Tudingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap TNI AD

JAKARTA, JUMAT — Tudingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang adanya petinggi TNI Angkatan Darat yang mengampanyekan ”asal bukan capres S” dinilai tak arif.

Terlebih lagi, Yudhoyono menyatakan sendiri bahwa isu itu tidak benar. ”Sebagai incumbent, Presiden dengan kekuatan anggaran dan strukturalnya dapat menggerakkan institusi-institusi negara untuk membuktikan tudingan itu terlebih dahulu,” kata Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Muzani di Jakarta, Jumat (30/1).

Menurut Muzani, pernyataan itu hanya menunjukkan kekhawatiran Yudhoyono terhadap perkembangan dinamika politik yang ada. Tudingan tanpa dasar itu justru dapat menimbulkan keresahan masyarakat, baik dari kalangan sipil maupun militer.

Gerindra juga yakin TNI dan Polri mampu bersikap netral dalam politik. Meski sejumlah calon presiden yang muncul saat ini berasal dari mantan anggota militer, kondisi itu dipercayai tidak akan mengganggu netralitas kedua lembaga tersebut.

Seperti diberitakan, saat memberikan pengarahan dalam rapat pimpinan TNI dan rapat koordinasi Polri di Istana Negara, Kamis lalu, Presiden menyebut ada isu tentang petinggi TNI AD yang mengampanyekan ”asal bukan capres S” dan isu soal keterlibatan petinggi Polri yang menjadi tim sukses capres tertentu. Namun, Presiden juga meyakini bahwa informasi itu tidak benar (Kompas, 30/1).

Rumor baru

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi masalah pertahanan, Andreas Pareira (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), juga menyatakan hal senada. ”Beliau sendiri tidak meyakini, tetapi dikemukakan di suatu acara resmi. Yang kemudian ditanggapi Panglima TNI bahwa Panglima sendiri belum pernah mendengar. Pernyataan tersebut justru menjadi rumor baru yang menyudutkan TNI, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan Yudhoyono dalam kapasitas sebagai panglima tertinggi,” paparnya.

Dengan pernyataan itu, lanjut Andreas, bisa ditafsirkan bahwa pemerintahan Yudhoyono gagal mengangkat harkat TNI sebagai kekuatan pertahanan yang profesional sehingga muncul ketidakpuasan di kalangan itu.

Pernyataan Yudhoyono tersebut justru bisa dilihat sebagai manuver politik untuk mencari perlindungan pada TNI atau Polri, mengingat muncul beberapa nama perwira bertaburan bintang yang akan mencalonkan diri sebagai calon presiden.

Beri teladan

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia Yahya Muhaimin mengatakan, menjelang pemilu legislatif, elite politik, termasuk pemerintah dan pimpinan partai politik, diminta memberikan teladan bagi rakyat tentang berpolitik yang santun. Persaingan politik tidak harus memecah belah bangsa ini dalam permusuhan yang bisa menimbulkan dendam.

”Saya benar-benar amat prihatin dengan kondisi nasional kini yang bisa memperburuk masa depan kehidupan bangsa Indonesia. Saya melihat, orang banyak berpikir untuk kepentingan sesaat, kepentingan kelompok, dan bukan dengan kejuangan,” ujar mantan Menteri Pendidikan Nasional era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

”Dari berbagai survei dan dari observasi omong-omong ke sana-sini, Presiden Yudhoyono tampaknya tetap kuat, terlepas dari motif maupun tekniknya. Program-program pemerintah memang mengena kepada rakyat. Karena itu, sebetulnya Yudhoyono tidak perlu menanggapi kritik dengan over-reaction,” ujarnya.

Tentang kampanye ”ABS” itu, menurut Yahya, kalaupun betul-betul ada, Presiden Yudhoyono tidak perlu khawatir. Itu sebabnya, Presiden harusnya mampu memberikan contoh berdemokrasi yang Pancasilais dan menciptakan kondisi nasional yang nyaman dan bukan mengembangkan politik rendahan.

Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Hati Nurani Rakyat Saleh Husin mengatakan, selaku panglima tertinggi, Presiden bisa memanggil Panglima TNI, Kepala Polri, dan Kepala BIN untuk menanyakan hal tersebut, bukan dengan mengumbar kepada pers.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir mengatakan, Presiden tidak perlu khawatir dengan isu ABS itu. ”Sepengetahuan saya, ABS itu asal bukan Soetrisno, makanya UU Pilpres dibikin sulit buat wajah baru. Takut fenomena Obama melanda Indonesia,” ujarnya. (MZW/SUT/MAM/DWA)

Sumber :Kompas Cetak
Editor :

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s