cropped-ahli-komunikasi-pascasarjana.jpg

Pandangan Deterministik Versus Strukturasi

M Ranto Gulo - Rektor UMB - Wisuda
Wisuda Mustika Ranto Gulo di JHCC tgl 18 Des 2013 Oleh Rektor Universitas Mercubuana

Pada awalnya pemahaman deterministik versus strukturasi membingungkan banyak kalangan. Saya coba jelaskan sedikit saja, sbb:

Sikap kekaguman manusia pada teknologi informasi sering menjadi basis bagi pandangan positivistis dan deterministik. Dalam pandangan ini menyatakan bahwa teknologi informasi menimbulkan dampak yang sudah dapat diduga sebelumnya. Beberapa contoh, misalnya, penganut pandangan deterministik menganggap bahwa komputer dan Internet pasti menghasilkan liberalisasi informasi, memajukan perekonomian, dan membawa kesejahteraan. Atau sebaliknya, pandangan fatalis menganggap bahwa Internet pasti akan menimbulkan kekacauan moral, dekadensi, kejahatan antar-negara. Di bidang perpustakaan dan informasi, teknologi selalu dilihat sebagai pisau bermata-dua: di satu sisi mempermudah akses, di sisi lain menimbulkan kekacauan organisasi informasi dan kesenjangan digital.

Ketergantungan higup pada teknologi mengakibatkan perubahan strukturalis dalam masyarakat modern. Ada pihak yang tertinggal yaitu kelompok masyarakat tertentu yang disebut gagap teknologi, atau gaptek. Teori ini disebut Determinisme Teknologi, yang beranggapan bahwa struktur yang ada di dalam masyarakat bergantung pada perkembangan teknologi dan beriringan dengan perkembangannya. Semakin berkembang teknologi yang ada di masyarakat, semakin canggih dan semakin banyak inovasi yang dibuat, maka masyarakat juga akan mengikuti alurnya menjadi semakin moderen dan berkembang mengikuti semakin canggihnya inovasi teknologi yang ada. Teori ini menyatakan bahwa hubungan yang ada di antara masyarakat dan teknologi merupakan hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga keberadaan dan perkembangan teknologi juga menentukan perkembangan dan perubahan sosial dan nilai-nilai budaya di dalammasyarakat.  Selain itu, teori ini juga menyatakan bahwa teknologi adalah kunci yang penting dalam kekuatan menguasai serta mengendalikan masyarakat, dan hal ini membawa keyakinan bahwa perubahan sosial yang ada di dalam masyarakat yang terus berubah-ubah dikendalikan oleh inovasi teknologi yang terjadi.

Tetapi pandangan / paham yang berlawanan dari kaum deterministik adalah pandangan strukturasi, mengambil basis dari kaum kontruktivistis dan teori strukturasi Giddens. Sangat bertolak belakang dengan cara berpikir determinisme, bahwa menurut pandangan ini, teknologi tak punya dampak langsung dan bukan faktor penentu, sebab ia merupakan alat semata sehingga tergantung pada masyarakat yang menggunakannya. Secara ekstrimnya muncul anekdot, “It’s not the gun, but it’s the man behind the gun..”.  Namun pandangan ini dianggap justru mirip pandangan deterministik, sebab menganggap bahwa pasti masyarakat lah yang menentukan dampak sebuah teknologi. Pandangan yang lebih “lunak” dari kaum kontruktivistis menganggap bahwa teknologi adalah sebuah struktur-sosial, dan karenanya ia bukan satu-satunya penentu walaupun dapat memengaruhi perkembangan sebuah masyarakat. 

Dalam pandangan kaum penganut konstruktivis dan strukturasi, semua inovasi dan pemanfaatan teknologi selalu merupakan proses tawar-menawar antara alat dan penggunanya. Setiap teknologi selalu punya dua potensi, yaitu mendukung (enabling) dan menghalangi (constraining) tindakan-tindakan manusia. Penulis-penulis di bidang sistem informasi seperti Wanda Orlikowski dan Geoff Walsham gemar menggarisbawahi keadaan ini. Almarhum Rob Kling adalah penulis lain yang gigih menentang pandangan determinisme teknologi, terutama dengan menegaskan sisi kemasyarakatan dalam aplikasi teknologi informasi, sehingga kini kita mengenal istilah social computing. Dari kubu ilmu perpustakaan, nama-nama seperti Wilson dan Saracevic telah sejak lama mengajak peneliti memperhatikan aspek pengguna, diikuti oleh penulis-penulis Eropa Utara seperti Savolainen dan Tuominen.

Sebagian menganggap bahwa pandangan konstruktivistis yang berbasis strukturasi pun dianggap kurang memadai dalam memahami kompleksitas teknologi. Sebenarnya kelemahannya terletak pada pandangan yang meminjam teori sosial dari Giddens kurang jelas menggambarkan sisi teknis dari sebuah teknologi,  dan dianggap terlalu condong ke persepsi orang tentang sebuah mesin. Pihak pembuat dan perancang teknologi seringkali tersamarkan, atau bahkan tak ada dalam gambar strukturasi. Secara becanda, orang sering bilang, pandangan strukturasi ini “terlalu sosialis”.

5 pemikiran pada “Pandangan Deterministik Versus Strukturasi

  1. Dear All Friend
    Belajar memang tidak mudah, tetapi saya mohon agar kutipan pada tulisan saya ini tetap menyebut nama saya. Sebab mengarang dan menyusunnya butuh energy luar biasa, mari sama-sama menghargai sesbagai insan akademisi …salam hangat

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s