Digital Storytelling by Mustika Ranto Gulo

Digital Storytelling

Ahli KomunikasiDulu orang tua kita bertutur dalam bahasa yang sederhana dengan cerita turun temurun tanpa dokumen tertulis. Perkembangan teknologi kian mendominasi perkembangan hidup manusia dari hari ke hari, seperti apa nyatanya sekarang bahwasanya cerita-cerita itu telah menjadi sebuah cerita dalam bentuk dokumentasi digital. Apa yang berubah, siapa yang bercerita bukan orang tua kita lagi tetapi sebuah cerita narasi dalam bentuk film, kartun dan sebagainya. Mulai dari kebutuhan akan informasi, hiburan, mengekspresikan diri, penemuan identitas diri, sampai dengan aktualisasi diri, semua dapat direalisasikan dengan mudahnya atas kehadiran teknologi dalam segala macam bentuk rupa dan keinginan dari manusia itu sendiri, bahkan bisa direkayasa dengan seni tersendiri.

Akibat perkembangan teknologi tersebut, maka budaya yang muncul selanjutnya bukan lagi pada budaya bercerita melalui media digital itu sendiri. Budaya bercerita adalah kultur yang ditemukan di setiap komunitas budaya di dunia ini. Perkembangan tradisi bercerita, terkait dengan metode komunikasinya dari zaman ke zaman dan seiring terjadinya perkembangan teknologi. Sehingga istilah atau definisi mengenai bercerita juga berubah sesuai berkembang jamannya masing-masing. Teknologi sekarang telah disesuaikan keberadaannya dengan kebutuhan manusia, maka dikenal juga adanya teknologi yang mudah dan bersahabat. Sebagai salah satu contoh, untuk merealisasikan keinginan mendasar dari manusia dan mengetahui informasi apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekeliling kita, maka terdapat teknologi yang dikenal dengan internet. Internet mampu menyajikan kebutuhan tersebut secara langsung dan cepat pastinya kepada yang memintanya dalam bentuk portal berita secara langsung ataupun koran elektronik.

Dalam berbagai kreatif yang ada maka budaya yang berkembang pesat selanjutnya justru budaya visual. Budaya visual merupakan wujud paling tidak netral dari sebuah kebudayaan lantaran kehadirannya berkaitan erat dengan ideologi, inovasi teknologi, tuntutan ekonomi, dinamika sosial, dan politik kebudayaan yang mendarah daging dari si pembuatnya. Budaya ini bukan sekedar baju yang berada pada lapisan terluar dari sebuah budaya, melainkan lebih jauh justru menggambarkan struktur pembentuk dari sebuah peradaban yang sebenarnya. Perkembangan budaya visual memasuki dunia pendidikan bahkan rekayasa industry pada proses produksi tertentu, sehingga kehadirannya yang begitu luas, seringkali justru tumpang tindih dengan kajian lainnya yang begitu mirip lantaran juga menganalisis apa yang sebenarnya terlihat oleh mata dan dinikmati oleh mata. Hanya saja perbedaan kajian budaya visual ini lebih mendalam dan melihat unsur yang membentuknya sampai dengan elemen terdalam, lain halnya dengan kajian film, animasi, video games, periklanan ataupun kajian internet sendiri yang cenderung hanya mengkaji apa yang terlihat secara langsung dan hasil yang nyata.

Salah satu aplikasinya adalah Cerita film, yang juga salah satu bentuk budaya bercerita. Ekspresi dan kreativitas manusia dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, antara lain disampaikan melalui karya cinema merupakan bentuk budaya bercerita. Dalam film tidak hanya kata-kata verbal dan isi cerita saja yang ditampilkan melainkan termasuk pula animasi-animasi visual dan efek-efek manipulatif yang dihasilkan, yang semua itu merupakan representasi dari ide atau pesan-pesan yang ingin disampaikan para pembuat film tersebut. Tidak berhenti pada film, era tutur verbal yang telah berlalu juga ditunjukkan dengan demokratisasi informasi dengan cara lain yaitu penyajian dalam bentuk tulisan yang lebih berwarna. Apabila pada zaman dahulu hanya akan terbatas pada penggunaan sms, maka pada zaman sekarang, semua orang semakin ingin memberitahukan keadaan dirinya kepada dunia yang ia sajikan melalui spam yang ia sajikan di timeline twitter, atau ada juga yang justru curhat di status facebook ataupun BBM. Bahkan ada lagi yang membutuhkan tempat yang lebih banyak untuk menyajikan apa yang ia inginkan, butuhkan, dan rasakan. Maka berpanjang cerita melalui blog bukan lagi menjadi hal yang baru atau aneh di era media digital seperti sekarang ini.

Di era informasi dan digital hampir tak ada bidang kehidupan (sosial, politik, ekonomi, budaya) yang bisa langsung berperan tanpa peran teknologi informasi di dalamnya. Perkembangan teknologi informasi mutakhir, disadari maupun tidak telah mengkondisikan masyarakat hidup dengan dominasi unsur citraan (image), khususnya citra visual. Ini telah mengubah cara komunikasi, interaksi antarmanusia yang kini bergantung pada keberadaan citraan dan media visual tersebut. (Piliang.2003:105).

Bukan hanya berpengaruh dalam praksis sehari-hari, kondisi ini menurut Piliang juga memicu berkembangnya ilmu baru dalam hal komunikasi dan pencitraan yaitu imagologi. Yakni ilmu tentang citra atau imaji serta peran teknologi informasi dalam membentuk citra tersebut. Perkembangan ilmu ini (imagologi) tak bisa lepas dari perkembangan teknologi pencitraan terkini seperti televisi, video, internet, surveillance (pengintaian), satelit dan realitas virtual yang menciptakan sebuah dunia yang di dalamnya aspek kehidupan setiap orang sangat bergantung pada dunia citraan.

Dominasi dunia citraan tersebut telah menciptakan sebuah budaya baru yang disebut budaya visual (visual culture), yaitu sebuah budaya yang bertumpu pada unsur-unsur visual sebagai unsur utama pembentuknya. (Piliang. 2003:151-152).

Definisi lain soal budaya visual disampaikan Sachari (2007). Menurut  Sachari, budaya visual adalah tautan wujud kebudayaan konsep (nilai) dan kebudayaan materi (benda) yang dapat segera ditangkap oleh indera visual (mata), dan dipahami sebagai model pikiran manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. (Sachari. 2007:1).

Budaya visual tak sekedar “baju” dari sebuah peradaban material, melainkan sebuah hakikat dari struktur budaya pembentuknya. Pilar-pilar pembentuknya adalah kreativitas nilai, inovasi, penciptaan teknologi baru, ideologi komunikasi, politik kebudayaan, dinamika sosial, tatanan ekonomi global, hingga segala sesuatu yang sifatnya mendasar dalam membentuk bangun sebuah peradaban. (Sachari: 2007).

Menurut Sachari, perkembangan budaya visual di Indonesia tak lepas dari hegemoni ideologi, politik kebudayaan dan juga perluasan wilayah pemasaran produk industri. Sachari (2007:5) mencatat setidaknya ada tiga permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam perkembangan budaya visual yakni melemahnya nasionalisme, hilangnya jatidiri dan hegemoni budaya kuat.

Era ini memungkinkan setiap manusia untuk dapat merepresentasikan siapa dirinya yang sebenarnya tanpa perlu malu dan ada satu hal pun yang diutup-tutupi. Cerita digital berkembang sangat pesat karena adanya  media teknologi yang dapat digunakan secara praktis. Ada semua jenis cerita dalam hidup kita bahwa kita dapat berkembang menjadi bagian multimedia. Cerita-cerita dapat dibuat tentang hubungan penting ke penting lainnya, menghormati dan mengingat orang-orang yang telah berlalu, cerita petualangan atau accomplihments dalam kehidupan seseorang, di tempat tha penting untuk pendongeng, pada pekerjaan seseorang, pada pemulihan, cinta atau penemuan.

Perkembangan teknologi di bidang media dan  telekomunikasi, budaya bercerita klasik berkembang ke arah digital sehingga kita kenal istilah bercerita digital. Bercerita digital adalah skala kecil sebagai bentuk media, lebih singkat dari yang lama, dibuat dengan peralatan yang mempunyai teknologi baru. Produksi yang tidak mahal misalnya, pembesaran gambar dengan mudah dibanding gambar bergerak. Isi cerita berpusat kepada penulis itu sendiri, mulai dari kehidupan pribadi, pengalaman sampai diceritakan dalam suaranya sendiri.

Dengan kemudahan pembuatan cerita digital, banyak sekali hal-hal yang menyangkut pengalaman manusia yang dapat di digitalkan dan kemudian dipublikasikan. Hal ini kemudian, dijadikan alasan untuk mendifinisikan bercerita secara lebih luas, menjadi keduanya mediasi representasi diri, melibatkan digitalisasi manusia biasa bercerita, ditampilkan di website publik, dilakukan melalui lembaga-lembaga budaya dalam masyarakat. Dan sebagai ruang bercerita digital untuk mencakup seluruh jajaran cerita pribadi sekarang diberitahu dalam bentuk berpotensi publik menggunakan sumber daya digital media. Hal tersebut tidak bertujuan gambaran yang komprehensif dari semua bentuk cerita digital pribadi, dan bukan beberapa isu politik dan teoritis di formulir dibawa ke kedepan.

Proses bercerita menyediakan alat untuk mengirimkan pengetahuan dalam konteks sosial. Pengetahuan manusia adalah berbasis kepada cerita dan otak manusia berisi mesin kognitif yang diperlukan untuk memahami, mengingat dan bercerita. Mengacu pada pendapat beberapa ahli bercerita adalah aktivitas berbagi pengalamanya dan menginterpretasikan pengalaman. Cerita adalah umum dan dapat berfungsi sebagai jembatan kebudayaan, bahasa dan era yang terpisah. Bercerita dapat digunakan untuk mengajarkan etika, nilai-nilai serta norma-norma budaya yang berbeda.

Manusia adalah organisme bercerita secara perorangan dan kehidupan sosial. Cerita mencerminkan fikiran manusia sebagai fikiran manusia dalam struktur narasi dan lebih sering ingat. Fakta bisa dipahami sebagai versi kecil dan versi besar. Dengan demikian story telling dapat menambah kemampuan analisa.

Internet telah memperluas tempat untuk bercerita digital. Internet menawarkan pilihan untuk cerita klasik dari berbagai belahan dunia untuk dibagikan di berbagai lingkungan media. Ada blog,  Facebook, YouTube, MySpace dan lain lain.

Pada dasarnya, bercerita adalah representasi diri. Dalam alam demokrasi yang bebas, tiap orang ingin menampilkan dirinya dan dapat dengan mudah melakukan itu. Mereka juga dapat memilih untuk menampilkan identitas yang sebenarnya atau tidak. Dalam teknologi media baru yang disajikan dan diberikan oleh sosial media tidak ada proses verifikasi identitas penceritanya. Mereka bisa menampilkan diri sebagai bukan dirinya, misalnya dengan nama samaran.

Kegemaran manusia untuk menampilkan dirinya mendapat ruang yang leluasa di internet. Pengakuan atau penerimaan dari lingkungan biasanya diindikasikan dengan adanya respon atau timbal-balik berupa komentar-komentar, kritik dan saran atau hanya sekedar simbol jempol untuk menyukainya. Hal seperti ini pula yang menyebabkan perkembangan sosial media tumbuh sangat pesat. Konsekwensi dari itu semua, mendorong munculnya fenomena baru, yaitu apa yang disebut sebagai mediatization.

Memang, agak sulit mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia, khususnya untuk menafsirkan mediatization. Uraian yang mendekati maksud kata tersebut adalah pemediaan, atau memediakan, sebagai persamaan dari mediatisasi atau medianisasi. Mediatization berbeda makna sangat signifikan dengan mediasisasi. Mediasisasi boleh dikata sama artinya dengan mediasi, namun pemahaman yang dikembangkan adalah bahwa media dipandang sebagai media yang netral. Hanya sebagai medium atau alat untuk mentransmisikan atau menyalurkan pesan-pesan.

Upaya pemediaan mengandung maksud tertentu yang secara sengaja menggunakan media untuk mempublikasi sebuah ide, gagasan, keinginan dan menyebar pengaruh kepada khalayak. Karena ada muatan ideologisnya, maka pemediaan cenderung manipulatif dan bernuansa politis.

Pada akhirnya, kegemaran bercerita manusia yang disalurkan melalui media internet menumbuhkan budaya baru, yaitu budaya menulis. Dengan adanya budaya menulis, secara langsung pula menumbuhkan budaya membaca sehingga melahirkan budaya yang positif di masyarakat. Interaksi person to person, feed back dari publik atas sebuah storytelling merupakan proses pertukaran ide dan makna yang akan membawa kemajuan. Apalagi bisa dilakukan koreksi secara berkala berdasarkan komentar para pembaca juga.

Referensi

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_storytelling
  2. Lundby, Knut. 2008. Digital Storytelling, Mediatized Stories: Self-Representations in New Media. New York, Washinton, D.C./Baltimore, Bern, Frankfurt am Main, Berlin, Brussels, Vienna, Oxford: Peter Lang.
  3. Hartley, John dan McWilliam, Kelly. Story Circle: Digital Storytelling Around the World (ed). West Sussex. Blackwell Publishing. 2009
  4. Miller, H Carolyn. Digital Storytelling: A Creator’s Guide to Interactive Entertainment 2nd-ed. Oxford. c. 2008
  5. Lundby, Knut. (Ed) (2008). Digital Storytelling, Mediatized Stories: Self-Representations in New Media. New York, Peter Lang Publishing Inc. 2008.
  6. Piliang, A Yasraf. Hantu-hantu Politik dan matinya Sosial. Solo. Tiga Serangkai. 2003.
  7. Sachari, Agus. Budaya Visual Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga. 2007.

 

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s