ILMU KOMUNIKASI DIKAITKAN DENGAN FILSAFAT ONTOLOGI EPISTIMOLOGI DAN…


ILMU KOMUNIKASI DIKAITKAN DENGAN

FILSAFAT ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ir. Mustika Ranto Gulo (NIRM: 55211110087)

Pendahuluan

Media Online telah merebut perhatian masyarakat sekarang ini karena hampir semua orang yang memiliki mobilephone yang disebut ‘hanpon’ telah menyediakan fasilitas internet akses. Hal ini telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa bahkan ketergantungan manusia pada media Online yang disebut internet.

            “Information technology has opened the eyes of the world will be a new world, new interactions, new market place, and a business networking world without borders. Well aware that the development of technology called the Internet has changes community interaction patterns, that is; interaction of business, economic, social, and cultural. The Internet has given such a large contribution to the community, the company /industry and government. Internet presence has been supporting the effectiveness and efficiency of operations, particularly its role as a means of communication, publication, and the means to obtain the information needed by a business entity and form a company or other institution. On the whole Internet is still relatively new to say is known by Indonesian and the frequency became bolder for used developed, so that Internet users have shown significant progress. The development also has given rise to an increasing number of internet service providers (ISP). To provide good service JSA required of public opinion as internet users, so that all the weaknesses and shortcomings encountered today can be further increased.”  Joko Suryanto, Saff Ahli, Depkominfo 2009

Artinya:

“Teknologi informasi telah membuka mata dunia akan sebuah dunia baru, interaksi baru, market place baru, dan sebuah jaringan bisnis dunia tanpa batas. Nah menyadari bahwa perkembangan teknologi yang disebut Internet telah perubahan pola interaksi masyarakat, yaitu; interaksi bisnis, ekonomi, sosial, dan budaya. Internet telah diberikan seperti kontribusi besar bagi masyarakat, perusahaan / industri dan pemerintah. Kehadiran internet telah mendukung efektivitas dan efisiensi operasi, terutama perannya sebagai sarana komunikasi, publikasi, dan sarana untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh sebuah badan usaha dan bentuk perusahaan atau lembaga lainnya. Di seluruh Internet masih relatif baru untuk katakan adalah dikenal oleh Indonesia dan frekuensi menjadi lebih berani untuk digunakan dikembangkan, sehingga pengguna internet telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Pengembangan juga telah menimbulkan peningkatan jumlah penyedia layanan internet (ISP). Untuk memberikan pelayanan yang baik diperlukan JSA opini publik sebagai pengguna internet, sehingga semua kelemahan dan kekurangan yang dihadapi saat ini dapat lebih ditingkatkan”.

Infrasturcutr Internet Accesses yang sudah lebih memadai sejak 2008 sampai sekarang salah satu pemicu meledaknya minat masyarakat khususnya di Indonesia. Di tandai dengan adanya teknologi transfer data melalui jaringan telepon genggam dan sarana telepon fixed line. Didukung dengan niat baik pemerintah tentang ‘Program Internet Desa” menjadi semakin maraknya komunikasi online data dan voice. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 31/PER/M.KOMINFO/09/2008 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM.21 tahun 2001 Tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi, penyelenggaraan jasa multimedia terdiri atas jasa akses internet (Internet Service Provider), jasa interkoneksi internet (Network Access Point), jasa internet teleponi untuk keperluan publik dan jasa sistem komunikasi data, telah mendorong pertumbuhan bisnis dan layanan intenet di masyarakat.

Komunikasi dengan memakai media internet access telah menyumbang pengembangan pengetahuan di segala aspek kehidupan manusia. Komunikasi dua arah, tatap muka dan komunikasi dengan bahasa isyarat / simbol telah banyak berubah bahkan telah bergeser dari nilai-nilai kultur sosial budaya kepada  system dan tatanan kehidupan masyarakat berteknologi sosial yang baru yang tidak bisa dibendung.

Kalau dulu, siaran TV telah mengguncang perubahan tatanan sosial dimasa abad ke 14 s/d 19, namun sekarang era komunikasi data, malah 10 kali lipat telah merubah tata layanan komunikasi kehidupan manusia. Pertumbuhan Media komunikasi massa sebelum abad 19 yang digandrungi masyarakat adalah televisi. Joseph Straubhaar & Robert La Rose dalam bukunya Media Now, menyatakan; the Avarege Person spend 2600 Hours per years watcing TV or listening to radio. That,s 325 eight-hourdays, a full time job. We spend another 900 hours with other media, including, newpaper, books, magazines, music, film, home video, video games and the internet, that about hours of media use – more time than we spend on anything else, including working or sleeping (straubhaar & La Rose, 2004 : 3)

Sekarang pun semua orang bisa menonton TV via internet access sambil mengunduh data lainnya. Sekalipun pernah ada hasil suvey Ac Nielsen di tahun 1999 yang menyatakan bahwa bahwa 61% sampai 91%  masyarakat Indonesia suka menonton televisi, hasil ini lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dari 4 dari 10 orang mendengarkan radio” ( Media Indonesia, 16- Nopember 1999). Tetapi ternyata sangat berbeda, karena sekarang hampir setiap orang memiliki handphone dan berkomunikasi dalam bentuk suara (voice) dan data. Bahkan anak kecil sekarang menonoton televisi di layar handphone, dengan menggunakan jasa layanan internet. Jadi jasa layanan data melalui mobile atau selular telah menunjukkan pergeseran nilai bahwa menonton televisi tidak lagi merupakan “aktivitas” utama masyarakat. Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi fasilitas internet mempunyai kekuatan menghipnotis masyarakat, sehingga seolah-olah internet menjadi kebutuhan utama yang harus ada pada jaman sekarang.

Dengan memperhatikan pertumbuhan pembangunan infrasturcture tersebut maka pola dan tata layanan serta hubungan antar manusia turut diseret ke dalamnya, sehingga segala sesuatu menjdi berubah, karena semakin murahnya fasilitas internet, pembantu rumah tangga pun sudah bisa berjejaring sosial seumpama facebook.

Berdasrkan fenomena ini saya berpendapat bahwa sudah menimbulkan ‘satu’ permasalahan di dalam nilai-nilai ”filosofis” komunikasi. Dengan hadirnya internet sebagai alat komunikasi di Indonesia yang berkembang begitu cepat, sehingga suka atau tidak suka kita akan menghadapi dilematis keterbukaan informasi yang sungguhnya belum tentu menguntungkan masyarakat kita. Cepat atau lambat akan memperlihatkan efek positif dan negatif kepada masyarakat.

Perkembangan Internet di Indonesia semakin hari semakin memperlihatkan kecenderungan yang mencampuradukan berita dan hiburan melalui format jejaring sosial bahkan melalui TV kabel yang bisa menyuguhkan tayangan tanpa batas atau sejenis ”infotainment”.  Pergeseran nilai atas fungsi komunikasi data menjadi bukti betapa pentingnya pemahaman bagi pakar Ilmu Komunikasi untuk meneliti dan meletakkan acuan layanannya  secara dinamis tetapi bertanggungjawab.

Kerangka Teoritis

Menurut Louis O. Katsoff dalam bukunya ”Elements of Philosophy” yang menyatakan  bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, tidak begitu saja percaya, selalu mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya, menanyakan ”mengapa”’ mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini. Menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kita kepada pemahaman & pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Tiga bidang kajian filsafat ilmu adalah epistemologis, ontologis, dan oksiologis. Ketiga bidang filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.

Menurut paham Epistemologi: merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh  dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Medode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang & mapan, sistematis & logis.

Menurut paham Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut  Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.

Menurut paham Aksiologis: adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. Litle John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (nilai-nilai) Litle John mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metatori. Metatori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah knowledge itu (epistemologi) berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya (ontologi) perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial. Pembahasan ; Berita infotainment dalam kajian filosofis. Kajian ini akan meneropong lingkup persoalan di dalam disiplin jurnalisme, sebagai sebuah bahasan dari keilmuan komunikasi, yang telah mengalami degradasi bias tertentu dari sisi epistemologis, ontologis bahkan aksiologisnya terutama dalam penyajian berita infotainment di televisi.

1.  Kajian Aspek Epistemologis:

Sikap yang menitik beratkan berita sesuai bukti dan fakta, maka informasi atau berita menjadi bernilai tinggi. Intinya dalam setiap pesan dalam pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas peristiwa nyata dalam masyarakat. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat serta mengandung waktu kekinian. Hal-hal ini merupakan tolok ukur dari ”The Quality of News” dan menjadi pedoman yang mengondisikan kerja wartawan di dalam mendekati peristiwa berita & membantu upaya tatkala mengumpulkan & mereportase berita. Secara epistemologis cara-cara memperoleh fakta ilmiah yang menjadi landasan filosofis sebuah berita infotainment yang akan ditampilkan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis & logis.

2.  Kajian Aspek Ontologis

Penyuguhan berita yang bombastis, seperti dalam berita-berita  infotainment yang memiliki target audiens yang banyak. Pemahaman dalam bahasan ontologis berfocus pada keberadaan berita yang mudah mempengaruhi minat ingin tahu masyarakat. Fenomena tentang berita infotainment bukan gejala baru di dunia jurnalisme. Pada abad 19, pernah berkembang jurnalisme yang berusaha mendapatkan audiensnya dengan mengandalkan berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal, yang menegangkan dan pemujaan kaum selebritis ditandai dengan reputasi James Callender lewat pembeberan petualangan seks, para pendiri Amerika Serikat, Alexande Hamilton & Thomas Jeferson merupakan karya elaborasi antara fakta dan desus-desus. Tahun itu pula merupakan masa kejayaan William Rudolf Hearst dan Joseph Pulitzer yang dianggap sebagai dewa-dewa ”Jurnalisme kuning.”

Jadi, fenomena jurnalisme infotainment yang dulu hanya bisa ditonton di media Televisi, sekarang kita bisa unduh melalu satu layanan ‘youtube’ dan menontonnya berkali-kali. Contoh kasus yaitu ketika mencuatnya kasus perselingkuhan Presiden Amerika ”Bill Clinton- Lewinsky”. Diseluruh dunia berita di youtube (internet access) telah diunduh hampir 16 juta kali dalam satu minggu. Bahkan televisi menjadi kalah tayang, mengapa ? karena televisi masih membatasi kata-kata dan gambar-gambar, sedangkan melalui informasi data internet access, kita menemukan berita tanpa editing. Kalau dulu di zaman orde baru,  H. Harmoko, selaluku Menteri Penerangan pada saat itu, dimana banyak surat kabar–surat kabar kuning muncul & diwarnai dengan antusias masyarakat. Bahkan ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan Monitor semakin membuat semarak ”Jurnalisme kuning di Indonesia”.

Trend beriklan di TV semakin turun drastis, berbeda pada pasca Orde Baru ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar semakin banyak media baru bermunculan, ada yang memiliki kualitas tetapi ada juga yang mengabaikan kualitas dengan mengandalkan sensasional, gosip, skandal dan lain-lain. Semua berita itupun sekarang di akses di hanphone pribadi, sehingga ketika tayangan Cek & Ricek dan Kabar Kabari berhasil di RCTI, atau acara TV lainnya tidak lagi menarik untuk ditonton lewat TV tetapi melalui tanyanangan data internet access.

Ternyata fenomena internet access  ini merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dari dunia jurnalisme kita. Harus menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang terjadi dalam rangka menyediakan berita online. Karena realitasnya banyak permintaan dari masyarakat dengan bukti rating tinggi (public share tinggi) menonton via internet access.

3.  Kajian pada aspek aksiologis

Secara aksiologis kegunaan berita yang dilihat dalam website berbeda dengan acara TV seperti infotainment yang dititik beratkan kepada hiburan. Kalau di acara TV pengelola acara harus mampu menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak tetapi dalam website harus mampu memilih kata-kata yang menarik sebagai sebuah strategi penulisan article oleh para  jurnalis.

Sebagai pengelola media, target saya adalah bagaimana meningkatkan rating dan pengunjung di website saya karena dengan demikian orang akan memasang iklannya ditempat saya. Karena melalui berita tentang produk unggulan jujur saja lebih mengutamakan iklan sebagai sumber penghasilan tanpa mengabaikan etika demi kepentingan masyarakat. Beda halnya dengan apa yang terjadi dengan berita infotainment di Indonesia, bukan menuduh tetapi beberapa norma yang semestinya dijalankan malah diabaikan demi kepentingan mengejar rating dan meraup keuntungan dari hasil iklan.

IR. MUSTIKA RANTO GULO,

MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI UNIVERITAS MERCU BUANA,  ANGKATAN  TAHUN 2011

NIRM : 552-1111-0087

One response to “ILMU KOMUNIKASI DIKAITKAN DENGAN FILSAFAT ONTOLOGI EPISTIMOLOGI DAN…

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s