemunculannya yang mendefenisi apa itu laki-laki. Singkatnya perempuan menandai ancaman kemungkinan laki-laki menjadi seperti perempuan. Oleh sebab itu ancaman pengebirian yang diperlihatkan perempuan kepada laki-laki adalah ancaman bahwa laki-laki bisa kehilangan atribut positifnya yang diakaitkan dengan maskulinitas lalu makin menjadi mirip dengan feminis yang “berbeda” tersebut.

Oleh sebab itu sinema dominan menggunakan mekanisme yang mengalihkan ancaman ini melalui berbagai bentuk cara pandang tertentu yaitu dengan Fetisisme dan Voyerisme. Fetisisme, mengubah perempuan menjadi suatu citra yang aman, dapat dinikmati, dan tidak mengancam dengan menjadikan beberapa tubuhnya menjadi fetis yaitu memusatkan perhatian pada beberapa aspek perempuan yang dapat dibuat menjadi menyenangkan seperti, kaki, rambut. Selanjutnya voyerisme menangani ancaman yang diperlihatkan oleh perempuan dengan mencoba menginvestigasi perempuan, memahami misterinya, kemudian menganggap perempuan sebagai yang dapat diketahui, dikendalikan dan merupakan subjek kekuasaan laki-laki. Sehingga menjadikan perempuan sebagai citra menjadi sumber kenikmatan laki-laki dan bukan sebagai sumber ancaman.

Karena identitas seksual dipandang bukan merupakan masalah esensi biologis yang universal melainkan persoalan bagaimana feminitas dan maskulinitas dibicarakan, maka feminisme dan kajian budaya seharusnya memberi perhatian pada masalah-masalah seks dan representasi. Umpamanya, kajian budaya telah mempelajari representasi perempuan dalam program acara Sex O phone, dan mendapatkan bahwa perempuan diseluruh dunia terkonstitusi sebagai bagian yang wajar jika menampakkan auratnya, tersubordinasi sebagai tontonan menarik oleh lelaki. Dengan kata lain, posisi-posisi subjek yang dikonstruksi untuk perempuan yang menempatkan mereka dalam tatanan kerja patriarkis domestifikasi dan beautification atau tatanan kerja yang menjadikan mereka sebagai ibu dan berkarir serta mampu mengeksplorasi individualitasnya dan tampil menarik serta mempesona. Namun ada kemungkinan untuk menggoyang stabilitas representasi-representasi tubuh yang terkelaminkan ini, karena  meski teks memang mengkonstruksi posisi subjek, bukan berarti semua lelaki atau perempuan mengambil posisi-posisi yang ditawarkan. Kajian-kajian resepsi menekankan pada negosiasi yang terjadi antara subjek dengan teks, termasuk kemungkinan melakukan resistensi terhadap makna tekstual. Kajian-kajian inilah yang sering merayakan nilai-nilai dan budaya menonton perempuan (Giddens, 1992).

Contoh program Acara :

Acara tengah malam SexOphone di trans TV  dengan di pandu Chantal della Concetta dan psikolog Zoya Amirin yang dikemas dalam bentuk sex education diantara tema nya antara lain : Oral Sex, Orgasme, Does Size matter?, Fore play dan lain-lain ,  Sexophone selain menampilkan dan mengekploitasi tubuh bagian dan dada secara dekat baik dari sisi pemandu dan bintang tamu nya juga memperlihatkan adegan yang menampilkan percakapan tentang rangkaian dan aktifitas seks dan prilaku seks, dan jelas hal ini tidak sesuai dengan kepatutan yang berlaku,

Terlihat semua yang ditampilkan dalam acara ini termasuk salah satu ciri khas media massa dalam program acara nya melakukan konstruksi terhadap representasi perempuan, yang ditonjolkan dalam bentuk objek yang erotis , dan mata sebuah kamera diibaratkan sebagai mata lelaki. Wanita di mata lelaki diupayakan mempertahankan budaya patriakhi, tubuh wanita dianggap alat yang sangat efektif memenuhi keinginan seksual lelaki. Wanita pun dijadikan lambang penghias status dan kekuasaan lelaki

Pandangan ahli lain dalam melihat sebuah iklan

Foucalt  dalam History of Sexuality bahkan menunjukkan bahwa  wacana seksualitas tidak mungkin dilepaskan dari wacana kekuasaan dan pengetahuan yang didalamnya, termasuk cara kerja budaya dikonstruksi untuk melanggengkan tatanan kekuasaan yang patriarkal. Pertanyaan yang ditujukannya adalah mengapa seksualitas dibicarakan secara luas.  Dijawabnya sendiri  bahwa secara ringkas,tujuannya adalah untuk mendefinisi  rezim kekuasaan – pengetahuan- kenikmatan yang melanggengkan wacana seksualitas manusia, didalam masyarakat kita. Isu utamanya adalah untuk menjelaskan fakta bahwa seksualitas itu diperbincangkan, untuk menemukan siapa yang melakukan pembicaraan,  dari posisi dan sudut pandang apa seksualitas itu dibicarakan, institusi apa yang mendorong orang membicarakan  seksualitas serta  institusi apa yang menyimpan dan menyebarkan hal- hal yang dibicarakan itu . Dengan mengikuti pemikiran itu, dapat dikatakan bahwa laki –laki dikonstruksi sebagai institusi normative yang dapat mendefinisi apa yang berterima atau tidak. Dengan cara itu kebutuhan dan hasrat  laki – laki menjadi kebutuhan  kolektif perempuan dan laki- laki. Seksualitas laki – laki  dibicarakan dan diekspresikan sebagai norma normative, alamiah atau natural atau pada saat yang sama dinaturalisasi. Pemusatan seksualitas kepada seksualitas laki – laki, menyebabkan seksualitas perempuan dimaknai dan ditandai sebagai sesuatu untuk seksualitas laki – laki.  Dan bukan dalam perspektif yang melihat seksualitas perempuan dan laki – laki merupakan suatu hal particular dan plural, yang mengandung persamaan dan perbedaan baik antara laki – laki dan perempuan. Pelembagaan seksualitas laki – laki sebagai norma itu dilakukan melalui pelbagai institusi termasuk sastra, media, film dsb. Foucalt menunjukkan bahwa seksualitas merupakan saling keterkaitan antara aspek ras, masyarakat, kelas, budaya, ekonomi, kekuasaan dan pengetahuan, dan hal itu menjadikan wacana seks dan seksualitas  tidak pernah sederhana.

Dalam ensiklopedia feminism yang buku aslinya berjudul “Dictionary of Feminist Theories ditulis oleh Maggie Hum mencantumkan “SEX” yang secara langsung diterjemahkan sebagai “jenis kelamin”. Teori feminis mendefinisikan jenis kelamin hanya sebagai kondisi seseorang apakah dia secara anatomi laki – laki atau perempuan. Sementara seksualitas diterangkan sebagai “ proses sosial yang menciptakan, mengorgananisir, dan mengekspresikan serta mengarahkan hasrat”  Feminism percaya bahwa bentuk – bentuk seksualitas bukanlah sesuatu yang inheren dalam diri perempuan melainkan merefleksikan institusi politik  dan budaya yang mempengaruhi  kondisi kehidupan dan kesadaran individu. (Prabasmoro,2007)

ANALISA  RUBRIK “CEPOT” di TABLOID MOTOR PLUS

Selama ini pers memegang peranan yang sangat besar dalam sosialisasi nilai di masyarakat termasuk dalam bidang seksual. Eksploitasi melalui pers, baik terang-terangan dan vulgar maupun yang halus artistik, dalam kehidupan masyarakat modern terlihat jelas. Menurut Wina Armada, saat ini masih banyak perusahaan pers yang menganggap penyajian seks merupakan unsur terpenting yang dapat membuat produk pers laku dan dibaca. Karena itu mereka mengandalkan seks sebagai dasar produknya. Tentu saja pers dinilai sulit menghindar dari penyajian cabul dan setengah cabul atau menyerempet soal cabul.

Seksploitation merupakan sebutan dari kaum feminis yang menunjukkan betapa tidak adilnya kalangan media karena mengeksploitasi perempuan dengan menginjak-nginjak martabatnya, demi menaikkan tiras surat kabar atau majalah. Dalam hal ini sangat jelas bahwa perempuan dieksploitasi untuk kepentingan komersil. Kalangan media cetak selalu membela diri, dengan menyatakan bahwa pembaca mau membacanya, dan kalangan perempuan sendiri senang pula membaca berita-berita tentang kaumnya.

Perempuan sebagai objek media massa merupakan kenyataan ketidakadilan gender yang dialami perempuan dalam masyarakat. Menurut Myra Diarsi akar ketidakadilan gender berkaitan dengan budaya patriarki. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa laki-laki menjadi subjek dengan kekuatannya, dan perempuan sebagai objek yang lemah dan dipojokkan.

Gender merupakan pelabelan yang pada kenyataannya bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah apabila tidak ada pemberitaan yang menjadikan perempuan sebagai objek yang dieksploitasi. Menurut Ana Nadhya Abrar, Citra perempuan dalam pandangan pers Indonesia masih rendah, karena kebijakan keredaksian yang ternyata terkalahkan oleh kebijakan pemasaran yaitu segmentasi, konstribusi iklan dan keinginan pembaca.

Tabloid Motor Plus adalah salah satu tabloid yang populer  di kalangan masyarakat dari segala lapisan. Didirikan tabloid ini  ini diharapkan bisa memenuhi informasi akurat mengenai berita-berita seputar sepeda motor kepada pembacanya. Salah satu andalan tabloid Motor Plus  adalah kolom CEPOT, yang setiap minggu hadir di 1 halaman sebelum halaman terakhir. Kolom ini  ditulis oleh seorang laki – laki  yang bernama Panji yangmendeskipsikan seorang perempuan yang sedang berpose disamping motor. Ulasan yang ditulis oleh sang wartawan adalah ulasan mengenai fisik yang digambarkan seperti menggambarkan motor. Hal ini jelas mengarah pada wacana seksualitas  yang amat melecehkan, dimana disini wanita disamakan dengan motor. Sang penulis mengulas tubuh si model layaknya ia mengulas motor.  Bagian fisik yang diulas yaitu sekitar ukuran penyangga buah dada, bibir dan kaki sang model. Ada pula didalam ulasan itu menceritakan pengalaman sang model mengendarai  kendaraan bermotor yang dikemas redaksi tabloid Motor Plus dengan gaya bercanda, dan sangat berkesan bersifat melecehkan . Ditambah pula dengan judul yang menarik minat pembaca yaitu dengan tulisan “BEKAS CIUMAN” yang seperti kita tahu akan kemana arah referensi berfikir para pembacanya, yang pastinya pembaca mengharapkan adanya ulasan adegan  kegiatan seksual yang sarat dengan istilah atau ungkapan yang menonjolkan aspek seks.

Dikolom ini perempuan  adalah marginal dalam bingkai media.  Kolom cepot ini  mencoba  menyajikan bagaimana wanita disamakan dengan barang pemuas kebutuhan seksualitas laki – laki  . Nilai seksualitas perempuan dikupas habis hanya untuk memenuhi selera laki – laki yang melihat wanita hanya dari fisik yang memikat seperti:  buah dada, wajah, kaki dan paha. Ada objektivikasi perempuan disini dan ini jelas sangat melecehkan martabat kaum wanita.

Seperti kita tahu objektivikasi adalah kerangka teori yang dibangun oleh Fredrickson dan Roberts (1997)  yang dirumuskan dari proses analisis atas tubuh perempuan yang diletakkan dalam konteks sosiokultural. Objektivikasi adalah tolak ukur idealisasi atas tubuh yang akan turut mempengaruhi bagaimana individu didalamnya melakukan penilaian dan pemaknaan atas tubuhnya, dimana perempuan dikondisikan dalam posisi pasif. Pihak luar perempuanlah seharusnya memaknai dan memperlakukan tubuhnya.  Daya tarik penampilan fisik perempuan dilihat sebagai sinyal tidak langsung dari kemampuan reproduksinya. Mengevaluasi kualitas tubuh perempuan dilihat dari penampakan luarnya menjadi salah satu unsur penting dalam proses seleksi pasangan bagi laki – laki. Ada pula yang melihat proses pengkondisian sosial, agar perempuan mementingkan aspek fisiknya ini sebagai bagian dari bentuk opresi sistem patriarki terhadap perempuan. (Anastasia, 2006)

.Kesimpulan :

  1. Identitas sexual diyakini bukan sebagai suatu esensi biologis universal    melainkan bagaimana feminimitas dan maskulinitas dituturkan.
  2. Dalam Cultural Studies, seks dan gender diyakini sebagai konstruksi sosial     ( ditata dan mengandung sejumlah konsekwensi) yang secara intristik terkandung dalam persoalan representasi
  3. Sampai saat ini, perempuan masih menjadi “makhluk” seksi untuk dibicarakan. Namun ada satu hal yang masih sama  adalah ketika mereka menjadi “objek” empuk dari terpaan – terpaan kekuasaan.
  4. Ada empat alasan mengapa kita harus peduli diterbitkannya media massa yang memuat dan menampilkan gambar-gambar seronok dalam penerbitannya. Pertama, ketika masyarakat kita belum terdidik dan cerdas dalam memilah-milah informasi yang sampai kepadanya, apakah ini merupakan sebuah pembenaran bagi pengusaha media massa untuk alasan permintaan pasar. Kedua, apakah karena alasan popularitas, seorang perempuan dengan senang hati memamerkan auratnya di hadapan publik. Benarkah popularitas hanya bisa dicapai dengan hal itu, tidak adakah hal lain yang bisa mendongkrak kepopuleran seorang perempuan. Apabila benar, terlalu naif rasanya jika popularitas yang dicapai tersebut hanya karena memiliki ’’keberanian’’ memamerkan tubuh. Ketiga, di kalangan beberapa artis serta foto model tercipta stigma yang salah tentang arti profesionalisme kerja. Mereka merasa bahwa semakin berani membuka tubuhnya maka mereka akan semakin banyak mendapatkan imbalan. Keempat, anggapan bahwa pose-pose vulgar perempuan yang ada di media massa merupakan perwujudan nilai seni, rasanya  terlalu dilebih-lebihkan.

Mustika Ranto Gulo, Ir. M.IKom (Dosen Ilmu Komunikasi)

Referensi :

Barker, C. (2004). Cultural Studies : Teori & Praktek. Yokyakarta: Kreasi wacana.

Hariyanto. (2009). Gender dalam Konstruksi Media. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol.3 No.2 Juli-Desember 2009 pp.167-183.

Hartiningsih, M. (5 Agustus 2003). Gender dan Media Massa. Jakarta.

Hollows, J. (2010). Feminisme, Femininitas dan Budaya Populer. Yogyakarta: Jalasutra.

Ibrahim, I. S., & Suranto, h. (1998). Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi Gender dalam ruang publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kellner, D. (1996). Media Culture : Cultural Studies, Identity and Politics between the modern and Post Modern. USA : Westvie Press.

Mansour, F. (2012). Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2011). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  1. Annastasia, Melliana. 2006. Menjelajah Tubuh dan Mitos Kecantikan, Jogjakarta : Lkis
  2. Prabasmoro, Aquarini. 2007. Kajian Budaya Feminis, Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Jogjakarta: Jalasutra.
  3. Ekawenats. Blogspot.com/2006/03/perempuan – dan – konstruksi-media-html.

10 pemikiran pada “Gender Dalam Prespektif Budaya Dan Media by Ir. Mustika Ranto Gulo, M.IKom

  1. RESTU INGGA SUKMAWATI
    44213210020 (PUBLIC RELATIONS)

    ISOTONIC CUP
    Iklan isotonic cup yang berdurasi 30 detik, banyak mendapat teguran dari masyarakat. Iklan ini menampilkan adanya dua orang laki laki dan perempuan yang sedang menjalani hukuman pada masa orientasi sekolah. Pada saat menjalani hukuman anak perempuan tersebut menjilat keringat laki laki di sebelahnya pas dibagian pipinya, dan pas di bagian akhir laki laki tersebut yang menunggu tetesan keringat yang akan jatuh dari hidungnya. Ini menandakan adanya tontonan yang tidak pantas untuk di tayangkan di televise. Selain menonjolkan kesan yang menjijikan, iklan ini mengandung unsur seksualitas. Jika iklan ini di lihat oleh anak kecil, nantinya akan menimbulkan perilaku yang tidak baik, jika perbuatan seperti itu ditiru oleh anak anak kecil. Dan didalam iklan ini, menampilkan adanya tindakan pelecehan seksual, yaitu pada semacam tongkat iblis yang di dorongkan ke bagian dubur laki laki tersebut. Ini benar benar iklan yang tidak pantas untuk di tayangkan. Ini juga akan menimbulkan citra negatif pada perusahaan pembuat produk isotonic cup tersebut. Walaupun ide iklan tersebut bukan dari perusahaan. Dan tentunya kesan buruk pada wanita itu sendiri. Memang iklan iklan berbagai produk banyak yang menggunakan wanita sebagai brand ambassador, namun jika iklan yang ditampilkan seperti ini, menurut saya sangat merendahkan harga diri seorang wanita. Apalagi yang dilakukannya itu terhadap lawan jenis.

    Suka

  2. Nama: Ria Rizki Agustin
    Jurusan: Public Relations

    Menurut saya, pada iklan cat Avian mengandung unsur-unsur yang tidak sepantasnya ditayangkan sebagai iklan. Walaupun sebenarnya iklan tersebut tidak menampilkan bagian tubuh wanita yang bisa di anggap sebagai pornoaksi tetapi iklan ini telah melanggar peraturan penyiaran yang tidak memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan. Sekarang ini banyak perusahaan yang berani melanggar peraturan penyiaran hanya untuk mendapatkan keuntungan besar.
    Saat ini, semakin banyak iklan yang memanfaatkan tubuh wanita sebagai objek penarik bagi konsumen untuk memasarkan sebuah produk. Seperti iklan cat avian yang menampilkan sosok wanita cantik. Dalam iklan ini menceritakan, seorang pria paruh baya yang baru saja selesai mengecat kursi taman menggunakan cat avian berwarna biru. Setelah selesai mengecat, pria tersebut terlihat kagum dengan hasil kerjaannya karena kursi yang Ia cat terlihat mengkilap bahkan bisa memantulkan bayangan pria tersebut. Sampai disini, pesan dari iklan cat avian yang pertama sudah terpenuhi yaitu cat avian sangat mengkilap. Selanjutnya pria tersebut akan menempelkan selembar kertas yang bertuliskan “awas cat basah” agar orang yang melewati kursi tersebut tidak duduk di kursi yang baru saja di cat karena belum kering atau masih basah. Tiba-tiba kertas yang telah Ia siapkan tertiup angin kencang, dan pria tersebut berusaha mengejar kertas itu, saat sedang sibuk mengejar kertasnya, datanglah seorang wanita yang menggunakan gaun putih tipis. Wanita itu sedang asik memainkan handphone nya dan tanpa pikir panjang langsung duduk di kursi yang habis di cat. Wanita itu masik asik dengan handphone nya tanpa sadar dengan kursi yang sedang Ia duduki. Akhirnya pria yang membawa kertas tadi kembali dengan mimik muka yang sangat takut, lalu pria tersebut menunjukkan tulisan yang ada pada kertasnya. Seketika wanita itu kaget dan marah, lalu ia berdiri dan melihat gaunnya terkena cat atau tidak, gaun itu pun tersingkap sangat tinggi sehingga memperlihatkan bayangan pakaian dalamnya. Ternyata cat tersebut sudah kering. Pada pesan yang kedua juga terpenuhi yaitu cat avian tidak hanya mengkilap tetapi juga cepat kering.
    Dari cerita iklan diatas, saya melihat bahwa iklan ini mengandung unsur mesum, dan unsur mesum itu sengaja dibuat untuk menarik perhatian orang yang melihatnya. Tidak hanya unsur mesumnya saja tetapi pemanfaatan wanita dalam iklan tersebut. Padahal wanita itu tidak ada hubungannya dengan iklan cat tersebut. Keunggulan cat yang cepat kering tidak harus mengeksploitasi tubuh wanita. Karena banyak iklan cat lain yang mampu menyampaikan pesan tanpa harus mengeksploitasi tubuh wanita.
    Jadi iklan cat yang mengekspoitasi tubuh wanita adalah ide yang kurang kreatif dari sebuah perusahaan periklanan, produsen sebuah produk, bahkan televisi yang menayangkan iklan ini tanpa mempertimbangkan keadilan bagi wanita yang selalu dieksploitasi demi mendapat keuntungan.

    Suka

  3. Menurut saya iklan segar sari susu soda yang diperankan oleh julia perez masih pada batas yang sewajarnya,fashionnya pun tidak terlalu fullgar.Adegan yang diperankan oleh Jupe merupakan sebuah seni dan sangat profesional.

    Suka

  4. TUGAS 2 IKLAN TORI CHEESE CRACKERS

    Menurut saya, Iklan yang tidak etis adalah iklan tori-tori cheese cracker. karena didalam iklan tersebut terdapat seorang wanita yang menggunakan celana hot pants dan didampingi oleh dua orang pegulat dibelakangnya. Mereka menari fulgar dengan menggoyangkan pinggul mereka. Dan sebenarnya iklan dengan konsep yang sama juga diproduksi di Jepang pada tahun 2008. jadi bisa dikatakan iklan tersebut Plagiat
    Yang menjadi target iklan tersebut adalah anak-anak dan keluarga. Dimana produk yang ditawarkan adalah makanan ringan cheese crackers. Karena iklan tersebut dikhususkan untuk anak-anak, maka iklan tersebut sangat tidak etis untuk ditampilkan karena terlalu fulgar dan tidak mendidik. Apa hubungannya makanan dengan goyangan seronok? Apakah setelah makan, kita akan bergoyang? Ini sangat amat tidak logis. mengapa harus mengepakan pinggul bagian paha wanita? sedangkan ini adalah makanan yang ditunjukkan untuk anak-anak. Sangat tidak pantas jika ditonton olh anak-anak dibawah usia. Sangat tidak pantas untuk dijadikan contoh.

    Suka

  5. NARKOBA

    Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.
    Semua istilah ini, baik “narkoba” ataupun “napza”, mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.
    Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan menghilangkan rasa atau mengurangi rasanyeri..

    1. Narkotika dibagi dalam beberapa golongan

    a. Narkotika Golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan. tidak digunakan untuk terapi
    Contoh : heroin , kokain , ganja ,
    b. Narkotika Golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, digunakan pada terapi sebagai pilihan
    terakhir.
    Contoh : morfin dan pertidin
    c. Narkotika golongan III : berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi
    Contoh : Codein

    2. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif
    pada susunan saraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku, yang dibagi me –
    nurut potensi menyebabkan ketergantungan sebagai berikut :

    a. Psikotropika Golongan I : amat kuat menyebabkan ketergantungan dan tidak digunakan dalam terapi
    Contoh : MDMA ( ekstasi ). LSD dan STP
    b. Psikotropika Golongan II : kuat menyebabkan ketergantungan, digunakan amat terbatas pada terapi
    Contoh : amfetamin, metamfetamin. fensiklidin dan ritalin
    c. Psikotropika Golongan III : potensi sedang menyebabkan ketergantungan, agak banyak digunakan dalam terapi
    Contoh : pentobarbital dan flunitrazepam
    d. Psikotropika Golongan IV : potensi ringan menyebabkan ketergantungan dan sangat luas digunakan dalam
    terapi.
    Contoh : diazepam, klobazam, fenobarbital, barbital, klorazepam, klordiazepoxide dan nitrazepam ( Nipam,
    pil BK/koplo, DUM, MG, Lexo, Rohyp )

    3, Bahan adiktif lainnya , yaitu zat / bahan lain bukan narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak
    Tidak tercantum dalam peraturan perundang-undangan tentang narkotika dan psikotropika. Yang sering di
    salah gunakan adalah :

    a, Alkohol, yang terdapat pada berbagai minuman keras
    b. Inhalasi/ solven, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik,
    kantor dan rumah tangga.
    c, Nikotin yang terdapat pada tembakau.

    Agar upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba yang dilakukan tersebut dapat mencapai sasaran yang diharapkan, maka diajukan beberapa saran antara lain :

    (1) Perlunya peningkatan kualitas penyidik Polri khususnya pada Direktorat Narkoba, peningkatan anggaran penyelidikan dan penyidikan kasus Narkoba, peningkatan sarana dan prasarana pendukung, guna lebih memberdayakan Polri dalam mengungkapkan kasus penyalahgunaan Narkoba.
    (2) Melengkapi sarana deteksi Narkoba yang akan digunakan oleh aparat Bea dan Cukai di pintu masuk wilayah Indonesia, berupa detector canggih (x ray, scanning, dll), dog detector dan lain-lain sehingga dapat menggagalkan masuknya Narkoba ke Indonesia.
    (3) Perlu membuat Lembaga Pemasyarakatan khusus Narkoba pada beberapa kota besar di Indonesia, jika hal ini sulit tercapai maka perlu dilakukan pemisahan sel antara narapidana Narkoba dan narapidana bukan Narkoba.
    (4) Dilakukan revisi perundang-undangan yang mengatur pemberian sanksi kepada pengguna Narkoba khususnya bagi mereka yang pertama kali menggunakan, bukan diberikan pidana kurungan tetapi berupa peringatan keras, pembinan sosial seperti kerja sosial dan sebagainya.

    inesswariandini.blogspot.com

    Suka

  6. Iklan Coklat Dove Indonesia – Ramadhan Holyvian Irawan/44213210016/Public Relation

    Seperti yang kita lihat di televisi, iklan ini bercerita tentang wartawan wanita yang akan menginterview seorang actor. Karna di tolak interviewnya wanita tersebut memakan coklat Dove, dan seketika mood wanita tersebut yang tadinya sedih menjadi gembira setelah memakan coklat itu. Saat sedang menikmati coklat, actor yang menolak interviewnya tadi tiba tiba ada di sebelah wartawan wanita dan meminta coklat yang sedang di makan oleh wartawan wanita tadi. Lalu ada sebuah tirai yang menutupi mereka. Lalu iklan pun berakhir.
    Menurut saya iklan ini masih dalam batas wajar dan sama sekali tidak mengeksploitasi seorang wanita, baik itu mengekploitasi tubuh, suara, atau bagian yang lainnya. Dalam iklan yang di perankan oleh Arjun Rampal ini, si wartawan masih mengenakan pakaian yang sopan dan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi muka yang “menggoda”.
    Adegan selanjutnya pun tidak ada yang aneh atau absurd, mulai dari sang actor meminta coklat hingga pada saat scene terakhir di mana mereka berdua memakan coklat bersama sambil duduk di sebuah kursi. Dan yang menjadi perdebatan adalah setelah makan coklat bersama lalu menutup lah sebuah tirai. Tapi berlu di cermati bahwasanya di akhir iklan ini tirai tersebut terbuka dan memang tidak terjadi apa – apa di antara pemain di iklan tersebut. Bahkan sepengamatan saya bukanlah tirai yang menutupi mereka, melainkan itu adalah coklat yang divisualisasikan menjadi seperti tirai. Hal itu tidak mengherankan mengingat iklan ini memang merupakan murni iklan coklat yang tidak mengandung unsur pornografi maupun porno aksi.
    Dalam iklan ini, walau pun model dari iklan ini sendiri merupakan seorang aktris Bollywood, iklan ini masih di dubbing dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa produsen coklat ini serius ingin mengembangkan produknya di Indonesia. Karna tentunya dengan men-dubbing dengan menggunakan bahasa Indonesia, para konsumen di Indonesia dapat lebih mengerti apa yang sebenarnya di jual oleh produsen coklat ini dan dapat membuat semua orang yang menonton iklan ini penasaran dengan produk mereka dan akhirnya mau membeli produk mereka.

    Suka

  7. Saya ingin mengomentari iklan TOP White Coffee, dimana pemeran utamanya, yaitu seorang wanita, yang sedang mencium aroma white coffee. Ketika sedang menikmati aroma coffee nya, ia membayangkan ada seorang pria yang ingin mencium dirinya. Bagi saya tentu iklan ini tidak etis ditampilkan di televisi, karena penonton/pengguna televisi pun berasal dari usia yang berbeda, mulai dari balita hingga dewasa. Dari segi nilai tentu iklan ini tidak bagus, karena ada unsur sex nya, yaitu saat wanita ini hendak di cium oleh pria. Bagi saya jika pada saat anak-anak sedang menonton televisi dan melihat iklan ini, maka bisa jadi di otak anak akan tertempel “gambaran” adegan yang tidak pantas itu, dan pada akhirnya pun mereka menirunya. Jika orang tua tidak membimbingnya, maka akibatnya bisa fatal, yaitu rusaknya moral yang baik pada anak, dan ini akan menjadi dampak buruk bagi mereka di lingkungan sekitarnya. Dari segi moral, tentu iklan ini bisa merusak karakter masyarakat. Dari segi industri pertelevisian maupun hiburan, terkesan bahwa pemeran wanita ini “haus” akan perbuatan sexual, sehingga muncul kesan bahwa wanita ini adalah wanita “gampangan”. Iklan ini harusnya tidak ditayangkan di televisi karena adegannya yang mencerminkan moral yang buruk. Namun, mengingat daya berpikir/ daya “filter” si pembuat iklan dengan masyarakatnya yang kurang ataupun minim, maka untuk saat ini iklan white coffee ini masih ditayangkan…

    Suka

  8. Nama (NIM) : Devina Wulandari (44213210013)
    Jurusan : Public Relations
    MAta Kuliah : Sosiologi Komunikasi

    PARFUM AXE (iklan)
    Menurut saya, dalam tayangan iklan parfum axe “Bom Chicka Wah Wah” seorang perempuan terlihat sangat jelas sekali digambarkan sebagai sosok yang memiliki nafsu yang tinggi terhadap seks, bahkan secara berani seorang wanita melampiaskan nafsunya terhadap seorang pelayan pria yang mungkin belum ia kenal (dalam cerita iklan).
    Sedangkan dalam tayangan iklan parfum axe yang diperankan oleh Luna Maya dan partner partnernya, dalam iklan tersebut wanita digambarkan layaknya sebuah alat pemuas kebutuhan bagi kaum laki laki. Bahkan para wanita tersebut juga secara rela memenuhi dan memuaskan laki laki. Sedangkan laki laki begitu saja menerima perlakuan wanita tersebut layaknya kucing yang tidak ingin menolak ikan yang telah ada didepan matanya. Menurut saya, axe terlalu berlebihan dalam memasarkan produknya sebab dalam menayangkan iklannya alur cerita yang digambarkan sangat berbanding terbalik dan bahkan tidak ditemui dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, dalam kehidupan yang nyata ini tidak ada satu pun bidadari yang turun menghampiri seorang lelaki yang memakai parfum axe karena wanginya yang begitu memikat seperti yang digambarkan oleh iklan axe dalam memasarkan produknya. Saya rasa tidak ada juga wanita yang mengejar ngejar laki laki yang memakai parfum axe.
    Menurut saya, produk axe seperti meremehkan wanita. Dalam beberapa tayangan iklan yang dimiliki produk tersebut, pihak axe cenderung merendahkan wanita. Wanita selalu digambarkan sebagai sosok yang memiliki nafsu seksualitas yang tinggi dan wanita juga digambarkan secara sukarela berlomba lomba melayani dan memuaskan laki laki. Saya rasa sangat disayangkan karena wanita wanita tersebut mau saja memamerkan aurat, dan melakoni hal hal aneh demi mendongkrak popularitasnya. Bahkan wanita wanita dalam dunia hiburan entertaint ini juga menganggap semakin mereka berani terbuka untuk melakukan hal hal yang berbau seks maka mereka menganggap dirinya adalah seorang profesional. Seperti yang diungkapkan oleh D* pada beberapa bulan kebelakang saat diwawancarai oleh wartawan.
    Menurut saya, tayangan tayangan iklan yang ditampilkan oleh produk axe dapat memacing para penonton khususnya laki laki dalam menaikkan nafsunya terhadap seks dan perempuan. Secara gamblang, adegan adegan yang seharusnya tidak menjadi konsumsi untuk anak anak ini juga dapat memancing anak anak untuk meniru apa yang mereka lihat. Mungkin karena kesalahan dalam mendraft iklan, anak anak bisa saja mengetahui, mengerti, dan bahkan melakukan hubungan seks sebelum waktunya.

    Suka

  9. Karina = Iklan Lux
    Iness = Iklan Tori-tori
    Devina = Axe
    Dea = Top White Coffe
    Ria = Iklan Cat Avian
    Restu = Isotonic
    Holivian = Coklat Dove
    Harun = Mie Sedap
    Rachmadi = Segar Sqari Julia Perez
    Putri = Iklan Kondom Durex
    Riko = Iklan Aladin Jarum 76

    Suka

  10. “Analisa tentang wanita akan menggantikan peran pria dalam berbagai sisi kehidupan, baik peran dalam ekonomi, politik, budaya dan maupun dalam peran menjalankan bisnis”

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s