Analisis Kritis, Berpikir Kritis, Bertindak kritis,

  • Analisis yang kritis (atau berpikir kritis) merupakan suatu cara untuk mencoba memahami kenyataan, kejadian (peristiwa), situasi, benda, orang, dan pernyataan yang ada di balik makna yang jelas atau makna langsung. Analisis kritis mempersyaratkan sikap untuk berani menantang apa yang dikatakan atau dikemukakan oleh pihak-pihak yang lebih berkuasa -majikan, pemerintah dan lembaga. Analisis kritis mempertanyakan asumsi. Analisis kritis dapat digunakan untuk menantang perilaku atau praktek yang dilakukan seseorang atau menganalisis pekerjaan sebuah serikat, atau gerakan sosial, atau untuk menantang dan melawan (oppose) kekuatan-kekuatan dominan di dalam komunitas dan masyarakat.
  • Analisis kritis merupakan suatu kapasitas, potensi yang dimiliki oleh semua orang. Kendati demikian, analisis kritis tetap akan tumpul dan tidak berkembang apabila tidak diasah (dipraktekkan). Selain itu, upaya untuk mempelajari cara pemakaian analisis kritis tidak pernah selesai.
  • Analisis kritis merupakan upaya pribadi atau upaya kolektif.
  • Analisis kritis menentukan kemungkinan suatu realitas baru, kesepakatan yang lebih baik (better deal), masyarakat yang lebih baik ke arah ‘langkah’ untuk memperbaiki kenyataan atau situasi yang tengah dianalisis. Selanjutnya, ‘situasi baru’ tersebut dapat dikaji dengan analisis kritis.
  • Peranti terpenting untuk melaksanakan analisis kritis, yaitu “pertanyaan”. Meski demikian, analisis kritis bukanlah serangkaian langkah atau pertanyaan yang berangkat dari ketidaktahuan (ignorance) menuju ke pencerahan (enlightenment).
  • Ada sejumlah unsur penting yang dapat dipakai sebagai kerangka analisis kritis.
  • Pertama-tama, analisis kritis mensyaratkan pencarian fakta dan ciri situasi atau kenyataan yang dicoba-difahami. Kita bertanya dan mencari tahu: “Apa yang sebenarnya tengah berlangsung?”; “Apa akibat yang timbul dari situasi ini?”; “Apa dampak situasi atau kejadian atau pernyataan itu terhadap pihak lain?”; “Siapakah pihak yang diuntungkan oleh situasi atau usulan tersebut?”; “Siapakah yang dirugikan oleh situasi atau usulan tersebut?”; “Apa penyebab terjadinya situasi tersebut?”
  • Analisis kritis juga berusaha memahami “riwayat” pernyataan, situasi atau masalah yang perlu difahami. Analisis kritis mengkaji situasi atau peristiwa atau pernyataan yang tengah dalam proses perubahan. “Bagaimana situasi tersebut dapat terjadi? Seberapa permanenkah situasinya? Apa cara yang mungkin dilakukan agar situasi tersebut berubah? Apa penyebab perubahan tersebut?
  • Analisis kritis mengkaji situasi atau peristiwa dari sudut pandang yang utuh. Kontradiksi atau kebalikan dari sebuah situasi perlu dicari. Sehingga, ketika mengamati suatu-situasi baru atau sejumlah keadaan, muncul pertanyaan, “Apa yang terjadi dengan situasi lama, manakah yang tidak berubah? Apa yang terjadi dengan situasi positif / negatif?” Misalnya, “keadilan sosial” hanya dapat dipikirkan dan dicapai lewat pemahaman tentang “ketidak-adilan sosial ” dan penyebabnya.

7 pemikiran pada “Analisis Kritis, Berpikir Kritis, Bertindak kritis,

  1. Saya sangat ingin mempelajari ilmu komunikasi itu secara harfiah dan komplit, karena ilmu tersebut sangatlah di butuhkan oleh para tokoh ilmuwan,tokoh birokrasi, ahli diplomatik,dan para masyarakat yang ingin mengharapkan suatu perubahan itu yang terjadi secara semustinya di Indonesia..Insya Allah

    Suka

  2. Sebagai sebuah aliran pemikiran kontemporer, madzhab Frankfurt telah memberikan sumbangsih yang tak kalah pentingnya dengan pemikiran–pemikiran kontemporer lainnya.

    Dimulai dari konteks historis berkembangnya aliran tesebut, yang berkembang di eropa barat akibat situasi perang dunia ke II memaksa orang-orang yang tergabung di dalam madzhab tersebut untuk merevisi ulang alur pemikiran marx untuk menjelaskan situasi yang mereka alami. Perjalanan tersebut mengakibatkan mereka untuk mensintesiskan pemikiran Marx dengan teori psikoanalisinya Sigmund Freud.

    Akan tetapi walaupun demikian mereka tetap berpedoman kepada alur pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisi ideal Immanuel Kant sampai pada puncak pemikiran kritis historis dialektisnya Hegel. Imbas dari kolaborasi tersebut melahirkan teori kritis yang mengedepankan pencerahan yang menyadarkan orang terhadap proses penindasan dan ekploitasi
    manusia dalam tatanan sosial.

    Daftar Pustaka
    Adams,Ian, Idiologi Politik Mutakhir, Qalam, Yogjakarta: 2004
    Sargent,Tower.Lyman, Idiologi-Idiologi Politik Kontemporer, Erlangga, Jakarta: 1987.
    Suhelmi, Ahmad, Pemikiran Politik Barat, PT Gramedia Pustaka Utama, Yogjakarta: 2001.
    Hardiman, Budi, Filsafat Modern Dari Machiavelli Sampai Noetzsche, Gramedia Pustaka Utama,
    Jakarta, 2004
    Hardiman, Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif, Kanisius, Yogyakarta, 1993
    Magnis Suseno, Franz, Pemikiran Karl Marx; dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme,
    Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.
    McLelland, David, Karl Marx Selected Writings, Oxford University Press, Oxfrod, 1977.
    Yusuf Lubis, Akhyar, Dekonstruksi Epistemologi Modern; Dari Postmodernisme, Teori Kritis,
    Poskolonialisme hingga Cultural Studies, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta, 2006.
    Adorno, T.W dan Max Hokheimer, Dialectic of Enlightment, Allen, Lane, London, 1973.
    Mc Quail, Dennis, Teori Komunikasi Massa (terj), Penerbit Airlangga, Jakarta, 1986
    Littlejohn, Stephen W, Theories of Human Communication, 7th Edition. Wadsworth Publising
    Company, Belmont, 2001.
    Koran:
    Nugroho, Garin, Awas, Krisis Masyarakat Komunikatif, Kompas, Jakarta, 25 Maret 2006.

    Internet:
    Chandler, Daniel, Marxist Media Theory, http://www.aber.ac.uk, 1994
    http://www.marxists.org/admin/volunteers/biographies/ablunden.htm

    Suka

  3. BERPIKIR KRITIS DALAM ANALISA BERPIKIR

    Asumsi Dasar Teori Kritis.
    Teori kritis sendiri merupakan teori yang tidak berkaitan dengan prinsip-prinsip umum, tidak
    membentuk sistem ide. Teori ini berusaha memberikan kesadaran untuk membebaskan manusia
    dari irasionalisme. Dengan demikian fungsi teori ini adalah emansipatoris. Ciri teori ini adalah :
    a) Kritis terhadap masyarakat. Teori Kritis mempertanyakan sebab-sebab yang
    mengakibatkan penyelewengan-penyelewengan dalam masyarakat. Struktur masyarakat
    yang rapuh ini harus diubah.
    b) Teori kritis berpikir secara historis, artinya berpijak pada proses masyarakat yang historis.
    Dengan kata lain teori kritis berakar pada suatu situasi pemikiran dan situasi sosial
    tertentu, misalnya material-ekonomis.
    c) Teori kritis tidak menutup diri dari kemungkinan jatuhnya teori dalam suatu bentuk
    ideologis yang dimiliki oleh struktur dasar masyarakat. Inilah yang terjadi pada pemikiran
    filsafat modern. Menurut Madzhab Frankfurt, pemikiran tersebut telah berubah menjadi
    ideologi kam kapitalis. Teori harus memilikikekuatan, nilai dan kebebasan untuk
    mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideologi.
    d) Teori kritis tidak memisahkan teori dari praktek, pengetahuan dari tindakan, serta rasio
    teoritis dari rasio praktis. Perlu digarisbawahi bahwa rasio praktis tidak boleh
    dicampuradukkan dengan rasio instrumental yang hanya memperhitungkan alat atau
    sarana semata. Madzhab Frankfurt menunjukkan bahwa teori atau ilmu yang bebas nilai
    adalah palsu. Teori kritis harus selalu melayani transformasi praktis masyarakat.

    Pada dasarnya Teori Kritis Aliran Frankfurt ingin memperjelas struktur yang dimiliki oleh masyarakat pasca industri serta melihat akibat-akibat struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan kebudayaan secara rasional. Teori Kritis ingin menjelaskan hubungan manusia dengan bertolak dari pemahaman rasio instrumental. Teori Kritis ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasionalitas.

    Frankfurt School merupakan istilah populer untuk menyebut kelompok cendekiawan yang terhimpun dalam Frankfurt Institute of Sosial Reaseach yang berpusat di Universitas Frankfurt Jerman. Lembaga ini didirikan oleh Felix J. Weil pada tanggal 3 Februari 1923 dan mendapat dukungan dari sekelompok intelektual Marxian yang berlatarbelakang berbagai disiplin ilmu pengetahun. Di antara mereka yang terkenal adalah Max Hokheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse dan yang paling kontemporer adalah Habermas. Meskipun mereka sangat dipengaruhi oleh Marx namun mereka berpendapat bahwa teori Marx sudah tidak mampu mengungkapkan sifat masyarakat secara akurat,
    sehingga mereka memandang perlu dikembangkan lebih lanjut.

    Cendekiawan yang tergabung dalam aliran ini memiliki ciri khas yaitu kritis terhadap berbagai aspek kehidupan sosial untuk mengungkapkan sifat masyarakat modern secara lebih akurat. Tak heran jika kemudian aliran mereka disebut sebagai teori kritis. Mereka mengembangkan pemikirannya dengan bertolak dari keinginan untuk memperoleh teori sosial dan epistemologi alternatif terhadap paradigma positivisme yang dianggap sudah tidak relevan lagi.

    Madzhab Frankfurt menolak pandangan Marxisme yang terlalu menekankan pada determinisme ekonomi. Karena pandangan determinisme ekonomi berangkat dari asumsi pemikiran positivistik yang menganggap bahwa metode ilmu alam dan prinsip ilmu alam dapat diterapkan dengan tepat pada bidang ilmu pengetahuan sosial budaya. Mereka memandang ilmu pengetahuan sosial budaya tidak bisa disamakan dengan ilmu alam, karena alam secara mendasar sangat berbeda dengan manusia dan kegiatannya. Dalam pandangan Habermas paradigma positivisme itu mengabaikan peran manusia sebagai aktor yang memiliki karakteristik khas dan unik tidak seperti robot. Teori yang berusaha dibangun oleh Madzhab Frankfurt ingin melepaskan kehidupan dari model cara
    berpikir positivisme (rasionalitas instrumental) dimana terjadi penjajahan dunia kehidupan (labenswelt) oleh sistem.

    Berangkat dari paradigma di atas maka Madzhab Frankfurt lebih menekankan kajiannya pada persoalan kultural. Mereka berkeyakinan bahwa ramalan Marx tentang akan hancurnya sistem kapitalisme tidak akan terbukti. Karena kapitalisme telah mengkonsolidasikan dan mengembangkan mekanisme efektif seperti pemenuhan hak-hak pekerja secara lebih proporsional, sehingga revolusi sosial yang akan menghancurkan kapitalisme tidak akan terjadi. Bentuk penindasannya pun tidak
    dengan cara fisik melainkan sangat halus sehingga kaum pekerja menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Atas dasar pertimbangan itu maka para eksponen madzhab Frankfurt mengalihkan perhatiannya dari analisis ekonomi kapitalistik ke kritik atas penggunaan rasio intrumental pada masyarakat modern.

    Menurut Madzhab Frankfurt, rasio instrumental telah menghasilkan budaya industri (culture industry) yang telah menghalangi perkembangan individu secara otonom. Penindasan yang dilakukan oleh budaya industri lebih dominan dari sekedar dominasi ekonomi. Adorno dan Hokheimer mengatakan dalam Dialectical Imagination, bahwa budaya industri telah membuat manusia tereifikasi. Manusia menjadi seperti robot yang dideterminasi oleh iklan yang ditampilkan oleh media massa. Manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih lagi karena semuanya telah ditentukan, distandarkan oleh budaya industri. Kostumer tidak lagi menjadi raja, tidak lagi menjadi subjek, tapi menjadi budak dan objek.

    Sementara itu dalam analisis Herbert Marcuse, rasionalitas instrumental dan kungkungan industri budaya yang demikian massif telah menjadikan manusia menjadi manusia satu dimensi (one dimensional man). Hampir semua eksponen Mazhab Frankfurt pesimis terhadap budaya massa.

    Nada pesimis Marcuse lebih tampak dalam analisanya terhadap budaya massa yang ditampilkan oleh media massa:

    The means of… communication…, the irresistible output of the entertainment and
    information industry carry with them prescribed attitudes and habits, certain
    intellectual and emotional reactions which bind the consumers… to the producers
    and, through the latter to the whole [sosial system]. The products indoctrinate and
    manipulate; they promote a false consciousness which is immune against its
    falsehood… Thus emerges a pattern of one-dimensional thought and behaviour.
    (Marcuse, cited in Bennett 1982: 43).

    Dalam bukunya yang paling berpengaruh One-Dimensional Man, Marcuse berkeyakinan bahwa dengan adanya kebudayaan massa, aspek progresif dari seni klasik telah dihapus hanya sekedar menjadi industri. Seni hanya menjadi nilai operasional dan keinginanya akan kebahagiaan diganti dengan kebutuhan yang salah atau palsu (false need) dalam masyarakat konsumtif ini. Itulah sebabnya Marcuse, sebagaimana halnya pemikir madzhab Frankfurt (Frankfurt School) lainya seperti Theodore Adorno memandang rendah kebudayaan populer (popular culture) karena sifatnya yang
    konservatif dan afirmatif. Kebudayaan populer, menurutnya selalu mendamaikan kita dengan kondisi represif dalam masyarakat kapitalis ini. Mengenai budaya populer Adorno memberikan karakteristiknya. Menurutnya karakteristik fundamental dari budaya populer, khususnya dalam musik populer, termasuk di dalamnya musik rock adalah standarisasi (standarization). Karakteriktik yang membedakannya dengan bentuk high culture yang dianggap adiluhung Mengapa para eksponen Mazhab Frankfurt tampak pesimis dengan budaya massa? Karena budaya massa yang komersial dan universal merupakan sarana utama untuk memonopoli modal. Budaya massa ini mencakup di dalamnya segala hal yang diproduksi dan disebarluaskan secara massal. Tokoh lain dari Madzhab Frankfurt yaitu Jurgen Habermas. Habermas memberikan jalan keluar untuk mengatasi patologi modernitas itu, yaitu dengan beralih dari rasionalitas instrumental menuju rasionalitas komunikatif yang mengandaikan adanya situasi pembicaraan yang ideal. Habermas
    beralih ke paradigma komunikasi dengan mengintegrasikan linguistic-analysis dalam Teori Kritis.

    Komunikasi adalah titik tolak fundamental Habermas untuk mengatasi kemandekan Teori Kritis para pendahulunya. Kegagalan para pendahulunya adalah karena teori kritis yang dilandasi rasio kritis akhirnya berubah menjadi mitos atau ideologi baru. Emansipasi yang diperjuangkan mereka hanya menjadi mitos yang tak kunjung selesai.
    Hebermas berusaha mengatasi kebuntuan itu dengan beralih ke paradigma komunikasi. Sebenarnya menurut Habermas, dalam pemikiran Hegel sendiri yang menjadi induk dari teori sosial kritis, praksis bukan hanya dimaknai sebagai kerja tetapi komunikasi. Karena praksis dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam kegiatan menaklukkan alam dengan kerja melainkan juga dalam interaksi intersubjektif dengan bahasa sehari-hari. Selanjutnya bagaimana mencapai konsensus dalam komunikasi? Menurut Habermas dalam komunikasi setiap komunikator ingin membuat lawan bicaranya memahami maksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebutnya klaim-klaim kesahihan (validity claims). Karena itu dalam The Theory of Communicative Action, Habermas menyebut empat macam klaim. Pertama, klaim kebenaran (claim of truth) yaitu ketika kita sepakat kepada dunia alamiah dan objektif. Kedua, klaim
    ketepatan (claim of rigtness), kala kita sepakat pada pelaksanaan norma-norma dalam kehidupan sosial. Ketiga, klaim kejujuran (claim of sincerity) yaitu kalau kita sepakat tentang kesesuaian antara bathiniah dengan ekspresi seseorang. Keempat, klaim komprehensibilitas (claim of comprehensibility) jika kita sepakat dan mampu menjelaskan ketiga klaim sebelumnya. Komunikasi yang efektif melibatkan keempat klaim tersebut karena merupakan standar kompetensi komunikatif.

    Mengikuti alur pikir diatas maka untuk mencapai konsensus segala persoalan harus didialogkan dalam ruang yang bebas dari dominasi. Dialog dalam hal ini mengandaikan adanya kedudukan yang setara. Karena itu Habermas menekankan pentingnya etika dalam komunikasi seperti yang disebut di atas. Etika tersebut yaitu kondisi komunikasi yang menjamin sifat umum norma-norma yang dapat diterima dan menjamin otonomi individu melalui kemampuan emansipatoris sehingga menghasilkan pembentukan kehendak bersama lewat perbincangan. Terkait dengan dialog tersebut, Habermas memandang, salah satu mediumnya yaitu media massa. Media massa sebagai tempat untuk mengungkapkan pendapat dalam public sphere. Karenanya Habermas mengandaikan media massa mestinya menjadi ruang yang bebas dari dominasi sehingga segala macam pemikiran dapat didialogkan tanpa ada paksaan. Namun, sepertinya idealisasi Habermas terhadap media massa sangat utopis dalam masyarakat kapitalisme lanjut sekarang. Apalagi media massa umumnya cenderung berada dalam genggaman para pemilik modal yang lebih menekankan pada keuntungan dari budaya yang ditampilkannya.

    MRG

    Suka

  4. Fase- fase Perkembangan Madzhab Frankfurt
    Untuk memahami gagasan teori kritis Aliran Frankfurt kita perlu memahami perkembangan aliran
    itu. Ada beberapa fase penting perkembangan aliran tersebut. Pertama, fase pembentukan aliran,
    yaitu sekitar tahun 1923-1933 ketika penelitian-penelitian pertama dilakukan di lembaga penelitian
    Frankfurt. Direktur pertama lembaga itu adalah Carl Grunberg, seorang ahli ekonomi, sejarahwan
    sosial. Grunberg berhasil mengarahkan kajian-kajian teoritis Aliran Frankfurt lebih berorintasi
    empiris .dan menekankan pentingnya pendekatan ekonomi maupun dlam mengkaji mfenomena-
    fenomena sosial.
    Fase kedua, fase pengungsian anggota Aliran Frankfurt ke Amerika Utara pada tahun 1933-1950.
    Dimasa pengungsian ini, gagasan-gagasan teori kritis Neo Hegelian mulai dijadikan dasar pemikiran
    kegiatan berbagai lembaga Frankfurt. Horkhemeir menjadi direktur pada fase ini. Dialah yang
    melakukan reorientasi teoritis dan pendekatan yang kemudian menjadikan kajian-kajian teoritis
    para pendahulunya. Pada fase kepemimpinan Mark Horkheimer, Aliran Frankfurt mengubah orientasi
    aliran dari yang bersifat ekonomis historis versinya Grunberg menjadi orientasi filosofis. Hal
    tersebut mengagasi atau menjadi dasar teori kritis aliran Frankfurt yang mulai terbentuk secara jelas
    ketika tokohnya kembali ke Jerman pada tahun 1950-an.
    Fase ketiga, perkembangan aliran Frankfurt mulai pada awal 1950 sampai 1973. pada fase ini,
    pengaruh aliran ini mulai memudar dengan meninggalnya Adorno tahun 1969 dan Horkheimer
    tahun 1973. Dengan kematian dua tokoh terkemuka praktis aliran Frankfurt terhenti. Aliran itu tidak
    lagi berperan dalam dunia pemikiran sosial. Pamornya sebagai avant garde intelektual nyaris
    berahkir. Aliran ini mulai menapaki masa-masa jayanya kembali dengan munculnya Jurgen
    Habermas, seorang teoritisi terkemuka yang tetap melestarikan dan mengembangkan teori dan
    metodologi para pendahulunya.

    Suka

  5. Mazhab Frankfurt merupakan kumpulan beberapa pemikir Jerman yang mengangap bahwa pemikiran Marx telah didistorsi oleh Engels dan para pemikir Lenin-Marxis yang diakibatkan oleh kegagalan revolusi kaum pekerja di Eropa Barat setelah Perang Dunia I dan oleh bangkitnya Nazisme di negara yang secara ekonomi, teknologi, dan budaya maju yaitu Jerman.
    Oleh Karena itu, mereka merasa harus memilih bagian mana dari pemikiran-pemikiran Marx yang dapat menolong untuk memperjelas kondisi-kondisi yang Marx sendiri tidak pernah lihat. Pada awalnya pemikiran Marx di jadikan tolak ukur pemikiran sosial aliran tersebut. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa aliran Frankfurt merupakan perwujudan usaha untuk kembali mengkaji pemikiran pemikiran Hegelian Kiri
    (Hegelian Leftism), yaitu pemikiran hegel sekitar tahun 1840-an. Sama halnya dengan generasi awal pencetus teori kritis, seperti Hegel dan Immanuel Kant, tokoh-tokoh Frankfurt tertarik degan kajian mengenai kajian filsafat dan ilmu-ilmu non alamiah seperti sociologi , ekonomi, musikologi, psikologi, Ilmu politik dan lain-lain.

    Cara berpikir aliran Frankfurt dapat dikatakan sebagai teori kritik masyarakat. Maksud teori ini adalah membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Khas pula apabila teori ini berinspirasi pada pemikiran dasar Karl Marx, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa inspirasi Teori Kritis banyak didialogkan dengan aliran-aliran besar filsafat.

    Suka

  6. Setting Historis Madzhab Frankfurt
    Aliran Frankfurt atau dikenal dengan Madzhab Frankfurt merupakan sekelompok pemikir sosial yang
    muncul dari lingkungan Institute Of Sosial Reserch Universitas Frankfurt, yang dipelopori oleh Felix
    Weil pada tahun 1923. Latar belakang didirikannya lembaga pendidikan itu adalah karena terjadinya
    kemenangan Revolusi Bolhesvick, kegagalan-kegagalan Revolusi di Eropa Tengah khususnya di
    Jerman. Peristiwa itu membangkitkan semangat Intelektual Kiri Jerman untuk melakukan kajian
    kembali secara serius teori- teori marxis khususnya yang berkaitan dengan akal budi dan praktik
    dalam kondisi-kondisi sosial yang baru. Misalnya, melakukan kajian mengenai cara bagaimana agar
    teori marxis dapat terus relevan dan cocok untuk setiap perkembangan sosial.2 ).
    Walaupun pada awalnya menjadikan pemikiran Marx sebagai titik tolak pemikiran sosialnya. Akan
    tetapi, seperti yang penulis tulis diatas bahwa madzhab Frankfurt tetap mengambil semangat dan
    alur pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisisme ideal Immanuel
    Kant sampai pada puncak pemikiran kritisisme historis dialektisnya Hegel. Dengan sangat cerdas,
    sebagian besar pemikir madzhab Frankfurt berdialog dengan Marx, Hegel dan Kant.
    Oleh karena itu mereka mengadopsi dari madzhab-madzhab pemikiran lain untuk mengisi apa yang
    dianggap kurang dari Marx. Max Weber, Sigmund Freud memberikan pengaruh yang besar terhadap aliran ini. Penekanan mereka terhadap komponen “Teori Kritis” banyak meminjam dari upaya mereka
    untuk mengatasi batas-batas dari positivisme materialisme yang kasar, dan fenomenologi dengan
    kembali kepada filsafat kritis Kant dan penerus-penerusnya dalam idealisme Jerman, khususnya
    filsafat Hegel, dengan penekanannya pada negasi dan kontradiksi sebagai bagian yang inheren dari
    realitas.
    Sebuah pengaruh penting juga datang dari penerbitan Manuskrip Ekonomi-Filsafat dan Ideologi
    Jerman karya Marx tahun 1930-an yang memperlihatkan kesinambungan dengan Hegelianisme yang
    mendasari pemikiran-pemikiran Marx: Marcuse adalah salah satu orang yang pertama
    mengartikulasikan secara signifikan teoretis dari teks-teks ini.
    Perkembangan Teori Kritis semakin nyata, ketika aliran Frankfurt dipimpin oleh Max Horkheimer dan
    mempunyai anggota Friederick Pollock (ahli Ekonomi), Adorno (musikus, sastrawan dan psikolog), H.
    Marcuse (murid Heidegger yang fenomenolog), Erich Fromm (psikoanalis), Karl August Wittfogel
    (sinolog), Walter Benjamin (kritikus sastra) dan lainnya. Pada saat itu ,Horkheimer pelan-pelan
    memasukkan pemikiran psikoanalisa Sigmund Freud ke dalam pemikiran sosial Teori Kritis
    (meskipun dengan hal ini, pemikiran kritis menuai kritik tajam sebagai pengkhianatan terhadap
    marxis orthodox.

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s