Apa Itu Tiping Point ? by Mustika Ranto Gulo

Menelusuri buku Malcolm Gladwell, salah satu pengarang yang sangat komunikatif dalam menyampaikan pikirannya dengan lugas. Dalam buku pertama Malcolm Gladwell adalah Tipping Point, How Little Things Can Make a Big Different (Edisi Indonesianya: Tipping Point, Bagaimana Hal – Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar). Malcolm Gladwell adalah penulis kelahiran Inggris tahun 1963, masih muda sekali, sejak memulai menulis sebagai reporter di The Washington Post dan sejak 1996 menjadi penulis di majalah The New Yorker. Latar belakang pendidikannya di bidang sejarah dan pengalamannya di dunia jurnalistik membuat tulisannya dipenuhi dengan data – data yang mengagumkan.

“Bagaimana Hal – Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar”

Sangat menggentarkan sekali, ketika membaca judul buku ini, kita bisa menduga isinya, namun nyatanya tidaklah demikian, makna dari tulisan-tulisannya sangat dalam. Bahwasanya riak-riak kecil yang ada ditengah danau yang tenang akhirnya sampai juga di tepi pantai, dan membasahi tepi danau itu, sehingga membawa perubahan yang nyata. Jangan anggap sepele kepada hal-hal kecil karena dapat berdampak sangat besar ….! demikian saya melukiskannya.

Gladwell menuliskan sesuatu yang menakjubkan di awal buku ini sebagai contoh. Perusahaan Wolverine sudah berencana untuk menghentikan produksi sepatu Hush Puppies karena semakin menurun daya jualnya. Namun tiba – tiba saja Wolverine dibanjiri pesanan sepatu Hush Puppies itu. Penjualan sepatu itu membumbung hingga Wolverine mengurungkan niatnya untuk menutup perusahaan. Pertanyaannya, apa yang membuat perubahan besar ini? Dari yang awalnya sangat tidak populer menjadi sangat populer hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun? Ternyata, perubahan ini dipicu oleh hal yang kecil. Beberapa anak muda yang ingin tampil beda, menggunakan sepatu Hush Puppies itu. Tanpa mereka sadari, ini mempengaruhi pemuda lain untuk menggunakannya hingga semua anak muda menjadi begitu terobsesi dengan sepatu yang hampir punah itu.

Gladwell menyebutnya dengan Tipping Point. Apa itu Tipping Point? Ungkapan ini pertama dikenalkan pada tahun 1970an. Pada saat itu, banyak terjadi perpindahan warga kulit putih karena semakin bertambahnya warga kulit hitam di daerah mereka.  Saat pendatang kulit hitam  mencapai angka tertentu di suatu wilayah, warga kulit putih langsung berpindah dari daerah itu. Bertambahnya warga kulit hitam yang menyebabkan warga kulit hitam berpindah itu, saat itu disebut sebagai Tipping Point.
Kasus serupa Hush Puppies ini ternyata berulang dan terus terjadi di bidang lain. Dan menurut Gladwell, perubahan yang ekstrem semacam ini seringkali dipicu oleh hal – hal yang kecil. Akan tetapi, tidak semua hal kecil bisa merubah keadaan yang sudah mapan. Ada tiga syarat menurut Gladwell, yang harus terpenuhi agar hal kecil bisa melakukan perubahan yang besar.
Tipping point merupakan nama yang diberikan kepada suatu hal yang dapat mengubah segalanya secara sekaligus.

• Penularan
Yang dimaksud penularan ini ialah suatu gejala dimana gagasan, produk, ataupun perilaku mampu menjadi hal yang ditiru/dianut oleh banyak orang. Yang dilakukan oleh orang-orang ini kemudian menjadi hal yang ditiru oleh kelompok lainnya sehingga gagasan, produk, ataupun perilaku tersebut memberikan dampak pada semakin luasnya untuk orang menggunakan atau menganutnya.
• Fakta bahwa yang kecil mampu memberikan perubahan besar
Fenomena tren mode hush puppies yang dipakai oleh beberapa orang fashion forward (yang disebut sebagai superinfluential types) di Manhattan mampu mengantarkan sepatu itu menjadi sepatu yang dipakai di seluruh negeri dan dijual di seluruh mall di Amerika. Ada sebuah misteri mengapa segelintiran orang yang memakai hush puppies ini mampu memberikan dampak perubahan yang besar bagi tren mode di amerika. Beberapa orang yang mengerti tentang mode ini mampu mampu menularkan virus “hush puppies” ke seluruh negeri. Inilah sebuah contoh bagaimana yang kecil (segelintiran fashion forward) mampu memberikan dampak pada tren mode sepatu bagi seluruh daratan Amerika, bahkan kini juga mewabah di negara-negara lainnya. Hush Puppies, yang mestinya sekarat pada 1994, tiba-tiba berubah haluan karena ada segelintir orang amat berpengaruh memakai sepatu Hush Puppies. Hanya dalam tempo dua tahun, penjualannya naik 5 ribu persen tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya iklan. Semua itu, menurut Gladwell, karena ada “segelintir superinfluential types” yang mempengaruhi orang lain untuk meniru mereka.
• Perubahan yang terjadi dengan dramatis
Epidemi merupakan sebuah keadaan dimana penyakit menular dengan begitu cepat melebihi ekspektasi. Begitu juga dalam prinsip tipping point. Sebuah hal kecil yang kita umpamakan sebagai virus (penyakit) ini mampu menjangkiti banyak orang sehingga memberikan dampak diluar perkiraan.
Gagasan mengenai pentingnya kelekatan dalam proses tipping memiliki implikasi besar bagi cara kita memandang epidemi sosial. Kita cenderung menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bagaiman sebuah pesan dapat menjadi lebih menular dan dapat “menjangkiti” orang-orang dengan lebih cepat. Kelekatan merupakan hal yang menjadi pemikiran dari orang-orang yang menginginkan agar gagasannya tidak hanya berlalu begitu saja, akan tetapi mampu melekat dalam pikiran banyak orang, melekat, memberikan dampak besar, dan tidak mudah dihapuskan begitu saja. Ada cara khusus untuk membuat kelekatan ini melalui apa yang disebut Gladwell sebagai diffusion model.
Epidemi sosial tidak dengan mudah dapat diciptakan hanya melalui intuisi. Akan tetapi dibutuhkan sebuah pengamatan yang luas untuk melihat kemungkinan dari suatu gagasan agar dapat memebrikan dampak yang besar. Menciptakan sebuah epidemi membutuhkan perkiraan-perkiraan dan juga pemahaman khusus. Diffusion model merupakan cara yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang ingin menciptakan epidemi sosial. Diffusion model merupakan langkah akademis yang dilakukan untuk melihat semenular apakah gagasan yang kita miliki. Ini dibutuhkan untuk memberikan perkiraan-perkiraan agar produk atau gagasan kita mampu menjadi sebuah ‘tipping point’ baru di tengah populasi tertentu. Setidaknya ada lima hal yang menjadi perhatian untuk melihat seberapa menular ide atau produk kita.
1. Innovators, merupakan orang yang mampu melihat gejala baru di dalam masyarakat. Memiliki karakter visoner. Mereka adalah orang-orang yang mampu melihat bagaimana sebuah inovasi akan mampu dengan segera diterima dan diadopsi oleh early adopter (pihak pertama yang mengadopsi sebuah produk baru atau gagasan baru). Connector, mavens, dan salesmen merupakan orang-orag yang mampu melihat bagaimana sebuah ide, produk, ataupun perilaku ini dapat segera diterima. Sementara translator, menerjemahkan sebuah gagasan, produk, atau perilaku ini dengan bahasa yang dapat dimengerti dengan dan diterima. Connector, maven, salesmen, dan juga translator merupakan pihak yang disebut sebagai innovators.
2. Early Adopter, merupakan kelompok populasi tertentu yang disasar oleh innovator. Mereka dengan cepat akan menerima inovasi dari inovator.
3. Early Majority, merupakan kelompok yang skeptis terhadap sesuatu. Mereka tidak akan mencoba hal baru sebelum salah seorang yang dihormati di dalam kelompok tersebut mencobanya.
4. Late Majority, merupakan kelompok yang terlambat menerima sebuah ide baru
5. Laggards, kelompok yang paling tradisional dan hampir tidak ada harapan untuk menerima sebuah perubahan.
Apa yang dimaksudkan dengan tren oleh Malcolm Gladwell sebenarnya merujuk pada beberapa penjelasan di sebelumnya mengenai epidemi. Menurut Gladwell, sebuah fenomena epidemi sosial itu dikatakan tren jika dipicu oleh segelintiran orang yang berpengaruh atau yang disebut sebagai superinfluential types. Superinfluential types ini kemudian mampu menularkan apa yang mereka lakukan kepada orang lain dan dengan cepat mewabah menjadi hal yang diterima dan ditiru oleh banyak kelompok orang sehingga menjadi tren.

Satu pemikiran pada “Apa Itu Tiping Point ? by Mustika Ranto Gulo

  1. Tiga karakteristik tipping point:

    Sifat menular.
    Perubahan kecil dapat bermakna besar.
    Perubahan tidak bertahap tapi dramatis.

    Ibarat penyakit, mempunyai lebih dari satu cara untuk menjadi epidemi. Epidemi adalah sebuah fungsi yang memiliki beberapa unsur yakni: orang yang bertindak sebagai agen penginfeksi, agen penginfeksi itu sendiri, dan lingkungan tempat beroperasinya agen penginfeksi. Ketika epidemi meledak, suatu perubahan telah terjadi pada satu (atau dua atau tiga) unsur tadi. Ketiga unsur ini disebut dengan Hukum tentang Yang Sedikit (the Law of the Few), Faktor Kelekatan (the Stickiness factor), dan Kekuatan Konteks (the Power of Context).

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s