Bagaimana Mengatasi Resistensi

Bahan diskusi Ilmu Komunikasi paling hangat 2012

Kesimpulan kita bahwa ada terdapat 3 kelompok yang melakukan resistensi :

  • Resistensi obyektif, yaitu penolakan yang cukup beralasan, masuk akal dan itu dinyatakan dengan tegas.
  • Resistensi subyektif-pasif, penolakan yang tidak jelas alasannya secara organisasi, pribadi dan dilakukan secara diam-diam.
  • Resistesi subyektif-aktif, tidak jelas alasannya secara organisasi, pribadi, melawan terang-terangan

Langkah Jitu Untuk Menghadapi Resistensi

Penolakan yang nyata-nyata sifatnya obyektif, dinyatakan secara terbuka, dan tujuannya juga jelas secara organisasi, tentu penanganannya lebih sistimatis dan dapat dikendalikan secara organisasi juga. Tetapi penanganan yang sangat sulit adalah mengatasi resistensi subyektif, karena sifatnya yang sangat pasif dan sulit untuk menebak alasan-alasan penolakan tersebut, dan selain itu penolakkan secara aktif tanpa alasan biasanya sangat frontal.

dalam diskusi kali ini terungkap beberapa solusi adalah :

  1. Gunakan Power, biasa dilakuakan dimasa Soeharto, para pebisnis nakal di ‘beking‘ oleh orang-orang yang berkuasa atau yang berpengaruh dari kelompok orang-orang yang resisten atau yang bisa masuk ke dalam kelompok yang menolak perubahan itu. Bukan dengan maksuk yang tidak baik ayau ‘nakal’ tetapi untuk melakukan salah satu cara pendekatan. Ini bisa dari sumber internal (orang dalam) atau juga dari orang luar yang sudah akrab dengan beberapa orang.
  2. Gunakan referensi tokoh dalam membenarkan statemen penyelesaian masalah, misalnya tokoh agama atau tokoh yang terkenal karena sangat berpihak kepada masyarakat atau orang papah. Tema perubahan jangan sampai terlupakan, nyatakan bahwa betapa pentingnya melakuakan perubahan itu.
  3. Lakukan pemisahan dengan cara memetakan orang orang yang pro dan kontra, buatlah perbedaan perlakuan terhadap orang yang pro perubahan. Dengan demikian terbentuk dengan sendirinya koalisi yang mendukung perubahan yang akhirnya mengurangi jumlah orang-orang yang resisten. Bisa dilakukan dengan mutasi, rolling, membentuk kelompok kerja baru, dan seterusnya.
  4. Memfasilitasi perubahan sikap sejauh itu bisa dilakukan, masuk akal dan tidak memancing kecemburuan orang lain. Ini bisa dilakukan apabila alasan dan motif resistensinya masuk akal, obyektif, dan untuk kebaikan orang banyak
  5. Menyatakan dengan tegas keuntungan dan kerugian serta ancaman jika perubahan tidak segera dilakukan. Meramu ancaman dan imbalan sebagai strategi untuk menumbuhkan partisipasi. Kalau hanya ancaman saja, resistensi masih bisa dilakukan dengan “diam-diam”. Tetapi kalau hanya imbalan saja, ini bisa menimbulkan kecemburuan dan rasa ketidakadilan
  6. Menunjukkan bukti-bukti kemajuan atau prestasi yang didapat dari perubahan untuk membuka kesadaran orang-orang yang resisten
  7. Menerapkan manajemen kinerja (reward management) sehingga terdapat perbedaan yang jelas dalam hal reward antara orang yang kinerjanya bagus dan orang yang kinerjanya tidak bagus. Kalau sampai orang yang mendukung itu mendapatkan reward yang sama dengan orang yang resisten, ini tentu akan menghambat.
  8. Menggunakan berbagai cara berkomunikasi yang cocok. Untuk orang yang tidak paham, gunakan penjelasan yang clear-cut (jelas pengertiannya). Untuk orang yang senior, gunakan ajakan yang halus. Untuk orang yang berpengaruh, gunakan bahasa yang memuliakan. Untuk orang yang banyak dan berbeda-beda (misalnya dalam meeting), gunakan bahasa yang mudah dipahami.
  9. Langkah terakhir adalah menggunakan ‘paksaan’ yang sudah disepakati dalam organisasi, misalnya peringatan, pemutasian, penurunan, sampai ke pemecatan.

Menurut Anderson (1990) bahwa langkah pemecahan masalah dalam rangka menghadapi resistensi ada 6 tahap:

  1. Lakukan Identifikasi dan defenisikan masalah itu dengan tepat, sehingga resistensi tidak menjadi besar karena kesalah pahaman arti tehadap tujuan yang akan dicapai
  2. Koleksi berbagai alternatif penyelesaian masalah. Resistensi, bukan berarti perjuangan kalah menang, namun dapat ditangani dengan menawarkan solusi win-win
  3. Tentukan kriteria penyelesaian masalah yang akan digunakan untuk mengevaluasi solusi alternatif.
  4. Evaluasi solusi alternatif yang sudah dipilih sebagai satu-satunya sikap dalam mengatasi resistensi
  5. Pemilihan solusi alternatif dengan tegas dan beribawa, tidak ambivalen
  6. Lakukan dan laksanakan solusi alternatif itu dengan tegas dan berikan penghargaan kepada mereka yang menerimanya dengan baik

semoga berguna !

Satu pemikiran pada “Bagaimana Mengatasi Resistensi

  1. 1. Resistensi induvidu

    kemukakaan langkah-langkah yang di lakukan manager dalam menangani reseistensi perubahan tersebut.

    2. kelompok secara potensial memiliki kelebihan dan kekurangan. kadang lebih mendahului mayoritas dari pada minoritas

    langkah-langkah apa untuk menghadapi hal tersebut.

    3. reseistensi dalam (oraganisasi hampir sama dengan induvidu.)

    Team building , pendapat survey, feadback, tempat kerja

    Penilaan tersebut apakah cukup dalam mengatasi resistensi perubahan.

    4.komunikasi masa dalam media massa tedapat 4 cara mempengaruhi kehidupan, misalnya menghilangkan kebosanan, memperngaruhi persepsi agenda setting.

    bagaimana elit-elit media untuk memelihara posisi dominan, Cara-cara media mana yang secara efektif dapat mendorong dalam melakukan perubahan. ( disuru baca buku apa ya ??? )

    5. hubungan komunikasi antar budaya.

    kelompok budaya menghadapi tantangan dari lingkungan, teknologi baru, demografi,

    Oraganisasi atau pribadii harus mengindetinfikasikan, bila harus berubah berubah yang seperti apa. Harus punya identitas.

    Unsur-unsur yang dapat menghambat strategi perubahan (identitas oraganisasi dan induvidu) ( ini juga buku apa ya ..)

    6. Tentang tiping poin 3 karakteristik

    epidemik, dramatis,hukum yang sedikit, pendekatan , kekuatan yang kontekstual dilihat dari peristiwa yang terjadi

    kaidah epidemik bisa terjadi bila memiliki 3 kaidah itu

    apakah cukup dengan kaidah itu (buku ?? )

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s