Gulo, Mustika Ranto Carier

Cyber Politics dan Fenomena Negara SuperPower

By Mustika Ranto Gulo

Cyber Politics

Informasi digital sangat mudah menjangkau siapapun tanpa filterisasi data yang berarti. Itulah sebabnya cyber politik sangat efektif dalam melakukan trik-trik yang legal dan illegal. Begitu mudahnya menjatuhkan lawan melalui penyeberan berita dan informasi yang saling mencitrakan secara negative kepada lawan pilitik. Bahkan untuk mendobrak citra pribadi juga sangat efektif, bahkan data informasi tersebut tersimpan dalam sebuah server yang bisa di download dan dibaca setiap saat oleh klikers.

Negara maju selalu diindentikan dengan kemajuan teknologi informasi dalam negara tersebut. Baik penguasaan infrastruktur maupun dalam rangka penguasaan daya cipta aplikasi. Negara berkembang sering direndahkan dengan kata “negara follower” saja.

Digitalisasi informasi memang memudahkan pengelolaan data, tapi itu juga berarti memudahkan kontrol dan manipulasi atas subjek-subjek. Sekali suatu materi telah menjadi data digital, ia bisa disimpan atau ditransfer pada tingkat bilangan atau digit. Artinya, siapa saja yang bisa mengontrol bahasa elektronik tersebut, ia juga akan mengontrol produksi realitas, paling tidak dalam ruang digitial.[31] Karena itu Poster melihat bahwa digitalisasi informasi justru memudahkan orang dengan kepentingan ICT nya tunduk dibawah pengendalian para Negara superpower tersebut.

Komunikasi Politik Melalui Media Internet

Internet merebak di Indonesia pada tahun 1990an. Dimulai dari pagayuban network sekarang berkembang menjadi luas. Pengguna internet di Indonesia sekarang mencapai 33 juta orang. Hal ini juga berdampak pada komunikasi politik dengan media internet, atau sering disebut dengan cyber politic. Cyber politic di Indonesia mengalami perkembangan beberapa tahun terakhir. Banyaknya sarana yang mendukung perkembangan cyber politic seperti adanya facebook, friendster, mailing list, you tobe, dan lain – lain.

Strategi kampanye baik yang berisi kampanye putih maupun kampanye hitam yang dilakukan dalam komunikasi politik dengan menggunakan bantuan media internet atau yang disebut dengan viral marketing. Dengan bantuan media internet kita bisa menyalurkan visi, platform, trade record calon pemimpin di sarana – sarana intenet.

Fasilitas Internet serta aplikasi yang ada di dalamnya merupakan jaring-jaring interkoneksi antar database digital berukuran sangat besar. Bagi Poster, koneksi ke dalam jaringan internet tidak lain adalah proses yang menjadikan tubuh kita terikat kuat ke dalam struktur database sebagai satu informasi di tengah informasi yang lain (informatically tied-down). Ketika seseorang melakukan transaksi ekonomi menggunakan kartu kredit melalui internet, misalnya, ia pada dasarnya sedang mengikatkan dirinya pada struktur pengawasan elektronik dalam sistem database digital.

Teknologi kekuasaan yang beroperasi melalui internet, itu menyerupai gagasan Jeremy Bentham tentang sistem struktur penjara Panopticon. Tapi yang diawasi bukan tubuh biologis seperti dalam penjara Panopticon, melainkan representasi digitalnya. Poster memberi nama struktur pengawasan ini Superpanopticon, sebuah sistem pengawasan yang tanpa dinding, jendela, menara, atau pengawas.[32] Poster menurunkan argumennya tersebut dalam kalimat-kalimat berikut: Database, menurut saya, beroperasi sebagai sebuah super-panopticon. Seperti penjara, database bekerja secara terus-menerus, sistematis dan tersembunyi, mengumpulkan informasi tentang individu-individu dan menyusunnya menjadi profile-profile. Tidak seperti panopticon, para “tahanan” tidak perlu dikurung dalam arsitektur apa pun; mereka hanya perlu menjalankan kehidupan rutin sehari-harinya. Super-panopticon dengan demikian lebih tidak terang-terangan daripada pendahulunya, tapi ia tidak kurang efisiennya dalam melakukan tugas normalisasi…Komputer dengan mudah mempertukarkan berbagai database, informasi dalam satu komputer bisa diakses oleh yang lain. Dengan sangat cepat, informasi dari database-database tersebut melintasi dunia dalam cyberspace. Database-database “mengawasi” kita tanpa mata dari penjaga penjara mana pun, dan mereka melakukannya jauh lebih akurat dan menyeluruh dari manusia mana pun.[33]

Sistem database, dengan demikian, tidak jauh berbeda dari prakek seklusi (seclusion) dalam penjara: semua informasi pemakai internet dimasukkan ke dalam sebuah arsitektur sistem konversi digital yang tertutup (bagi mereka yang tidak menggunakan internet), dan sepenuhnya bisa diawasi. Teknologi kekuasaan dalam super-panopticon melakukan dua hal kepada para pemakai internet. Pertama, ia mengimposisikan norma, mendisiplinkan subjek-subjek untuk berpartisipasi dengan mengisi formulir, mencantumkan nomor asuransi sosial, atau menggunakan kartu kredit. Kedua, ia membentuk sebuah diri-diri tambahan (complementary selves) untuk subjek-subjek tersebut, dengan nama yang sama tapi yang secara digital telah dihilangkan ambiguitasnya, karena kepribadiannya dibuat secara artifisial dari data yang telah dicocokkan.[34]

Sekali kita terjebak ke dalam jaringan database di internet, menurut Poster, tidak ada lagi tempat berlindung untuk bisa bebas dari pengawasan atau untuk melakukan resistensi. Orang bisa bebas bepergian ke mana saja dalam lautan informasi, tapi tidak pernah bisa keluar dari jaring-jaring database yang mengurungnya. Meskipun sampai saat ini belum ada satu pun organisasi mampu secara total melakukan pengawasan a la sistem struktur Panopticon terhadap seluruh aliran informasi dalam internet, tapi apa yang bisa dibaca dari usulan Poster adalah terdapatnya potensi teknologis dalam internet untuk menjadi sebuah medium kontrol sosial, yang bertolak belakang dengan impian internet sebagai pendorong demokratisasi emansipatoris.

Pembentukan opini melalui informasi digital sangat efektif karena menjangkau masyarakat secara individu. Di lain pihak, publik akan memberikan apresiasi kepada wakil rakyat, apakah di kalangan eksekutif maupun legislatif manakala memberikan kontribusi besar dalam bentuk prestasi-prestasi yang membanggakan. Prestasi yang patut dikejar para wakil rakyat jika merekaberada di Senayan adalah dengan melahirkan undang-undang yang berkualitas untuk kepentingan rakyat, mengedepankan politik anggaran sesuai kebutuhan secara transparandan akuntabel, menjadi mitra kritis pemertintah, serta melakukan kontrol atas anggaranpenyelenggaran negara sesuai tugas yang melekat pada mereka meliputi:

legislature,budgeting, controlling

. Mengubur citra masa lalu yang hanya menjadi ”stempel” atas

permintaan Presiden. Adapun ketika menduduki jabatan eksekutif tentu harus mengacupada standar-standar

 good governance,

yang mengedepankan profesionalitas, akuntabel,transparan dan standar lainnya, sebisa mungkin mampu menciptakan regulasi yangmendorong perubahan dari meja pengambilan kebijakan. Dalam negara demokrasi,kalangan eksekutif adalah tulang punggung pembangunan dan percepatan pembangunan.Sebaliknya, sudah pasti, kasus-kasus berupa skandal penyalahgunaan wewenang berbentuk korupsi akan menenggelamkan cerita kinerja para pengelola negara, baik eksekutif maupunlegislatif. Tidak sedikit cerita kelam para pengelola negara harus berakhir teragis lantarantidak mampu menjaga mandat yang diberikan rakyat kepadanya. Negeri ini juga beberapakali harus menyaksikan sendiri bagaimana kekuatan rakyat mampu menggulingkanpemerintahan yang tidak mendengarkan aspirasi rakyat sekaligus melakukan skandal yangmerugikan rakyat.

[24] Tentang Bentham saya mengacu pada karyanya, The Panopticon Writings, yang disunting oleh Miran Bozovic (ed). London: Verso, 1995: 29-95. Naskah lengkapnya terdapat pada alamat situs <http://cartome.org/panopticon2.htm&gt;. 5 Oktober 2002.

[25] Michel Foucault, Discipline & Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books, 1995: 201-02.

[26] ibid, 1995: 201.

[27] Lihat, ibid, 1995: 204.

[28] ibid, 1995: 228.

[29] David Lyon, Surveillance Society. Monitoring Everyday Life. Buckingham and Philadelphia: Open University Press, 2001: 2.

[30] Mark Poster, The Second Media Age. Cambridge: Polity Press, 1995a: 85.

[31] Nikhilesh Dholakia, dan Detlev Zwick, “Privacy and Consumer Agency in the Information Age: Between Prying Profilers and Preening Webcams” The Journal of Research for Consumer, Issue 1, (2001): 5.

[32] Mark Poster, The Mode of Information. Chicago: The University of Chicago Press, 1990: 93.

[33] Mark Poster, Op.cit., 1995a: 69.

[34] David Lyon, The Electronic Eye: The Rise of Surveillance Society. Minneapolis: University of Minnesota Press, 1994: 69-70.

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s