Narasi Long Tail dan Economic of Scope

Long Tail dan Economic of Scope

By Mustika Ranto Gulo

Long Tail

Teori Long Tail menurut Chris hris Anderson memandang tendensi bisnis saat ini adalah semakin tinggi popularitas sebuah produk, semakin kecil omsetnya. Sedangkan semakin rendah popularitasnya, semakin besar omsetnya

Konsep Long tail menurut Chris Anderson,  tingkat keberhasilan hukum pareto 80/20 yang diperkenalkanoleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto, yang berarti bahwa 80% kontribusi umumnya datang dari 20% penyumbang. Sebagai contoh, dalam satu toko, 80% penjualan cuma datang darisekitar 20% jenis item. Bahkan ada konsep yang tak pernah di duga sebelumnya yaitu terjalinnya hubungan Bisnis to Bisnis (BtoB). Dalam B2B, 80% omset datang dari 20% klien terbesar. Karena itu hukum Pareto sering disebut sebagai the law of vital few.

Hukum Pareto ini jugalah yang membuat para pebisnis bersikap konservatif dalam memilih barang-barang dagangan yang hendak dipasarkan. Keterbatasan ruangan fisik, seperti luas toko, membuat mereka selektif memilih dagangan dengan kriteria tertentu. Dengan alasan itu, di toko seluas apa pun (seperti hypermarket), tetap memberikan batasan jumlah item barang yang dipajang. Dan tentu saja barang-barang yang dipajang tersebut adalah barang-barang yang sudah dikenal luas. Sementara itu, barang-barang yang jarang peminatnya jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan tempat pajangan di toko-toko konvensional tersebut. Namun Internet membalikkan batasan-batasan tersebut. Tiadanya batasan fisik dan semakin murahnya storage. Dalam media ecommerce membuat produk-produk yang tidak terkenal menjadi terkenal dan memiliki posisi yang sama dengan produk terkenal juga. Hukum pareto tidak berlaku lagi, sebagai gugatan bagi para pengusaha untuk melihat betapa long tail merubah gaya dan juga target.

Media membuat bisnis di Internet (seperti Amazon, eBay, iTunes, Netflix, YouTube) mampu menyimpan informasi produk atau data digital lainnya sebanyak mungkin dan menawarkannya kepada publik. Recommendation engine yang dimiliki situs seperti Amazon memungkinkan konsumen menemukan barang-barang yang kurang dikenal. Uniknya, dalam bisnis di ruang maya tersebut, meski prinsip hukum Pareto masih berlaku, Anderson menemukan bahwa barang-barang yang termasuk di luar 20% vital few tersebut ternyata hampir selalu terjual paling tidak sekali dalam sebulan. Di sini lah muncul istilah the long tail.

Mengapa disebut Long Tail (ekor Panjang) karena bila jumlah item yang terjual tersebut digambar di grafik, maka grafik penjualan dari item terlaris sampai item terkecil penjualannya akan kelihatan seperti kurva yang memiliki luas besar di awal dan diikutioleh ekor tipis yang panjang.

The long tail juga berhasil menghapus monopoli hits oleh perusahaan-perusahaan besar dengan menciptakan pasar yang jauh lebih demokratis, baik untuk produk atau untuk individu. Individu-individu yang kreatif sekarang memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan hits, best  seller , atau box office ; selain karena luasnya saluran distribusi untuk mamasarkan produk/karyamereka, juga karena bantuan viral marketing di Internet yang sering menular dengan kecepatan luar biasa.

Economi Scope

      Tapscott dan Williams mengatakan bahwa perkembangan akses teknologi informasi memudahkan orang membangun kolaborasi, menciptakan nilai, dan berbagi kesempatan dalam dinamika yang membaru. Hal ini member ruang gerak yang lebih luas kepada setiap orang untuk ikut serta menciptakan inovasi dan aset dalam aneka sector ekonomi.Aneka kolaborasi secara terbuka pun mulai menciptakan aneka produk yang makin bermakna dan memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi.Kolaborasi secara massal  dalam bidang ekonomi inilah yang dilihat sebagai dasar pijakan wikinomics.

     Pasar Di Indonesia masih belum sehebat di pasar online Eropa atau AS, karena factor konten yang terbatas. Namun dapat diprediksi kedepan sangatlah pesat, karena salah satu kasus di Indonesia yang memang menggunakan marketing internet adalah seperti belanja online yang sudah banyak beredar di Indonesia, sebut saja berniaga.com, blibli.com, dan yang lainnya, yang merupakan salah satu search engine untuk mencari barang-barang yang kita inginkan baik dari alat rumah tangga hingga ke gadget.

      Saya merasakan saat ini bahwa penjualan melalui belanja online ini memang sangat efektif, dan ini memang menjadi salah satu komunikasi massal, yang mana barang-barang yang dijual memiliki nilai ekonomis, dalam arti barang-barang tersebut dijual oleh tokonya tanpa budget marketing yang mahal, namun barang tersebut bisa dilihat dari seluruh orang di Indonesia. Selain itu dengan belanja online berniaga.com, atau http://cctvonlineindonesia.com kita bisa juga mencari segala jenis barang yang unik, baik itu barang baru atau barang bekas yang di post oleh beberapa orang yang ingin menjual barangnya.

      Barang-barang yang dijual melalui belanja online, bukan hanya barang-barang yang hits saja, melainkan barang-barang yang bahkan kita belum pernah mengetahuinya, dengan belanja online ini, bahkan mencari barang yang tidak hits sekalipun bisa dicari dan dilihat, tidak perlu kita harus ke toko untuk mencari barang yang unik.

      Selain itu ekses yang ditemukan dalam pemasaran online adalah terjadinya komparisasi secara alami karena mesin pencari yang tidak bisa dikendalikan lagi oleh klikers. Sehingga barang atau produk yang tadinya tidak begitu diminati karena pengaruh iklan TV, sekarang dapat dijadikan sebagai pembanding, malah lebih sering dipilih oleh pengguna atau konsumen pasar online.

Para Pengusaha segera merubah gaya dan managemen perusahaan dalam stratgi pemasarannya. Sebab keadaan ekonomi saat ini memang telah berubah,dunia bisnis yang dulu bila menjual barang yang terkenal bisa laku, namun saat ini barang-barang yang tidak hits bisa laku dan dicari banyak orang melalui Internet. Sebagai bukti bahwa buku Yellow Pages tidak lagi dibutuhkan oleh para pembeli aau Purchasing Manager. Mereka cukup dengan melakukan searching di internet saja. Internet mampu mengubah kehidupan ekonomi dunia, dimana saat ini perusahaan bisa menekan budget promosi atau marketing tetapi bisa menghasilkan income yang jauh lebih banyak, dengan hanya mengiklankan dan menjual melalui internet.

      Hal ini terjadi di semua kawasan terutama negera-negara industry. Komunikasi dan model advertising sudah berbeda, sehingga apapun alasannya jika ingin bisa eksis dalam dunia persaingan maka harus segera update dan upgrade model pemasaran online. Sehingga dapat dikatakan bahwa konsep long tail dan wikinomics ini memang ternyata telah merubah keadaan dunia bisnis terutama dalam hal marketing suatu produk, yang saat ini tidak perlu budget mahal dan bisa dicari banyak orang hanya di depan computer dengan fasilitas internet murah.

Jadi media online menjadikan barang populer dan tidak populer, memiliki kesempatan yang sama untuk diakses oleh pengguna (klikers). Karena selalu  bergantung kepada kebutuhan dan siapa yang mencarinya. Popularitas barang mewah yang baru mungkin akan menurun dengan adanya dunia online yang bernia menjual barang-barang dari pasar gelap, dengan kualitas sama dan harga yang jauh lebih rumah.

Dafta Pustaka

Anderson, Chris, The Long Tail: Why The Future Of Business Is Selling Less Of More, International and Pan American, USA: 2008.

 

Satu pemikiran pada “Narasi Long Tail dan Economic of Scope

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s