KULIAH PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI

Buat Skema teori komunikasi yang ada pada semua tradisi komunikasi.

Dr. Ahmad Mulyana

Info Hubungi :

Ranto : mrgulo@gmail.com

7 pemikiran pada “KULIAH PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI

  1. Teori Komunikasi : Interaksionisme Simbolik (George Herbert Mead)
    Share

    George Herbert Mead mengagumi kempampuan manusia untuk menggunakan simbol; dia menyatakan bahwa orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul didalam sebuah situasi tertentu. Simbol yang dimaksud adalah label arbitrer atau representasi dari fenomena. Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Raph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) mengatakan bahwa interaksionisme simbolik adalah pada intinya sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, sebaliknya membentuk perilaku manusia. Dalam pernyataan ini, kita dapat melihat argument Mead mengenai saling ketergantungan antara individu dan masyarakat.

    Sejarah Interaksionisme Simbolik
    Interaksionisme simbolik lahir pada dua universitas: Universitas Iowa dengan tokoh Manford Kuhn dan Universitas Chicago dengan tokoh George Herbert Mead. Kedua universitas ini mengembangkan dua metode yang berbeda. Herbert Blummer (Universitas Chicago) menyatakan bahwa studi mengenai manusia tidak dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode yang sama seperti yang digunakan untuk mempelajari hal lainnya. Mahzab Chicago mendukung penggunaan studi kasus dan sejarah serta wawancara tidak terstruktur. Sedangkan aliran dari Universitas Iowa mengadopsi pendekatan kuantitatif dalam studinya. Mahzab Iowa beranggapan bahwa konsep interaksionisme simbolik dapat dioperasionalkan, dikuantifikasi, dan diuji, dalam hal ini dikembangkan sebuah tekni “kuesioner dua puluh pertanyaan sikap diri”.

    Tema dan Asumsi Interaksionisme Simbolik
    1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia. Teori ini berpegang bahwa individu membentuk makna melalui proses komuniksai karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun. Dibutuhkan konstruksi interpretif diantara orang-orang untuk menciptakan makna, bahkan tujuan dari teori ini adalah menciptakan makna yang sama. Asumsi-asumsinya:
    • Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka. Asumsi ini menjelaskan perilaku sebagai suatu rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar antara rangsangan dan respons yang berkaitan dengan rangsangan tersebut.
    • Makna diciptakan dalam interaksi antarmanusia. Mead menekankan dasar intersubjektif dari makna. Makna dapat ada, menurut Mead, hanya ketika orang-orang memiliki interpretasi yang sama mengenai symbol yang mereka pertukaran dalam interaksi.
    • Makna dimodifikasi melalui proses interpretif. Blumer menyatakan bahwa proses interpretif ini memiliki dua langkah. (1) Para pelaku menentukan benda-benda yang mempunyai makna. (2) Melibatkan perilaku untuk memilih, mengecek dan melakukan transformasi makna di dalam konteks di mana mereka berada.
    2. Pentingnya konsep diri. Tema kedua pada teori ini berfokus pada pentingnya konsep diri (self-concept), atau seperangkat persepsi yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Asumsi-asumsinya:
    • Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. Asumsi ini menyatakan bahwa kita membangun perasaan akan diri (sense of self) tidak selamanya melalui kontak dengan orang lain. Orang-orang tidak lahir dengan konsep diri; mereka belajar tentang diri mereka melalui interaksi.
    • Konsep diri memberikan motif penting untuk perilaku. Pemikiran bahwa keyakinan, nilai, perasaan, penilaian-penilaian mengenal diri mempengaruhi perilaku adalah sebuah prinsip penting pada interaksionisme simbolik. Mead berpendapat bahwa karena manusia memiliki diri, mereka memiliki mekanisme untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. Mekanisme ini digunakan untuk menuntun perilaku dan sikap.
    3. Hubungan antara individu dan masyarakat. Tema ini berkaitan antara kebebasan individu dan batasan social. Dalam hal ini dicoba dijelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses social. Asumsi-asumsinya:
    • Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial. Asumsi ini mengakui bahwa norma-norma social membatasi perilaku manusia. Selain itu, budaya secara kuat mempengaruhi perilaku dan sikap yang kita anggap penting dalam konsep diri.
    • Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial. Asumsi ini menengahi posisi yang diambil oleh asumsi sebelumnya. Interaksionisme simbolik mempertanyakan pendangan bahwa struktur sosial tidak berubah serta mengakui bahwa individudapat memodifikasi situasi sosial. Dengan demikian para peserta dalam interaksi memodifikasi struktur dan tidak secara penuh dibatasi oleha hal tersebut. Dengan kata lain, manusia adalah pembuat pilihan.

    Konsep Penting
    PIKIRAN (mind), sebagai kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dan Mead percaya bahwa manusia harus mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain. Manusia tidak dapat berinteraksi dengan orang lain apabila belum mengenal bahasa. Bahasa itu sendiri tergantung pada simbol signifikan (significant symbol), atau simbol-simbol yang memunculkan makna yang sama bagi banyak orang. Dengan bahasa, manusia dapat mengembangkan pikiran menjadi pemikiran (thought) dan akhirnya menghasilkan pengambilan peran (role taking), atau kemampuan untuk secara simbolik menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan orang lain.
    DIRI (self), sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Bagi Mead, diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus – maksudnya, membayangkan bagaimana kita dilihat orang lain. Mead meminjam konsep Charles Cooley (1912), cermin diri (looking-glass-self), atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dan pandangan orang lain.
    MASYARAKAT (society), sebagai jejaring hubungan sosial yang diciptakan manusia. Individu-individu terlibat didalam masyarakat melalui perilaku yang mereka pilih secara aktif dan suka rela. Jadi, masyarakat menggambarkan keterhubungan beberapa perangkat perilaku yang terus disesuaikan oleh individu-individu. Masyarakat ada sebelum individu tetapi juga diciptakan dan dibentuk oleh individu, dengan melakukan tindakan sejalan dengan orang lainnya (Forte, 2004). Ada dua bagian penting masyarakat yang mempengaruhi pikiran dan diri, yaitu:
    • Orang lain secara khusus (particular others), merujuk pada individu-individu dalam masyarakat yang signifikan bagi kita. Orang-orang ini biasanya adalah anggota keluarga, teman, dan kolega di tempat kerja serta supervisor. Kita melihat orang lain secara khusus tersebut untuk mendapatkan rasa penerimaan sosial dan rasa mengenai diri. Sering kali pengharapan dari beberapa particular others mengalami konflik dengan orang lainnya.
    • Orang lain secara umum (generalized others), merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok sosial atau budaya sebagai keseluruhan. Hal ini diberikan oleh masyarakat kepada kita, dan “sikap dari orang lain secara umum adalah sikap dari keseluruhan komunitas” (Mead, 1934). Orang lain secara umum memberikan menyediakan informasi mengenai peranan, aturan, dan sikap yang dimiliki oleh komunitas. Orang lain secara umum juga memberikan kita perasaan mengenai bagaiman orang lain bereaksi kepada kita dan harapan sosial secara umum. Perasaan ini berpengaruh dalam mengembangkan kesadaran sosial. Orang lain secara umum dapat membantu dalam menengahi konflik yang dimunculkan oleh kelompok-kolompok orang lain secara khusus yang berkonflik.

    Daftar Pustaka
    West, Richard. Pengantar Teori Komunikasi : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika, 2008

    Suka

  2. TRADISI SOSIO-PSIKOLOGI
    (Komunikasi sebagai pengaruh antar pribadi)
    Tradisi sosio-psikologi merupakan contoh dari perspektif ilmiah atau objektif. Dalam tradisi ini, kebenaran komunikasi dapat ditemukan dengan dapat ditemukan dengan teliti – penelitian yang sistematis. Tradisi ini melihat hubungan sebab dan akibat dalam memprediksi berhasil tidaknya perilaku komunikasi. Carl Hovland dari Universitas Yale meletakkan dasar-dasar dari hal data empiris yang mengenai hubungan antara rangsangan komunikasi, kecenderungan audiens dan perubahan pemikiran dan untuk menyediakan sebuah kerangka awal untuk mendasari teori. Tradisi sosio-psikologi adalah jalan untuk menjawab pertanyaan “What can I do to get them change?”

    Dalam kerangka “Who says what to whom and with what effect” dapat dibagi menjadi tiga sebab atau alasan dari variasi persuasif, yaitu :
    Who – sumber dari pesan (keahlian, dapat dipercaya)
    What – isi dari pesan (menarik dengan ketakutan, mengundang perbedaan pendapat)
    Whom – karakteristik audiens (kepribadian, dapat dikira untuk dipengaruhi)
    Efek utama yang diukur adalah perubahan pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk skala sikap baik sebelum maupun sesudah menerima pesan. Dalam hal ini kredibilitas sumber amat sangat menarik perhatian. Ada dua jenis dari kredibilitas, yaitu keahlian (expertness) dan karakter (character). Keahlian dianggap lebih penting daripada karakter dalam mendorong perubahan pemikiran.

    TRADISI SIBERNETIKA
    (Komunikasi untuk memproses informasi)
    Tradisi sibernetika memandang komunikasi sebagai mata rantai untuk menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu sistem. Tradisi sibernetika mencari jawaban atas pertanyaan “How can we get the bugs out of this system?”

    Ide komunikasi untuk memproses informasi dikuatkan oleh Claude Shannon dengan penelitiannya pada perusahaan Bell Telephone Company. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa informasi hilang pada setiap tahapan yang dilalui dalam proses penyampain pesan kepada penerima pesan. Sehingga pesan yang diterima berbeda dari apa yang dikirim pada awalnya. Bagi Shannon, informasi adalah sarana untuk mengurangi ketidakpastian. Tujuan dari teori informasi adalah untuk memksimalkan jumlah informasi yang ditampung oleh suatu sitem. Dalam hal ini, gangguan (noise) mengurangi jumlah kapasitas informasi yang dapat dimuat dalam suatu sistem. Shannon mendeskripsikan hubungan antara informasi, gangguan (noise) dan kapasitas sistem dengan persamaan sederhana, yaitu : kapasitas sistem = informasi + gangguan (noise).

    TRADISI RETORIKA
    (Komunikasi sebagai seni berbicara didepan umum)
    Ada enam keistimewaan karakteristik yang berpengaruh pada tradisi komunikasi retorika, yaitu : (1) sebuah keyakinan yang membedakan manusia dengan hewan dalam kemampuan berbicara, (2) sebuah kepercayaan diri dalam berbicara didepan umum dalam sebuah forum demokrasi, (3) sebuah keadaan dimana seorang pembicara mencoba mempengaruhi audiens melalui pidato persuasif yang jelas, (4) pelatihan kecakapan berpidato adalah landasan dasar pendidikan kepemimpinan, (5) sebuah tekanan pada kekuasaan dan keindahan bahasa untuk merubah emosi orang dan menggerakkannya dalam aksi, dan (6) pidato persuasi adalah bidang wewenang dari laki-laki.

    TRADISI SEMIOTIKA
    (Komunikasi sebagai proses berbagi makna melalui tanda)
    Semiotika adalah ilmu mempelajari tanda. Tanda adalah sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atas sesuatu. Kata juga merupakan tanda, akan tetapi jenisnya spesial. Mereka disebut dengan simbol. Banyak teori dari tradisi semiotika yang mencoba menjelaskan dan mengurangi kesalahpahaman yang tercipta karena penggunaan simbol yang bermakna ambigu. Ambiguitas adalah keadaan yang tidak dapat dihindarkan dalam bahasa, dalam hal ini komunikator dapat terbawa dalam sebuah pembicaraan dalam suatu hal akan tetapi masing-masing memiliki interpretasi yang berbeda akan suatu hal yang sedang dibicarakan tersebut. Tradisi ini memperhatikan bagaimana tanda memediasi makna dan bagaimana penggunaan tanda tersebut untuk menghindari kesalahpahaman, daripada bagaimana cara membuat tanda tersebut.

    TRADISI SOSIO-KULTURAL
    (Komunikasi adalah ciptaan realitas sosial)
    Tradisi sosio-kultural berdasar pada premis orang berbicara, mereka membuat dan menghasilkan kebudayaan. Kebanyakan dari kita berasumsi bahwa kata adalah refleksi atas apa yang benar ada. Cara pandang kita sangat kuatdibentuk oleh bahasa (language) yang kita gunakan sejak balita.

    Kita sudah mengetahui bahwa tradisi semiotika kebanyakan kata tidak memiliki kepentingan atau keterikatan logis dengan ide yang mereka representasikan. Para ahli bahasa dalam tradisi sosio-kultural menyatakan bahwa para pengguna bahasa mendiami dunia yang berbeda. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf dari University of Chicago adalah pelopor tradisi sosio-kultural. Dalam hipotesis penelitian mereka, linguistik adalah bagian dari struktur bentuk bahasa budaya yang berdasarkan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Dunia nyata terlalu luas dan secara tidak sadar terbentuk pada bahasa kebiasaan (habits) dari kelompok. Teori linguistik ini berlawanan dengan asumsi bahwa semua bahasa itu sama dan kata hanya sarana netral untuk membawa makna. Bahasa sebenarnya adalah struktur dari persepsi kita akan realitas. Teori dalam tradisi ini mengklaim bahwa komunikasi adalah hasil produksi, memelihara, memperbaiki dan perubahan dari realitas. Dalam hal ini, tradisi sosio-kultural menawarkan membantu dalam menjembatani jurang pemisah budaya antara “kita” dan “mereka”.

    TRADISI KRITIS
    (Komunikasi sebagai cerminan tantangan atas percakapan yang tidak adil)
    Tradisi kritis muncul di Frankfurt School Jerman, yang sangat terpengaruh dengan Karl marx dalam mengkritisi masyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan Frankfurt School, dilakukan analisa pada ketidaksesuaian antara nilai-nilai kebebasan dalam masyarakat liberal dengan persamaan hak seorang pemimpin menyatakan dirinya dan memperhatikan ketidakadilan serta penyalahgunaan wewenang yang membuat nilai-nilai tersebut hanya menjadi isapan jempol belaka. Kritik ini sangat tidak mentolelir adanya pembicaraan negatif atau akhir yang pesimistis.

    Teori-teori dalam tradisi kritis secara konsisten menentang tiga keistimewaan dari masyarakat sekarang, yaitu : (1) mengendalikan bahasa untuk mengabadikan ketidakseimbangan wewenang atau kekuasaan, (2) peran media dalam mengurangi kepekaan terhadap penindasan, dan (3) mengaburkan kepercayaan pada metode ilmiah dan penerimaan atas penemuan data empiris yang tanpa kritik.

    TRADISI FENOMENOLOGI
    (Komunikasi sebagai pengalaman diri dengan orang lain melalui percakapan)
    Tradisi fenomenologi menekankan pada persepsi orang dan interpretasi setiap orang secara subjektif tentang pengalamannya. Para fenomenologist menganggap bahwa cerita pribadi setiap orang adalah lebih penting dan lebih berwenang daripada beberapa hipotesis penelitian atau aksioma komunikasi. Akan tetapi kemudian timbul masalah dimana tidak ada dua orang yang memiliki kisah hidup yang sama.

    Seorang psikolog Carl Rogers mendeskripsikan tiga kebutuhan dan kondisi yang cukup bagi sesorang dan perubahan hubungan, yaitu : (1) kesesuaian atau kecocokan, adalah kecocokan atau kesesuaian anatara individu baik secara perasaan didalam dengan penampilan diluar, (2) memandang positif tanpa syarat, adalah sebuah sikap dalam menerima yang tidak tergantung pada perbuatan, dan (3) pengertian untuk berempati, adalah kecakapan sementara untuk mengesampingkan pandangan dan nilai dan memasuki dunia lain tanpa prasangka.

    DAFTAR PUSTAKA
    Em, Griffin. A First Look at Communication Theory 5th Editions. New York : McGraw Hill, 2003

    Suka

  3. Tujuh Tradisi dalam lapangan teori-teori komunikasi
    Robert Craig telah memetakan teori-teori komunikasi ke dalam seven traditions:
    1. The Socio-Psycological Tradition
    2. The Cybernetic Tradition
    3. The Retorical Tradition
    4. The Semiotic Tradition
    5. The Socio-Cultural Tradition
    6. The Critical Theory
    7. The Phenomenological Tradition
    Craig menyadari bahwa feminis, estetika, ekonomika, spriritualitas harus disertakan dan ia menambahkan lagi The Ethical Tradition untuk memasukkan mereka.

    PENJELASAN RINGKAS TENTANG SEVEN TRADITIONS (Griffin, 2006: 21-35 ; Littlejohn, 2002: 13-14)
    1. The Socio-Psycological Tradition
    Para ahli dalam tradisi ini menyadari bahwa kebenaran komunikasi diketemukan melalui pengamatan yang hati-hati dan sistematis. Teori-teori dalam tradisi ini terutama berfokus pada aspek komunikasi yang meliputi ekspresi, interaksi dan pengaruh.
    Pembahasan teori-teori dalam tradisi ini menitikberatkan pada perilaku, variabel-variabel, efek, personality/kepribadian dan sikap, persepsi, kognisi, perilaku dan interaksi.
    Teori ini menyatakan pengaruh yang besar (powerfull) khususnya dalam situasi dimana personality tampak penting, pertimbangan berdasarkan pada percaya dan perasaan, dan orang-orang memiliki pengaruh yang jelas sekali atas orang lain.
    Para ahli teori tradisi ini menyangkal pendapat bahwa masyarakat itu rasional, bahwa individu-individu tahu apa yang mereka pikirkan, dan persepsi merupakan rute yang jelas untuk melihat apa yang nyata.
    Psikolog Carl Hovland merupakan salah satu penemu riset eksperimental tentang efek komunikasi.

    2. The Cybernetic Tradition
    Komunikasi Sebagai Proses Informasi
    Komunikasi dalam tradisi ini terutama dilihat sebagai proses informasi, dan problem/masalah yang ditujukan dengan gangguan (noise), beban yang berat dan kegagalan pemakaian. Ia mengirimkan/menggunakan kata-kata seperti pengirim (senders), penerima (receivers), informasi, umpan balik (feedback).
    Tradisi cybernetic tampaknya paling masuk akal ketika issue berhubungan dengan pikiran dan otak, rasionalitas dan munculnya sistem yang kompleks.
    Umumnya, tradisi ini meragukan argumen yang membuat perbedaan mesin dan manusia atau hal-hal menyebabkan munculnya hubungan efek.
    Robert Wiener menggunakan istilah cybernetic untuk menggambarkan area intelgensi artificial/buatan.
    Ide komunikasi sebagai porses informasi pertama kali dikemukakan oleh Claude Shanon, yang mengembangkan teori matematika dan transmisi sinyal. Ia tertarik pada masalah bagaimana mengatasi problem teknik dari transfer suara yang sangat teliti.

    3. The Rhetorical Tradition
    Komunikasi Sebagai Seni Berbicara Kepada Publik.
    Teori-teori dalam tradisi ini melihat komunikasi sebagai seni praktis. Komunikator seperti pembicara, media produser, dan penulis menerima masalah atau tantangan yang harus dipecahkan melalui cara mendesain pesan (messages) dengan hati-hati. Komunikastor mengembangkan strategi, pendekatan untuk bergerak ke arah audience. Logika dan emosi menarik adalah gambaran tipikal dalam teori retorika.
    Ini berdasarkan pendapat bahwa kata-kata adalah berpengaruh, bahwa informasi digunakan untuk membuat pertimbangan.

    4. The Semiotic Tradition
    Komunikasi Merupakan proses atas sharing arti melalui sign/sinyal/tanda.
    Semiotic adalah study tentang sinyal (signs). Tradisi ini memfokuskan perhatian pada tanda-tanda dan simbol. Tradisi ini memperdebatkan apa yang ada dalam bahasa yang meliputi istilah seperti tanda (sign), simbol, arti, kode, dan pengertian. Kekuatan semiotic terletak pada ide tentang perlunya kesamaan bahasa.
    Richard adalah ahli semiotic pertama untuk menggambarkan secara sitematik bagaimana kata-kata bekerja. Menurut Richard, kata-kata merupakan symbol-simbol yang berubah-ubah, tidak memiliki arti yang melekat. Kata-kata bekerja dalam konteks dimana ia digunakan.

    5. The Socio-Cultural Tradition
    Komunikasai Sebagai kreasi dan penguatan realitas social.
    The Sosio-Culturul memiliki premis bahwa ketika orang-orang berbicara mereka memproduksi/menghasilkan dan kembali menghasilkan kultur/budaya.
    Edward Sapir dan mahasiswanya Benjamin Lee adalah pioneer dari tradisi sosio-cultural. Hipotesis Shapir tentang relative bahasa adalah srtuktur budayanya bahasa berbentuk apa yang orang-orang pikirkan dan kerjakan.

    6. The Critical Tradition
    Tradisi ini dikenalkan oleh Frankfurt School, dengan para tokohnya adalah Max Hokheimer, Theodore Adorno dan Herbert Marcuse. Critical theory menjawab masalah-masalah idiologi, power dan dominasi. Hal-hal yang dikupas dalam teori kritik adalah tema-tema seperti idiologi, dialektika, resistensi, munculnya kesadaran, dan emansipasi.
    Teori ini memiliki pendekatan yang meliputi kekuatan diri, nilai-nilai kebebasan dan persamaan dan bentuk-bentuk diskusi.

    7. The Phenomenological Tradition
    Komunikasi merupakan pengalaman diri dan orang lain melalui dialog.
    Tradisi teori-teori ini berfokus pada pengalaman personal, meliputi bagaimana pengalaman individu-individu dari yang satu ke yang lain.
    Pusat perhatian tradisi ini tekanannya pada persepsi dan interpretasi orang-orang atas pengalaman subyektif mereka. Masalahnya, tidak ada satu orang pun yang memiliki pengalaman yang sama dengan yang lainnya.
    Komunikasi dipandang sebagai sharing penglaman pribadi melalui dialog.
    Salah satu ahli dalam teori ini adalah Carl Rogers, seorang Psikolog ahli. .

    **** ***** ******

    Refference:

    Griffin, EM, A First look At Communication Theory, Sixth Edition, Mc Graw Hill, Boston, 2006.
    Littlejohn, Stephen W., Theories of Human Communication, Wadworth, Albuqueque, New Mexico, 2002.
    Richard S. Croft, Communication Theory, http://www.2.eou.edu/-recroft/MM350/Com, diakses 30 Juli 2010.

    Suka

  4. Generasi kedua, antara lain telah mencuatkan nama-nama seperti Jurgen
    Habermas. Karya-karya pemikiran Habermas dengan jelas menunjukkan adanya
    perbedaan epistemologis yang cukup mendasar dibanding konsepsi yang dimiliki
    para pendahulunya, meskipun tetap mempertahankan tradisi serta cirinya sebagai
    bagian dari teori kritis. Konsepsi Habermas tentang communicative rationality
    contohnya, dapat dinilai sebagai perpecahan epistemologi dengan philosophy of
    consciousness yang digunakan generasi pertama Frankfurt School, seperti
    Horkheimer, Adorno, atau Marcuse.
    Sementara itu, generasi ketiga, merujuk pada tokoh-tokoh seperti Axel Honeth (lihat
    a.l., Rush, 2000; hal. 1.). Namun kini lingkup teori-teori kritis telah makin meluas,
    mencakup – ataupun menjadi dasar rujukan – analisis kritis dari pakar seperti
    Jacques Lacan (psikoanalisis), Roland Barthes (semiotik and linguistik), Peter
    Golding, Janet Wasko, Noam Chomsky, Douglas Kellner (ekonomi-politik media),
    hingga berbagai tokoh dalam topik masalah gender, etnisitas dan ras,
    postkolonialisme, dan hubungan internasional.
    Karenanya, kini sering dibedakan pengertian antara Critical Theories dan critical
    theories. Yang pertama merujuk pada teori-teori mereka yang tergabung dalam
    Frankfurt School, sedangkan yang kedua mewakili pengertian yang lebih umum Bahkan dijumpai sejumlah kepustakaan yang memasukkan pemikiran-pemikiran
    tokoh posmodernis, seperti Baudrillard dan Foucault, ke dalam kategori paradigma
    Teori-teori Kritis.
    Uraian dalam bagian ini memang lebih banyak merujuk pada aspek yang – dengan
    segala keterbatasan pengetahuan penulis — kurang lebih bisa dinilai sebagai
    karakteristik umum pemikiran mazhab Frankfurt School; sama sekali tidak
    dimaksudkan untuk menggambarkan Frankfurt School sebagai suatu maszhab yang
    monolitik. Selain itu jelas juga jauh dari maksud membuat gambaran yang mewakili
    teori-teori kritis dalam pengertian yang lebih umum.
    Tujuan Teori-teori Kritis
    Para tokoh Frankfurt School membedakan teori kritis dengan “teori ilmiah” dalam
    mainstream methodology yang positivistik (atau “tradisional”). Perbedaan tersebut,
    perlu pula dipahami sebagai kritik teori-teori kritis terhadap positivisme.
    Perbedaan epistemologis tersebut menciptakan perbedaan mendasar lainnya antara
    Teori-teori Kritis dengan teori-teori positivistik, yakni perbedaan mengenai tujuan dari
    teori itu sendiri. “Teori ilmiah”, dalam positivisme atau “traditional science”
    merupakan bagian dari sistem deduktrif yang antara lain melibatkan suatu proses
    yang dikenal sebagai hypothetico-deductive method.
    Teori dalam pengertian tradisional bertujuan untuk melakukan eksplanasi tentang,
    dan prediksi terhadap, suatu fenomena sosial. Dalam pengertian tersebut teori bisa
    didefinisikan seperti yang dikemukakan Kerlinger (1985; hal. 9):
    “. . . a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that
    present a systematic view of phenomenon by specifying relations among variables,
    with the purpose of explaining and predicting phenomena”
    Atau seperti yang dirumuskan oleh Wallace (1979; hal 90): “Theories . . . explain
    empirical generalizations that are already known, and they predict empirical
    generalizations that are still unknown”.
    Eksplanasi dalam teori-teori tradisional hampir secara spesifik mengambil bentuk
    sebagai suatu causal explanation (lihat Littlejohn, 2005; hal. 22) dimana sejumlah
    fenomena saling dihubungkan dalam rantai kausalitas (sebab – akibat). Berdasarkan
    definisi itu, suatu teori yang memiliki kemampuan melakukan eksplanasi dan prediksi
    terhadap suatu fenomena sosial, dinilai memiliki kegunaan instrumental, antara lain
    untuk mengelola atau mengontrol suatu fenomena sosial sebagaimana dikehendaki.
    “Kekuatan” atau kegunaan sebuah teori ilmiah dengan demikian ditentukan oleh
    predictive power dan explanative power teori tersebut.
    Di lain pihak, dalam paradigma teori-teori kritis, teori merupakan suatu kritik untuk
    mengungkap kondisi yang sebenarnya dibalik suatu “realitas semu” atau “kesadaran
    palsu” yang teramati secara empirik:
    “Theory is not a deductive system of interconnected axioms and laws, but a critique
    that reveals true conditions behind virtual reality, false consciousness and beliefs.
    (Golding and Murdock, dalam Graham 1992; pp. 15-32). Dengan kata lain, teori-teori kritis berusaha melakukan eksplanasi, namun eksplanasi
    dalam pengertian lain, yakni ekplanasi tentang adanya kondisi-kondisi yang dinilai
    palsu, semu, atau tidak benar (seperti “false class consciousness”). Tujuannya tak
    lain untuk pencerahan, emansipasi manusia, agar para pelaku sosial menyadari
    adanya pemaksaan tersembunyi, atau hegemoni (lihat a.l., Horkheimer, dalam
    Bohman, 2005;1). Dalam perkembangannya, tujuan serta kepentingan yang menjadi
    motivasi teori-teori kritis dapat disimpulkan lebih spesifik lagi, antara lain melalui
    pernyataan Kellner (1990; 22) sebagai berikut:
    “Critical theory promotes attempts to achieve liberation from forces of domination and
    class rule . . . Critical theory is motivated by interest in progressive social change, in
    promoting values such as democracy, freedom, individuality, happiness, and
    community”
    Lebih dari itu, teori-teori kritis bertujuan melakukan transformasi, atau perobahan
    sesuai dengan kepentingan para pelaku sosial yang menjadi subjek teori. Suatu teori
    kritis ditujukan bagi sekelompok agents, demi penyadaran diri mereka dalam proses
    emansipasi dan pencerahan. Suatu proses emansipasi dan pencerahan merupakan
    transisi dari sebuah tahap awal (initial stage) dimana para agents memiliki
    “kesadaran palsu” (false consciousness), mengalami dominasi atau hegemoni, dan
    eksploitasi, menuju suatu tahap akhir (final stage) yang dikehendaki, dimana mereka
    terbebas, serta bisa mengaktualisasikan diri (Geuss, 1981; hal. 52-52).
    Dari segi tujuan melakukan transformasi tersebut, teori-teori kritis sebenarnya juga
    melakukan eksplanasi, tetapi bukan dalam pengertian causal explanation, melainkan
    practical explanation (lihat Littlejohn, 2005; hal. 22), yakni menjelaskan tindakan apa
    yang perlu dilakukan untuk melakukan transformasi dari suatu kondisi awal menuju
    suatu kondisi akhir yang dikehendaki. Itu sekaligus berarti explanatory power yang
    dimiliki teori-teori kritis harus dipahami berbeda dari apa yang difahami para ilmuwan
    teori-teori “tradisional”.
    Dari segi tujuan teori-teori kritis, maka prediksi bukan pula merupakan tujuan dari
    berteori. Dengan kata lain, predictive power bukan merupakan tolok ukur untuk
    menilai kekuatan suatu teori kritis. Hal ini penting disadari. Sebab, teori-teori kritis
    seringkali dikritik dan dinilai telah gagal, akibat tidak mampu membuat prediksi, atau
    karena situasi yang “diramalkan” tidak terbukti. Sementara di lain pihak, tidak tepat
    bila pemikiran Marcuse, contohnya, dinilai telah membuat semacam prediksi, yang
    mengatakan bahwa bourgareeois art akan berakhir. Yang sebenarnya ia lakukan
    adalah “mengantisipasi” berakhirnya bourgeois art tersebut karena hal itu merupakan
    suatu demand or requirement of rationality. Artinya, Marcuse sebenarnya
    memperlihatkan apa yang harus dipenuhi demi terciptanya suatu kondisi tertentu.
    Analisis Marcuse tersebut jelas berbeda dengan analisis prediktif, contohnya seperti
    yang dilakukan Benjamin, ketika membuat sebuah deskripsi suatu proses dimana
    seni akhirnya akan kehilangan aura-nya (Habermas, sebagaimana dikutip Geuss,
    1981; hal. 57).
    Dimensi tujuan praktis teori-teori kritis, dengan demikian juga lebih bersifat normatif,
    yang secara sadar dilekatkan dengan suatu filosofi moral tertentu. Misi normatif
    tersebut hanya mungkin dipenuhi melalui suatu interplay antara seperangkat normanorma filosofi sosial dengan ilmu-ilmu sosial. Oleh karena itu pula, sebuah teori kritis, dalam penilaian Horkheimer (dalam
    Bohman, 2005; hal. 1), bisa dianggap mencukupi (adequate) bila memenuhi 3 (tiga)
    kriteria, yakni teori tersebut harus:
    1. Explanatory, yakni harus menjelaskan apa yang salah dengan realitas sosial yang
    ada. Pengertian explanatory, juga berarti adanya unsur muatan judgments dalam
    teori, antara lain tentang apa yang salah dan benar, yang seharusnya dan tidak
    seharusnya, yang wajar dan tidak wajar.
    2. Practical, antara lain menjelaskan praktek-praktek sosial dan aktor-aktor sosial
    yang mampu merobah dan mengoreksi suatu realitas sosial yang ada dan yang
    dinilai tidak seharusnya demikian.
    3. Normative; terkait dengan dua dimensi terdahulu, suatu teori kritis jelas harus
    menyajikan norma-norma yang jelas, atau moral concerns, baik yang dipergunakan
    sebagai dasar melakukan kritik terhadap suatu realitas sosial, maupun
    mengetengahkan tujuan-tujuan praktis yang bisa dicapai melalui suatu transformasi
    sosial.
    Kesemuanya itu terkait dengan konsepsi para teoretisi kritis tentang struktur kognitif
    suatu teori kritis, dan juga dengan konsepsi yang mereka miliki mengenai
    objektivitas, serta kedudukan pembuktian empirik dalam teori-teori kritis.
    Struktur Kognitif dan Objektivitas
    Dimensi tujuan dari teori-teori kritis membantu kita untuk memahami penyimpulan
    bahwa karakteristik teori-teori sekurangnya mencakup tiga hal:
    Pertama, berbeda dengan teori-teori “ilmiah” dalam pengertian tradisional yang
    cenderung value free, maka teori-teori kritis menonjolkan posisi sebagai “panduan
    bertindak bagi manusia” dalam arti teori-teori itu (a) bertujuan untuk memproduksi
    pencerahan dalam diri pelaku sosial, yang lebih lanjut mampu memberdayakan
    mereka untuk menentukan “kepentingan sejati” mereka, dan (b) secara inherent
    bersifat emansipatoris, dengan menempatkan diri sebagai pelaku pembebasan dari
    berbagai bentuk dominasi dan hegemoni (lihat a.l., Geuss, 1981; hal. 1-3).
    Kedua, teori-teori kritis, seperti hal-nya teori-teori ilmiah tradisional memiliki substansi
    kognitif, dalam pengertian teori-teori tersebut merupakan suatu bentuk pengetahuan.
    Ketiga, dari segi epistemologi, menampilkan perbedaan yang amat mendasar
    dengan teori-teori “ilmiah tradisional”. Sebab, teori-teori kritis bersifat reflective,
    sementara teori-teori ilmiah tradisional lebih bersifat objectifying.
    Atas dasar karakteristik tersebut di atas, maka suatu teori kritis, (tepatnya critical
    theoretical framework) dalam struktur pengembangannya yang lengkap terdiri atas 4
    (empat) teori yang berbeda, dan lebih lanjut bisa dirinci menjadi 10 (sepuluh) teori
    yang konsisten satu sama lain, serta secara sistematis saling berhubungan, dalam
    arti bahwa elemen dari teori tertentu harus bisa digunakan sebagai bagian teori
    lainnya (Fay, 1987; hal. 31-32):
    Theory of false consciousness (atau ideology critique), terdiri atas teori-teori yang:
    1. Menunjukkan bagaimana kesadaran diri sekelompok individu sebenarnya
    merupakan kesadaran palsu (tidak mencerminkan fakta pengalaman hidup individu
    ‘yang sebenarnya’) 2. Menjelaskan proses bagaimana individu sampai memiliki kesadaran palsu
    tersebut.
    3. Mendeskripsikan kesadaran alternatif yang lebih “unggul” atau yang “seharusnya”.
    Theory of crisis, berisi serangkaian teori yang intinya berupaya untuk:
    4. Menguraikan konsepsi tentang krisis sosial
    5. Menunjukkan adanya krisis sosial tersebut dalam masyarakat
    6. Mendeskripsikan perkembangan historis dari krisis tersebut, khususnya dalam
    kaitannya dengan kesadaran palsu individu dan basis struktural masyarakat
    Theory of education yang bertujuan untuk:
    7. Menyajikan deskripsi kondisi-kondisi yang diperlukan dan mencukupi (necessary
    condition dan sufficient condition) bagi penyadaran dan pencerahan masyarakat..
    8. Menunjukkan apakah kondisi-kondisi tersebut telah terpenuhi.
    Theory of transformative action, yang utamanya adalah bertujuan untuk:
    9. Mengisolisasi aspek-aspek tertentu dalam masyarakat yang harus dirobah untuk
    mengatasi krisis sosial dan mengurangi ketidakpuasan dalam masyarakat.
    10. Memberi rincian suatu rencana program aksi, yang antara lain menyangkut siapa
    atau kelompok apa yang diharapkan menjadi pelaku transformasi sosial, dan juga
    sekurangnya menyangkut pula ide-ide umum tentang bagaimana kelompok tersebut
    bisa melaksanakan tranformasi sosial.
    Tetapi tentu kita banyak menjumpai teori-teori kritis yang tidak mencakup secara
    lengkap elemen-lemen struktur seperti yang diuraikan di atas. Teori kritis Habermas
    tentang late capitalism, seperti yang diuraikan dalam Legitimation Crisis (1975), lebih
    terfokus pada teori-teori ke 4 s/d 6 (sebagai bagian dari theory of crisis).
    Struktur teori-teori kritis tersebut menciptakan perbedaan yang lebih jauh dengan
    “teori-teori ilmiah” yang positivistik. Dalam konsepsi positivisme, suatu teori ilmiah
    harus bersifat “objectifying”, yakni para ilmuwan membuat pembedaan antara teori
    dengan “objek” yang dirujuk teori: “. . . the theory isn’t itself part of the object-domain
    it describes. Newton’s theory isn’t itself a particle in motion” (Geuss, 1981; p.55).
    Konsepsi objektivitas teori-teori positivistik juga berarti peneliti bisa dan harus
    mengambil jarak dengan fenomena yang diteliti, serta menjadikannya sebagai objek
    di luar dirinya. Kosekuensi-nya, penelitian dan teori haruslah value free, bebas dari
    penilaian yang berpihak. Objektivitas itu pula yang menjadi salah satu pokok utama
    quality criteria atau goodness dalam penelitian positivistik, yakni yang dipergunakan
    untuk menilai “kualitas” atau keabsahan suatu kajian atau penelitian ilmiah.
    Teori-teori kritis, sebaliknya, menolak membuat klaim tentang “objektifitas”. Teoriteori kritis bersifat reflective atau self-referential. Artinya, teori kritis selalu merupakan
    bagian dari domain objek yang dirujuk: “critical theories are always in part about
    themselves” (Geuss, 1981; p. 55). Sebab, sebagai suatu teori sosial, maka suatu
    teori kritis merupakan refleksi dari keyakinan normative atau beliefs yang dimiliki
    pelaku sosial – sekurangnya kelompok ilmuwan yang berteori itu sendiri – tentang
    masyarakat mereka. Konsepsi semacam itu menempatkan teori-teori kritis dalam
    practical theoretical paradigm, yakni yang dalam penggambaran Littlejohn (2005; hal.
    27) berbeda dengan teori-teori tradisional, antara lain karena:
    “Theories affect the reality they are covering . . .theoriest are not separate from the worlds they create but are part of those worlds . . . people will be operating in an
    environment created by the theoriest . . .”.
    Sejajar dengan pemahaman tersebut, teori tentang hegemoni, atau ideological state
    apparatus, merupakan refleksi resistansi terhadap suatu hegemoni dan praktekpraktek yang dijalankan oleh suatu apparatus ideologi negara; teori itupun menjadi
    bagian ideologi atau program aksi agen yang melakukan resistansi. Karenanya, bisa
    pula dinyatakan teori-teori kritis merupakan value-ladden atau value-conscious
    theories, dengan melakukan pemihakan-pemihakan yang relevan, sesuai filosofi
    sosial dan moral tentang human emancipation, atau human liberation yang menjadi
    tujuan teori-teori itu sendiri.
    Pembuktian Empirik dalam Teori-teori Kritis
    “Teori ilmiah” dalam konsepsi positivisme, menuntut konfirmasi empirik, melalui
    observasi dan eksperimen, dengan menerapkan seperangkat metode-metode
    tertentu mulai dari metode pengumpulan data, hingga metode analisis; kesemuanya
    tak jarang disertai pengukuran atau kuantifikasi realitas social yang diteliti. Itu semua
    terkait dengan kriteria falsifiability dan testability, yakni apakah suatu teori bisa
    diturunkan menjadi konsep-konsep atau variabel-variabel yang memungkinkan untuk
    diuji secara empirik (lihat, a.l., Shoemaker, Tankard, Lasorsa, 2004; hal. 175;
    Wallace, 1979; hal. 98).
    Karenanya, dalam sistimatika penelitian positivistik, khususnya yang menerapkan
    hypothetico-deductive method, suatu kerangka teori sebenarnya merupakan
    theoretic hypothesis (jawaban teoretis sementara terhadap masalah penelitiani).
    Hipotesis teoretik itulah yang kemudian.harus diturunkan menjadi research
    hypothesis (dan statistical hypothesis, dalam kasus penelitian kuantitatif). Tujuannya
    agar memungkinkan teori tersebut diuji dengan data empiris yang ada.
    Di lain pihak, kerangka teori dalam paradigma Teori-teori Kritis tidak diturunkan
    sebagai hipotesis untuk diuji dihadapan data empirik yang ada. Sebab, Teori-teori
    Kritis memiliki konsepsi tersendiri tentang kaitan antara teori dengan dunia empirik,
    sebagaimana dikemukakan Golding dan Murdock, dalam Curran dan Gurevitch,
    1991; hal.17):
    “The critical perspectives assumes a realist conception of the phenomena it studies,
    in the simple sense that the theoretical constructs it works with exist in the real world.
    They are not merely phenomenal”
    Dengan kata lain, “kebenaran” tentang realitas yang dikaji, telah melekat dalam
    eksplanasi yang dikemukakan teori itu sendiri; atau, apa yang dinyatakan teori
    merupakan realitas yang sebenarnya. Sedangkan, data empirik yang ada bisa dinilai
    sekadar virtual reality, ataupun refleksi false consciousnes para agen sosial yang
    dirujuk teori.
    Karena itu, suatu teori kritis, lebih mengutamakan practical explanation, menyangkut
    persoalan action and structure (atau dalam bahasa Giddens, interplay between
    agents and structure) dalam melakukan suatu transformasi sosial. Karenanya pula,
    suatu teori kritis dinilai cognitively acceptable (dan valid) hanya bila (1) teori tersebut
    membongkar “kesadaran palsu” dan bisa diterima dan bertahan sebagai refleksi diri
    para pelaku sosial yang dirujuk teori, dan (2) teori tersebut bisa digunakan sebagai
    dasar melakukan transformasi. Pembuktian empiris dalam teori-teori kritis, dengan demikian juga terkait dengan
    keharusan agar pertama-tama para agen-agen pelaku sosial yang dirujuk teori,
    mengadopsi teori itu sendiri: Kondisi empirik tertentu (yang menurut teori kritis dinilai
    sebagai kondisi yang “seharusnya” ada) akan tercipta bila para agen sosial
    mengadopsi teori itu sendiri, dan kemudian bertindak atas dasar teori yang mereka
    adopsi tersebut. Suatu hegemoni akan roboh bila masyarakat pertama-tama
    menyadari adanya hegemoni, dan bertindak terhadapnya, atau menjadikan teori
    kontra-hegemoni sebagai rujukan ideologis bagi aksi-aksi sosial mereka (akibatnya,
    teori-teori kritis seringkali dinilai sebagai teori yang memuat elemen self-fulfilling
    prophecy).
    Kedudukan pembuktian empiris tersebut terkait dengan masalah predictive power
    suatu teori kritis yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. Dalam contoh
    tentang hegemoni di atas, berakhirnya hegemoni bukanlah suatu kondisi yang
    diramalkan akan terjadi, tetapi suatu kondisi yang dikehendaki demi pembebasan
    manusia; dan untuk menciptakan kondisi yang dikehendaki itu, agen sosial harus
    menyadari adanya hegemoni, dan melakukan kontra hegemoni.
    Pemahaman semacam itu serupa dengan pengujian validitas dalam critical
    constructivist research (lihat Clark, 2005a):
    “The test of validity in the case of critical constructivist research is directly related to
    its stated purpose of inquiry. The research is valid to the extent that the analysis
    provides insight into the system of oppression and domination that limit human
    freedoms, and on a secondary level, in its usefulness in countering such systems.”
    Masalah pembuktian empirik tersebut terkait dengan konsepsi teori-teori kritis
    tentang kebenaran data sosial empirik. Pemahaman bahwa “objective reality” dapat
    diungkap melalui koleksi dan sistematisasi data yang secara metodologi benar,
    dinilai oleh teoretisi kritis sebagai suatu “naïve empiricism” (Alvesson dan Skoldberg,
    2000 p 136). Mazhab Teori-teori Kritis juga menolak untuk menurunkan persoalan
    epistemologi menjadi sekadar masalah metodologi. Secara epistemologis, mazhab
    pemikiran tersebut mengedepankan realist epistemology, yang menilai pemahaman
    mengenai suatu realitas tidak terbentuk semata-mata oleh pengamatan inderawi
    melalui suatu metodologi tertentu belaka, melainkan juga oleh penjelasan rasional.
    Dengan kata lain, dalam kacamata seorang realis “ . . . reality is made up of both
    what we see and how we explain what we see” (Mosco, 1996; hal. 2).
    Contohnya, bila melalui suatu metode penelitian tertentu diperoleh data empirik yang
    memperlihatkan sebagian besar pelaku sosial menilai suatu sistem ekonomi neoliberal dimana mereka hidup sebagai suatu realitas yang wajar — atau alami, tidak
    terelakkan, “objektif” , sudah logis dan seharusnya demikian, atau sebagai satusatunya alternatif — maka di satu pihak para ilmuwan positivist melihat itu semua
    sebagai kondisi objektif dari para pelaku sosial.
    Namun di lain pihak, ilmuwan teori-teori kritis akan melihat apa yang diungkapkan
    para pelaku sosial tersebut sebagai suatu “virtual reality”, atau refleksi “false
    consciousness” yang melekat dalam diri pelaku sosial, sebagai hasil hegemoni
    ideologi-ideologi dominan. Validitas dan Goodness Teori Kritis
    Berdasarkan uraian terdahulu dalam tulisan ini, maka goodness suatu teori kritis
    mencakup, pertama, kemampuan untuk membuat eksplanasi tentang kondisi-kondisi
    yang tidak seharusnya, seperti adanya “kesadaran palsu”.
    Kedua, kemampuan untuk mengkaitkan ekplanasi tentang kondisi tersebut dengan
    penjelasan mengenai aksi (atau praxis) yang menjadi persyaratan agar kondisi
    tertentu bisa diciptakan.
    Ketiga, goodness suatu teori kritis juga ditentukan oleh kemampuan untuk membuat
    eksplanasi secara holistik, tidak menjelaskan, contohnya, masalah kemiskinan
    semata-mata sebagai masalah ketidak-mampuan individu, terisolir dari faktor-faktor
    struktural, distribusi kekuasaan dan sebagainya. Disamping ketiga hal itu, maka
    goodness suatu teori kritis juga tergantung pada kemampuan untuk (a)
    mendefinisikan secara konseptual konteks historis spesifik, serta (b) menjelaskan
    latar-belakang historis dari fenomena yang dijelaskan oleh teori.
    Teori-teori ilmiah tradisional yang positivistik, umumnya merupakan nomothetic
    theories, yakni yang digambarkan sebagai teori-teori yang mencari universal or
    general laws (Littlejohn, 2005; hal. 23-25), ataupun mencari invariant regularities dan
    fixed patterns tentang proses-proses dan relasi sosial, Konsepsi teori-teori
    nomothetik dalam bidang ilmu alam dan fisika, telah dijadikan model oleh kalangan
    ilmuwan sosial positivists yang meyakini adanya kaidah-kaidah atau hukum-hukum
    sosial yang berlaku umum atau universal.
    Konsekuensinya, external validity — apakah hasil penelitian yang diperoleh bisa
    digeneralisasi, atau sekurangnya menjadi supporting evidence bagi suatu nomothetic
    theory — menjadi salah satu quality criteria bagi penelitian-penelitian dalam tradisi
    positivisme (lihat a.l. Guba dan Lincoln, dalam Denzin dan Lincoln. Eds. 1994).
    Dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, itu semua memunculkan kritik dari
    kubu teoretisi kritis terhadap teori-teori nomotetik yang dominan dalam paradigma
    positivisme. Antara lain dinilai bahwa teori-teori nomotetik tersebut, bersifat a-historis
    (tidak merujuk pada suatu konteks historis tertentu, atau mengabaikan kondisi
    kesejarahan spesifik yang ada) serta tidak kontektual (tercabut dari konteks spesifik
    sosial-ekonomi subjek yang dirujuk teori). Dalam konsepsi teoretisi kritis, fenomena
    sosial harus diamati dalam konteks kesejarahannya yang utuh (lihat, a.l. Alvesson
    dan Skoldberg, 2000; 12), dan teori-teori kritis sendiri haruslah merupakan teori yang
    historis, yang dikaitkan pada suatu konteks kesejarahan spesifik tertentu.:
    “The critical perspective holds that knowledge must be situated historically and
    cannot be a matter of universal and timeless abstract and abstractly related . . .
    knowledge, and the justification given to knowledge claims, must be ‘historize’ . . .””
    (Smith, dalam Egon Guba 1990; hal.. 167).
    Sesuai dengan substansi ekplanasi dalam teori-teori kritis (seperti “kesadaran palsu”
    yang disebabkan oleh hegemoni ideologi dominan dalam suatu sistem ekonomi
    kapitalis), maka konteks historis spesifik tersebut secara langsung ataupun tidak
    merujuk pada suatu tahap perkembangan tertentu dari kapitalisme yang dinilai
    relevan Dalam kajian critical political economy, contohnya, konteks historis spesifik
    dari analisis yang dilakukan merujuk pada tahapan yang secara konseptual disebut late capitalism:
    “. . . critical analysis is historically located. It is specifically interested in the
    investigation and description of late capitalism, which it defines as both dynamic and
    problematic, as undergoing change and as substantially imperfect.” (Golding and
    Murdock, dalam Curran and Gurevitcth, 1991; hal. 17).
    Tetapi penting dicatat, sejumlah pakar menilai konteks historis spesifik yang dirujuk
    dalam suatu kajian ekonomi-politik tidak cukup hanya dikaitkan dengan
    penggambaran kapitalisme dalam karakteristik-nya yang umum (karakteristik umum
    apa yang disebut late capitalism itu pun masih dinilai kurang mencukupi). Sebab,
    selain kapitalisme merupakan sistem yang dinamis dan masih terus bergerak dalam
    suatu process of becoming, analisis yang dilakukan juga harus konkrit dan spesifik,
    Bottomore dan Rubel (1963; pp. 96-97) menyatakan:
    “ It is not enough simply to outline the general features of capitalism; it is also
    necessary to show how they were developing and changing in response to concrete
    historical situation”
    Analisis tentang hegemoni atau aparatus ideologi negara dalam era Orde Baru,
    contohnya, harus dikaitkan dengan karakteristik spesifik dan konkrit dari kapitalisme
    era Orde Baru — yang dinamis dan pada dasarnya merupakan respon yang secara
    kontinyu dilakukan oleh suatu rejim authoritarian state corporatism terhadap
    perkembangan neo-liberalisme global, dan karenanya memberi ciri spesifik terhadap
    beroperasinya aparatus ideologi negara (lihat, a.l., Hidayat, 2002).
    Konsepsi bahwa analisis teori-teori kritis merupakan suatu analisis yang historis,
    menjadikan historical situatedness sebagai salah satu kriterium untuk menilai kualitas
    analisis.
    Selain mampu secara konseptual merumuskan penggal historis yang secara spesifik
    dijelaskan oleh teori, maka pengertian historical situatedness juga merujuk pada
    pengertian bahwa analisis-analisis yang dilakukan memperhitungkan latar belakang
    sejarah atau faktor-faktor sosial, politik, budaya, ekonomi, etnis, dan gender ataupun
    latar belakang historis lainnya dari situasi yang dikaji saat ini “take account of the
    social, political, cultural, economic, ethnic, and gender antecedents of the studied
    situation” (Guba and Lincoln, dalam Denzin and Lincoln, 1994; hal.114).
    Dengan demikian, analisis teori-teori kritis, sebagai contoh, tidak melihat “pasar”
    sebagai suatu realitas yang “objektif”, yang sepenuhnya berada di luar kepentingankepentingan subjektif berbagai kelompok sosial dalam suatu rentang historis.
    “Pasar”, dalam analisis teori-teori kritis selalu merupakan suatu konstruksi sosial,
    yang memiliki sejarah tersendiri. Artinya, konstruksi “pasar” yang ada saat ini harus
    dilihat sebagai suatu produk relasi sosial yang berakar ke masa lampau dan yang
    mungkin ditandai oleh adanya ketimpangan distibusi kekuasaan.
    REFERENSI Alt, James E. and Kenneth A. Shepsle. Eds. (1994). Perspective on Positive Political
    Economy. Cambridge, New York: Cambridge University Press.
    Alvesson, Mats, and Kaj Skolberg. (2000). Reflexive Methodology. New Vistas for
    Qualitative Research. London: SAGE Publications.
    Bohman, James (2005). “Critical Theory”. In Edward N. Zalta (Ed.), The Stanford
    Encyclopedia of Philosophy. Spring 2005 Edition. Diambil dari URL:
    http:://plato.stanford.edu/archives/spr2005/entries/critical-theory.
    Bottomore, Tom (2002). The Frankfurt School: and its critics. London and New York:
    Routledge.
    Bottomore, Tom, and Rubel, Maximilien (1963). Karl Marx: Selected Writings in
    Sociology and Social Philosophy. Hammondsworth: Penguin.
    Budiman, Fransisco B. (2003). Kritik Ideologi. Menyingkap Kepentingan
    Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas. Jakarta: Buku Baik.
    Caporaso, James A. and David P. Levine (1992). Theories of Political Economy.
    Cambridge: Cambridge University Press.
    Chesney, Robert W., Ellen M. Wood, and Jaohn B. Foster, eds. (1998). Capitalism
    and the Information Age: The Political Economy of the Global Communication
    Revolution. New York:: Monthly Review Press.
    Clark, Lynn Schofield (2005a), “Critical Theory and Constructivism: Theory and
    Methods for the Teens and New Media “. Diambil 5 Sept. 2005 dari URL:
    http://www.colorado.edu/journalism/mcm/qmr-crit-theory.htm.
    Clark, Lynn Schofield (2005b), “Constructivist Methods in the Symbolism, Media and
    the Lifecourse and the Symbolism, Meaning and the New Media”. Diambil 9 Sept.
    2005 dari URL http://www.colorado.edu/journalism/mcm/qmr-crit-theory.htm.
    Curran, James, and Michael Gurevitch. Eds. (1992). Mass Media and Society.
    London. New York: Edward Arnold.
    Dant, Tim (2003). Critical Social Theory. London, Thousan Oaks, New Delhi: SAGE
    Publications.
    Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln (1994). Handbook of Qualitative
    Research. Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.
    Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln (2000). Handbook of Qualitative
    Research. Second Edition. Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.
    Downing , John, et al. Eds. (2004). The SAGE Handbook of Media Studies.
    Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.
    Fay, Brian (1987). Critical Social Science. Ithaca, N.Y. : Cornell University Press.
    Geusss, Raymond (1982). The Idea of a Critical Theory: Habermas & the Frankfurt
    School. London, New York: Cambridge University Press.
    Golding, Peter, and Graham Murdock. Eds. (1997). The Political Economy of the
    Media. Volume I. Cheltenham, Brookfield: Edward Elgar Publishing Co.
    Guba, Egon G. Ed. (1990). The Paradigm Dialog. Newbury Park, London, New Delhi:
    SAGE Publications.
    Habermas, Jurgen (1973). Legitimation Crisis. Boston: Beacon Press.
    Habermas, Jurgen (1981) The Theory of Communicative Action, London: Beacon
    Press
    Held, David (1980) Introduction to Critical Theory: Horkheimer to Habermas. London,
    Melbourne, Sydney: Hutchinson.
    Hidayat, Dedy N. (2002). “Don’t worry Clinton is Megawati’s brother: The mass
    media, Rumours, Economic Structural Transformation and Delegitimization of
    Suhartos New Order”. Gazette: International Journal for Communication Studies. Vol.
    64 No. 2. April.
    Horkheimer, Max (1993). Between Philosophy and Social Sciences. Cambridge: MIT Press.
    Kellner, Douglas (1990). “Contested Terrain and the Hegemony of Capital”, dalam
    Kellner, Television and the Crisis of Democracy. Boulder, CO: Westview Press.
    Kerlinger, Fred N. (1986). Foundations of Behavioral Research. Chicago: Holt,
    Rhinehart and Winston, Inc
    Littlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss (2005). Theories of Human
    Communication. Eigth Edition. New York: Wadsworth.
    MacEwan, Arthur (1999). Neo-Liberalism or Democracy? Economic Strategy.
    Markets, and Alternatives for the 21st Century. New York, N.Y. : Zed Books.
    Morrow, Ramond (1994). Critical Theory and Methodology. Thousand Oaks, CA.:
    SAGE Publications.
    Mosco, Vincent. (1996). The Political Economy of Communication. London,
    Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications.
    Powell, Jason L., and Harry R. Moody (2003). “The Challenge of Modernity:
    Habermas and Critical Theory”. Theory & Science Vol 4 No. 01.
    Rush, Fred. (2004). The Cambridge Companion to Critical Theory. Cambridge:
    Cambridge University Press.
    Shoemaker, Pamela J. , James W. Tankard, and Dominic L. Larossa (2004). How to
    Build Social Science Theories. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage
    Publications, Inc.
    Stevenson, Nick (2002). Understanding Media Ciultures. Second Edition. London,
    Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications.
    Sudibyo, Agus (2004). Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogya, Jakarta: LkiS, ISAI.
    Wallace, Walter (1979). The Logic of Science in Sociology. New York: Aldine
    Publishing Company.

    Pengajar pada Pasca Sarjana Universitas Indonesi

    Suka

  5. Teori-teori Kritis pada awalnya merujuk pada serangkaian pemikiran mereka yang
    tergabung dalam sebuah institut penelitian di Universitas Frankfurt, tahun 1920an,
    yang kemudian dikenal sebagai Die Frankfurter Schule atau Frankfurt School.
    Pemikiran mereka banyak memperoleh inspirasi dari, atau didasarkan atas,
    pemikiran tokoh-tokoh seperti Georg Hegel, Max Weber, Emmanuel Kant, Sigmund
    Freud, dan terutama sekali – serta tidak bisa dilepaskan dari – konsepsi pemikirab
    Karl Marx (lihat a.l., Alvesson dan Skolberg, 2000).
    Namun mazhab Frankfurt telah berkembang dinamis melalui beberapa generasi
    pemikiran, dan memproduksi sejumlah varian pemikiran, sehingga secara
    keseluruhan memperlihatkan bahwa mazhab ini bukan merupakan suatu kesatuan
    pemikiran yang monolitik.
    Hingga kini sekurangnya, Frankfurt School telah mencakup 3 (tiga) generasi
    pemikiran. Yang pertama, yang seringkali disimpulkan dalam label “school of
    Western Marxism” (Held, 1980; hal. 13) dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Theodor
    Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse. Tokoh psikoanalis, Erich Fromm
    dan Sigmund Freud juga dinilai sebagai bagian dari generasi pertama Teori-teori
    Kritis (lihat Dant, 2003; Held, 1980). Kematian Adorno dan Horkheimer dinilai banyak
    kalangan ilmuwan sebagai salah satu faktor yang telah mengakhiri era Frankfurt
    School, sekaligus merupakan akhir dari pemikiran teori-teori kritis sebagai suatu
    bentuk pemikiran Marxisme. Sebab, sdetelah itu perkembangan pemikiran tokohtokoh mazhab kian menjadi sedemikian “kabur” — dan semakin terpisah dari, atau
    tidak terkait dengan, gerakan-gerakan politik Marxist (lihat a.l., Bottomore, 2002; hal.
    54 – 55).
    Generasi kedua, antara lain telah mencuatkan nama-nama seperti Jurgen
    Habermas. Karya-karya pemikiran Habermas dengan jelas menunjukkan adanya
    perbedaan epistemologis yang cukup mendasar dibanding konsepsi yang dimiliki
    para pendahulunya, meskipun tetap mempertahankan tradisi serta cirinya sebagai
    bagian dari teori kritis. Konsepsi Habermas tentang communicative rationality
    contohnya, dapat dinilai sebagai perpecahan epistemologi dengan philosophy of
    consciousness yang digunakan generasi pertama Frankfurt School, seperti
    Horkheimer, Adorno, atau Marcuse.
    Sementara itu, generasi ketiga, merujuk pada tokoh-tokoh seperti Axel Honeth (lihat
    a.l., Rush, 2000; hal. 1.). Namun kini lingkup teori-teori kritis telah makin meluas,
    mencakup – ataupun menjadi dasar rujukan – analisis kritis dari pakar seperti
    Jacques Lacan (psikoanalisis), Roland Barthes (semiotik and linguistik), Peter
    Golding, Janet Wasko, Noam Chomsky, Douglas Kellner (ekonomi-politik media),
    hingga berbagai tokoh dalam topik masalah gender, etnisitas dan ras,
    postkolonialisme, dan hubungan internasional.
    Karenanya, kini sering dibedakan pengertian antara Critical Theories dan critical
    theories. Yang pertama merujuk pada teori-teori mereka yang tergabung dalam
    Frankfurt School, sedangkan yang kedua mewakili pengertian yang lebih umum

    Suka

  6. Sedikitnya terdapat tujuh tradisi teori komunikasi:

    1. The Rhetorical Tradition

    Teori-teori dalam tradisi ini melihat komunikasi sebagai seni praktikal. Melihat hasil karya komunikator dari sisi seni dan metode.

    2. The Semiotic Tradition

    Tradisi ini memfokuskan pada tanda dan simbol, memperlakukan komunikasi sebagai jembatan antara dunia privasi para individual dan arti tertentu dari tanda yang mungkin atau tidak mungkin dibagi.

    3. The Phenomenological Tradition

    Berbeda dengan tradisi lainnya, aliran ini berkonsentrasi pada pengalaman personal, termasuk bagaimana individual saling mengalami satu lain

    4. The Cybernetic Tradition

    Komunikasi menurut perspektif tradisi ini dipandang terutama sebagai proses informasi, dan masalah-masalah yang dibahas adalah seputar noise, overload dan malfungsi.

    5. The Sociopsychological Tradition

    Teori dalam sudut pandang psikologi sosial, terutama pada aspek-aspek komunikasi termasuk ekspresi, interaksi dan pengaruh

    6. The Sociocultural Tradition

    Aliran ini memandang tatanan sosial sebagai pusat perhatian dan memandang komunikasi sebagai lem masyarakat. Masalah-masalah yang ada didalamnya termasuk konflik, pengasingan dan kegagalan berkoordinasi

    7. The Critical Tradition

    Dalam kacamata teori kritis, komunikasi dipandang sebagai sebuah perjanjian sosial antara kekuasaan dan oposisi. Merespon masalah-masalah yang berhubungan dengan ideologi, kekuasaan dan dominasi.

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s