52001 PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI oleh Dr Ahmad Mulyana…

52001 / PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI oleh Dr. Ahmad Mulyana, Msi setiap sabtu sejak 15/10/2011 (16 x pertemuan)

Tanggal 19 November 2011 adalah pertemuan kita yang ke 5, jangan lupa TUGAS ya, siapa yang masih ingat ? halaman berapa ? lihat email dari Mba Armilah !

3 pemikiran pada “52001 PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI oleh Dr Ahmad Mulyana…

  1. Pada puncak keberhasilan komunikasi, akan menekan habis biaya kesalahpahaman sbagai penyebab kerugian dlm suatu organisasi. Kesepahaman = understanding bisa terjadi scra maksimal hanya dgn cara mengkomunikasikan setiap simpul2 dlm perubahan status kegiatan bisnis

    Suka

  2. Hubungan bukan entitas statis yang tidak pernah berubah. Hubungan terdiri dari pola-pola sibernatika dimana interaksi kata-kata dan tindakan seseorang dapat member pengaruh pada respon orang lain. Mengubah perilaku pribadi atas timbal-balik yang diterima dari orang lain.

    Pola-pola Hubungan Interaksi
    Palo Alto Group menggagas analisis sebagai berikut:
    1. Saat ada dua orang saling berkomunikasi mereka mengartikan hubungan mereka dengan cara berinteraksi.
    2. Saat melakukan percakapan seseorang selalu menciptakan dugaan untuk perilaku dirinya sendiri dan orang lain.
    3. Seseorang pun dapat memperkuat dugaan lama pada waktu lain saat terlibat dalam pola-pola interaksi yang baru untuk interaksi di masa depan.

    Contoh:
    Dalam lingkup bekerja, seseorang yang aktif berkomunikasi, supel, seiring berjalannya waktu akan mendapat status yang tak tertulis dari rekan-rekannya sebagai seseorang yang disegani.

    Dasar sebuah hubungan bukanlah seseorang atau dua orang, melainkan yang menjadi dasar sebuah hubungan adalah interaksi. Dimana perilaku satu merespon perilaku yang lain. Seiring dengan waktu, sifat-sifat hubungan terbentuk atau dibentuk melalui serangkaian interaksi.

    Dua jenis pola hubungan:
    1. Symmetrical relationship-hubungan simetris
    Merespon dengan cara yang sama. Bisa sama-sama berupa pertentangan atau menonjolkan dominasi, atau kebalikannya merespon dengan cara yang sama-sama pasif, mengalah.
    2. Complementary relationship-hubungan perlengkapan
    Merespon dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang mendominasi yang lain mematuhi. Atau disaat yang lain mengutarakan pendapat yang lain hanya menyimak.

    L. Edna dan Rogers menunjukkan bagaimana sebuah kendali hubungan merupakan sebuah proses sibernatika. Control/kendali dari sebuah hubungan tidak hanya bergantung pada tindakan satu orang, melainkan melihat pola-pola perilaku lawan bicara/lainnya.

    Kendali hubungan terdiri atas tiga jenis respon yaitu:
    1. One Down: Merespon dengan cara menerima.
    2. One Up: Merespon dengan cara menyanggah atau menolak dan membuat pernyataan balasan.
    3. One Across: Merespon dengan menerima atau menolak kendali orang pertama dan memberi tanggapan tanpa mengakui kendali lainnya.

    TRADISI SOSIOPSIKOLOGIS

    Perilaku interpersonal telah menjadi gagasan utama dalam bidang psikologis social dan banyak penelitian dalam bidang komunikasi dipengaruhi oleh tradisi ini.Karya dalam tradisi sosiopsikologis sangat tergantung pada tipe serta karakter individu dan hubungan. Karya ini mengandalkan ukuran dan analisis variable sebagai cara untuk menilai seperti apa manusia dalam sebuah hubungan dan juga seperti apa hubungan itu sendiri. Di sini kita akan melihat pada dua pembahasan, skema keluarga dan penetrasi sosial.

    1. Skema Hubungan dalam Keluarga
    Sebagai sebuah teorisosiopsikologis mendasarkan tipe-tipe keluarga pada cara-cara anggota keluarga sebagai individu memandang keluarga itu sendiri.Mengikuti petunjuk teori psikologi dalam bidang ini, Koerner dan Fitzpatrick mengartikan cara-cara berfikir ini sebagai skema atau lebih spesifikanya skema hubungan. Skema hubungan anda terdiri atas pengetahuan anda tentang diri anda sendiri, orang lain dan hubungan sejalan dengan pengetahuan tentang bagaimana berinteraksi dalam hubungan.

    Skema keluarga anda mencakup:
    (1) apa yang anda ketahui secara umum,
    (2) apa yang anda ketahui tentang hubungan keluarga sebagai sebuah tipe hubungan dan
    (3) apa yang anda ketahui tentang hubungan anda dengan anggota keluarga anda yang lain.

    Menurut Fitzpatrick dan koleganya, komunikasi keluarga tidak terjadi secara acak tetapi sangat berpola berdasarkan pada skema-skema tertentu yang menentukan bagaimana anggota keluarga saling berkomunikasi.

    Skema-skema ini terdiri atas pengetahuan tentang:
    (1) seberapa dekat pengetahuan tersebut,
    (2) tingkat individualitas dalam keluarga, dan
    (3) faktor-faktor eksternal terhadap keluarga, misalnya teman, jarak geografis, pekerjaan dan masalah-masalah lain diluar keluarga.

    Sebuah skema keluarga akan mencakup bentuk orientasi atau komunikasi tertentu. Ada dua tipe yang menonjol pertama adalah orientasi percakapan (conversation orientation) kedua orientasi kesesuaian (conformity orientation).Keduanya merupakan variable sehingga tiap keluarga berbeda dalam jumlah percakapan yang dicakup oleh skema keluarga tersebut.Keluarga yang memiliki skema percakapan yang tinggi, senang berbicara, sebaliknya keluarga dengan skema percakapan yang rendah jarang berbicara.Keluarga dengan skema kesesuaian yang tinggi cenderung dapat berjalan berdampingan dengan pemimpin keluarga seperti orang tua, sedangkan keluarga dengan skema kesesuaian yang rendah cenderung lebih bersifat individualitas. Pola komunikasi dengan keluarga anda akan tergantung pada skema anda.

    Beragam skema akan menciptakan tipe-tipe keluarga yang berbeda. Fitzpatrick dan koleganya telah mengenali empat tipe keluarga:
    1. Tipe keluarga konsensual, tipe keluarga ini memiliki tingkat percakapan dan kesesuaian yang tinggi. Keluarga konsensual sering berbicara tetapi pemimpin keluarga biasanya salah satu orang tua membuat keputusan. Keluarga ini mengalami tekanan dalam menghargai komunikasi terbuka, sementara mereka juga menginginkan kekuasaan orangtua yang jelas. Para orang tua biasanya menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya, tetapi mengambil keputusan dan menjelaskan kepada anak-anak sebagai usaha membantu mereka memahami pemikiran dibalik keputusan tersebut. Orientasi pernikahannya tradisional. Ini berarti mereka akan lebih konvensional dalam memandang pernikahan serta lebih menempatkan nilai pada stabilitas dan kepastian dalam hubungan peran daripada keragaman dan spontanitas. Mereka memiliki ketergantungan yang kuat dan memiliki banyak teman. Walaupun mereka tidak bersifat tegas dalam pertentangan, mereka tidak menghindari konflik.
    2. Tipe keluarga pluralitas, tipe keluarga ini tinggi dalam percakapan tetapi rendah dalam kesesuaian, disini anda akan memiliki kebebasan berbicara tetapi pada akhirnya setiap orang akan membuat keputusan sendiri berdasarkan pada pembicaraan tersebut. Orientasi pernikahannya mandiri. Pernikahan mandiri juga ekspresif mereka saling merespon terhadap isyarat masing-masing dan biasanya saling memahami dengan baik dan menghargai komunikasi yang terbuka.
    3. Tipe keluarga protektif, tipe keluarga ini cenderung rendah dalam percakapan tetapi tinggi dalam kesesuaian aka nada banyak kepatuhan tetapi sedikit komunikasi, mereka juga tidak memberikan penjelasan pada anak-anaknta tentang apa yang mereka putuskan, orang tua tipe ini cenderung digolongkan sebagai orangtua tak terpisah. Mereka nampaknya saling bertentangan dalam peran dan hubungan mereka, Orientasi pernikahannya konvensional, mereka tidak terlalu bergantung dan tidak banyak berbagi Fitzpatrick menyebutkan orang tua yang terpisah sebagai bercerai secara emosional.
    4. Tipe keluarga laissez-faire atau toleran, tipe keluarga ini rendah dan percakapan dan kesesuaian, tidak suka ikut campur dan keterlibatan yang rendah. Anggota keluarga sangat tidak peduli dengan yang dilakukan oleh anggota keluarga yang lain dan mereka benar-benar tidak mau membuang wakt untuk membicarakannya. Mereka mungkin merupakan kombinasi dari orang tua yang mandiri dan terpisah atau kombinasi yang lain.

    Teori Penetrasi Sosial

    Penetrasi social hadir untuk mengidentifikasi proses peningkatan pengungkapan dan keintiman sebuah hubungan serta menghadirkan sebuah teori formatif dalam sejarah teori tentang hubungan. Didorong oleh karya Irwin Altman dan Damas Taylor, teori penetrasi sosial menggerakkan sebuah tradisi penelitian lama dalam pengembangan hubungan.Sebagian besar penelitian awal yang meneliti penetrasi sosial berfokus pada perilaku dan motivasi individu, menanamkan karya ini dengan kuat dalam tradisi sosiopsikologis.

    Teori asli Altman dan Taylor didasarkan pada salah satu gagasan yang paling terkenal dalam tradisi sosiopsikologis, masalah ekonomi yang mengkondisikan manusia membuat keputusan berdasarkan biaya dan manfaat.

    Setiap keputusan merupakan keseimbangan antara biaya dan manfaat. Ketika kita menerapan prinsip ini pada interaksi manusia, kita melihat pada sebuah proses yang disebut pertukaran sosial (social exchange). Altman dan Taylor menyatakan empat tahap pengembangan hubungan:
    1. Orientasi, terdiri dari impersonal komunikasi yang mengungkap informasi publik jika tahap ini bermanfaat bagi pelaku hubungan maka mereka akan bergerak ketahap selanjutnya.
    2. Pertukaran afektif eksploratif, gerakan yang menuju sebuah tingkat yang lebih dalam dari pengungkapan yang terjadi.
    3. Pertukaran afektif, terpusat pada perasaan mengkritik dan mengevaluasi pada tingkat yang lebih dalam. Tahap ini tidak akan dimasuki kecuali mereka menerima manfaat yang besar yang sesuai dengan biaya dalam tahap sebelumnya.
    4. Pertukaran seimbang, adalah kedekatan yang tinggi dan memungkinkan mereka untuk saling memperkirakan tindakan dan respon dengan baik.

    Versi teori yang ada saat ini menyatakan bahwa penetrasi sosial adalah sebuah proses yang berputar dan dialektis. Disebut berputar karena proses ini bekerja dalam siklus maju mundur dan disebut dialektis karena melibatkan pengaturan tekanan yang tidak pernah habis antara yang umum dan yang pribadi.

    TRADISI SOSIOKULTURAL

    Perhatian teori tradisi sosiokultural lebihmenitik beratkan pada pengelolaan perbedaan yang muncul, ketika hubungan dengan manusia lainnya agar tetap mampu melakukan interaksi dan komunikasi. Jika dibandingkan antara tradisi sosiokultural dengan tradisi sosiopsikologis terjadi perbedaan perubahan yang dramatis dalam melihat cara pandang. Perbedaan ini tampak, bahwa teori sosiopsikologis lebih memfokuskan pada aspek pengelompokkan (tipologi) hubungan antara pasangan individu. Sedangkan teori tradisi sosiokultural sangat menekankan pada interaksi dengan focus pada proses terjadinya interaksi.

    1. Dialogis
    Mikhail Bakthin (1960-an) seorag guru dan ahli filsafat dari Rusia, teori yang dikemukakan digolongkan sebagai teori lintas batas (cross-over theory), karena berpijak pada dua tradisi yang berbeda, yaitu sosiokulturaldan kritis. Namun Litteljohn dan Foss dalam bukunya Theories of Human Communikasi memasukkan pemikiran Bakhtin kedalam tradisi sosiokultural. Karena teorinya memberikan fondasi yang kuat bagi penyampaian teori-teori terkait dalam tradisi sosiokultural.

    Gagasan Bakthin dalam hal dialog adalah penjelasan (teori) tentang hubungan (relationship), dengan memasukkan pengaruh budaya. Selanjutnya Bakthin memberi penjelasan tentang realitas sehari-hari yang disebut prosaik, yaitu dunia yang biasa, dunia yang kita kenal, dan kita terima begitu saja seperti; makan, minum, tidur, berbicara dan lain sebagainya. Perbuatan semacam ini sebagai salah satu dari kreativitas dan aktivitas yang terus menerus yang akanmenjadi titik awal perubahan. Perubahan yang terjadi sangat lambat hingga perubahan tidak dapat diketahui sehingga adanya suatu peristiwa, khususnya setelah munculnya kesalahan dan ini awal dari proses lahirnya keputusan yang bersifat kritis. (Morson dan Emerson, 1990:23).

    Menurut Bakthin yang memberikan pengaruh dalam kehidupan manusia setiap hari terdapat dua jenis kekuatan yaitu kekuatan sentripetal dan sentrifugal (Morson dan Emerson, 1990:30).Pengertian sentripetal adalah kekuatan untuk menerapkan aturan pada saat terjadi kekacauan mulai tampak nyata dalam kehidupan. Sedangkan yang dimaksud sentrifugal adalah kekuatan mengganggu atau mengacaukan aturan yang sudah ada.Contoh bahasa telah menjadi medium bagi kekuatan sentripetal dan sentrifugal.Kekuatan sentrifugal telah membuat makna menjadi berubah, namun kita menggunakan bahasa itu sendiri untuk membantu kita membangun kembali aturan yang merupakan hasil dari kekuatan sentripetal. Kedua kekuatan sentripetal dan sentrifugal selalu melekat pada setiap situasi yang kita temui setiap hari.Bakthin mengamati bagaimana orang menggunakan komunikasi untuk membentuk suatu keteraturan justru pada saat mereka berubah merupakan sesuatu yang sangat menarik.

    Kita menyadari memerlukan usaha terus-menerus untuk mengintregasikan kembali berbagai kekuatan berpengaruh dalam kehidupan, maka kita memikul tanggung jawab tertentu untuk menjalani kewajiban reintegrasi ini sepenuhnya pada setiap situasi yang tengah dihadapi.Banyak orang menolak untuk melakukan ini. Baktin menyebutkan orang seperti ini sebagai pretendent (orang yang berpura-pura) karena menghindari upaya untuk mendefinisikan identitas mereka dengan cara menjalani hidup menurut norma-norma yang abstrak Baktin mengusulkan suatu cara hidup yang menentang pola rutinitas hidup dan menerapkan etika individu berdasarkan siapa diri anda pada situasi tertentu perhatian serius yang diberikan Baktin terhadap prosaic mengarahkan kita pada aspek penting dari kedua teorinya yaitu aspek tidak ada penyelesaian menurut Baktin, dunia adalah tempat yang tidak teratur dan membingungkan selain itu dunia tempat yang terbuka dan bebas, artinya belum ada yang diputuskan kita membangun semua peristiwa dan juga konteksnya yang membuat dunia berbagai tempat dari berbagai macam suara yang disebut heteroglosia (banyak suara) gagasan ini membantu memahami identitas selalu berubah.

    Gagasan penting lainnya adalah tentang dialog. Kata ini mengacu pada jenis interaksi tertentu jadi dialog adalah mengenai bagaimana kita berinteraksi dalam interaksi khusus. Dialog kemudian diartikan sebagai sesuatu yang terjadi dalam situasi khusus diantara peserta khusus contohnya kegiatan diskusi dan dalam suatu ruang kuliah.

    Inti gagasan Baktin mengenai dialog adalah ucapan yaitu suatu unit pertukaran, lisan atau tulisan, diantara dua orang. Suatu ucapan mengacu pada percakapan lisan dalam konteksnya.Suatu ucapan memiliki tema yaitu isi percakapan, sikap komunikator terhadap subyek yang menjadi lawan bicaranya dan derajat tanggapan dari lawan bicara. Komunikator mengungkapkan suatu ide dan melakukan ekualasi terhadap ide itu, ia juga melakukan antisipasi terhadap tanggapan dari lawan bicara. Jadi dialog adalah suatu jaringan inter relasi yang komplek dengan orang lain.

    Baktin membedakan dialog dengan monolog. Monolog terjadi ketika interaksi menjadi statis, tertutup dan mati selain itu Baktin mengemukakan bahwa cara berpikir dan bertindak berdasarkn kebiasaan dapat menghasilkan monolog, tidak ada acuan terhadap konteks; dengan kata lain orang berbicara atau berinteraksi tanpa melihat konteksnya dan dapat melampaui batas Baktin secara khusus menggambarkan kehidupan bagi suatu dialog terus menerus dan tidak akan bisa selesai karena selalu ada pada setiap momen kehidupan dalam dialog seseorang berpartisipasi sepanjang hidupnya secara penuh dengan matanya, bibir, tangan, jiwa, semangatnya, dan dengan seluruh tubuh dan perilakunya.

    Dialog akan membentuk budaya karena setiap interaksi dialogis mewaliki pandangan masing-masing budaya berdasarkan sudut pandang orang lain. Little John dan Foss member contoh mengenai orang kulit hitam di AS. Istilah negro digunakan oleh masyarakat kulit hitam untuk menyebut dirinya sebagai hasil negosiasi untuk menggantikan sebutan colored (orang kulit berwarna) yang digunakan oleh orang berkulit putih. Masyarakat negro kemudian menegosiasikan kembali identitas mereka untuk membedakan dengan orang kulit putih sekaligus untuk menimbulkan kebanggaan diri sebagai masyarakat berkulit hitam, sebutan negro berubah menjadi black. Gagasan batin ini menjadi penting tidak saja memberikan gambaran tentang hubungan antara dua individu, melainkan juga antara berbagai budaya.

    2. Teori hubungan Dialektik
    Dialek mengacu pada ketegangan diantara berbagai kekuatan yang saling bertentangan yang berada dalam suatu sistim.Secara umum, dialog adalah kumpulan dari berbagai suara dalam percakapan. Istilah dialog sering digunakan dalam dunia kesusastraan dan seni pertunjukkan teater, yang berarti suatu interaksi beberapa tokoh atau karakter yang terdapat dalam cerita dengan mengkuti gagasan Baktin dan Bakter melihat dialog sebagai percakapan yang berfungsi memberikan makna pada hubungan dan melakukan definisi ulang terhadap hubungan pada situasi yang sebenarnya sepanjang waktu. Menurut Bakter, bahwa hubungan bersifat dialogis dan dialektis maka yang dimaksudkannya adalah adanya ketekanan yang timbul dalam suatu hubungan (dialogis), dan ketegangan itu dikelola melalui percakapan yang terkoordinir (dialektis)

    Menurut Baxter, hubungan bersifat dinamis dan komunikasi pada dasarnya upaya mengelola persamaan dan perbedaan. Sebaiknya komunikasi menuntut untuk bersama-sama menuju kesamaan, namun komunikasi juga menciptakan, mempertahankan dan mengelola berbagai perkiraan menurut terminology Baktin komunikasi menciptakan berbagai kekuatan sentripetal yang memberikan rasa keteraturan, sekaligus mengelola kekuatan sentrifugal yang mengarah pada perubahan. Menurut Baxter lima sudut pandang untuk melihat proses dialog dalam suatu hubungan sebagai berikut:
    a. Hubungan terbentuk melalui dialog
    Dialog menentukan bagaimana orang memberikan makna atau mendefinisikan hubungan seseorang dengan orang lain. Ide mengenai diri anda dan orang lain serta hubungannya yang terjalin dibangun atau dikonstruksikan melalui pembicaraan yang terjadi dalam dua cara. Pertama menciptakan momen atau peluang atau seringkali titik balik yang akan anda ingat sebagai hal yang penting dalam hidup anda Bakter menamakn hal demikian dengan kesamaan pronototis. Kedua, pada saat yang sama, anda melihat adanya perbedaan antara diri anda dengan diri orang lain selama menjalin hubungan dengan kata lain persamaan dan perbedaan merupakan hasil percakapan baik antara pasangan individu dalam suatu hubungan ataupun dengan orang-orang lain yang berada di luar hubungan
    b. Dialog memberikan peluang untuk mencapai kesatuan dalam perbedaan meluli dialog kita dapat mengelola kekuatan sentrifugal dan sentripetal yang bersifat saling mempengaruhi satu sama lain. Kekuatan dapat mendorong terjadinya pemisahan dan terjadinya penyatuan namun kekuatan yang menimbulkan keinginan terjadinya kekacauan dan kekuatan yang memberikan perasaan untuk mempertahankan keutuhan. Jadi kekuatan yang saling berlawanan adalah bersifat dialektis yang mengakibatkan ketegangan anatar 2 atau lebih elemen yang sling bertentengan dalam suatu system dan dalam hal ini dukungan menyediakan konteks yang kita gunakan untuk mengelola berbagai kontradiksi atau pertentangan.

    Kontradiksi sering disebut sebagai pertentangan antara 2 kutub misalnya stabilitas/ perubahan Baxter dan Mont-gomery melihat hal ini sebagai kumpulan kekuatan atau ikatan kontradiksi.Masing-masing ikatan terdiri atas berbagai kontradiksi yang saling berhubungan yang dapat terjadi dalam suatu hubungan. Dalam hal ini terdapat 3 ikatan kontradiksi yaitu sebagi berikut:
    1) Penyatuan dan pemisahan
    Ikatan kontradiksi penyatuan dan pemisahan adalah ketegangan yang muncul karena adanya perasaan dekat atau perasaan jauh dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Contoh apakah mendukung atau bersikap menolak
    2) Ekspresi dan Non Ekspresi
    Artinya ketegangan antara keinginan untuk mengungkapkn informasi atau menyimpan informasi
    3) Stabilitas dan Perubahan yaitu, ketegangan antara keinginan untuk dapat diperkirakan dan konsisten, melawan keinginan untuk bersikap spontan dan berbeda.

    Baxter dari ketiga kontradiksi tersebut, karena dampak dari berbagai pasangan kekuatan dalam mempengaruhi perkembangan hubungan. Carol Werner dan Leslie Baxter mengemukakan lima kualitas yang berubah ketika hubungan berkembang yaitu:
    1) Amplitudu, yaitu kualitas perasaan perilaku atau keduanya.
    2) Salienca, yaitu kualitas untuk focus pada masa lalu, kini dan masa depan.
    3) Skala, yaitu kualitas dalam hal berapa lama pola-pola kegiatan tertentu berlangsung.
    4) Sequensi, yaitu kualitas yang terkait dengan urutan peristiwa dalam suatu hubungan.
    5) Ritme, yaitu kualitas yang terkait dengan kecepata peristiwa dalam suatu hubungan dan interval diantara peristiwa.

    c. Dialog bersifat estetis
    Menurut pandangan Baxter bahwa dialog bersifat estetis yang mencakup rasa keseimbangan, kesatuan, dan keseluruhan. Karakteristik hubungan direfleksikan atau digambarkan estetisnya yang tercipta melalui dialog.
    d. Dialog adalah wacana
    Pandangan ini mengacu gagasan, bahwa hasil dialog bersifat praktis dan etetis tidaklah muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakandalam komunikasi.Dalam teori hubungan, gagasan ini sangat penting karena berarti bahwa pola hubungan dan definisi hubungan muncul sebagai hasil interaksi timbal balik.

    3. Teori Privasi Komunikasi
    Hal yang menjadi perhatian teori ini adalah pengelolaan ketegangan antara keinginan bersikap terbuka atau memiliki keterbukaan atau bersikap tertutup, antara menjadi diri sebagai bagian dar public atau bersifat pribadi. Individu yang terlibat dalam suatu hubungan dengan individu lainnya akan teru-menerus mengelola garis batas atau pembatasan dalam dirinya. Menutup perbatasan akan mengarah pada otonomi serta keamanan diri yang besar. Sedangkan membuka pembatasan akan mendorong keakraban dan rasa saling berbagi yang lebih besar, namun juga menunjukkan kelemahan pribadi yang lebih besar.

    Tarik menarik antara kebutuhan untuk berbagi informasi dan melindungi diri selalu ada dalam setiap hubungan dan situasi ini menuntut setiap individu untuk menegosiasikan dan mengkoordinasikan perbatasan mereka. Menurut Petronio proses pengambilan keputusan ini bersifat dialektik, yaitu adanya tarik menarik antara keinginan untuk mengungkapkan informasi pribadi dengan keinginan untuk menyimpan.

    Perhatian perbedaan antara penjelasan Petronio dengan Alman dan Taylor yai individu dalam hubungannya dengan individu lain tidak membuat keputusan untuk mengungkap/menyimpan informasi semata-mata berdasarkan pertimbangan biaya dan imbalan. Lebih jauh, keterbukaan bukanlah semata-mata keputusan individu, melainkan oleh suatu kontrak hubungan yang mencakup konsesnsus terhadap biaya dan imbalan bersama. Ketika anda mengungkap informasi pribadi kepada orang lain, maka informasi itu menjadi milik bersama terhadap informasi itu dan mempunyai seperangkat hak-hak dan tanggung jawab dinegosiasikan.

    Menurut Petronio pengelolaan perbatasan antara wilayah pribadi dengan public adalah suatu proses yang menggunakan aturan. Dalam hal aturan mengelola perbatasa memilik karakteristik sebagai berikut:
    a. Aturan dibuat berdasarkan negosiasi
    Pengelolaan perbatasan bukanlah keputusan individu, melainkan suatu negosiasi terhadap aturan yang akan menentukan apakah suatu informasi akan disampaikan atau disimpan.
    b. Aturan dibuat denganmempertimbangkan risiko-manfaat
    Aturan dalam mengelola perbatasan dikembangkan rasio risiko dengan manfaat. Penilaian risiko berarti berpikir mengenai cost dan reward, karena mengungkapkan informasi pribadi.
    c. Aturan dibuat dengan mempertimbangkan criteria lain
    Kriteria lain yang digunakan untuk membuat aturan dalam mengelola perbatasa mencakup ekspektasi budaya, perbedaan gender, motivasi pribadi dan tuntutan situasi.

    Menurut Petronio, menegosiasikan aturan mengenai kepemilikan bersama terhadap informasi pribadi dapat menjadi sesuatu yang menyulitkan.Kesepakatan eksplisit dan implicit harus dibuat dalam mengelola informasi bersama. Dalam hal ini para pihak harus bernegosiasi tiga aturan sebagai berikut:
    1) Aturan mengenai seberapa terbuka atau tertutup perbatasan dikelola
    2) Para anggota pasangan perlu menegosiasikan aturan-aturan mengenai hubungan perbatasan yang mencakup kesepkatanmengenai siapa yang berada di dalam perbatasan dan siapa yang di luar.
    3) Pasangan harus menegosiasikan kepemilikan perbatasan hak dan tanggung jawab dari masing-masing pihak. Petronio menyebutkan situasi yang tidak jelas, tidak berbagi dan melanggar aturan perbatasan ini sebagai gejolak perbatasan dan akan menjadi sumber konflik, sehingga diperlukan tindakan yang lebih kuat dan lebih hati-hati dalam membangun atau mengubah aturan

    Suka

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s