STEPHEN W LITTLEJOHN & KAREN A FOSS : TEORI KOMUNIKASI


STEPHEN W LITTLEJOHN & KAREN A FOSS : TEORI KOMUNIKASI

Membahas Buku Teori Komunikasi : 

Theories Of Human Communication

Oleh Ir. Mustika Ranto Gulo, M.IKom

Jakarta, 2010

_________________________

I. PELAKU KOMUNIKASI menyangkut :

  1. Tradisi Sosio-psikologis (teori sifat, Kognitif  &  Pengolahan Informasi)
  2. Tradisi Sibernetika (Teori Penggabungan Informasi, Teori Konsistensi)
  3. Tradisi Sosiokultural (Interaksi Simbolis dan pengembangan diri, gagasan Harre’ mengenai seseorang dan diri sendiri, Pembentukan sosial mengenai Emosi, Pembawaan diri, Teori Komunikasi tentang identitas, teori Negosiasi Identitas).
  4. Tradisi Kritik (teori sudut pandang, Identitas yang dibentuk dan ditampilkan, teori Queer)

II. PESAN, menyangkut :

  1. Tradisi Semiotik (teori Simbol : Susanne Langer, Pondasi Klasik bahasa, Teori-teori Sistem Non Verbal)
  2. Tradisi Sosiokultural (Teori aksi berbicara, teori identifikasi Kenneth Burke, bahasa dan gender).
  3. Teori Sosiopsikologis ((teori Penyusunan Tindakan, Modl Pemilihan Strategi, Model Penyusunan Pesan, Teori Pengertian secara simantik).
  4. Teori Fenomologis (Teori menurut Paul Ricoeu. Stenley Fish, Hans-Georg Gadamer)

III. PERCAKAPAN

  1. Teori Sosiopsikologis (mengelola ketidakpastian dan kecemasan, Akomodasi dan Adaptasi)
  2. Tradisi Sosiokultural (Interaksionisme simbolis, Teori Pemusatan simbolis yang juga disebut Symbolic-Convergence Theory, Analisis Percakapan, Teori Negosiasi Rupa yang disebut juga Face – Negotiation Theory)
  3. Tradisi Sibernetika (Manajemen Keselarasan Makna)
  4. Tradisi Kritis  (perspektif bahasa dalam kebudayaan, Teori Budaya pendamping yang disebut juga co-cultural Theory, Retorika Ajakan)

IV. HUBUNGAN

  1. Tradisi Sibernetika (Pola-pola Hubungan Interaksi)
  2. Teori Sosiopsikologis ((skema Hubungan dalam keluarga, Teori Penetrasi sosial)
  3. Tradisi Sosiokultural (Teori Pengelolaan Identitas, Teori Dialogis/Dialektis pada Hubungan, Pengaturan Privasi Komunikasi).
  4. Tradisi Fenomenologis (Carl Rogers, Martin Buber)

V. KELOMPOK

  1. Teori Sosiopsikologis (analisis Proses Interaksi)
  2. Tradisi Sibernetika (Teori Kelompok Terpercaya, Model Input Proses Output)
  3. Tradisi Sosiokultural (Teori Penyusunan, Teori Fungsional, Teori Pemikiran Kelompok)
  4. Tradisi Kritis (Aplikasi dan Implikasi)

VI. ORGANISASI

  1. Teori Sosiopsikologis (Teori Weber tentang birokrasi)
  2. Tradisi Sibernetika (Proses Berorganisasi, Teori CO-Orientasi Taylor tentang Organisasi, Teori Jaringan)
  3. Tradisi Sosiokultural (Teori Strukturasi, Teori Kendali Organisai, Budaya Organisasi)
  4. Tradisi Kritis (Wacana Kecurigaan dari Dennie Mumby, Deetz pada manajerialisme dan Demokrasi Organisasi, Gender dan Ras dalam Komunikasi Organisasi)

VII. MEDIA

  1. Tradisi Semiotik (Jean Baudrillard dan Semiotik Media)
  2. Tradisi Sosiokultural (Teori Media, Fungsi Penyusunan Agenda, Penelitian Media Tindakan Sosial)
  3. Teori Sosiopsikologis (Tradisi Pengaruh, Teori Pengembangan, Penggunaan, Kepuasan, dan ketergantungan)
  4. Tradisi Sibernetika (Opini Masyarakat dan Spiral Ketenangan)
  5. Tradisi Kritis (Cabang2 Teori Kritis Media, Penelitian Media Feminis, Kritik Media oleh Bell Hooks)

VIII. BUDAYA DAN MASYARAKAT

  1. Tradisi Semiotik (Relatifitas Linguistik, Code-code meluas dan terbatas)
  2. Tradisi Sibernetika (Penyebaran Informasi dan Pengaruh)
  3. Tradisi Fenomenologis (Hermeneutika budaya)
  4. Tradisi Sosiokultural (Etnografi Komunikasi, Performa Etnografi)
  5. Tradisi Kritis (Modernisme, Post-Modernisme, Post-Strukturalisme dan Karya dari Michel Foucoult, Post-Kolonialisme)

PENGERTIAN 7 TRADISI DALAM ILMU KOMUNIKASI

1. TRADISI SOSIO-PSIKOLOGI (Komunikasi sebagai pengaruh antar pribadi)

 Tradisi sosio-psikologi merupakan contoh dari perspektif ilmiah atau objektif. Dalam tradisi ini, kebenaran komunikasi dapat ditemukan dengan dapat ditemukan dengan teliti – penelitian yang sistematis. Tradisi ini melihat hubungan sebab dan akibat dalam memprediksi berhasil tidaknya perilaku komunikasi. Carl Hovland dari Universitas Yale meletakkan dasar-dasar dari hal data empiris yang mengenai hubungan antara rangsangan komunikasi, kecenderungan audiens dan perubahan pemikiran dan untuk menyediakan sebuah kerangka awal untuk mendasari teori. Tradisi sosio-psikologi adalah jalan untuk menjawab pertanyaan “What can I do to get them change?”

 Dalam kerangka “Who says what to whom and with what effect” dapat dibagi menjadi tiga sebab atau alasan dari variasi persuasif, yaitu :

 Who – sumber dari pesan (keahlian, dapat dipercaya)

 What – isi dari pesan (menarik dengan ketakutan, mengundang perbedaan pendapat)

Whom – karakteristik audiens (kepribadian, dapat dikira untuk dipengaruhi)

Efek utama yang diukur adalah perubahan pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk skala sikap baik sebelum maupun sesudah menerima pesan. Dalam hal ini kredibilitas sumber amat sangat menarik perhatian.Adadua jenis dari kredibilitas, yaitu keahlian (expertness) dan karakter (character). Keahlian dianggap lebih penting daripada karakter dalam mendorong perubahan pemikiran.

2. TRADISI SIBERNETIKA (Komunikasi untuk memproses informasi)

Tradisi sibernetika memandang komunikasi sebagai mata rantai untuk menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu sistem. Tradisi sibernetika mencari jawaban atas pertanyaan “How can we get the bugs out of this system?”

Ide komunikasi untuk memproses informasi dikuatkan oleh Claude Shannon dengan penelitiannya pada perusahaan Bell Telephone Company. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa informasi hilang pada setiap tahapan yang dilalui dalam proses penyampain pesan kepada penerima pesan. Sehingga pesan yang diterima berbeda dari apa yang dikirim pada awalnya. Bagi Shannon, informasi adalah sarana untuk mengurangi ketidakpastian. Tujuan dari teori informasi adalah untuk memksimalkan jumlah informasi yang ditampung oleh suatu sitem. Dalam hal ini, gangguan (noise) mengurangi jumlah kapasitas informasi yang dapat dimuat dalam suatu sistem.Shannonmendeskripsikan hubungan antara informasi, gangguan (noise) dan kapasitas sistem dengan persamaan sederhana, yaitu : kapasitas sistem = informasi + gangguan (noise).

3. TRADISI RETORIKA (Komunikasi sebagai seni berbicara didepan umum)

Ada enam keistimewaan karakteristik yang berpengaruh pada tradisi komunikasi retorika, yaitu : (1) sebuah keyakinan yang membedakan manusia dengan hewan dalam kemampuan berbicara, (2) sebuah kepercayaan diri dalam berbicara didepan umum dalam sebuah forum demokrasi, (3) sebuah keadaan dimana seorang pembicara mencoba mempengaruhi audiens melalui pidato persuasif yang jelas, (4) pelatihan kecakapan berpidato adalah landasan dasar pendidikan kepemimpinan, (5) sebuah tekanan pada kekuasaan dan keindahan bahasa untuk merubah emosi orang dan menggerakkannya dalam aksi, dan (6) pidato persuasi adalah bidang wewenang dari laki-laki.

4. TRADISI SEMIOTIKA (Komunikasi sebagai proses berbagi makna melalui tanda)

Semiotika adalah ilmu mempelajari tanda. Tanda adalah sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atas sesuatu. Kata juga merupakan tanda, akan tetapi jenisnya spesial. Mereka disebut dengan simbol. Banyak teori dari tradisi semiotika yang mencoba menjelaskan dan mengurangi kesalahpahaman yang tercipta karena penggunaan simbol yang bermakna ambigu. Ambiguitas adalah keadaan yang tidak dapat dihindarkan dalam bahasa, dalam hal ini komunikator dapat terbawa dalam sebuah pembicaraan dalam suatu hal akan tetapi masing-masing memiliki interpretasi yang berbeda akan suatu hal yang sedang dibicarakan tersebut. Tradisi ini memperhatikan bagaimana tanda memediasi makna dan bagaimana penggunaan tanda tersebut untuk menghindari kesalahpahaman, daripada bagaimana cara membuat tanda tersebut.

5. TRADISI SOSIO-KULTURAL (Komunikasi adalah ciptaan realitas sosial)

Tradisi sosio-kultural berdasar pada premis orang berbicara, mereka membuat dan menghasilkan kebudayaan. Kebanyakan dari kita berasumsi bahwa kata adalah refleksi atas apa yang benar ada. Cara pandang kita sangat kuatdibentuk oleh bahasa (language) yang kita gunakan sejak balita.

Kita sudah mengetahui bahwa tradisi semiotika kebanyakan kata tidak memiliki kepentingan atau keterikatan logis dengan ide yang mereka representasikan. Paraahli bahasa dalam tradisi sosio-kultural menyatakan bahwa para pengguna bahasa mendiami dunia yang berbeda. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorfdari University of Chicago adalah pelopor tradisi sosio-kultural. Dalam hipotesis penelitian mereka, linguistik adalah bagian dari struktur bentuk bahasa budaya yang berdasarkan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Dunia nyata terlalu luas dan secara tidak sadar terbentuk pada bahasa kebiasaan (habits) dari kelompok. Teori linguistik ini berlawanan dengan asumsi bahwa semua bahasa itu sama dan kata hanya sarana netral untuk membawa makna. Bahasa sebenarnya adalah struktur dari persepsi kita akan realitas. Teori dalam tradisi ini mengklaim bahwa komunikasi adalah hasil produksi, memelihara, memperbaiki dan perubahan dari realitas. Dalam hal ini, tradisi sosio-kultural menawarkan membantu dalam menjembatani jurang pemisah budaya antara “kita” dan “mereka”.

6. TRADISI KRITIS (Komunikasi sebagai cerminan tantangan atas percakapan yang tidak adil)
Tradisi kritis muncul di Frankfurt School Jerman, yang sangat terpengaruh dengan Karl marx dalam mengkritisi masyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan Frankfurt School, dilakukan analisa pada ketidaksesuaian antara nilai-nilai kebebasan dalam masyarakat liberal dengan persamaan hak seorang pemimpin menyatakan dirinya dan memperhatikan ketidakadilan serta penyalahgunaan wewenang yang membuat nilai-nilai tersebut hanya menjadi isapan jempol belaka. Kritik ini sangat tidak mentolelir adanya pembicaraan negatif atau akhir yang pesimistis.

Teori-teori dalam tradisi kritis secara konsisten menentang tiga keistimewaan dari masyarakat sekarang, yaitu : (1) mengendalikan bahasa untuk mengabadikan ketidakseimbangan wewenang atau kekuasaan, (2) peran media dalam mengurangi kepekaan terhadap penindasan, dan (3) mengaburkan kepercayaan pada metode ilmiah dan penerimaan atas penemuan data empiris yang tanpa kritik.

7. TRADISI FENOMENOLOGI (Komunikasi sebagai pengalaman diri dengan orang lain melalui percakapan)

Tradisi fenomenologi menekankan pada persepsi orang dan interpretasi setiap orang secara subjektif tentang pengalamannya. Para fenomenologist menganggap bahwa cerita pribadi setiap orang adalah lebih penting dan lebih berwenang daripada beberapa hipotesis penelitian atau aksioma komunikasi. Akan tetapi kemudian timbul masalah dimana tidak ada dua orang yang memiliki kisah hidup yang sama.

IMG_4187Seorang psikolog Carl Rogers mendeskripsikan tiga kebutuhan dan kondisi yang cukup bagi sesorang dan perubahan hubungan, yaitu : (1) kesesuaian atau kecocokan, adalah kecocokan atau kesesuaian anatara individu baik secara perasaan didalam dengan penampilan diluar, (2) memandang positif tanpa syarat, adalah sebuah sikap dalam menerima yang tidak tergantung pada perbuatan, dan (3) pengertian untuk berempati, adalah kecakapan sementara untuk mengesampingkan pandangan dan nilai dan memasuki dunia lain tanpa prasangka

Selamat Belajar !

5 responses to “STEPHEN W LITTLEJOHN & KAREN A FOSS : TEORI KOMUNIKASI

  1. Ping-balik: Judul Artikel & Jumlah Kunjungan per 1 September 2014 : | TEMPAT BELAJAR ILMU KOMUNIKASI·

  2. Ping-balik: STEPHEN W LITTLEJOHN & KAREN A FOSS : TEORI KOMUNIKASI « ILMU KOMUNIKASI·

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s