Prabowo Yes...!

Prabowo Subianto Memahami Teknologi New Media

Bicara realita saja, bahwa survey yang menyatakan Prabowo Subianto memiliki elektabilitas tertinggi dari semua saingan kandidat presiden RI menjelang PEMILU 2014, dapat menjadi sebuah kajian analisis wacana kritis.

Hasil survey itu sangat independen (saya tidak menampilkan hasilnya) dan perlu kita tahu mengapa dan siapa Prabowo di mata masyarakat. Padahal lawan-lawan politiknya sering melempar isu masa lalu ketika Soeharto mantan Presidn ke RI jatuh pada tahun 1998 lalu.

Ternyata masyarakat sudah tidak peduli dengan isu itu, seorang teman mengatakan bahwa isu itu bukan saja basi tapi bagaikan angin saja, masyarakat kita sudah tahu, semua skenario itu.

Benar atau tidak masalah masa lalu, tetapi yang menarik adalah sosok Prabowo yang bergerilya melalui jejaring sosial dan semangatnya untuk menyapa audiens secara teratur. Jiwa kepemimpinannya dinilai sangat dekat dengan rakyat. Pencitraannya bukanlah politik kuno tetapi sangat modern bahkan memahami cara-cara memasuki area pencitraan melalui teknologi ” New Media ” sebagai akses yang sangat ampuh saat ini.

Masih tersisa dalam ingatan ketika Obama mencalonkan diri sebagai kandidat presiden AS waktu itu, jejaring sosial dan New Media sebagai tulang punggung pencitraan dirinya, sebagai orang yang sangat terbuka dan tampak sangat sederhana.

Berikut adalah surat Prabowo, ketika menyapa masyarakat Indonesia di saat euforia kemenangan Jokowi – Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, september  2012 lalu. Kita diajak untuk berbenah diri, dengan cara berdiam diri sejenak, itu semua karena terlalu banyak yang ingin mengklaim dirinya sebagai orang yang sangat berjasa kepada kemenangan Jokowi  – Ahok. Mari kita menyimaknya.

Sahabatku sekalian,

Setelah kita berhasil memenangkan perjuangan pilkada gubernur DKI, ada baiknya kita berhenti sejenak dan melakukan kajian terhadap hal-hal yang telah terjadi.

Dari sejak awal, niat kita adalah mencari alternatif kepemimpinan publik dan untuk menyajikan alternatif tersebut kepada rakyat. Itulah niat kita, sebagai pemenuhan panggilan kita terhadap rakyat, negara dan bangsa.

Kewajiban kita sebagai pemimpin, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, adalah untuk mencari pemecahan kesulitan rakyat. Menurut saya, pemecahan kesulitan dan solusi terhadap kesulitan rakyat bermula dari mencari pemimpin-pemimpin yang bersih, yang cakap, yang handal dan yang memiliki integritas serta tanggung jawab terhadap rakyat.

Itu adalah latar belakang yang menghasilkan keputusan kita untuk memilih Jokowi dan Basuki. Ternyata, niat kita yang tulus itu disambut oleh rakyat dengan positif, dengan semangat, dan dengan antusiasme. Boleh dikatakan, alternatif yang kita sodorkan memberi harapan terhadap rakyat.

Juga tidak dapat dipungkiri oleh orang orang yang jujur, bahwa dukungan kepada saya, Prabowo Subianto dan gerakan yang saya pimpin, yaitu Gerindra terjadi bukan karena program pencitraan yang mahal. Bukan karena janji-janji yang muluk. Bukan karena uang banyak yang kita bagi-bagikan atau kita tawar-tawarkan. Tetapi karena apa yang saya sampaikan, sejak bertahun-tahun tentang permasalahan-permasalahan bangsa, yang kini benar-benar dilihat dan dirasakan oleh rakyat banyak.

Sahabatku sekalian, saudara-saudara yang saya cintai dan banggakan. Ternyata dengan revolusi di bidang teknologi informatika, dengan berkembangnya dunia maya, rakyat terutama anak-anak muda semakin dapat mengikuti perkembangan masyarakat, perkembangan pemerintahan, perkembangan negara dan bangsa secara real time, secara sangat cepat.

Sebagai contoh, komunikasi kita, komunikasi anda dan saya melalui Facebook ini, membuktikan bahwa sangat sulit bagi pihak-pihak tertentu untuk memanipulasi atau menyaring atau menghalangi arus informasi di antara kita. Perkembangan ini menurut saya telah membuat setiap sikap, setiap pendirian, setiap ungkapan seorang pemimpin bisa didengar, dipelajari, dikaji dan dinilai.

Seandainya apa yang saya ungkapkan selama beberapa tahun ini adalah omong kosong, seandainya apa yang saya perjuangkan – kemandirian bangsa, berdiri di atas kaki sendiri, swasembada pangan, swasembada energi, yang kuat mengangkat dan membela yang lemah, gotong royong, ekonomi kerakyatan yang intinya ekonomi berasaskan kekeluargaan, pemerintahan yang bersih dan efisien – kalau itu semua yang saya perjuangkan adalah omong kosong, tidak relevan, tidak menguntungkan bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia, maka tidak mungkin saya mendapat sambutan dan dapat dukungan dari rakyat.

Banyak konsultan politik, banyak pengamat, banyak pakar, dengan berbagai rumus dan berbagai teori, selalu menawarkan berbagai jasa seolah-olah kita bisa mendongkrak popularitas di kalangan publik. Saya kira banyak dari formula-formula tersebut bisa dipakai. Tetapi saya maju di depan rakyat, karena keyakinan dalam hati saya atas prinsip-prinsip yang saya terima dari pendiri-pendiri bangsa ini, dari angkatan 45 yang telah membesarkan saya, dari pengalaman saya di tengah-tengah masyarakat dan rakyat Indonesia, di pelosok-pelosok tanah air.

Prinsip-prinsip yang saya yakini, saya dapatkan dari pemahaman di lapangan, dari pencerahan yang saya terima karena terlibat langsung dalam berbagai interaksi bangsa dan negara. Karena memang itu adalah keyakinan saya, itu adalah nilai yang saya perjuangkan: Bangsa yang merdeka, yang berdiri di atas kaki sendiri. Tidak dinjak-injak oleh bangsa lain, tidak menjadi budak bangsa lain, tidak menjadi kacung bangsa lain, tidak menjadi pesuruh orang lain. Bangsa yang terhormat, tetapi selalu bersahabat dengan semua pihak.

Saya yakini, bangsa yang kuat ini, terhormat ini, mandiri ini, haruslah menjadi bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika, yang bersatu kokoh untuk melindungi semua suku, semua ras, semua agama, semua budaya, dan semua kelompok etnis yang mau bernaung dibawah dan di dalam bangsa ini. Saya yakin bahwa ini hanya bisa terjadi dalam kerangka suatu Republik Indonesia dengan dasar negara Pancasila dan asas Bhinneka Tunggal Ika.

Inilah keyakinan saya, dan inilah yang mendorong saya masih maju di hadapan rakyat.

Saudara-saudara sekalian, sahabatku yang budiman. Niat kita di Pilgub DKI tadinya hanya itu. Hanya niat tulus memberi alternatif. Tetapi, ternyata ada pihak-pihak yang menjadikan pilgub ini suatu showdown, suatu pertarungan. Mereka membuat ini suatu test case. Mereka katakan kalau Jokowi dan Basuki menang, ini adalah langkah saya melaju dalam Pemilu 2014. Mereka menjadikan pilgub ini sebuah kesempatan untuk menghentikan saya.

Padahal kita biasa-biasa saja. Saya tidak pernah beranggapan, ini adalah test case untuk 2014. Dengan motivasi tersebut, terjadilah suatu persatuan kekuatan yang sangat besar untuk menjatuhkan Jokowi dan Basuki.

Pertarungan ini menjadi seperti pertarungan semut melawan gajah, pertarungan Nabi Daud AS melawan Jalut, pertarungan Pandawa melawan Kurawa, para kesatria melawan Angkara Murka. Sesuai ajaran nenek moyang kita, sesuai keyakinan semua Agama di dunia, yang benar, yang baik, yang bersih, itulah yang menang.

Sebenarnya inilah pelajaran 20 September 2012. Kita dicurangi, kita diintimidasi, kita dihina, kita difitnah, kita dicaci maki, tetapi kita tidak membalas dengan perlakuan yang sama. Saya menyampaikan kepada sahabat-sahabat, sekutu-sekutu, mitra-mitra saya: Hai para patriot, hai para kesatria, jangan gentar, jangan berkecil hati. Tetap teguh, kokoh. Katakan “aku adalah gunung, aku tidak akan goyah. I am the mountain.” Saya tidak akan goyah dari pendirian saya, saya tidak akan goyah dari cinta saya kepada bangsa, keadilan dan kejujuran.

Dari hari ke hari, sekarang menguak ke masyarakat luas, segala praktek keji, segala kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Dari mulai daftar pemilih tetap dengan nama orang-orang yang tidak jelas keberadaannya. Dari pembagian uang pada hari-hari dan jam-jam menjelang pemilihan. Dari segala macam bentuk akal-akalan dan bentuk kecurangan, sampai mengabaikan dasar negara kita Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika demi mengejar kekuasaan, sebuah perbuatan hina yang ditoleransi dan dipelihara oleh pejabat-pejabat dari institusi-institusi tertentu. Rakyat sekarang semakin tahu.

Saudara-saudara, karena itulah dari tadi saya mengajak saudara, kita hanya boleh bersyukur kepada Tuhan YME. Kita harus bersujud ke hadapan Yang Maha Besar. Karena saya yakin kemenangan ini adalah intervensi dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau dihitung, kita sungguh-sungguh adalah kekuatan yang tidak sebanding.

Walaupun kita selalu pasrah kepada Tuhan YME yang memiliki sekalian alam, kita tahu sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum bangsa melainkan kaum itu sendiri mengubah nasibnya (Ar-Ra’d:11)

Untuk sementara inilah beberapa pikiran saya. Mungkin pada kesempatan lain saya akan meneruskan alur pikir ini. Kita perlu menghimpun tenaga kita, pikiran kita, energi kita kembali, karena perjuangan masih berat. Perjalanan masih jauh. Masih banyak bukit yang perlu kita daki. Puncak kemenangan masih jauh.

Cita-cita kita, Indonesia yang aman, Indonesia yang damai, Indonesia yang makmur, Indonesia yang bersatu, Indonesia yang rukun, Indonesia yang hidup bahagia satu suku sama suku lain, satu ras dengan ras lain, satu agama dengan agama lain, dalam persaudaraan dan persahabatan yang akrab masih harus kita wujudkan.

Tidak bisa kita tunggu duduk, berharap rejeki datang dari langit. Tidak bisa kita berharap uluran tangan dari orang lain. Kita harus meraih cita-cita kita dengan kerja keras, dengan berpihak kepada rakyat, bukan sembunyi, bukan cari aman.

Kita butuh setiap patriot, setiap anak bangsa yang cinta negaranya, setiap anak bangsa yang ingin keluarganya hidup dengan baik dan aman, kita butuh patriot-patriot tersebut untuk tampil pada saatnya, tidak gentar menghadapi kaum koruptor, kaum angkara murka, kaum pendzolim rakyat, yang selalu bohong pada rakyatnya.

Saudara-saudara sekalian, marilah kita tidak perlu berpesta pora, riang gembira, tetapi bersyukur, bersyukur, dan himpun energi kita. Kini kita bernapas sejenak. Kita merenung dengan khidmat. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, kepada hati, sanubari kita yang paling dalam. Apakah saya sungguh-sungguh ingin melihat dan mewujudkan suatu Indonesia yang aman, suatu Indonesia yang kuat, suatu Indonesia yang damai dan rukun, suatu Indonesia yang makmur dimana rakyatnya menikmati keadilan dan kesejahteraan? Suatu Indonesia dimana wong cilik iso gumuyu. Dan memang kalau saya ingin mewujudkan itu, apa yang harus saya perbuat.

Saudara-saudara, sahabatku yang budiman. Kita harus terus menggalang kekuatan, sehingga terjadi gelombang kekuatan rakyat, kekuatan keadilan, kekuatan kejujuran, kekuatan kebangsaan yang tidak dapat dibendung.

Kalau kita bersatu terus, dalam hati kita, dalam cita-cita kita, pada saatnya, dalam sikap kita dan perbuatan kita, Indonesia yang kita cita-citakan sungguh bisa terjadi dan terwujud.

Nenek moyang kita pernah mengajarkan kepada kita, sing becik ketitik, sing olo ketoro. Yang baik akan muncul, yang tidak baik akan ketahuan. Pada akhirnya, selalu yang benar yang akan menang.

Selamat berjuang. Sahabatmu,

Prabowo Subianto

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s