STRATEGY PERUBAHAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Perspektif

STRATEGY

PERUBAHAN

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Oleh Ir. Mustika Ranto Gulo

Budaya dari negera maju merasut tanpa ampun ke dalam sendi-sendi budaya lokal, yang lebih menonjolkan liberalisme dan individualisme yang bertolak belakang dengan budaya bangsa Indonesia, akhirnya pun kita terseok-seok menyeimbangkannya. Apakah kita mampu menolaknya? Suka atau tidak suka globalisasi informasi akan melanda dunia, termasuk Indonesia. Indonesia sebagai negara yang multi etnis, mendapat tantangan yang sangat maha berat untuk menjaga keseimbangan tanpa menimbulkan kerugian baik terhadap kepentingan masyarakat yang dilindungi oleh HAM maupun terhadap ketahanan dan keamanan bangsa sebagai negara. Melakukan ‘perubahan’ dalam strategy berkomunikasi antar budaya di dunia dengan mempertahankan penampilan wajah dan  ideologi PANCASILA. Indonesia adalah bangsa yang besar yang terdiri dari berbagai suku atau etnis, dengan semboyan bhineka tunggal ika dan berbagai sumpah satu nusa, satu bahasa dan satu bangsa. Indonesia adalah negara yang beridiologi unik tetapi mampu membina hubungannya dalam konteks budaya dimata dunia. Lalu, dalam kenyataan sosial, dimana manusia sangat membutuhkan informasi, tantangan itu membutuhkan interaksi-interaksi, tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi. Dapat dikatakan pula bahwa interaksi antar-budaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Maka dari itu kita perlu tahu apa saja yang menjadi unsur-unsur dalam terbentuknya proses komunikasi antarbudaya, yang antara lain adalah adanya komunikator yang berperan sebagai pemrakarsa komunikasi; komunikan sebagai pihak yang menerima pesan; pesan/simbol sebagai ungkapan pikiran, ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol.

Menurut Philipsen (lihat Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat, dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Pada dasarnya, budaya adalah suatu kode. Menurutnya ada empat dimensi krusial yang dapat untuk memperbandingkan budaya-budaya, yaitu:

  1. Jarak kekuasaan (power distance)
  2. Maskulinitas.
  3. Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance).
  4. Individualisme.

Apa itu “Komunikasi antar budaya” adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (dalam arti yang lebih detail : beda ras, etnik, atau sosio-konomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini).

Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antar budaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik atau perbedaan-perbedaan sosio-ekonomi lainnya). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.

Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antar budaya sebagai human flow across national boundaries.

Misalnya; dalam kesempatan dimana seluruh bangsa dengan berbagai latarbelakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.

Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antar budaya sebagai interaksi tatap muka diantara orang-orang yang berbeda budayanya. Seperti di Indonesia telah terjadi komunikasi antar budaya jawa dan sumatera atau suku batak dengan suku sunda dalam berbagai aktifitas kehidupan sosial. Setiap hari bisa bertemu dan berinteraksi bebas dalam satu aktifitas yang sama dengan latarbelakang sosial kultural yang berbeda. Namun, disatukan oleh alat pemersatu yaitu bahasa Indonesia.

Dalam pendapat Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antar budaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi antar budaya itu dilakukan:

  1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;
  2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
  3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
  4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.

BEBERAPA TEORI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

1. Anxiety/Uncertainty Management Theory( Teori Pengelolaan Kecemasan/Ketidakpastian).

Dalam teori yang di publikasikan William Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan.

Namun menurut Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok. Terdapat dua penyebab dari mis-interpretasi yang berhubungan erat, kemudian melihat hal itu sebagai perbedaan pada ketidakpastian yang bersifat kognitif dan kecemasan yang bersifat afeksi- suatu emosi.

Asumsi Dasar Teori

Gagasan awal dari teori ini adalah Uncertainty Reduction Theory, yaitu teori yang berasumsi bahwa dalam proses komunikasi, semakin tinggi ketidakpastian seseorang maka akan semakin rendah keberhasilan komunikasi yang hendak dilakukannya. Dengan bahasa yang lain, proses komunikasi dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian sehingga tujuan komunikasi tercapai.

Gudykunst menggunakan konsep ’uncertainty’ untuk memprediksi perilaku orang lain dan konsep ’anxiety’ untuk menjelaskan proses penyesuaian budaya. Tidaklah sedikit upaya untuk mencapai tujuan komunikasi dengan orang asing menggunakan bahasa isyarat atau bahasa kode dan tanda.

Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:

a. Konsep diri dan diri.

Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan. Ketika kita mampu mensejajarkan diri dengan orang asing, maka kecemasan dan ketakutan karena prediksi tidaklah menghalangi komunikasi.

b. Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.

Karena didorong oleh kebutuhan informasi bahkan kebutuhan akan teknologi maka tidak dapat dihindari andanya komunikasi yang lebih baik dengan  orang asing. Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk di dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan komunikasi dan menekan kecemasan-kecemasan.

c. Reaksi terhadap orang asing.

Jika kita mampu menerima orang asing maka sudah terbukti bahwa kita mampu berkomunikasi dengannya. Merupakan sebuah peningkatan jika kita mampu melakukan interaksi dalam memproses informasi yang kompleks tentang orang asing yang akan menghasilkan sebuah kemampuan baru, bahwa kita sudah dapat untuk memprediksi secara tepat perilaku mereka.

Sebuah peningkatan untuk mentoleransi ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah peningkatan mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing.

Sebuah peningkatan berempati dengan orang asing akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi perilaku orang asing secara akurat.

d. Kategori sosial dari orang asing.

Status sosial orang asing tidak mempengaruhi banyak hal tentang prediksi tentang latarbelakangnya atau siapa dia, pada saat mereka masuk kedalam kelompok masyarakat kita mereka justru mendapat penghormatan dan perlakuan istimewa. Sebuah peningkatan kesamaan personal yang kita miliki seperti persepsi antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan memprediksi perilaku mereka secara akurat. Pembatas kondisi: pemahaman perbedaan-perbedaan kelompok kritis hanya ketika orang orang asing mengidentifikasikan secara kuat dengan kelompok.

Sebuah peningkatan kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif kita dan atau harapan negatif akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam memperkrakan perilaku mereka. Kadang mereka ditolak oleh masyarakat kita karena pelanggaran etika dan budaya kita, namun toleransi masih sangat sangat diutamakan dalam mengahdapi kasus-kasus seperti ini.

e. Proses situasional.

Sebuah peningkatan di dalam situasi informal di mana kita sedang berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan sebuah peningkatan rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka. Prediksi yang berlebihan tentang kesempurnaan orang asing merupakan hal yang sangat merugikan sekali. Sebab pada kesempatan-kesempatan tertentu mereka dianggap tamu yang dihormati, pada hal perilaku mereka sangat tidak senonoh. Seperti pandangan masyarakat awam Indonesia terhadap orang (bangsa) ARAB, yang selalu dianggap lebih suci karena berasal dari negera asal muasal Nabi. Pada budaya mereka tidaklah lebih istimewa dengan budaya asli (esensi) budaya Indonesia. Pada acara-acara keagamaan (situasional) justru mereka mendapat tempat penghormatan yang lebih tinggi.

f. Koneksi dengan orang asing.

Hubungan interpersonal dengan orang asing selalu membawa perubahan dalam pola penyesuaian dengan cara kerja mereka. Sebuah peningkatan di dalam rasa ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan perilaku mereka. Namun, kemampuan dan daya saing orang asing selalu membawa dampak kepada diri sendiri. Paradigma bahwa orang asing itu memiliki kemampuan lebih, sangat merugikan pada tingkat komunikasi dalam hubungan kerja (koneksi bisnis).

Tetapi sebuah peningkatan hubungan jaringan kerja yang baik dan mampu berbagi informasi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan bahwa mereka bukanlah ancaman dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita untuk memprediksi perilaku orang lain.

2. Out-group Competency Theory

Teori ini menggunakan personal network untuk menjelaskan outgroup communication competence, sebab personal network menghubungkan antara individu satu dengan individu lainnya. Dimana didalam network tersebut, individu-individu menegosiasikan kesadaran egonya dan juga memahami atribusi yang beragam dari orang lain. Itu sebabnya personal network mempengaruhi bagaimana seseorang memiliki kompetensi dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang bukan berasal dari in-groupnya (outgroup).

Teori ini juga hendak menjelaskan bahwa semakin kuat ikatan personal network seseorang, maka akan semakin tinggi pula kemampuannya untuk berkomunikasi dalam outgroup.

Asumsi Dasar Teori

Asumsi-asumsi yang dibangun :

  1. Dalam sebuah personal networks, adanya anggota yang berasal dari outgroup akan meningkatkan kompetensi komunikasi outgroup.
  2. Selain penerimaan individu outgroup, menempatkan outgroup dalam posisi penting dalam personal network juga akan meningkatkan kompetensi outgroup.
  3. Kompetensi komunikasi outgroup tersebut juga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kontak (interaksi) dan ikatan individual/personal diantara individu-individu dari ingroup dan outgroup

3. Face-Negotiation Theory.

Teori yang dipublikasikan Stella Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan–perbedaan budaya dalam merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik kita, cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan, dan kecemasan dan ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang membuat kita tidak berdaya/harus terima. Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga beragam.

Mari melihat tiga perbedaan penting diantara budaya individulis dan budaya kolektivis. Tiga hal yang mengandung nilai yang berbeda-beda dalam pemahaman dan sekaligus dalam tindakan. Perbedaan-perbedaan itu adalah dalam cara mendefinisikan tentang :

1). diri;

2). tujuan-tujuan; dan

3). kewajiban.

konsep

Budaya individualis

Budaya kolektivis

Diri Sebagai dirinya sendiri Sebagai bagian kelompok

 

Tujuan Tujuan diperuntukan kepada pencapaian kebutuhan diri. Tujuan diperuntukan kepada pencapaian kebutuhan kelompok

 

 

Kewajiban Melayani diri sendiri Melayani kelompok/orang lain.

Teori ini menawarkan model pengelolaan konflik sebagai berikut:

1. Avoiding (penghindaran) – saya akan menghindari diskusi perbedaan-perbedaan saya dengan anggota kelompok.

2.  Obliging (keharusan) – saya akan menyerahkan pada ke kebijakan anggota kelompok.

3.  Compromising – saya akan menggunakan memberi dan menerima sedemikian sehingga suatu kompromi bisa dibuat.

4.  Dominating – saya akan memastikan penanganan isu sesuai kehendak-ku.

5.  Integrating – saya akan menukar informasi akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama-sama.

Face-negotiation teory menyatakan bahwa avoiding, obliging, compromising, dominating, dan integrating bertukar-tukar menurut campuran perhatian mereka untuk self-face dan other -face.

Strategi Perubahan dalam konteks komunikasi  antar budaya 

Menurut Alo Liliweri (pakar komunikasi antarbudaya) mengatakan bahwa sebagai bagian dari tuntutan globalisasi yang semakin tidak terkendali seperti saat ini, mendorong terjadinya sebuah interaksi lintas budaya, lintas kelompok, serta lintas sektoral. Belum lagi perubahan-perubahan global lainnya yang semakin deras dan menjadi bukti nyata bahwa semua orang harus mengerti karakter komunikasi antarbudaya secara mendalam.

Lebih lanjut, Alo Liliweri menjelaskan bahwa esensi komunikasi terletak pada proses, yakni sesuatu aktivitas yang “melayani” hubungan antara pengirim dan penerima pesan melampaui ruang dan waktu. Itulah sebabnya mengapa semua orang pertama-tama tertarik mempelajari komunikasi manusia (human communication), sebuah proses komunikasi yang melibatkan manusia kemarin, kini, dan mungkin di masa yang akan datang.

Sedangkan budaya atau kebudayaan menurut Burnett Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture, adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Di samping mengetahui pengertian kebudayaan kita juga harus mengetahui unsur-unsur kebudayaan manusia yang antara lain adalah sejarah kebudayaan, identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian, bahasa dan interaksi, stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas kebudayaan dan nilai, etnosentrisme, perilaku non-verbal, hubungan antar ruang, konsep tentang waktu, pengakuan dan ganjaran, pola pikir, dan aturan-aturan budaya.

Jadi yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya ialah komunikasi antarpribadi yang dilakukan mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan. Jadi, suatu proses kumunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang (karena memiliki keragaman) memberikan interpretasi dan harapan secara berbada terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan.

Pada titik tertentu akan terjadi kesepakatan dalam persamaan-persamaan “NILAI” antarbudaya. Sekalipun upaya dalam mempertahankan budaya diri sendiri, bangsa sendiri namun strategy dalam mengahdapi adanya berbagai perubahan karena tuntutan hubungan interaksi, maka nilai-nilainya telah bergeser menjadi “penyesuaian nilai antar budaya yang universal”. Oleh karena itu : Strategy Perubahan Antar Budaya, adalah peningkatan pemahaman dan mengambil keuntungan di dalamnya tanpa mengorbankan adat istiadat.

Kecenderungan pergeseran nilai komunikasi Antar Budaya

Saya tersipu-sipu malu, jika melihat perilaku komunikasi kita (red=masyarakat Indonesia) yang menolak budaya barat dan menuduh Amerika sebagai penyebab arus globalisasi budaya yang liberalis dan telah merugikan kita. Namun, jika kita analisa lebih dalam, justru keterbukaan dan budaya yang menghargai individualis, telah lama dirindukan di Indonesia oleh setiap orang yang ingin merdeka menikmati kebebasan memperoleh informasi tanpa batas yang didengungkan dengan istilah “freedom of information”. Inilah cikal bakal lahirnya  undang-undang Nomor 14 tentang KIP (Keterbukaan Informasi Publik) tahun 2008. Pemerintah harus merubah (melakukan perubahan) secara total dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Ada perasaan malu dihati, untuk menegaskan sikap menolak budaya barat (red=eropa dan amerika), padahal dengan globalisasi Informasi kita tak sanggup membatasinya dengan cara apapun. Kecenderungan Nilai terhadap komunikasi antar budaya mengalami revolusi informasi yang sangat dasyat. Diikuti dengan adanya informasi terbuka yang terorganisasi sedemikian rupa dan teknologi transfer data dalam kapasitas besar, serta lahirnya konten-konten yang sifatnya sangat rahasia (red=tentang agama, hal-hal yang tidak diketahui umum menjadi konsumsi masyarakat umum). Pertukaran nilai budaya yang sangat cepat itu, dibuktikan dengan gencarnya sosial media yang tak sanggup dibendung oleh pemerintah Indonesia. Keterbukaan informasi yang tidak senonoh menjadi tontonan gratis disetiap komputer anak sekolah. Upaya pemberantasan dan penutupan konten dan situs porno oleh pemerintah menjadi bahan lelucon orang-orang yang berkecimpung di dunia IT (Inforation Technology). Indonesia yang meniru budaya arab (red=karena pengaruh penyebaran agama islam mendominasi) tidaklah menolong lagi untuk dipertahankan mati-matian. Gus dur (Abdulrahman Wahid) dalam “Membela Tuhan, Kafir” menyatakan  “mengapa kita tidak membuat irama penyembahan Tuhan dengan kekayaan budaya kita (red=indonesia) tanpa meniru irama Qasiddah yang tidak menggentarkan hati karena irama gendangnya bukan jiwa bangsa kita, tetapi budaya arab. Coba mendengar lagu beethoven yang sangat merdu, membuat bulu kudu berinding”. Pergeseran nilai komunikasi antar budaya itu baru terjadi sekarang. Anak-anak kita bebas memilih nilai tertinggi menurut hati nuraninya, tanpa adanya pemaksaan atau teror terhadap nilai-nilai budaya yang dianutnya.

Menurut : Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Perubahan pasti ada, oleh karenanya komunikasi adalah jembatan emasnya. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada komunitas tanpa budaya, tidak ada masyarakat tanpa pembagian kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa adanya komunikasi. Disinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya. Semua fenomena itu, selain karena disebabkan perubahan yang ada, juga karena kurangnya komunikasi. Akhirnya, memerlukan sebuah komunikasi antarbudaya guna mengurangi kesalahpahaman di antara sesama manusia.

Saya berpikir bahwa strategy perubahan dalam konteks komunikasi antar budaya kini telah berubah karena globalisasi informasi yang tak terkendali. Media internet seperti sosio media yang tak dapat dikendalikan telah membawa tatanan dan konsep baru komunikasi antar budaya. Seperti kemajuan informasi yang sangat terbuka di negara-negara maju tidak terbendung melanda negara-negara yang sedang berkembang diseluruh dunia, dimana masyarakatnaya masih terbatas dalam kemampuan mengelola informasi, belum memahami arti dan keuntungan dari media yang sangat terbuka itu. Akhirnya telah menjadikan negara ke tiga (red=yang sedang maju) tersebut korban yang tak kenal ampun. Budaya dari negera maju merasut tanpa ampun ke dalam sendi-sendi budaya lokal, yang lebih menonjolkan liberalisme dan individualisme yang bertolak belakang dengan budaya bangsa Indonesia, akhirnya pun kita terseok-seok menyeimbangkannya. Sangatlah terlambat memikirkan solusi-solusi itu, barulah pada tahun 2008 dapat disyahkan UU No. 11 tentang Informasi dan Traksaksi Elektronik yang disebut UU ITE dan diikuti dengan terbitnya regulasi-regulasi dan undang-undang lainnya yang bertujuan melindungi masyarakat.

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s