M Ranto Gulo, ST, M.IKom : 5 Kesalahan Joko Widodo Yang Harus Segera Diperbaiki, Masih ada waktu

cropped-new-design-mrg-merah-putih.jpgFenomena Joko Widodo menjadi trend rating dibeberapa media massa dan media online bahkan turut dirilis dan dikutip oleh berita resmi beberapa negara sahabat. Sebelum dicalonkan menjadi CAPRES dari PDI Perjuangan, Gubernur DKI yang baru saja memerintah 1 tahun itu digadang-gadang oleh media untuk segera memprolamirkan diri sebagai CAPRES PDI Perjuangan. Tekanan media melalui jejaring sosial sangat mendesak dan dirasakan oleh kubu PDIP, sehingga Megawati selaku Ketua Umum partai berlambang moncong putih kerbau itu, tak kuasa menahan lebih lama lagi menahan arus bawah pendukung Joko Widodo menjadi calon RI 1. Banyak kalangan menilai bahwa restu Ketua Umum itu berkesan setengah hati karena berbagai alasan.

Megawati mengeluarkan mandat tulisan tangan disecarik kertas tanpa logo partai, memerintahkan Joko Widodo untuk mengemban tugas partai. Teman-teman journalis sudah mulai gerah menghadapi gaya komunikasi politik Megawati yang dinilai sangat pelit restu itu. Celakanya, Ketika Joko Widodo resmi mengumumkan pencalonanannya, sontak menuai banyak kritik. Banyak kalangan bertanya mengawapa Megawati tidak hadir pada saat deklarasi CAPRES tersebut. Alhasil representasi media menjadi blunder, dimana dukungan penuh kepada Joko Widodo selama ini, rontok dan satu persatu mulai cabut diri; teman-teman wartawan mulai mengkritisi gaya Komunikasi Politik Mega yang diduga tidak ikhlas atas penunjukkan Jokowi; Inilah kesalahan pertama yaitu tidak ‘clear’nya antara Mega dan Jokowi secara terbuka dan transparan. Ada teman Journalis bertanya “Bu, Mengapa menunjuk Jokowi yang jelas-jelas bukan titisan Soekarno? Apa itu Ikhlas?”. Sontak bu Mega berbalik arah, dan hanya melempar senyum tanpa menjawab pertanyaan itu.

Kesalahan kedua, Ketika Joko Widodo ditanya apapun mengenai topik ‘Pencalonannya’, terkesan selalu menghindar dan berkata “tidak tau…” kalau didesak terus menerus maka jawabnya “terserah bu Mega, Tanya Bu Mega, apa Kata bu Mega”. Kesalahan fatal ini, dirilis oleh media televisi dan menjadi trend topic, saat itulah teman-teman media mulai antipati, dan media online rata-rata menulis kejanggalan jawaban Joko Widodo. Penting bagi rakyat Indonesia sebuah jawaban ‘jantan’ Jokowi sebagai seorang pribadi yang mandiri dan memiliki prinsip yang akan memimpin sebuah Negara bukan ekelas Kotamadya atau Provinsi. Karena membosankan maka fenomena “Media Darling” itu kini rontok satu-satu, karena apa? Gaya Komunikasi Politik Joko Widodo terkesan ragu-ragu, bahkan tampil sangat hati-hati dan menunjukkan rasa sungkan berlebihan terhadap Megawati.

Kesalahan Ketiga, Wawancara Joko Widodo di salah satu TV swasta semakin blunder, ketika ditanya mengenai Visi dan Misi yang diembannya, belum disipakan, belum siap atau belum ada. Menurutnya sedang digodok oleh team Litbang Partai. Pertistiwa ini membuat masyarakat terkaget-kaget karena yang selama ini diidolakan ternyata belum memiliki kepastian Visi dan Misi yang jelas. Kesannya dipaksakan dan serba mendadak; situasi itu meninggalkan kesan jelek kepada para journalis dan akhirnya memuncak; “…dari semua kekesalan itu, teman-teman wartawan mulai menarik diri menjelang satu hari sebelum Pemilu 09 april 2014″.  Buktinya berita tentang Jokowi efek drop total dan hampir tidak ditemukan di harian-harian nasional. Alhasil target pencapaian suara sesuai target 35% itu hanya terealisasi 19.2% menurut rilis beberapa lembaga survey. Banyak kalangan bertanya mana efek Jokowi (Jokowi Effect)?

Kesalahan Keempat, Joko Widodo dinilai oleh banyak pihak, terlalu kebablasan dengan merangkul sebuah Negara Super Power dengan motif tersembunyi. Ada relasi dan kepentingan rahasia yaitu hegemony kaum kapitalis berada dibekang skenario ini. Seorang pengusaha berhasil melakukan loby untuk merancang pertemuan naas itu. Kesalahan fatal ini dipamerkan dihadapan 250 juta rakyat Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, telah menyinggung perasaan kebangsaan. Kesannya  seakan-akan NKRI tidak bisa mandiri. Padahal ideologi BERDIKARI pikiran Ir. Soekarno yang dipuja oleh pendukung parta PDIP itu sangat bertolak belakang. Mungkin Mega dan Joko lupa, ideologi Ir. Soekarno (Sang Proklamator) pribadi yang berani menolak dengan keras Hegemony Amerika di masa itu, kini Jokowi malah melecehkannya secara nyata-nyata dengan memamerkan pertemuan itu sebagai restu negra super power itu. Rakyat bertanya, pada Tahun 1945-1966 Ir. Soekarno menyatakan ingin setrika Amerika, tetapi mengapa 2014 Joko Widodo menyatakan sembah Amerika?

Kesalahan Kelima, Gaya Komunikasi Politik Joko Widodo yang cenderung memamerkan hubungan intimnya dengan para Konglomerat membuat rakyat sakit hati. Bukankah PDI Perjuangan itu partainya wong cilik ya ? Disinilah kesalahan fatal terjadi, dimana omongan dan platform ‘partai wong cilik itu’ nyata-nyata di khianati. Kasak-kusuknya para pengusaha dibelakang suksesnya partai dan dukungan kepada Jokowi itu merupakan aksi berlebihan. Blunder kelima ini, membuat sahabat kita ‘para kuli tinta’ menahan penanya untuk memuja Joko Widodo lagi. Jejaring sosial sepi, karena tuduhan dimana Joko Widodo itu tetap saja tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh para kaum KAPITALIS yang juga telah membuat pemerintahan Megawati blunder kala itu berkuasa menjadi Presiden RI, dan akhirnya tahun 2004 kalah total pada Pilpres. Kecurigaan masyarakat kepada Megawati saat itu memuncak karena berita-berita seputar lepasnya beberapa Usaha Milik Negara ke tangan asing, bahkan turut memperkeruh suasana ketika beberapa pulau lepas dari NKRI. Masyarakat kita itu tidak mudah melupakan peristiwa yang menyakitkan itu, oleh karenanya Joko Widodo jangan meneruskan kebijakan ini; seharusnya berhati-hati. Sebab wilayah topik ini rawan opini negatif. Sebaiknya menahan diri dulu, agar perhelatan PILPRES ini dapat sukses.

Apakah Joko Widodo masih gemar membuat blunder baru? Menurut analisa saya, fenomena ini akan dibuktikan sejalan dengan waktu; masih banyak kemungkinan bisa terjadi. Saya rasa masih ada waktu untuk menebus kesalahan ini, agar JOKO WIDODO Sang Gubernur DKI itu masih dicintai oleh media. Gaya Komunikasi Politiknya dirubah dan dibuat lebih greget. Selamat Berjuang Pak Joko.

Mustika Ranto Gulo, ST.M.Ikom

Dosen Ilmu Komunikasi

Universitas Mercu Buana Jakarta

Indonesia

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s