Komunikasi Multimedia

Cyberspace dan Cybercommunity

Oleh Mustika Ranto Gulo

Cyberspace dan Cybercommunity

Cyber space diartikan sebagai jaringan dunia maya yang tidak kelihatan sedangkan cyber community adalah kumpulan orang-orang yang ada di dalamnya. Ciri khasnya adalah tanpa batas wilayah territorial dan tanpa mengenal suku ras dan bangsa. Memang masih banyak hal yang mencirikan cyber space ini. Dalam tulisan Surya kelana (Kompasiana) mencoba untuk memberikan sumbangsih arti Apa itu Cyberspace? Kita sering mendengar kata cyberspace, tapi kita tidak tahu apa arti kata cyberspace itu. Disini saya akan sedikit menjelaskannya. Cyberspace berakar dari kata latin Kubernan yang artinya menguasai atau menjangkau. Sedangkan kata Cyberspace pertama kali digunakan oleh William Gibson dalam novel fantasi ilmiahnya Neuromancer yang terbit pada tahun 1984. Menurutnya dalam Neuromancer pada halaman 69 :

Cyberspace. A consensual hallucination experienced daily by billions of legitimate operators, in every nation, by children being taught mathematical concepts… A graphic representation of data abstracted from banks of every computer in the human system. Unthinkable complexity. Lines of light ranged in the nonspace of the mind, clusters and constellations of data. Like city lights, receding, .

Dia juga menggambarkan Meatspace dan Cyberspace sperti koin uang logam. Meatspace sebagai dunia nyata dan Cyberspace sebagai dunia maya sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan. Kata ini sendiri dipopulerkan oleh Bruce Sterling dan John Perry Barlow.

Cyberspace secara de facto diangggap sebagai jejaring Internet, kemudian World Wide Web. Sehingga saat ini kita berasumsi Cyberspace sama dengan internet.

Secara sederhana, internet mungkin bisa dipahami pertama-tama sebagai sebuah cara atau metode untuk mentransmisikan bit-bit data atau informasi dari satu komputer ke komputer lain dari satu lokasi ke lokasi lain di seluruh dunia. Arsitektur internet menyediakan beberapa teknologi pengelolaan data digital sehingga informasi-informasi yang dikirim tersebut bisa dipecah menjadi beberapa paket, lantas dikirim melintasi jaringan antar komputer, dan akhirnya ditata ulang oleh komputer penerima. Semua jenis informasi pada prinsipnya akan diperlakukan sama dalam arti bahwa bit-bit tersebut akan dikirim dengan cara yang sama tidak peduli apakah itu merupakan representasi teks, audio, gambar, atau video. Boleh jadi karena itu pula banyak orang yang menganggap internet sebagai teknologi bersifat netral.

Akan tetapi dalam kerangka pemahaman ilmu sosial, yang dipentingkan tentu saja bukan bagaimana bit-bit itu diproses, dipecah-pecah, dikirim, dan lantas ditata ulang untuk menjadi informasi yang lengkap, melainkan lebih pada bagaimana transmisi tadi juga memungkinkan terbentuknya relasi di antara bit-bit data elektronik yang diproses, sehingga bisa menghasilkan informasi yang bermakna. Kumpulan bit-bit data elektronik yang tidak bisa ditetapkan pola relasional di antara sesamanya, tidak akan menghasilkan makna apa pun, dan hanya akan tetap sebagai informasi mentah belaka. Merujuk argumen Hine, pola-pola yang dihasilkan oleh bit-bit informasi yang dikirim tersebut sebenarnya memang menghasilkan makna-makna tertentu, sejauh bisa diinterpretasikan oleh perangkat lunak yang dipakai untuk menggabungkan kembali pecahan paket-paket tadi dan, tentu saja, individu-individu pemakai internet yang menerimanya. Dalam kalimat lain, makna adalah hasil-hasil tetapan interpretasi pemakai internet terhadap jutaan bahkan miliaran bit data elektronik yang tersebar luas dalam cyberspace, dan yang ditata oleh perangkat lunak komputer yang dipakainya.

Dalam kaitan dengan itulah, pemikir poststrukturalis Perancis, Jean Baudrillard, sudah cukup lama mengeluhkan kondisi masyarakat saat ini yang, menurunya, hidup dengan semakin banyak informasi setiap hari, tapi dengan makna yang justru semakin susut. Dalam nafas kritisisme yang sama, Neil Postman juga melihat kondisi sekarang ditandai secara mencolok oleh komodifikasi informasi. Orang sekarang, menurut Postman, terjebak mencari informasi sebagai komoditi tanpa jelas relasinya dengan kebutuhan hidup mereka yang sesungguhnya. Agar tidak terjebak ke dalam perangkap daur ulang the old diatribes, argumen Postman mungkin harus mendapat sedikit perhatian, karena sifatnya yang spesifik sebagai kritik terhadap teknologi media yang lebih awal, yakni televisi, yang tentu saja berbeda dengan bentuk-bentuk teknologi media baru seperti internet atau bahkan alat-alat komunikasi-bergerak seperti telepon genggam mutakhir. Meskipun demikian, ada satu hal yang masih cukup relevan hingga kini, yakni bahwa pernyataan-pernyataan seperti itu menggarisbawahi kecenderungan berkurangnya kemampuan individu-individu dalam menemukan relasi bermakna di antara informasi yang jumlahnya sudah terlampau banyak, sehingga upaya menetapkan makna bukan saja sulit melainkan bahkan hampir tidak mungkin. Ketika seseorang mendapat seratus surat elektronik atau lebih di dalam Mailbox aplikasi email-client-nya setiap hari, karena ia menjadi anggota beberapa mailing list sekaligus, atau ratusan pesan SMS (short message system) atau bahkan kiriman data digital melalui fasilitas multimedia system dalam telepon genggamnya, misalnya, makna apa yang bisa ditemukannya di antara timbunan informasi tersebut selain hanya setumpukan data yang menunggu diinterpretasikan.

Kegagalan atau ketidakmampuan menginterpretasikan, karena keterbatasan waktu atau sebab-sebab lain, berarti mengubah tumpukan data tersebut menjadi onggokan-onggokan sampah informasi. Zaman ini adalah zaman ketika dunia sedang mengalami apa yang belakangan ini sering disebut information overload. Salah satu implikasinya, gagasan Habermas tentang konsensus, misalnya, menjadi sangat problematis–ketika jumlah kanal dan frekwensi suara yang ada telah melebihi kesanggupan kita untuk mengelolanya menjadi basis bagi munculnya berbagai kesepakatan yang sehat atau konsensus yang rasional itu.

Postman mendedahkan kritiknya ketika internet belum luas dipakai secara komersial oleh masyarakat di luar laboratorium militer dan kampus-kampus universitas di Amerika Serikat. Sekarang kita hidup pada sebuah zaman yang, paling tidak dari sisi akses dan penyebaran informasi, telah melampaui asumsi-asumsi yang digunakan Postman di atas. Begitu besarnya perbedaan antara periode sejarah sebelum dan sesudah aplikasi komersial internet, Mark Poster, seorang sejarawan yang cukup kritis mempelajari perkembangan tadi, menyebut zaman internet sekarang sebagai the second media age. Terminologi tersebut mengacu tidak saja pada perkembangan evolutif teknologi media dari satu zaman ke zaman berikutnya, melainkan juga mendenotasikan dimensi-dimensi kualitatif dari relasi antara manusia dengan informasi, media, dan dengan mesin (komputer). Zaman media kedua, dalam kalimat lain, juga bisa ditafsirkan sebagai sebuah babakan historis baru yang memperlihatkan berbagai perubahan penting dalam konteks konfigurasi sosial masyarakatnya.

Pada konteks diskursus ilmu sosial, respon para teoritisi sosial juga memperlihatkan peta pemikiran yang cukup menarik untuk dilihat kembali. Pada zaman media pertama (the first media age), kembali merujuk Poster, debat tentang akibat-akibat politik dari introduksi teknologi sistem komunikasi model penyiaran (broadcasting) seperti radio, film, dan televisi, itu terbagi ke dalam dua kubu oposisional. Pada kubu yang satu, tokoh-tokoh seperti Walter Benjamin, Hans Magnus Enzensberger, dan Marshal McLuhan, cenderung membagi bersama gagasan tentang potensi teknologi-teknologi tersebut untuk memajukan demokrasi. Pada kubu yang lain, teoritisi sekelas Theodore W. Adorno, Jürgen Habermas, dan Frederick Jameson, justru melihat teknologi yang sama sebagai ancaman bagi kebebasan manusia.

Polarisasi yang hampir sama kembali terjadi ketika ilmu sosial berhadapan dengan zaman media kedua. Seperti akan diuraikan lebih lanjut dalam sub-subseksi berikutnya nanti, debat tentang akibat politik dari sistem komunikasi dan informasi baru, internet, berlangsung antara kutub pendekatan utopian di satu pihak, dan pendekatan distopian dan dataveillance di pihak yang lain. Argumen-argumen Enzensberger, Benjamin, dan McLuhan tentu saja masih dipakai sebagai pijakan teoritis kelompok utopian, dalam arti bahwa kelompok pendekatan tersebut melihat teknologi internet sebagai wujud mutakhir sebuah medium pembebasan atau emansipatoris. Satu hal yang cukup menarik terjadi ketika tokoh seperti Habermas, yang sebenarnya justru begitu pesimistik melihat perkembangan media massa di abad 20, itu sering dirujuk sebagai sumber inspirasi konseptual untuk menetapkan sebuah model historis, yakni ruang publik di Eropa abad 17 dan 18, yang dianggap tepat merepresentasikan konsep dasar internet sebagai ruang sosial.

Di lain pihak, alih-alih tetap bersandar pada pendekatan distopian, kajian-kajian kritis ilmu sosial tentang teknologi informasi sekarang banyak memanfaatkan penjelasan-penjelasan yang melihat teknologi dari dua sisi yang kontradiktif secara bersamaan. Pengkayaan teoritis bisa dilihat dari beberapa upaya teoritisi sosial mutakhir untuk melakukan reformulasi konsep-konsep tentang pengawasan, yang lebih mampu memberi eksplanasi kritis tentang fenomen kehidupan masyarakat kontemporer. David Lyon, misalnya, mencoba meletakkan konsep tentang pengawasan (surveillance) ke dalam perspektif yang lebih luas dari sekedar praktek-praktek totalitarianisme. Mengacu pada asal katanya dalam bahasa Perancis, Lyon menjelaskan bahwa pengawasan memang bisa memiliki konotasi kontrol satu pihak terhadap pihak lain, tapi ia juga bisa berarti perlindungan atau kepedulian. Dalam kedua arti tersebut, kita bisa melihat bahwa konsep pengawasan melibatkan unsur-unsur peluang dan hambatan, kepedulian dan kontrol.

Debat Pendekatan Utopian Versus Pendekatan Distopian

Di antara ratusan bahkan ribuan narasi tentang internet yang telah dibuat orang di seluruh dunia, salah satu yang paling menarik adalah beberapa narasi tentang internet sebagai domain politik. Studi ini tentu saja tidak berpretensi menghadirkan peta lengkap dari seluruh lalu-lintas argumentasi yang dibangun oleh sekian banyak orang tentang internet sebagai domain politik. Kalau kajian ilmu sosial, dengan perumpamaan yang sedikit berbau kolinial memang, bisa diibaratkan seluruh rangkaian kepulauan Nusantara, maka narasi tentang internet sebagai domain politik adalah pulau Jawa, sedangkan studi kecil ini hanya akan mencoba mengambil gambar udara tentang Jakarta. Analogi ini penting untuk memberi tekanan bahwa meskipun peta teoritis yang akan ditelusuri sangat terbatas, tapi diharapkan bisa menjadi noktah-noktah awal yang jelas relasinya dengan konteks kajian yang jauh lebih besar, seperti Jakarta seringkali menjadi awal untuk menelusuri palau Jawa yang penting posisinya untuk menjelajahi Nusantara.

Dalam salah satu keping peta teori sosial tadi, secara garis besar, sejauh ini paling tidak ada dua kelompok pemikiran atau pendekatan ilmu sosial yang banyak dipakai untuk melihat media elektronik seperti internet dalam relasinya dengan kehidupan masyarakat. Yang pertama adalah pendekatan yang menitikberatkan kebebasan dan potensi emansipatoris teknologi media elektronik. Kontras tajam dengan yang pertama, pendekatan kedua justru lebih memfokuskan perhatiannya pada potensi internet sebagai medium pengawasan atau kontrol sosial. Pada domain politik, kalau yang pertama menekankan relasi langsung antara internet dan isu-isu demokrasi, yang kedua menghubungkan internet dengan totalitarianisme.

Berdasarkan perbedaan tersebut, kalau yang pertama secara tentatif, paling tidak untuk kebutuhan studi ini, bisa disebut perspektif demokrasi, yang kedua mungkin bisa disebut perspektif anti-demokrasi. Kalau perspektif demokrasi terutama melihat aspek-aspek positif pemanfaatan internet bagi kehidupan masyarakat kontemporer, persepktif anti-demokrasi sebaliknya melihat internet dari sisi bagaimana ia bisa menjadi ancaman bagi kebebasan masyarakat. Singkatnya, kalau yang pertama dicirikan oleh kecenderungan hiperoptimistik, yang kedua cenderung dicirikan oleh pesimisme yang juga berlebihan.

Saskia Sassen menggunakan ungkapan-ungkapan yang berbeda untuk menunjuk dua kutub pendekatan tersebut. Ia menggunakan ungkapan “pendekatan utopian” (utopian approach) untuk kelompok pemikiran yang cenderung melebih-lebihkan potensi internet dalam membawa perbaikan bagi kehidupan umat manusia, dan ungkapan “pendekatan distopian” (dystopian approach) untuk mereka yang cenderung hanya melihat sisi negatif dari perkembangan teknologi internet. Untuk selanjutnya studi ini akan menggunakan pasangan ungkapan utopian dan distopian dalam merujuk dua pendekatan yang bertolak belakang satu dengan lainnya tersebut.

Pemikiran utopian cenderung menganggap internet sebagai sebuah medium pembebasan (a medium for liberation). Bagi mereka karena arsitektur internet pada dasarnya bersifat anarkis, sensor dan berbagai bentuk kekangan lain tidak mungkin lagi diterapkan, sehingga internet identik dengan eliminasi kemungkinan munculnya kembali totalitarianisme. Kelompok ini juga percaya bahwa internet bisa menjadi sebuah Agora global dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kotemporer. Akan tetapi dalam garis pemikiran perspektif distopian, alih-alih membawa kebebasan bagi masyarakat pemakainya, internet pada dasarnya tidak lebih dari mekanisme baru dari bentuk-bentuk kontrol sosial yang sangat berbahaya, bahkan berpotensi melahirkan totalitarianisme. Dalam kaca mata Saskia Sassen[12], secara geografis, kalau perspektif utopian umumnya dianut oleh para ilmuwan sosial Amerika, perspektif distopian lebih banyak dipakai dalam kajian ilmuwan-ilmuwan sosial di Eropa yang justru jarang, untuk tidak menyebut tidak pernah sama sekali, menggunakan internet dalam kehidupannya.

Garis demarkasi yang dibuat Sassen itu tentu saja tidak sepenuhnya benar, karena polarisasi titik pandang teoritis antara kubu utopian dan distopian ternyata tidak banyak ditentukan oleh asal-usul geografis seseorang. Pada sub-sub bagian berikut akan diuraikan beberapa landasan pendekatan teoritis dari masing-masing perspektif, untuk mendapatkan peta teoritis yang lebih jelas tentang narasi internet dalam ilmu sosial.

[1] Joanna Buick dan Joran Jevtic, Mengenal Cyberspace For Beginners, Mizan, Bandung, 1997, hal 4.


[1]    Lihat Christine Hine, Virtual Ethnography. London: Sage, 2000: 2.

[2]    ibid.

[3] Neil Postman, Technopoly. The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage Books, 1992: 61-3.

[4] Tentang kecenderungan penggunaan kriteria-kriteria, termasuk bermacam-macam model kritik sosial lama, untuk memeriksa perkembangan teknologi media yang baru, itu, antara lain, dipersoalkan secara cukup meyakinkan oleh Steven Best dan Douglas Kellner dalam The Postmodern Advanture. Science, Technology, and Cultural Studies at the Third Millenium. New York and London: The Gilford Press, 2001: 153-58.

[5]    Mark Poster, The Second Media Age. Cambridge: Polity Press, 1995a.

[6] Mark Poster, ibid, 1995a: 2-3.

[7]    David Lyon, Surveillance Society. Monitoring Everyday Life. Buckingham, dan Philadelphia: Open University Press, 2001: 3.

[8]    Saskia Sassen, Op.cit., 1999: 49–52.

[9]     Karya akademis yang secara komprehensif membahas perspektif utopian ini, antara lain, adalah tesis untuk jurnalisme yang ditulis oleh Anita Thornton, Does Internet Create Democracy?. Sidney: University of Technology, 1996. Melalui penelusuran teoritis yang cukup baik, Thronton mencoba mempertahankan argumen bahwa internet memang bisa memajukan demokrasi. Antusiasme sebagian masyarakat atau komunitas pemakai internet atas kebebasan yang dimungkinkan oleh teknologi internet bisa dilihat pada naskah Deklarasi Kemerdekaan Cyberspace (A Declaration of the Independence of Cyberspace) yang ditulis oleh John Perry Barlow pada <http://www.eff.org/~barlow/Declaration-Final.html>.

[10] Lihat Jürgen Rudolph, “Cyberspace and Its Influence in Southeast and East Asia—A Preliminary Appraisal, dalam Occasional Papers and Documents, Political Liberalisation through the Internet, kumpulan Kertas Kerja untuk seminar tentang “Policial Liberalisation Through the Internet: Trends, Practices and Concerns of the Media”. Seminar diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, tgl 26-27 Maret 1996, diorganisir oleh Asian Institute for Development Communication bekerja sama dengan Friedrich Naumann Foundation.

[11] Frase Agora global adalah sebuah metafora yang diambil dari bahasa Yunani, dan sering digunakan untuk mendepiksikan berlangsungnya interaksi dan komunikasi dalam internet. Di zaman Athena Kuno, Agora adalah pusat dari aktivitas sehari-hari warga kota. Dengan luas lahan bisa mencapai 100m X 200m, Agora adalah tempat berlangsungnya seluruh bentuk perdagangan warga kota, termasuk bukan hanya barang-barang yang biasa diperdagangkan di pasar, melainkan juga kios-kios pemangkas rambut, penjual parfum, kedai minuman dan tempat pelacuran. Adat warga kota Athena mengharuskan kaum wanita terhormat dan orang muda tidak datang ke Agora sampai setelah tengah hari, meskipun kenyataannya perempuan dari kelas yang lebih rendah sering datang ke sana bahkan sejak pagi hari untuk menjual roti dan makanan lainnya. Para penjual roti ini biasanya dianggap cerewet dan vulgar sehingga, dalam konteks internet sebagai sebuah Agora global, mereka cenderung disamakan dengan para “penjual roti” virtual yang sering memakai teknik-teknik marketing yang intrusif di internet seperti dalam bentuk spaming dan pelacakan pemakai internet (user tracking). Istilah “penjual roti” virtual tentu saja merujuk pada beberapa pihak yang sering menyalahgunakan internet untuk kepentingannya sendiri yang justru sangat mengganggu kepentingan para pemakai internet umumnya. Keterangan tentang hal ini sepenuhnya mengacu pada informasi yang saya peroleh dari <http://sammelpunkt.philo.at:8080/archive/00000023/01/HTML_Version/ text/node68.html>.

3 pemikiran pada “Cyberspace dan Cybercommunity

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s