Sosial Teknologi dan Pornomedia By Mustika Ranto Gulo

Sosial Teknologi dan Pornomedia

By Mustika Ranto Gulo

Potret Sosial Masyarakat

Kisah Pornomedia & Masyarakat, berjalan sarah jarum jam, tidak bisa dibendung.

Ketika saya melihat disebuah jejaring sosial berita tentang seorang anak kecil yang berumur 5 tahun sudah mengerti mengakses situs-situs porno dengan leluasa, ternyata ekpresi dunia biasa saja, terlihat dari komentar-komentar masyarakat. Bahkan seorang anak umur 9 tahun tertangkap basah oleh gurunya, sedang memandangi berjam-jam sebuah koran lokal yang memajang foto seorang artis separuh bugil, ternyata ekspresi gurunya biasa saja. Warnet berkembang bagaikan jamur, pelanggannya adalah remaja usia 8 – 18 tahun, dimana ruang-ruang di warnet itu telah dibuat sedemikian rupa, untuk menjamin privasi, ternyata pihak pemerintah (yang berwewenang) juga ekspresinya biasa saja. Ternyata masyarakat kita memahami betul apa arti ‘bebas berekspresi’, nyatanya Menkominfo memblokir situs porno sampai jutaan setiap hari, karena masyarakat menganggap bahwa mengakses situs itu hal biasa saja. Semua itu karena infrastruktur, kontennya serta fasilitasnya tersedia. Termasuk tampilan majalah-majalah Infotainment atau majalah-majalah untuk orang dewasa yang dibaca oleh anak-anak usia dini. Karena alasan dijual bebas dan mudah didapatkan, maka semua orang bisa memilikinya.

Konstruksi sosial terhadap laju teknologi media baru terjadi secara pelan. Sementara teknologi media baru melaju kencang, bahkan tidak terkejar oleh regulasi dari pemerintah. Masyarakat ‘welcome’ dalam arti adaptasi adanya ditangan masing-masing individu.

Cakram (DVD) rekaman seorang penyanyi (artis) dengan pakaian seksi (tidak pantas) meliuk-liukan tubuhnya dengan istilah “goyang ngebor” sambil bernyanyi di hadapan anak remaja usia dini, yang lebih memprihatinkan lagi remaja itu menonton bersama orang tuanya; Kemudian cakram itu, diputar untuk ditonton bersama anggota keluarga. Itu adalah realita, masyarakat tetap adalah domain yang utama, pengambil keputusan untuk memilih.

Bagaimana proses terjadinya konstruksi sosial terhadap teknologi? Pinch dan Bijker memberikan perumpamaan bagaimana sepeda yang sediakala di rancang untuk pria, di konstruksi design baru untuk para wanita. Konstruksi sepeda itu adalah kontruksi secara teknologi, tetapi domainnya adalah kaum wanita yang ingin juga bersepeda. Konstruksi sosial terjadi ketika ada permintaan dari kaum wanita seiring gencarnya gerakan feminisme. Sehingga melahirkan sepeda yang secara desain ditujukan untuk wanita.

Kasus baru New Media, lebih dasyat lagi, bukan tampilan gambar atau video tetapi teks. Para penulis berita beralasan bahwa cara mereka memenuhi unsur seni dan kebebasan berekspresi. Penulis berita mampu membungkus berita yang disuguhkan dengan maksud menyampaikan informasi, tetapi isi beritanya adalah teknik bagaimana seseorang memperkosa anak mahasiswa di atas angkot. Pembaca tentu menyesuaikan diri, apakah mengambil hikmah apa dalam bacaan tersebut. Patut kita bertanya, apakah “Media” sedang memberi pelatihan baru kepada calon pemerkosa?

Manusia berkuasa atas Teknologi

Michel Callon, Teknologi hanya sebuah alat, keputusan tetap ditangan manusia sebagai pemilik teknologi itu sendiri. Sekalipun sebagian masyarakat awam terlambat memahaminya. Teknologi media baru adalah karya manusia, untuk dinikmati oleh manusia dan teknologi media adalah hanya alat. Sekalipun teknologi media terdapat kepentingan, misalnya kepentingan bisnis oleh kaum pemilik modal, kepentingan politik oleh kaum politikus dan berbagai kepentingan lainnya yang termuat dalam saluran media.

Ketika ada pertanyaan siapa yang salah; Media atau masyarakat yang salah? Media berkilah “Koran saya, jika tidak suka, jangan baca buang saja ke tong sampah”. Tetapi pasar terbuka, permintaan tinggi, ternyata masyarakat berkilah membela diri “Informasinya menarik kog, bagus, sangat bagus”. Buktinya konstruksi sosial berjalan searah dengan perkembangan teknologi adalah adanya alternatif pilihan. Masyarakat bebas memilih, bebas menentukan sikap dan bebas juga berkarya. Misalnya, dengan adanya beberapa saluran televisi, masyarakat bebas memilih saluran TV yang sesuai dengan seleranya.

Memang selama ini salah kaprah karena kaum awam menempatkan dirinya sebagai korban laju perkembangan teknologi, lalu menyebut dirinya kelompok gaptek (gagap teknologi). Siapa yang bisa menahan laju perkembangan teknologi media itu? Sekarang begitu mudahnya untuk dihadirkan disisi kita setiap saat. Apakah ada upaya untuk menghentikannya? Tapi pemilik modal berkata “ada permintaan ya, ada supplay, masyarakat kita butuh berita sensasi”. Kalau di analisa maka, kaum kapitalis (pemilik media) adalah bagian kecil dari masyarakat juga.

Michel Callon, dalam tulisannya “Society in the making: The Study Of Technology as a tool for sociaological Analysis”. Sangat jelas menyatakan bahwa teknology hanya sebuah alat saja di dalam masyarakat. Jadi tidak mungkin menghentikan teknologi, ya, tidak ada yang mau menghentikan perkembangan Teknologi Media.

Disisi lain, sesungguhnya masyarakat awam menjadi putus asa, karena tidak mampu mengejar kemampuan pengetahuan para kapitalis (pengusaha Media) yang jelas-jelas bahwa orientasinya adalah profit. Sehingga masyarakat awam itu memandang teknologi Media Baru itu bagaikan bencana bagi manusia, menganggap bahwa manusia telah terjebak di dalamnya.

Berawal dari potret sosial masyarakat inilah, terjadi perdebatan tentang erotika dan pornografi bermunculan ke publik. Kondisi masyarakat kita malu-malu menolaknya, bahkan Alm. Gusdur Mantan Presiden RI, ada politikus dan LSM yang berani membela Allah yang maha kuat, tetapi mereka tidak membela kaum lemah yaitu masyarakat awam yang tidak berdosa disuguhkan berita porno dan kekerasan setiap hari? Saya menangkap isi pesannya dari kata “…yang disuguhkan berita porno dan kekerasan setiap hari”. Berati yang menyuguhkan berita siapa? yaitu media !

Ada apa dengan media?

Kini, mulai ramai dikritisi tetapi selalu saja ada cara mencari siapa kambing hitam. Masalahnya adalah berubahnya sudut pandang untuk mendefenisikan siapa obyek dan siapa subyek yang selalu panjang dan tak habis-habisnya di perdebatkan.

Dalam buku Prof. Dr. Burhan Bungin, MSi yang berjudul “Pornomedia: Konstruksi Sosial Teknologi Telematika & Perayaan Seks di Media Massa” sangat rinci menjelaskan aspek sosial teknologi serta kepentingan kapatalis dalam meraup untung dibagian yang menyangkut kemaslahatan umat.

Lahirnya sebuah istilah pornomedia, menambah tugas baru bagi kita bagaimana merumuskan makna dan batasan-batasannya. Antisipasi terhadap regulasi untuk melindungi masyarakat, tugas baru bagi pemerintah dan pemaknaan ditengah-tengah kehidupan masyrakat kita yang sangat awam. Porno media belum ada antisipasi undang-undangnya, ini adalah PR (=pekerjaan rumah) bagi Dewan Perwakilan Rakyat kita di Senayan.

Menurut Prof. Dr. Burhan Bungin, MSi : Sosioteknologi merupakan upaya menggabungkan dua pendekatan sosiologika dan pendekatan teknologika menjadi sebuah pendekatan yang sama-sama mengkaji tentang kemanfaatan teknologi di masyarkat.

Maksudnya adalah application of technology dan transfer of technology milik semua masyarakat, tidak lagi menjadi kepentingan para ahli teknologi saja, tetapi menjadi bagian dari kepentingan semua orang secara terbuka termasuk para ahli ilmu-ilmu sosial.

Pandangan besar di era zaman seperti sekarang ini dalam ranah konvergensi teknologi bisa kita temukan seperti adanya telepon, televisi dan komputer. Sehingga, dari ketiga teknologi tersebut dapat disatukan dalam sebuah teknologi baru yang kita sebut sekarang internet.

Beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi lebih cepat dari apa yang sudah kita alami. Perkembangan teknologi tidak pernah berhenti seiring waktu yang berjalan akan tetap ada hasil karya baru. Telah memprediksi bahwa teknologi media baru akan memodifikasi media rasa, media aroma dan juga media sentuhan yang akan menciptakan teknologi yang serba manusiawi, yaitu dengan teknologi yang mulai sangat akrab dengan manusia serta berbasis komputer dan jaringan internet.

Bisnis Media harus mampu berbenah diri menghadapi aplikasi teknologi media baru ke depan, terutama media massa seperti sekarang ini. Konvergensi media massa tidak saja sebuah keharusan, namun sebuah kebutuhan masyarakat itu sendiri, sehingga bermunculah media-media baru lainnya bahkan seperti yang kita nikmati sekarang media sosial (seperti Facebook, Twitter, dsb).

Menyimak kesimpulan yang disampaikan oleh Burhan Bungin, terkait dengan konvergensi media massa yang ada sekarang ini menjadi sebuah penggabungan (mixer) dalam memanjakan masyarakat. Sedangkan disisi lain, adanya pencitraan teknologi tersebut merupakan upaya kapitalisme untuk mencari untung dibalik keunggulan teknologi. Sebagai user (masyarakat luas ) tak pernah menyadari akan hal tersebut, bahwa teknologi adalah milik para kaum borjuis, karya mereka, hak asasi mereka, karena itu tak satupun kepentingan yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan yang lain, bahkan sebaliknya. Justru masyarakat menjadi bagian terpenting dari sistem produksi kapitalis itu sendiri dengan mendukung mengkonsumsikan teknologi (reproduksi kapitalis).

Konstruksi dan Solusi

Teknologi Media baru adalah solusi sekalipun di dalamnya mengandung ideologi tersembunyi baik karena visi misi pemilik modal, maupun ideologi para pengelolanya. Tetapi saya berpendapat bahwa masyarakat sebenarnya diuntungkan juga, bukan hanya kaum kapitalis sebagai pemilik. Dengan adanya pendekatan sosiologikal terhadap teknologi (termasuk terhadap pandangan teknologikal), kehidupan sosial masyarakat turut diuntungkan dengan syarat masyarakat dituntut untuk :

Turut ambil bagian dalam percepatan proses edukasi tentang Teknologi Media Baru, sehingga mampu memajukan dan sekaligus melakukan pengawasan (kontrol).
Membudayakan sejak dini, untuk berkarya, berekspresi dengan daya cipta yang selalu didokumentasi.
Kritis dalam menganalisa setiap perubahan dalam masyarakat, dengan demikian masyarakat memiliki alternatif bahkan mampu mengkounter karya yang tidak menguntungkan.
Bandingkan dengan Jacques Ellul (1990)

Argued that the pursuit of technological improvement led to the social dominance an elite tier of scientists, engineers, and managers for whom technology became an end in itself, devoid of moral foundation
Technologists promise a great deal to ensure their status in a society conditioned to welcome technological progress. But they deliver very little.
Dalam buku : Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis, oleh A. Sonny Keraf & Mikhael Dua, menjelaskan pandangan Marx: biarkan saja teknologi berkembang sesuai dengan eranya sendiri, tanpa memisahkannya dari manusia sebagai individu, karena hal itu terjadi di dalam lingkungan sosial masyarakat sebagai domain perkembangan teknologi itu sendiri. Masyarakat yang bebas bukanlah masyarakat yang ditentukan oleh penguasaan teknik ilmiah. Sebaliknya perkembangan teknik ilmiah harus ditempatkan di dalam kondisi dimana ada komunikasi antara individu sebagai masyarakat.
Bandingkan dengan Media Drive Culture :
Mass media overhelm the “true” culture of the people in the interest of perpetuating class hegemony (Carey, 1972)
Literacy and reasoning skills decline as a result of overexposure to populer culture. “amusing ourselves to death” (Postman, 1986)
Dengan demikian masyarakat akan menata kehidupannya sendiri berdasarkan pada hukum-hukum teknologi, sementara itu biarkanlah teknologi berkembang berdasarkan pada konstruksi sosial yang ada di masyarakat itu.

Mustika Ranto Gulo
http://ahlikomunikasi.org

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s